
“Aaah, perjalanan ini cukup menyenangkan,” ujar Hwi Jae seraya meregangkan tubuhnya.
Tetapi, Joong Ki yang duduk di sisinya tidak menanggapi dan tetap menatap kosong ke luar jendela pesawat yang mereka tumpangi saat itu.
“Oh! Aku hampir lupa.”
Pandangan Joong Ki pun langsung teralih pada Hwi Jae yang sudah sibuk dengan benda-benda dalam tas selempangnya. Hwi Jae mengeluarkan sebuah undangan yang segera ia serahkan padanya.
“Setibanya di Seoul, kau harus bersiap lagi untuk acara penghargaan malam ini,” kata Hwi Jae santai.
Para penumpang yang terhormat, sesaat lagi kita akan mendarat di Bandar Udara Internasional Seoul Incheon. Kami persilahkan kepada Anda untuk kembali ke tempat duduk masing-masing, menegakkan sandaran kursi, menutup dan mengunci meja-meja kecil yang masih terbuka di hadapan Anda dan mengencangkan sabuk pengaman…
Segera, Joong Ki mengembalikan undangan yang ia lihat sekilas pada Hwi Jae dan bersama para staf yang mengawal, mereka pun melaksanakan perintah setelah terdengar informasi tersebut. Sesaat Joong Ki melihat jam tangannya sebelum kembali memandang ke luar jendela.
“Hyeon So Yun, apa dia baik-baik saja?” tanya Joong Ki tanpa mengalihkan pandangan.
Dan tentu pertanyaan yang ia ajukan tiba-tiba setelah berdiam cukup lama membuat Hwi Jae seketika tertegun.
“Ke, kenapa tiba-tiba menanyakan tentangnya?” tanya Hwi Jae gugup.
“Kenapa aku tidak boleh bertanya tentangnya?” tanya Joong Ki datar.
Bertanya tanpa sedikitpun berniat untuk mengalihkan pandangan dan hal tersebut tentu membuat Hwi Jae menghela napas kesal.
“Hei! Bocah Tengik. Kau tidak ingat bagaimana repotnya aku karena kejadian satu tahun yang lalu? Kita harus mengadakan konferensi pers besar-besar agar kau tidak di kaitkan dengan masalah mereka. Tapi, setelah semuanya, kau masih saja menemui gadis itu diam-diam dan membuat kepalaku sakit lagi hanya untuk mencari cara agar media tidak memberitakan hal-hal aneh. Sudahlah, banyak gadis lain yang sekelas denganmu dan jangan pernah lagi kaitkan dirimu dengan sekelompok pembuat onar seperti mereka,” omel Hwi Jae panjang lebar.
Namun, Joong Ki memilih diam dan mengerjap setelah mendengar omelannya.
Mmm, banyak yang sekelas denganku tapi, keluargaku tidak pernah mengajarkan hal seperti yang kau dan agensi ajarkan. Kehidupan sempurnaku hanya untuk menyenangkan mereka dan…
Batin Joong Ki berhenti berucap, seakan tidak ingin menanggapi lebih jauh kata-kata kasar Hwi Jae tentang So Yun yang sebenarnya membuat ia sangat kesal walaupun hanya dalam hati.
“Haaa…”
Ia menghela napas keras lalu membetulkan posisinya dan bersandar dengan nyaman di kursi seraya memejamkan mata, mengabaikan Hwi Jae yang sempat meliriknya sinis.
“Jangan mengingatnya terlalu dalam jadi, bersantailah dan fokus pada pekerjaanmu. Kelihatannya pendaratan ini akan makan waktu cukup lama, cobalah istirahat sebentar lagi. Aku akan bangunkan kalau kita sudah tiba,” kata Hwi Jae yang terdengar sedikit lebih santai dari sebelumnya.
Lagi, Joong Ki mengabaikan pria di sisinya dan memilih untuk berpura-pura tidur.
So Yun, hari ini tanggal 3 April. Tepat dua tahun perayaan persahabatan kita juga ulang tahun Ibuku. Apa kau mengingatnya?
Batin Joong Ki yang lalu kembali menghela napas pelan. Sementara, di salah satu komplek perumahan elit Kota Busan. Sebuah rumah berlantai dua yang terlihat begitu sederhana dari luar namun, memiliki kemewahan dengangaya minimalis tersebut, tampak seorang gadis manis dengan rambut panjang merah tengah berada di salah satu kamar dan baru saja membuka kedua matanya pagi itu.
__ADS_1
“So Yuuun… mau sampai kapan kau berdiam di tempat tidurmu?!” teriak seorang wanita dari dapur di lantai dasar , “cepat bangun! Sekarang sudah pukul 9.00!” tambahnya.
