Ice Flower

Ice Flower
Chapter #33 (Last Chapter)


__ADS_3

“Kau sudah selesai?”


Senyum riang mengembang di wajah So Yun yang baru saja memasukkan gitar putih kesayangannya ke dalam tas ketika mendapati Joong Ki tengahberdiri di depan pintu salah satu ruang latihan Joong Yun Entertainment.


“Kenapa? Apa kau mau mentraktirku makan kue beras?” tanya So Yun sinis.


Dan Joong Ki pun hanya menggeleng seraya tertawa geli dengan kepala tertunduk sampai So Yun beranjak menghampirinya.


“Hei, pria tua berumur 32 tahun yang sampai sekarang belum menemukan pasangan hidupnya,” ujar So Yun setelah menepuk cukup keras lengan Joong Ki yang seketika menatapnya, “kau tidak mungkin membiarkan wajah pesolekmu sia-sia, kan?” cibirnya.


Segera ledakan tawa Joong Ki memenuhi ruangan tersebut untuk beberapa saat sebelum kemudian ia mencubit pipi kiri So Yun hingga buatnya kembali melayangkan pukulan lebih kuat dari sebelumnya.


“Hahahaha, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat,” ucap Joong Ki yang lalu tersenyum lembut.


Heran namun, So Yun tetap mengikuti langkah Joong Ki yang kini menggenggam tangannya sangat erat hingga keduanya tiba di parkiran dan dua jam kemudian…


“Namsan Tower?”


Bahkan pertanyaan yang dia ajukan lebih membuatnya bingung setelah Joong Ki yang baru saja memarkir mobil melempar senyum penuh arti padanya.


“Ayo, turun,” ajak Joong Ki.


Tanpa ada kata yang terucap untuk menjawab semua kebingungan So Yun dan setelah 20 menit, mereka pun tiba di Puncak Menara Namsan.


“Tidak buruk,” ujar Joong Ki sambil memperhatikan sekelilingnya.


“Un, untuk apa ke sini?” tanya So Yun dengan kening berkerut.


“Kau ingin ke sini, kan? Setidaknya berlatih sebelum bertemu orang yang kau cintai agar tidak terlihat begitu takjub,” sahut Joong Ki santai.


Jawaban anehnya membuat So Yun hanya bisa berdecak kesal dan bergegas melepaskan tas gitar lalu ia serahkan pada Joong Ki dengan kasar.


“Bawa ini,” perintahnya yang lalu melangkah pergi.


Alih-alih marah, Joong Ki malah tersenyum geli dan melangkah santai dengan tas gitar di punggung. Dia menghampiri lalu duduk di samping So Yun yang sudah lebih dulu duduk di sebuah kursi.


“Kau tidak seharusnya memperlakukan Bos-mu seperti ini,” sindir Joong Ki sembari tersenyum geli.


Namun, So Yun yang masih merasa kesal lebih memilih untuk tidak peduli dan memandang lurus ke arah matahari yang perlahan turun. Sementara, Joong Ki tetap tersenyum ketika dia mulai menyipitkan mata. Segera Joong


Ki melepaskan topinya sebelum kemudian memayungi So Yun yang seketika tersentak dan memandang padanya.


“Aku baik, kan?” tanya Joong Ki seraya menyeringai.


Senyum sinis pun terukir di sudut bibir So Yun sebelum akhirnya Joong Ki memakaikan topi itu ke kepalanya dengan asal.


“Ceritakan padaku bagaimana kau bisa mengingat semuanya,” ucap Joong Ki pelan.


“Haaa… entahlah,” sahut So Yun setelah menghela napas cukup keras, “tapi, ada benda ini di saku jaketku,” tambahnya seraya mengeluarkan sebuah foto dari tas selempangnya.


Segera, Joong Ki tersenyum setelah melihat foto yang ia terima.


“Foto ulang tahunmu yang ke-26,” ujar Joong Ki, “ini yang membuatmu mengingat semuanya?” tanyanya lagi.


“Aku semakin lupa saat melihat foto itu,” sahut So Yun datar setelah menggeleng cepat.

__ADS_1


Langsung saja, bola mata Joong Ki membesar karena kesal usai mendengar dan melihat reaksinya.


“Ya!” teriak Joong Ki begitu kecewa.


Tetapi, So Yun yang sangat datar tidak peduli akan teriakannya dan bergegas mengeluarkan sebuah figura berisi Bunga Tulip Kuning Bertangkai Ganda yang tampak segar.


“Kau tidak berbohong tentang ini. Bunganya memang bertahan lebih lama di dalam figura,” ujar So Yun sambil menyerahkan figura tersebut pada Joong Ki yang langsung menyambutnya.


“I, ini bunga yang…”


Lagi, kedua bola mata Joong Ki membesar setelah tatapnya teralih kembali pada So Yun yang kemudian mengangguk pelan.


