
Oppa… gomawoyo. Saranghae…
“So Yun~a, himneseyo jebal.[1]”
Dae Hyuk~a, gomawoyo…
Setelah semua keributan berakhir dan hanya sunyi terasa di pendengarannya. Hyeon So Yun, gadis manis itu kini tak sadarkan diri.
Aku ingin melupakan semua, menjadi Hyeon So Yun yang baru, bersih dan tidak pernah sekalipun melakukan kesalahan fatal dalam hidupnya. Hyeon So Yun yang akan selalu membahagiakan kedua orang tuanya dan menjaga harga dirinya tanpa harus takut kehilangan cinta dari seorang laki-laki. Hyeon So Yun yang akan selalu menyayangi sahabat terbaiknya dan membiarkan segala mimpinya berjalan sesuai kehendak Tuhan tanpa harus melakukan kebohongan. Aku… sangat ingin mengenalmu tanpa harus merasa malu juga menyesal karena telah biarkanmu mencintaiku. *Bisakah aku meminta untuk di lahirkan kembali? Aku… benar-benar takut*…
Sebuah taman yang begitu luas, dipenuhi Bunga Tulip dengan berbagai warna dan So Yun berada di antaranya. Ya, gadis itu terlihat sangat cantik dengan dress selutut merah hati dan rambut hitamnya yang sedikit bergelombang tergerai pun ia biarkan tertiup angin.
Sementara, seorang wanita paruh baya dengan dress panjang biru lembut tampak tersenyum penuh kasih sayang ke arah So Yun yang tengah berjalan menikmati keindahan Bunga Tulip di sekelilingnya. Wanita itu tampak cantik, bahkan sangat cantik dengan sorot mata yang memancarkan kebahagiaan ketika So Yun ikut duduk di atas tikar bersamanya dan menuangkan teh ke dalam cangkir yang langsung ia serahkan padanya.
Sementara, Sang Wanita menikmati tehnya, So Yun lebih memilih untuk menikmati langit biru cerah dan menengadahkan kepala dengan mata terpejam. Lagi, Sang Wanita tersenyum setelah meletakkan cangkir tehnya, ia membelai lembut kepala So Yun dan sontak buat gadis itu membuka mata lalu tersenyum riang padanya.
“Kau merasa bahagia di sini?” tanyanya lembut.
So Yun mengangguk cepat, kemudian merebahkan tubuh dan membaringkan kepalanya di atas pangkuan wanita tersebut.
“Kim Min Hye? Itu namamu, kan?” tanya So Yun yang sudah kembali memejamkan matanya.
“Iya, itu namaku,” sahut wanita bernama Min Hye tersebut sambil membelai kepala So Yun penuh kasih sayang.
“Apa kau selalu memperhatikan Kak Joong Ki, Kak Joong Jin dan PresDir Song dari sini?” tanya So Yun lagi.
“Mmm,” sahutnya seraya mengangguk pelan dan tersenyum manis.
“Aku berharap kita bisa bertemu dan Tuhan mendengar doaku. Apa kau senang bertemu denganku?” tanya So Yun.
“Tentu saja. Bahkan sangat senang, sama seperti perasaan orang-orang yang menyayangimu.”
“Aku ingin tinggal bersamamu di sini. Apa kau mau menerimaku?”
__ADS_1
Pertanyaan yang sangat polos dari seorang Hyeon So Yun yang masih terpejam itu membuat Min Hye kembali tersenyum lembut.
“Aku suka pakaian ini dan sangat ingin mengenakannya ketika menikah dengan orang yang kucintai. Tapi, karena tidak akan ada lagi laki-laki yang menerimaku jadi, memakainya sendiri pun tidak buruk,” ucapnya datar.
Lagi, Min Hye tersenyum setelah mendengar pernyataannya.
“Orangtuamu pasti sangat menyayangimu,” kata Min Hye lembut.
“Ayah dan Ibu sudah memberikan limpahan kasih sayang tapi, mereka sangat sial karena memiliki anak sepertiku. Hyeon So Yun ini tidak bekerja dan seorang pembohong ulung jadi, kurasa semua akan lebih baik jika aku tidak ada.”
Dari semua kalimat yang terucap, sekilas ia tampak sangat tegar. Namun, suara seraknya terdengar sangat jelas oleh Min Hye yang sedari tadi mendengarkannya dengan penuh kesabaran.
