Ice Flower

Ice Flower
Chapter #31


__ADS_3

Gadis berambut merah itu, aku masih mengingatnya walau tiga tahun telah berlalu…


“Sudah kukatakan padamu, kalau aku tidak menerima peserta audisi yang berumur di atas 25 tahun!” omel Joong Ki.


Joong Yun Entertainment


Itulah yang tertulis di ruang Presiden Direktur Song Joong Ki, pemilik perusahaan industri musik terbesar di Seoul. Namun, keadaan di ruangannya terlihat sangat tidak nyaman siang ini,  Joong Ki tampak sangat marah besar setelah menerima hasil audisi yang di serahkan Hwi Jae dan Jerry.


“Ak, aku pikir kau tidak akan mempermasalahkan umur,” sahut Hwi Jae gugup.


Joong Ki yang awalnya membelakangi mereka setelah melemparkan berkas para peserta audisi ke atas meja kerja dengan kasar pun seketika berbalik dan menatap tajam Hwi Jae yang sontakmenundukkan kepalanya.


“Aku percayakan padamu untuk memimpin audisinya karena kupikir kau sangat kompeten, Kak,” kata Joong Ki yang berusaha menahan diri agar tidak berteriak.


“Ma, maafkan aku,” sahut Hwi Jae.


Sementara, Hwi Jae semakin menunduk, pandangan Joong Ki lalu teralih pada Jerryyang sedari memandanginya dengan sinis.


“Bisakah kau sedikit hormat padaku?!” tanya Joong Ki kesal.


“Kau hanya lebih tua tiga tahun dariku,” sahut Jerry santai.


“Ya! Yeong Jerry, neo…”


Pada akhirnya amarah Joong Ki pun tidak terbendung dan teriakannya sontak mengejutkan Hwi Jae yang segera menarik tangan Jerry untuk keluar dari ruangannya. Sedangkan, ia hanya bisa menghela napas kesal dan puncaknya ketika Jerry yang masih tampak santai sesaat menengok ke dalam.


“Mwonya deo?! Dangjang naga![1]” teriak Joong Ki saat kembali melihat Jerry.


“Kau tidak akan menyesal setelah melihat gadis berumur 29 tahun yang aku loloskan dalam audisi,” sahut Jerry seraya tersenyum sinis.


“Kubilang, keluar!!!” kembali Joong Ki berteriak.


Joong Ki kembali berteriak sembari melemparkan berkas ke pintu yang segera di tutup Jerry sebelum benda tersebut menghantam wajahnya.

__ADS_1


“Haaa,” Joong Ki menghela napas cukup keras dan melonggarkan dasinya dengan kasar, “sebentar lagi aku akan menderita dispnea[2] karena terlalu sering menghela napas,” omelnya yang kemudian menghempaskan diri kebangku kerjanya.


Ia memutar-mutar bangkunya ke kiri kanan sesaat dengan kedua mata terpejam sampai tiba-tiba berhenti. Dia diam beberapa detik sebelum kemudian membuka mata dan memandangi sebuah figura dengan foto sepasang suami istri bersama dua anak laki-laki yang berdiri di antara mereka. Keempatnya terlihat mengenakan Hanbok[3] dan cukup lama hingga senyum terukir di wajah Joong Ki ketika ia menatap lekat satu-satunya wanita dalam foto tersebut.


“Ayah sudah pensiun dua tahun lalu. Maaf, aku tidak menjadi anak yang baik dengan menyerahkan semuanya pada Kak Joong Jin. Tapi, aku bahagia bisa mendirikan perusahaan musik untuk musisi terbaik seperti Yeong Jerry dan menjadikan dia sebagai wakilku bersama Kak Hwi Jae yang tetap menjadi manajer setiaku,” jelas Joong Ki dan lalu tersenyum geli, “bar restoran yang di jalankan Dae Hyuk juga semakin ramai,” tambahnya riang.


Kembali diam sembari mengusap pelan permukaan figura tersebut, ia pun tersenyum tulus.


“Nyonya Kim Min Hye, terima kasih sudah melahirkan juga membesarkan dan menjadi Ibuku dengan semua kebahagiaan itu. Aku harap, Ibu bisa mengerti keputusanku.”


Senyum tulus itu memudar saat pandangannya teralih pada figura di sampingnya. Figura tersebut berisikan foto dirinya bersama So Yun yang tengah mengenakan topi ulang tahun dan senyum sinis pun kini menghiasi wajahnya.


“Aku yakin kau sudah semakin tua sekarang,” ujarnya pelan.


Waktu yang sama di sebuah taman, seorang gadis berambut panjang merah tergerai dan berkacamata besar tampak melamun memperhatikan boneka perempuan pada sebuah kursi panjang tak jauh dari tempatnya.


“Minum ini.”