“Hmm… bunga pertama yang kau berikan padaku di musim dingin ketika aku sangat merindukan Ayah dan Ibu. Saat aku masih merasa malu juga takut untuk bertemu keduanya, walau sampai detik ini aku masih merasakan hal yang sama karena mereka tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, aku selalu merasa terhibur setiap kali melihatnya,” jelas So Yun sembari tersenyum tulus.


Dan kini, Joong Ki terdiam dan tertegun hingga menghilangkan semua rasa kesalnya beberapa saat lalu.


“Butuh waktu dua tahun lebih untuk mengingat semuanya. Ingatan yang pertama dalam pikiranku adalah tentang bunga itu, lalu tentangmu, Eun Hee, kebohonganku dan terakhir Dong Wook,” jelasnya lagi yang lalu menghela napas keras, “ketakutan terbesarku adalah saat ingatan tentang Dong Wook kembali dan buatku sempat tidak sadarkan diri lagi selama 1 minggu. Karena ingatan itu sangat kuat dan seakan menutupi semuanya, Ibu bahkan


mengatakan aku hampir di vonis akan mengalami kematian batang otak,” tambahnya dengan senyum getir.


“Apa… kau benar-benar takut mengingat tentangnya?” tanya Joong Kiragu.


“Hmm… aku tidak menyangka jika otak ini akan merekamnya dengan sangat sempurna,” sahut So Yun seraya mengangguk, “aku menjadi sangat takut ketika teringat Dong Wook yang mengikat dan menyuruhku menonton adegan ranjangnya. Dia terlihat seperti laki-laki aneh yang selalu membuatku takut setiap kali masuk ke Bar JeeMee,” jelasnya yang kemudian tertunduk lesu.


Beberapa saat keduanya terdiam, cukup lama hingga Joong Ki melirik dan melihat So Yun yang sekarang hanya memandang kosong. Dia pun menghela napas pelan sebelum kemudian merangkul dan biarkan So Yun menyandarkan kepala di dadanya.


“Itu sudah berlalu, kan?” tanya Joong Ki yang berusaha mencairkan suasana.


“Aku sudah tahu tentang keadaannya sekarang,” sahut So Yun datar.


“Hmm,” sahut Joong Ki seraya mengangguk, “aku yakin kau pasti akan segera mengetahuinya.”


“Mmm…” sahut Joong Ki singkat.


“Kemarin kau mengatakan kalau Eun Hee menemuimu,” kata So Yun dan diiringi anggukan Joong Ki, “aku menghubungi dan meminta maaf padanya lalu mengganti nomor ponselku. Aku yakin dia tidak akan pernah memafkanku,” tambahnya.


Kembali Joong Ki menghela napas pelan setelah berdiam cukup lama usai mendengar cerita gadis dalam rangkulannya.


“Semua sudah di putuskan, kau hanya tinggal menjalani sisanya,” ucapnya pelan dan diringi anggukan So Yun.


“Apa… aku bisa mengenakan gaun pengantin impianku?” tanya So Yun datar.


Pertanyaan itu membuat Joong Ki segera melepaskan rangkulannya dan menggenggam erat tangan So Yun yang sudah menatapnya datar.


“Kau mungkin tidak suka dan aku juga sudah berusaha menepis segala kemungkinan tentang rasa itu di antara kita berdua. Tapi, otakku selalu di penuhi wajah seorang gadis berambut merah yang aku temui di bandara sembilan  tahun lalu. Aku mulai mencari tahu tentangnya setelah kami di pertemukan lagi tetapi, aku terlambat satu langkah, dia pergi bersama laki-laki lain.”


So Yun hanya mengerjap ketika Joong Ki berhenti berucap untuk menghela napas sampai senyum lembut perlahan terukir di wajah manisnya.


“Banyak berpikir untuk waktu yang cukup lama, hingga kemudian aku memutuskan untuk menjadi temannya. Dan tidak di sangka, keputusan itu membuatku tahu banyak tentangnya lebih dari orang lain. Aku jadi tahu bagaimana dia berjuang agar bisa merasakan keindahandunia yang sebenarnya,” jelas Joong Ki tulus.


“Kau… sedang membicarakan tentangku?” tanya So Yun ragu dan segera Joong Ki menggangguk pelan, “kau tidak berubah pikiran setelah mengetahui aku pernah tidur dengan dua laki-laki yang berbeda karena…”


“Karena itu sebenarnya bukan keinginanmu,” ujar Joong Ki yang langsung memutus kalimat So Yun dan buatnya bungkam, “kau hanya ingin menjalani hubungan yang normal tapi, rasa takut akan kehilangan orang yang kau cintai membuatmu terpaksa melakukannya,”tambahnya.


“Op, Oppa,” ucap So Yun dengan kedua bola mata membesar.