“Kau merindukan mereka?” tanya Min Hye.
“Mereka tidak pantas memiliki anak sepertiku,” sahut So Yun dan terlihat sangat berusaha menahan isaknya.
“Adikmu? Dia pasti sangat bangga padamu,” ujar Min Hye seraya kembali membelai lembut kepala So Yun.
“Tidak ada yang bisa di banggakan dari seorang Kakak pembohong sepertiku.”
“Kau menyayanginya?” tanya Min Hye.
“Aku akan berikan seluruh hidupku untuknya,” sahut So Yun datar.
“Kau punya sahabat?” tanya Min Hye lagi.
“Iya, gadis manis bernama Choi Eun Hee. Dia seperti Adik bagiku. Tapi, kurasa aku bukan sahabat dan Kakak yang baik untuknya,” keluhnya.
“Dia tidak seperti yang kau pikirkan dan sangat menyayangimu dari hati yang paling dalam,” ujar Min Hye penuh kasih sayang.
“Dia pantas membenciku,” sahut So Yun dengan suara serak yang semakin jelas terdengar.
“Tapi, kau pun pantas menyayanginya. Tidak ada kata cacat dalam rasa sayang,” ucapMin Hye tulus.
__ADS_1
Diam dan air mata yang So Yun tahan cukup lama pun mengalir dari kedua sudut matanya yang masih terpejam.
“Kau mungkin mengalami masa sulit tetapi, percayalah bahwa tidak semua orang akan membenci dan menghinamu,” kata Min Hye, “Tuhan akan sangat berbaik hati pada siapapun yang ingin berusaha memperbaiki dirinya,” tambahnya.
Segera, gadis di pangkuannya bangun dari pembaringan dan menatap dalam. Ia pun tersenyum penuh kasih sayang setelah mengangguk pelan dan So Yun tanpa segan memeluknya bersamaan dengan tangis yang seketika pecah.
“Kembalilah. Masih banyak yang harus kau lakukan,” ucap Min Hye sambil membelai lembut rambut So Yun yang terisak dalam pelukannya, “jangan takut untuk terus bermimpi juga berusaha menjadi seorang yang lebih baik dan kenakanlah gaun impianmu saat sudah bertemu takdirmu kelak. Aku yakin, pasti akan ada laki-laki yang menerimamu dengan segala rasa sayang yang dia miliki. Jangan lupakan sebuah imbalan, karena ketika kita memutuskan untuk menjadi lebih baik, saat itu juga kita akan rasakan berkali lipat kasih sayang dari semua orang yang kita harapkan,” tambahnya tulus.
Perlahan So Yun melepaskan pelukannya dan kembali menatap dalam Min Hye yang masih tersenyum padanya.
“Aku ingin melupakan semuanya,” ucap So Yun dengan suara serak.
“Kau tidak bisa melupakan semua untuk selamanya. Karena terkadang ingatan itu akan kembali dan buatmu merasa dalam mimpi yang sangat buruk. Tapi, percayalah saat kau mengalaminya, orang-orang yang kau harapkan pasti membantumu dan selalu berdiri untuk melindungimu. Jangan takut, dunia tidak akan kejam pada gadis cantik sepertimu,” jelas Min Hye.
“Aku ingin memulainya dari awal,” ujar So Yun di sela isaknya yang hampir mereda.
Min Hye pun mengangguk pelan sembari mengusaplembut kedua pipi So Yun yang basah.
“Kau pasti memulainya di awal saat nanti membuka mata dan dari sanalah akan terlihat keindahan dunia yang selama ini kau impikan,” ucap Min Hye lembut.
Segera, setelah mendengar semua ucapan Min Hye, ia pun beranjak dengan senyum tipis mulai terukir di wajahnya.
“Aku pergi, Nyonya Kim,” ujarnya pelan.
Dan Min Hye pun ikut berdiri lalu menggenggam kedua tangan So Yun seraya tersenyum penuh kasih.
“Eommonim irago bulleojuseyo,[2]” ucap Min Hye tulus.
“Ye, Eommonim,[3]” ujar So Yun yang kemudian tersenyum riang.
[1] So Yun, aku mohon bertahanlah.
[2] Panggil aku, Ibu.
__ADS_1
[3] Iya, Ibu.