“Arasseo, Ommaaa…” sahut gadis bernama So Yun itu dengan suara yang serak.
Yah, So Yun. Hyeon So Yun. Gadis yang selalu membawa tas gitar kuning di punggungnya selama lima tahun menetap di Seoul itu kini telah kembali ke Busan, kota kelahirannya. Dan saat ini ia sedang berusaha duduk lalu bersandar pada kepala ranjang agar bisa sepenuhnya bangun tetapi, ia terlihat gagal dengan kantuk yang masih menggelayuti kedua matanya sampai...
“Hei! Yun-tteugi, cepat bangun. Kau harus segera pergi ke tempat les,” tegur seorang lelaki yang tiba-tiba saja membuka pintu kamar So Yun.
Yun-tteugi? Aneh? Memang tapi, itulah julukan untuk So Yun dari sosok yang tak lain adalah Adik laki-lakinya tersebut, Hyeon So Jun. “Yun” dari nama “So Yun” dan “tteugi”, singkatan dari “sigoltteugi” yang berarti “Badut”. Walau tidak menganggap Kakak perempuannya seperti itu namun, kebiasaan So Yun yang selalu bergonta-ganti warna rambut dan mengenakan pakaian dengan warna merah favoritnya membuat ia tampak seperti badut di mata So Jun.
Sang Kakak marah? Terkadang dan termasuk hari ini. Selain merasa tidurnya terganggu karena teriakan wanita dari dapur, So Yun yang masih setengah mengantuk pun terganggu dengan kehadiran So Jun yang tiba-tiba masuk dan berdiri menatapnya dengan kening berkerut.
“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya So Yun lalu mendorong dahi So Jun dengan telunjuknya.
Diam tanpa perlawanan untuk kali ini dan tetap memperhatikan setiap sudut wajah Kakak perempuannya dengan tatapan menyelidik.
“Ck, hssst,” So Jun berdecak kesal setelah kembali menegakkan badannya, “sasileun mwoga dallanikka?[1]” tambahnya dengan kening yang semakin berkerut.
Hingga akhirnya, pandangan So Jun tertuju pada rambut Sang Kakak yang tetap terlihat sangat teratur walaupun saat dia bangun dari tidur. Tetapi, bukan itu yang membuatnya tertarik sampai ingin menyentuh dan menjatuhkan helaian rambut So Yun perlahan.
“Ya! Niga mwolhae?![2]” bentak So Yun yang merasa kesal dan langsung menepis tangannya.
Seakan melihat hantu, So Jun yang telah menyadari perbedaan Kakaknya pun terduduk lemas di atas ranjang So Yun dan menindis ujung selimutnya.
“Ka, kau mewarnai rambutmu lagi?” tanya So Jun dengan kedua bola mata membesar.
“Ibu akan marah kalau tahu kau mewarnai rambutmu lagi!” teriak So Junyang terlihat sangat pasrah atas perlakuan Kakaknya.
BRAK!
Pintu kamar mandi di kamarnya terbanting keras dan So Yun sama sekali tidak peduli dengan teriakan Sang Adik yang bergegas lari ke lantai dasar rumah mereka menuju dapur. Dia menghampiri seorang wanita paruh baya yang sangat cantik dan tak lain adalah Ibu mereka, Park Geum Hee.
“Ya! Hyeon So Jun!”
Kedatangan So Jun yang sangat mengejutkannya, sontak buat ia berteriak seraya memukul cukup kuat pundak Anak laki-lakinya itu.
“Mianhaeyo, Geum Hee~ssi. Hehe…”
Alih-alih kembali marah, Geum Hee malah di buat tersenyum geli karena So Jun yang selalu berbicara sekehendak hatinya dan bahkan tanpa ragu memanggil Sang Ibu dengan sebutan “Nyonya”. Lagi, kegiatan Geum Hee yang sedang menyiapkan sarapan pun akhirnya ia lanjutkan setelah sempat berhenti karena kedatangan So Jun.
“Jadi, apa yang membuatmu masuk ke area Ibu?” tanya Geum Hee yang masih tetap sibuk menyiapkan sarapan untuk satu orang.
“Yun-tteugi hanteyeyo?[3]”
__ADS_1
Bukan menjawab tapi, So Jun malah kembali bertanya setelah melihat mangkuk nasi yang cukup besar tersedia di atas meja.
“Manjijima,[4]” ancam Geum Hee.
“Aniyo, na keuman meogo. Geunde wae manisseo? Yun-ttaegineun daieotheimnikka?[5]” tanya So Jun heran, “ah, ye! Geum Hee~ssi, Yun-tteugineun dasi kenyeoui meoriga yeomsaekiya,[6]” tambahnya yang kemudian mengalihkan pembicaraan tanpa menunggu jawaban Sang Ibu akan pertanyaan sebelumnya.
