
Malam harinya, Saito yang sedang bersedih pun memutuskan menenangkan diri di hutan, tepat nya di atas sebuah batu besar. Dia memeluk lututnya, di lihatnya keatas langit yang di penuhi ribuan bintang.
"Aku ingin semua ini cepat berakhir, tapi walaupun semua nya berakhir aku tetap akan seperti ini, aku tidak bisa kembali ke tempat asal ku lagi." Ujar Saito entah pada siapa.
Saito memang laki-laki lemah, tapi dia memiliki satu sumber kekuatan yang sangat besar, yaitu ibu nya Ema, wanita dengan lesung pipi itu adalah penguat nya di kalah lelah, cahaya nya ketika redup, Ema adalah segalanya buat Saito.
Seorang anak yang tak memiliki ayah tapi bisa terus hidup berkat ketangguhan seorang ibu, Saito bisa sebesar sekarang karena perjuangan Ema, Ema adalah malaikat tanpa sayap untuk Saito. Tanpa di sadari oleh Saito kalau air matanya sudah meluncur bebas membasahi pipi tirus nya itu.
"tuan, jangan menangis." Saito yang mendengar kan ucapan Nix langsung meraba pipi nya yang basah lalu mengusap nya.
"Ti_tidak aku tidak menangis hanya kemasukan debu saja." Ucap Saito berbohong.
"tuan, ada kalanya seseorang berada di bawah dan adakalanya pula seseorang diatas, jadi tolong jangan menangis, anda membuat saya merasa bersalah, karena telah membawa anda ke dimensi ini." ucap Nix yang tiba-tiba merasa bersalah.
"ini memang salah mu, kamu memanggilku ke sini dan membuat raga ku mati, Kenapa gak bikin koma aja sih, Kenapa harus mati?" Tanya saito frustasi.
__ADS_1
Nix tak menjawab sama sekali, dia memilih untuk diam.
Nix memiliki alasan tersendiri mengapa dia membawa jiwa Saito dan membuat raga sang tuan mati.
Tak jauh dari tempat Saito, ada dua orang yang sedang mengawasi Nya.
"Kasihan Saito, akhir-akhir ini dia banyak melamun dan menghabiskan waktu sendirian." ucap Sora ikutan prihatin dengan kondisi Saito.
"Iya, dia banyak melamun, tapi kita tidak berbuat apa-apa, jikalau pun kita bertanya masalah nya dia pasti akan menjawab aku baik-baik saja teman-teman, jangan khawatir aku, huhftt.". Sora mengangguk setuju dengan ucapan Ben barusan.
orang misterius itu nama tersenyum licik.
"akan ku buat penyelamatan kalian tunduk pada ku." Orang misterius itu langsung menghilang di telan kegelapan.
Keesokan harinya, para warga yang tinggal di sana di kejutkan dengan suara ledakan yang sangat dahsyat. Kelima pahlawan itu langsung pergi meninggalkan tempat para leluhur, mereka mencari pusat ledakan, namun sebelum menemukan sumber ledakan mereka dibuat terkejut dengan warna langit yang biasanya mendung ini malah berwarna merah pekat berpadu dengan warna ungu dan abu-abu.
__ADS_1
"ada apa ini? kenapa langit nya sangat aneh." Tanya Kana yang begitu kaget dengan apa yang di lihat nya.
"Entahlah Kana, tapi mungkin ini ada hubungannya dengan ledakan tadi." Ucap Hikaru di balas anggukan kepala oleh teman-temannya itu.
"Ayok, cari sumber ledakan nya, kita harus cepat." Kelima nya langsung berlari setelah mendengar ucapan Ben.
Di pusat kota, terdapat sebuah lubang besar, dan dicurigai oleh kelima nya kalau itu adalah lubang yang diciptakan oleh ledakan tadi.
"Lubang yang sangat besar."ucap Sora dan Kana bersamaan.
"Siapa yang membuat meledakan sebesar ini?" tanya Saito yang ikut cegoh.
DUARRRR~
"tiarap." perintah Ben, kelimanya langsung melakukan apa yang di perintahkan oleh Ben.
__ADS_1