
emma sekarang tengah berjalan menyusuri lorong lorong. banyak orang yang meliriknya atau berbisik lantaran wajahnya yang konyol.emma sekuat tenaga menelan rasa malu yang kini menghantuinya bahkan hantu kini tidak begitu memalukan dibanding dirinya.
"pokonya ini harus selesai kurang dari 2 jam. " tekadnya dalam hati.
ia melirik kanan kiri mencari mahasiswa yang memakai ikat pengenal di lengannya. hampir dua jam ia tak menemukan anggota bem berdasarkan ciri cirinya.
emma hampir putus semangat namun ia tetingat kata ibunya malu bertanya sesat dijalan , akhirnya ia pun memberanikan diri bertanya kepada salah seorang secara acak .
"tunggu sebentar..."pinta emma menghentikan seseorang pria didepannya.
"ya?"tanya pria imut dengan hidung kecilnya, mata yang lumayan besar, punya pipi yang chubby, rambut hitam dan tentunya badan yang bisa terbilang mungil.
" boleh tanya?" tanya emma ragu.
" tanya aja ngapain harus ijin?" jawab pria imut itu tersenyum cerah.
"och..." bagai tertembak panah keimutan pria itu sudah mampu menggetarkan hati kecil emma.
" ehem " emma berdehem.sebentar untuk menetralkan rasa gemasnya.
" apa kamu tau anggota bem biasanya ada di mana?" tanya emma.
"tau, ikutin aku." perintah pria imut itu, mulai memimpin jalan.
emma mengikuti dalam diam hingga tibalah mereka di lapangan basket"owh ternyata lagi pada nonton basket ya pantesan dicariin di koordinator ga ada..." batin emma menerawang.
" tunggu apa lagi? minta tanda tangan gih!kamu lagi dihukum sama ratna kan?" tanya pria imut itu membenarkan.
"eh iya makasih banyak..." ucap emma berterima kasih.kemudian emma menghampiri para penonton basket yang emma ketahui adalah anggota bem karena memakai bed khusus.
emma menyelesaikannya dengan cepat tak sampai setengah jam ia sudah mendapat sepuluh tanda tangan anggota bem." oke sekarang tinggal mencari ketua bem kira kira seperti apa ya rupa ketua bem, setahuku ketua bem laki laki apa dia pria lembut yang tinggi, atau pria dingin yang jenius?" batin emma membayangkan wajah tampan ketua bem.
"eh.." emma terkejut menjumpai pria imut yang membatunya tersebut belum beranjak dari pinggir lapangan.
" mumpung orangnya belum pergi apa sekalian tanya aja ya dimana ketua bem." pikir emma.
"anu.. boleh minta tolong sekali lagi ga?" tanya emma hati hati takut menyinggung orang lain saat pertamanya kuliah.
" hmm" dehem pria itu tanpa mengalihkan pandangannya dari para pemain basket.
"kantor ketua bem ada dimana ya?" tanya emma.
" oh...sini kertas sama bolpoin yang kamu pegang." pinta pria imut itu menatap emma dengan tidak sabar. tanpa pikir panjang emma menyerahkan yang diminta pria imut itu.
pria imut itu tampak memberi tanda tangan di kertas yang berisi tanda tangan anggota bem. " eh..." emma kaget dengan apa yang dilakukan pria imut itu, ia hendak menghentikannya tapi sudah terlanjur.
" kok..." belum sempat emma menyelesaikan ucapannya pria imut itu membuka mulutnya.
" selamat anda sudah menyelesaikan tugas dari ratna." ujar pria imut itu ramah. hal itu tentu saja membuat emma linglung alias bingung.
__ADS_1
" Oh ya kenalin aku rangga Brawijaya, ketua bem di sini." ujar pria imut itu yang ternyata ketua bem. Rangga mengulurkan tangan kepada emma .
seketika bayangan ketua bem dalam benak emma pecah, siapa yang menyangka ketua bem kampus impian adalah pria loli.
"eh iya, emma maba dadi jurusan akuntansi " ujar emma menyambut tangan rangga.
" ngomong ngomong anda benar benar ketua bem ?" tanya emma hati hati.rangga hanya menjawab pertanyaan emma dengan mengeluarkan kartu identitas nya sebagai ketua bem.
emma bergibah tentang ratna sebentar dengan rangga. emma mendengarkan dengan saksama cerita dari rangga hingga tak terasa waktu berjalan begitu cepat. emma memutuskan untuk kembali karena sebentar lagi waktu yang diberikan ratna akan habis.
selesai menyelesaikan hukumannya emma lekas kembali ke lapangan sebelum 3 jam berlalu.
"ini senior ratna, saya sudah menyelesaikan hukuman dari anda, sekarang bisakah saya menghapus karya unik anda?" pinta emma dengan sopan. namun dalam hatinya sedang mengabsen kebun binatang kota.
"hmm" dehem ratna memeriksa tugas hukuman emma.
emma pikir ia boleh menghapus coretan diwajahnya namun saat emma hendak meghapusnya...
"eh siapa bilang boleh kamu hapus?" tanya ratna tajam.
"eh..bukannya tadi..." belum selesai emma berbicara ratna sudah memotong ucapan emma. " Kamu telat 1 menit jangan hapus sampai acara orientasi selesai. terus ngapain jadi tiang di situ, kembali ke kelompok mu disana!. " perintah ratna mutlak. ratna menunjuk ke arah erna.
