
Ibu, ini bulan keduaku di Seoul dan maaf, aku baru mengunjungimu setelah tiga tahun berlalu. Hari ini tepat empat tahun aku berteman dengan Joong Ki. Tadinya aku berharap kami bertemu di sini dan ingin meminta maaf karena sempat melupakannya. Tapi, kelihatannya dia tidak datang untuk mengucapkan “selamat ulang tahun” untukmu. Ibu, aku sangat merindukannya.
Senyum mengembang di wajah So Yun setelah membuka kedua matanya dan lalu meletakkan seikat Bunga Tulip Kuning Tangkai Ganda di atas makam bertuliskan, “Kim Min Hye”.
“Aku tidak tahu bunga apa yang Ibu sukai tapi, ini bunga kesukaanku,” ucap So Yun yang lalu membungkuk sesaat, “aku permisi pulang,” tambahnya dan kemudian melangkah pergi.
Tak lama, sosok pria dengan setelan jas hitamnya tampak berhenti di depan makam Min Hye, pandangannya sesaat teralih pada So Yun yang kini telah melangkah cukup jauh. Hingga sosoknya tak lagi terlihat, pria itu pun menghela napas pelan dan kembali fokus pada makam yang ada di depannya.
“Ibu, maaf, aku terlambat,” ucap Sang Pria yang tak lain adalah Song Joong Ki itu.
Perlahan ia memejam setelah mengatupkan kedua telapak tangannya dan menundukkan kepala untuk memulai doa.
Pergilah, *t*emui dia yang sangat merindukanmu.
Seketika Joong Ki membuka kedua matanya dengan jantung berdebar kencang. Ia memperhatikan sekitar yang tampak kosong namun, sesaat kemudian pandangannya teralih pada makam Min Hye.
“Eomma?”bisiknya pelan.
Suara itu benar-benar mengejutkan Joong Ki hingga buatnya terpaku ketika menyadari ada seikat Bunga Tulip Kuning Tangkai Ganda di atas nisan besar yang tak lain adalah makam Ibunya tersebut.
“So Yun~a?” bisiknya dengan kedua bola mata membesar.
Ia bergegas meletakkan seikat Bunga Lavendel di makam Sang Ibu seraya membungkuk sesaat. Dan kini, seiring jantung yang semakin berdebar, Joong Ki berlari sekuat tenaga menuruni jalan komplek pemakaman yang berada di atas bukit itu menuju ke tempat parkir.
Hyeon So Yun, kalau kau bisa mengingat makam Ibuku. Apa itu berarti kau juga mengingatku? So Yun, aku mohon. Aku mohon, kali ini ingat semuanya. Aku mo…
Batin Joong Ki seketika terhenti berucap saat kedua matanya melihat jelas sosok gadis berambut merah panjang yang ia perhatikan 30 menit lalu, kini tengah berdiri di sisi mobilnya. Diam sejenak, ia terpaku sesaat setelah menghentikan larinya. Perlahan mencoba mengatur napas sebelum kemudian ia melangkah hati-hati menghampiri gadis yang sedang bersandar pada pagar beton sambil menendangiban depan mobil.
__ADS_1
Sang Gadis yang sedari tadi menunduk tanpa menyadari kehadiran sosok Joong Ki pun tersentak ketika pandangannya pada aspal terlindungi sepasang sepatu pantofel hitam mengkilat. Ia mengerjap cepat sesaat dan perlahan menyusuri setiap inci badan dengan tinggi 185 sentimeter tersebut hingga buatnyamendongak.
Namun, alih-alih merasakan keterkejutan sama seperti Joong Ki yang sangat mengenali sosoknya. Hyeon So Yun, gadis yang sekarang berdiri di hadapannya hanya mengerjap dengan tatap heran.
“Nuguseyo?” tanya So Yun dengan kedua bola mata yang sedikit membesar karena bingung.
Pertanyaan itu bagai pedang yang menghantam keras jantung Joong Ki hingga membuatnya tertegun dengan tubuh yang tiba-tiba bergetar hebat dan kedua pelupuk matanya pun mulai berlinang.
“Oh, aku pikir kau orang yang kukenal,” ucap Joong Ki dengan suara serak, “ma, maaf. Aku permisi,” tambahnya setelah membungkuk sesaat.
Dia mengenal, bahkan meyakini gadis itu adalah So Yun tetapi, seolah di jatuhkan ke dasar jurang, ia dengan terpaksa berbalik membawa perasaan yang lebih kacau dari sebelumnya dan melangkah lunglai menuju sisi lain mobil.
So Yun pun terlihat sangat santai memperhatikan dia yang tampak salah tingkah dan berusaha menahan air mata dari tempatnya berdiri sejak tadi. Sampai terdengar bunyi kuncian pintu mobil yang di tarik oleh Joong Ki…
KLEK!
“Apa kau menjaga gitar dan boneka beruangku dengan baik?”
Lagi, untuk kesekian kalinya Joong Ki tertegun dan dengan ragu ia mengangkat wajah untuk meluruskan pandangan pada gadis yang masih berdiri di tempat sama dengan tatapan datarnya.
“So, So Yun~a?” ucap Joong Ki dengan suara yang hampir hilang.
Senyum pun perlahan terukir jelas di wajah So Yun sebelum kemudian ia mengangguk riang.
“Ne, Oppa. Ige naya, Hyeon So Yun,[1]” sahut So Yun riang.
Segera, Joong Ki melangkah cepat dan memeluk erat So Yun yang sudah lebih dulu merentangkan kedua tangan untuk menyambutnya.
__ADS_1
“Oppa, jeongmal bogosipeoyo,” ujar So Yun tulus dan air mata seketika membasahi kedua pipinya.
Tidak ada kata terucap dan sejenak hanya terdengar isak tangis Joong Kiyang sedari tadi ia tahan. Lama, hingga…
“Na, natto, So Yun~a. Natto,” ucap Joong Ki cepat dengan napas tersengal.
“Oppa, jwesonghaeyo,” sahut So Yun yang terlihat lebih tenang walau air
matanya terus keluar tanpa henti .
“Eo! Gwaenchana. Natto mianhae.”
Tidak peduli itu akan membuat dia terlihat sangat buruk namun, perasaan haru juga bahagia yang sekarang menjadi satu dalam dirinya membuat Joong Ki terisak cukup
lama dalam pelukan gadis yang sudah melupakannya cukup lama. Sampai tangis
keduanya tidak lagi terdengar dan air mata So Yun telah membasahi seluruh jas
Joong Ki. Detik ini, mereka terlihat lebih nyaman dengan saling memeluk lebih
erat.
Gomawo, Eomma. Jeongmal saranghae.
Batin Joong Ki, setelah pandangannya teralih pada cahaya matahari musim semi yang masuk ke retinanya melalui celah dedaunan dari pohon tempat mereka berdiri ketika ia menengadahkan kepala. Senyum tulus terukir di wajahnya bersama kenangan gadis yang kini memeluknya semakin erat, sama seperti seperti empat tahun yang lalu.
__ADS_1
[1] Iya, Kak. Ini aku, Hyeon So Yun