“Ini sangat menggelikan. Wajahmu yang dulu terlihat begitu dewasa sampai kupikir kau lebih tua dariku tapi, ternyata kita seum…”


Lirikan sinis gadis di sisinya membuat kalimat laki-laki yang tak lain adalah Jang Dong Min itu seketika terputus dan buatnya gugup.


“Ma, maksudku wajahmu kelihatan seperti gadis kecil yang manis sekarang. Kau terlihat lebih muda setelah 3tahun tinggal di Busan. Aku pikir angin Pantai Haeun…”


Lagi, gadis tersebut melirik sinis pada Dong Min yang kembali memutus kalimatnya.


“Ba, baiklah aku akan diam,” ujar Dong Min dan segera mengalihkan pandangan ke arah yang sama dengan Sang Gadis.


Keduanya diam sambil sesekali meneguk minuman masing-masing sampai sosok Jang Dong Wook terlihat menghampiri boneka perempuan yang sedari tadi mereka perhatikan. Sang Gadis tetap bungkam walau ia tahu jika Dong Min sempat mencuri pandang padanya ketika Dong Wook meletakkan setangkai Mawar Kuning di atas pangkuan Si Boneka.


“So Yun, kau suka Mawar Kuning, kan? Ini untukmu.”


Kalimat itu terdengar sangat jelas oleh keduanya namun, hanya Dong Min yang bereaksi dengan menghela napas pelan.

__ADS_1


“Kau dengar, dia selalu memanggilmu,” ujar Dong Min.


Gadis di sisi Dong Min pun mengerjap dengan ekspresi datar tetapi, kedua tangannya perlahan tampak menggenggam erat kaleng minumnya.


“Ingatan tentang apa yang telah dia lakukan, siapa dia dan semua tentang hidupmu sekarang sudah kembali tapi, Kakakku hanya mengingatmu. Dia tidak lagi terlihat seperti orang yang selama ini selalu kubanggakan. Orang tuaku juga memilih untuk merelakan semua agar bisa merawatnya dengan baik dan karena itu, aku harus mengambil alih perusahaan,” jelas Dong Mindan lalu menghela napas cukup keras.


Senyum getir yang sempat menghiasi wajah Dong Min pun terlihat jelas oleh Sang Gadis ketika dia mengalihkan pandangan padanya. Gadis itu mengerjap seakan bertanya-tanya tentang perasaannya tapi, saat tatap mereka bertemu, senyum lembut Dong Min kini terarah padanya.


“Kalau kau bertanya, bagaimana perasaanku? Aku sangat kacau. Kau tahu kalau aku sangat suka bermain dan sekarang karena kejadian ini, aku harus jadi bagian dari pria berdasi yang wajib menjaga prilakunya. Ini sulit.”


Senyum geli terukir di wajah Dong Min ketika gadis di sisinya mengerjap heran dan buat dia mengusap pelan puncak kepalanya dengan gemas.


“Hyeon So Yun, jangan pernah maafkan Jang Dong Wook, Kakakku. Ini hukuman yang pantas untuknya karena sudah mencintaimu dengan cara yang salah.”


Gadis yang sekarang terdiam memandangi Dong Min tersebut memang tak lain adalah Hyeon So Yun. Dia mengerjap dengan pandangan kosong setelah mendengar ucapan dari laki-laki di sisinya. Di matanya, Dong Min seperti Kakak sekaligus Adik laki-laki yang baik, bahkan sangat baik. Tapi, sampai detik ini pun So Yun masih merasa canggung padanya walau hati sangat ingin memeluk Dong Min yang sekarang memalingkan wajah dan berusaha menyembunyikan rasa sedih juga air mata yang sudah membasahi kedua pipinya.


Oppa, wae  ireohke dweneun geoya?[4]


Batin So Yun setelah pandangannya kembali teralih pada Dong Wook yang kini terlihat akan beranjak pergi bersama bonekanya dengan senyum riang. Hilang, sosok yang pernah sangat ia sayangi sekarang tidak lagi berada di hadapannya dan So Yun perlahan tertunduk.


Tubuhnya tampak gemetar dan ia semakin menggenggam erat kaleng minumnya namun pelan, Dong Min yang sudah tampak lebih baik pun mengusap lembut lengan kanannya.


“Gwaenchana, So Yun~a,” bisik Dong Min dengan suara yang hampir hilang, “gwaenchanayo,” tambahnya.


Pada akhirnya, tangis So Yun pecah sesaat setelah Dong Min menarik dia dalam pelukannya. Entah bagaimana sakit yang gadis itu rasakan tetapi, Dong Min hanya bisa mengusap kepalanya dengan lembut dan kembali menangis dalam diam.


[1] Apa lagi?! Keluar sekarang!


[2] Sesak napas


[3] Pakaian tradisional Korea


[4] Dong Wook, kenapa jadi seperti ini?

__ADS_1


__ADS_2