Immortal Phoenix System

Immortal Phoenix System
Episode 8


__ADS_3

hari-hari Saito habiskan di dapur, membantu para warga city flower, dan hanya itu yang bisa di lakukan nya, bosan sih, tapi mau gimana lagi, dia tidak memiliki kekuatan untuk membantu di luar sana, bahkan untuk sekedar menjaga diri nya sendiri pun dia tak mampu.


Di sini dia hanya menjadi beban saja, itu pikir Saito.


Di sebuah tempat duduk di paling pojok, Saito sedang memakan makanan nya, dia segaja menjaga jarak dari para penduduk asli kota city flower, Karena dia sadar diri bukan siapa-siapa di sana dan tidak memiliki siapa-siapa. Lamunan Saito dibuyarkan oleh sebuah tepukan tangan di bahunya.


Bukkkk~


Saito langsung menoleh dan melihat tangan berurat siapa yang memegang bahunya itu.


"Ben." Seru Saito yang melihat Benjiro, laki-laki gagah yang di sebutkan namanya itu langsung mendudukkan tubuhnya di sebelah Saito.


"Ada apa?" Tanya Ben yang mampu membuat kening Saito mengerut

__ADS_1


"Ada apa, apa nya?" Bukannya menjawab pertanyaan Ben, Saito malah balik bertanya pada Ben.


"Kenapa kau tak bergabung dengan yang lainnya?" Jelas Ben


"ouhhh." Keduanya kembali terdiam beberapa saat menambahkan kecanggungan di hati Saito.


'Tuan kenapa kau terlihat canggung begitu? apa terjadi sesuatu?' Suara Nix kembali terdengar di telinga Saito.


Tidak ada apa-apa, kau jangan terlalu kepo dengan masalah ku, lebih baik kau cari tahu elemen yang ada di tubuh ku, dan cari cara untuk membuka segel nya. Perintah Saito pada sistem Phoenix nya itu, seketika suara Nix tak terdengar lagi di teling Saito. Perhatian Saito kembali ke Ben di sebelahnya itu.


"ah tenang, aku baik-baik saja." Saito Cengengesan. Laki-laki itu mencoba untuk tetap santai dan biasa saja, hal itu di lakukan nya supaya tidak membuat Ben curiga dan khawatir kepadanya..


Ben bangkit dari duduknya, lalu menepuk pundak Saito dua kali.

__ADS_1


bukkk


bukkk


"semangatlah kita akan selalu mendukung mu pendekar cahaya, Semangat Saito." Ben tersenyum tipis pada Saito lalu meninggalkan Saito sendiri di sana, bibir Saito terangkat membentuk lengkungan yang sangat indah di wajah tampan nya.


Terimakasih semua, kalian telah mendukung ku disini, makasih, aku akan berusaha membantu kalian membunuh monster itu. Batin Saito. Tangan Saito di gepal kuat, tanpa di sadari oleh orang-orang disana, tubuh Saito memancarkan cahaya merah pekat. Rambut coklat Saito juga terangkat seolah-olah di tarik oleh sesuatu, mata tajam Saito juga memancarkan cahaya merah bercahaya.


"huhh." Seketika cahaya yang ada di tubuh Saito lenyap, laki-laki mengusap keningnya yang basah akibat peluh.


"aku merindukan ibu." lirih Saito, dia sangat merindukan ibu nya itu, Emma.


"kira-kira ibu sedang apa yah sekarang? aku berharap ibu tidak sedih dengan semua kejadian ini, dan aku juga ingin kembali ke sisi ibu, aku merindukan nya, sangat." Saito sangat merindukan sang ibu nya Emma, dia sangat mencintai dan menyayangi wanita paruh baya dengan lesung pipi itu. Saito menjadi sedih membayangkan betapa kesepiannya ibu nya sekarang ini, terlebih lagi ibu nya tak mempunyai siapa pun di sana, pasti dia sangat kesepian, itulah pikiran Saito sekarang, mencemaskan sang ibu terkasih.

__ADS_1


like komen vote favorit


typo maklumi, amatir


__ADS_2