“Dokter mengatakan berat badannya menurun drastis dalam dua minggu ini. Itu masih dalam porsi wajar jadi, dia akan baik-baik saja. Dan masalah rambut, memang kenapa? Bukankah sudah biasa Kakakmu seperti itu?” jelas Geum Hee santai.
Kedua bola mata So Jun lagi-lagi membesar setelah mendengar pernyataan Ibunya dan buat ia tertegun.
“Ta, tapi, Ibu marah ketika dia mewarnai rambut saat akan berangkat ke Seoul,” ujar So Jun tak percaya.
Senyum penuh kasih sayang pun terukir di wajah Geum Hee yang baru selesai dengan kegiatannya, ia lalu mendekati So Jun dan mengusap lembut kepalanya.
“Sudah terlalu banyak masa sulit yang dia lewati jadi, biarkan Kakakmu melakukan apa yang dia inginkan. Kau juga boleh melakukan apa yang kau inginkan tapi, tetap fokus pada pendidikanmu. Kau sudah di perguruan tinggi sekarang dan pasti sangat bisa membedakan baik juga buruk untuk masa depanmu,” jelas Geum Hee tulus.
So Jun pun tersenyum getir lalu menarik Sang Ibu ke dalam pelukannya.
“Dia belum sepenuhnya sembuh jadi, tolong bantu Ibu menjaganya dengan baik,” kata Geum Hee suara yang mulai terdengar serak.
“Haaa…” So Jun menghela napas seraya menepuk-nepuk pelan punggung Ibunya, “Nyonya Park Geum Hee yang cantik, Hyeon So Jun memerintahkan untuk tidak menangis. Karena Kapten Hyeon Ri Oh yang tampan mengatakan, kalau kita harus selalu bersabar dan jalani semuanya perlahan.”
Dengan mengubah suaranya jadi sedikit lebih besar beserta kalimat aneh yang ia lontarkan tentu membuat Geum Hee seketika tersenyum geli dan memukul lengannya setelah melepaskan pelukan mereka. Reaksi tersebut membuat So Jun ikut tersenyum riang dan segera menghapus air mata yang sempat membasahi kedua pipi Ibunya.
“Pergi siapkan mobil dan antar Kakakmu ke tempat lesnya setelah sarapan,” kata Geum Hee sembari tersenyum.
So Jun pun mengangguk penuh semangat dan bergegas pergi melaksanakan tugasnya. Tidak lama senyum itu menghiasi wajah Geum Hee dan kini ia terduduk lemas di salah satu kursi meja makan dengan pandangan kosong.
Dia sempat mengalami depresi dan trauma berkepanjangan… Karena benturan di kepala yang sangat kuat juga kurangnya pasokan oksigen cukup lama membuat kerja otaknya sedikit melambat dan hanya bisa mengingat orang yang terakhir kali dia ingat sebelum kejadian…
Lagi, Geum Hee menitikkan air mata setelahbayang akan ucapan dokter tentang kondisi So Yun tergambar jelas dalam pikirannya.
Aku Song Joong Ki. Maaf, karena tidak bisa menjaganya dengan baik… Aku Jerry, teman Dae Hyuk… Bibi, Kak Joong Ki dan Jerry itu yang menemani So Yun selama di Seoul… Laki-laki yang melakukannya adalah mantan kekasih So Yun… Dong Wook sangat menyayanginya tapi, seseorang sudah memfitnah So Yun dengan mengatakan kalau dia pernah tidur bersama kekasihnya yang dulu dan seketika memicu amarah Dong Wook sehingga hubungan mereka berakhir seperti ini… Dia tadinya berencana membunuh So Yun di apartemennya sebelum membunuh dirinya sendiri… Dong Min, Adiknya sudah menyerahkan semua ke pihak berwajib dan akan bertanggung jawab sepenuhnya…
Ingatan akan penjelasan dari Dae Hyuk dan perkenalan singkatnya dengan dua laki-laki yang menemani putri kecilnya selama di Seoul setahun lalu, membuat Geum Hee semakin terisak karena rasa sakit kini benar-benar menjalari hati juga pikirannya.
[1] Sebenarnya apa yang berbeda?
[2] Hei! apa yang sedang kau lakukan?!
[3] Apa ini untuk Yun-ttaegi?
[4] Jangan sentuh.
__ADS_1
[5] Tidak, aku sudah kenyang. Tapi, kenapa banyak sekali? Bukankah dia sedang diet?
[6] Oh, iya! Ibu, Yun-ttaegi mewarnai rambutnya lagi.