" oke." jawab emma , berjalan lesu ke tempat teman temannya. .
" eh erna dimana endang dan elsa? tadi masi ada kok sekarang uda ga ada sih?" tanya emma , menoleh kesana kemari .
"elsa tadi pingsan, hosh... jadi sekarang lagi di rumah sakit kalo hosh...endang beli minum untuk kelompok ini." ujar erna menjelaskan sambil terengah engah.
" ya gara gara si wakil ketua bem yang jahat kek nenek sihir, yang buat elsa lari muterin lapangan 100 kali gara gara membela kamu." kata erna menjelaskan situasi.
" kesihan elsa kan ga mungkin manusia biasa sanggup ngelakuin itu." ujar emma. ia merasa bersalah.dia pikir elsa tidak akan membelanya karena ia adalah orang yang irit bicara ,jarang tersenyum , dan mereka juga baru dua hari berteman.
"kamu tadi ngapaain kok keliatan capek banget?" tanya emma penasaran.
" tapi menurutku elsa hebat dia sanggup nelakuin itu sampai 99 putaran sebelum akhirnya pingsan." ujar erna mengatakan kebenaran.
"hmmm.... nanti kita jenguk bersama sama ya! " ajak emma kepada temannya.
"setuju." teriak endang tiba tiba yang membuat emma dan erna terkejut.
"tau ga?" tanya erna. heboh.
"ya engak lah orang saya bukan cenayang, masa orang cantik gini jadi cenayang kan ga epik." canda emma kelewat optimis yang dihadiahi dua jitakan di kening emma.
"lah muka pas pasan aja pedenya selangit. ngaca dong kamu ga secantik elsa ga sebohai endang, dan ga sebaik malaikat juga." cibir endang menusuk jantung emma dengan panah kebenaran.
"eh......tadi gimana caramu nyelesain hukumanmu? setahuku angota bem sulit ditemuin?" tanya erna tiba tiba penasaran.
"ahh alhamdullilah tadi ada pria imut yang bantu jadi cepet kelar dech." ujar emma santai.
__ADS_1
"pria imut?" tanya endang dan erna kompak. mereka sangat antusias mendengarnya.
"iya penampilannya kayak loli tapi versi laki laki. pokoknya kalo lagi senyum cute banget deh." ucap emma gemas sendiri membayangkan senyuman rangga.
"oh siapa nama nya?" tanya erna penasaran.
"rangga Brawijaya" ujar emma singkat.
"oh rangga Brawijaya...appa ketua bem kita?" tanya endang heboh.
" emang kenapa sih , kok kamu heboh banget?" tanya erna menatap endang.
"tau ga?" endang menjeda ucapannya.
" lah mulai lagi buruan!" kata erna malas diakhiri dengan penekanan di akhir katanya.
"Rangga itu jarang banget masuk kuliah dalam seminggu aja beruntung kami bisa ketemu, soalnya dia itu kan seorang idol dan sekarang sedang masuk ke dunia acting." ujar endang menjelaskan panjang lebar.
"wah wah beruntung sekali kamu ketemu sama dia!" ujar erna.
"hem siapa lagi kalo bukan emma yang punya keberuntungan tak ada habisnya." ujar emma dengan songongnya.
endang hendak mencibir emma namun ia urungkan karna ratna berteriak" pengumuman waktu istirahat sudah berakhir! mari lanjutkan kegiatan orientasi yang menyenangkan ini!"
"menyenangkan hanya untukmu dasar nenek lampir!" bisik emma pelan.
"appa? emma ! coba ulangi apa yang kamu katakan tadi! kami mau dihukum lagi ha???" teriak ratna kesal.
" ehh enga kok ngak bilang apa apa cuma bilang kegiatan orientasi yang sangat menyenangkan hahahaha." alibi emma kelabakan.
"hmm.." dehem ratna curiga.
" buset ni nenek lampir telinganya tajem banget dah kayak pisau tetangga!" ujar emma dalam hati.
sesaat kemudian mereka melanjutkan kegiatan mereka hingga waktu menjelang petang mereka kembali ke asrama masing masing.
^^^bersambung…^^^
cerita kecil:
"baru chapter tiga kok istri keduaku udah ketemu pemeran utama ke dua. " ujar alan galau . ia duduk di bangku pojok kantornya.
" brak..." pintu kantor alan didobrak secara paksa.
" siapa yang mau jadi istri kedua mu ! lalu siapa yang pertama?" tanya emma garang , ia mencekram kerah baju alan yang membuat alan sedikit membungkuk.
"uda cerai kok" ujar alan jujur.
"bruk...bugh...bugh..." emma memukuli wajah alan hingga tak berbentuk, sedangkan alan meringis kesakitan tak sanggup melawan apalagi cuma sekedar membela diri dari gadis tercintanya.
__ADS_1
"yang masih muda dan perjaka aja banyak ngapain milih yang duda, semisal pria kayak rangga?" ujar emma yang tampak berpikir. kemudian meninggalkan alan sendirian di kantornya.
"hu hu hu kenapa ada pemeran utama pria kedua." ujar alan, menangis di pojokan.