__ADS_1


“Apa kau ingin berdiri bersamaku dengan gaun pengantin impianmu dan mengucap janji pada Tuhan?” tanya Joong Ki seraya tersenyum tulus, “saranghae So Yun~a. Jebal tto gajimaseyo.[1]”


Tatap tulus Joong Ki juga air mata yang perlahan membasahi kedua pipinya buat So Yun seketika mengerjap cepat. Namun, hanya sekian detik…


“Op, Oppa, ureojima,” ucap So Yun dengan suara serak, “nan jeongmal mianhaeyo.”


Segera, Joong Ki menganggukcepat dan menarik So Yun yang ikut terisak ke dalam pelukannya.


“Ma, maaf, aku terlalu bodoh untuk menyadarinya dan buatmu menunggu terlalu lama,” ucap So Yun di sela isaknya, “waktu itu kupikir kau akan menjauh jika mengetahui tentang perasaanku.”


Ucapan So Yun yang terdengar sangat tulus membuat Joong Ki tersenyum seraya mengangguk cepat dan memeluknya lebih erat.


Gwaenchana, jigeum kkeuthnasseo. Gomawo So Yun~a. Saranghae.[2]


-----------


Ibu, aku yakin kau pasti bangga sekarang. Tapi, bukan hal itu yang ingin kudapatkan dari Ibu. Aku hanya ingin Ibu tahu kalau sekarang hidupku telah sempurna bersama seorang wanita yang selama ini selalu menghormati


dan memberikan segala kasih sayangnya padaku.


Ibu, aku yakin sebagian lelaki akan menolaknya tetapi, bagiku dia tetaplah wanita yang sangat luar biasa. Aku beruntung memilikinya yang begitu jujur dan hidup dengan memberikan segala perhatiannya hanya untukku.


Ibu, pasti bahagia karena aku telah memilihnya untuk menjadi Ibu dari anak-anakku. Seperti yang selalu Ibu katakan padaku, “Berbahagialah dengan segala hal yang ada di depan matamu dan cintailah apapun yang masuk dalam kehidupanmu. Maka kau akan melihat keindahan dunia dan kasih sayang Tuhan yang sebenarnya.”


Ibu, terima kasih sudah melahirkan dan membesarkanku dengan sangat baik. Kini aku merasakan segala hal yang ingin kurasakan. Tenanglah di sana karena aku sudah memiliki seorang Malaikat yang akan selalu tertawa dan menangis bersamaku.


                                                                                               Dariku yang sangat mencintaimu, Song Joong Ki.


“Oppa,” tegur seorang wanita yang tiba-tiba memeluk Joong Ki erat dari belakang dan buatnya segera berbalik.


“Ye, So Yun~a?” sahut Joong Ki seraya tersenyum tulus.


“Kau sedang menulis surat untuk Ibu?” tanya wanita tersebut.


“Iya, aku mengirim doa lewat tulisanku,” ujar Joong Ki.


Sambil tetap memeluknya, wanita yang tak lain adalah So Yun itu pun mulai membaca tulisan di hadapan mereka.


“Kau merasa bahagia memilikiku?” tanyanya kemudian.


Pertanyaan tersebut buat Joong Ki tersenyum geli sembari melepas pelukan So Yun untuk beranjak dari duduknya. Lama mereka saling memandang sebelum kemudian Joong Ki memeluk erat pinggang So Yun dan mendaratkan kecupan lembut di bibirnya yang sontak tersenyum sipu.


“Kau masih malu setelah tujuh tahun menikah dan memiliki 2 anak?” tanya Joong Kiyang lalu tersenyum geli.


Tidak ada jawaban namun, tatap penuh kasih sayang itu So Yun tujukan pada pria di hadapannya. Sampai senyum lembut terukir di wajahnya…


“Gomawo, Oppa,” bisiknya tulus dan buat Joong Ki tersenyum.


“Saranghae,” ucap Joong Ki pelan.


Dan kembali ciuman mesra dari Joong Ki mendarat di bibirnya.


Song Joong Ki, nama itu akan selalu menjadi nama pertama dan terakhir dalam hidupku setelah sekian lama aku mengharapkan hidup yang normal. Tuhan, terima kasih telah mengirimkan seorang Song Joong Ki padaku. Ibu, terima kasih telah melahirkannyadengan baik…


Hyeon So Yun, nama itu akan selalu menjadi nama pertama dan terakhir dalam hidupku setelah sekian lama aku mengharapkan sebuah kasih sayang yang tulus. Tuhan, terima kasih telah mengirimkan seorang Hyeon So Yun padaku. Hidupku sempurna  karena aku mencintainya…

__ADS_1


[1] So Yun, aku menyayangimu. Aku mohon jangan pergi lagi.


[2] Tidak apa-apa, sekarang sudah selesai. Terima kasih, So Yun. Aku menyayangimu.


__ADS_2