
"tapi serius zar, lo cocok sama bang putra loh" ucap Tasya lagi.
"karep mu sya" ucap Zara malas meladeni Tasya.
"daripada lo terus nyomblangin gue sama bang putra, mending lo nyari cowok lo sendiri sya" ucap Zara.
"kenapa??? " ucap Tasya acuh.
"ya lo kan juga jomblo, jomblo akut malah" ucap Zara.
"Hey, siapa bilang gue jomblo? gue ada cowok kok" ucap Tasya.
"serius sya? siapa? lo kok gak pernah cerita ke kita " tanya Hana penasaran.
"cowok gue itu.............. SECRET" ucap Tasya sambil menempelkan jari telunjuk nya di bibir.
"yak.... jangan bikin kita penasaran sya" ucap Hana gemas.
"hahahaha ada lah.... yakan kak gio" ucap Tasya sambil menaik turun kan alis nya pada Gio yang sedari tadi diam.
Gio yang sedari tadi menyimak pun menganggukan kepala nya.
"kak Gio, pindah sini" perintah Tasya sambil menepuk sofa di sampingnya.
Putra, Zara, Langit, Hana, Ray dan Rev, hanya bisa memasang tampang cengo menyimak sikap Tasya pada Gio.
Gio yang memang merasa tak nyaman duduk dekat Jessica pun tanpa banyak komentar langsung berpindah ke samping Tasya. Jessica yang melihat itu pun merasa kesal.
"lo, kenapa lo nyuruh Gio buat pindah! dia udah duduk di sini dari tadi! " ucap Jessica kesal pada Tasya.
"kenapa? toh orang nya juga nurut nurut aja gue suruh pindah!" ucap Tasya sambil mengubah posisi duduknya.
"siapa lo? apa hak lo buat seenaknya nyuruh nyuruh Gio hah? " tanya Jessica masih dengan nada kesal.
"hak gue ya? hak gue tentu saja lebih dominan jika berhubungan dengan kak Gio. " ucap Tasya.
"Harus nya gue yang nanya sama lo, Lo siapa nya kak Gio?" lanjut Tasya bertanya.
"Gue Jessica lim Gue anak dari pemilik perusahaan JL Group, calon Pacar Gio!" ucap Jessica percaya diri.
Gio dan Tasya mengerutkan kening, sedangkan Putra, Zara, Ray dan Rey, Langit dan Hana memasang wajah terkejut mendengar Jessica berkata dia calon pacar Gio.
"What? calon pacar?". ucap Tasya pura pura terkejut.
"Ohh, jadi gitu ya.... kak Gio beberapa hari kita gak ketemu sekarang udah ada pengganti aku!" ucap Tasya sambil menatap tajam pada Gio yang ada di sampingnya.
"No, nggak sya. sumpah dia bukan siapa siapa kakak" ucap Gio pada Tasya.
"lo, ngapain lo so ngaku ngaku hah? gue gak ada hubungan apapun sama lo ya... jangankan punya hubungan spesial... ngeliat lo aja gue udah males" ucap Gio dingin pada Jessica.
"Gio, kamu kenapa kayak gitu sama aku.... aku sayang sama kamu.... kamu..." ucap Jessica dengan nada menyedihkan.
Gio memutar bola mata malas putra dkk juga. Hana, Zara, meringis melihat Jessica yang menurut mereka terlalu lebay.
"lo... ini semua gara gara lo" ucap Jessica pada Tasya.
"kenapa nyalahin gue?" tanya Tasya
"sebelum lo dateng, Gio ke gue gak bersikap kasar atau ngomong kayak gitu ke gue. tapi setelah lo dateng lo berubah semuanya. siapa lo? " ucap Jessica pada Tasya.
"lo dari tadi nanya gue siapa mulu! lo ngebet banget pengen tau siapa gue? ckk" ucap Tasya sambil berdecih.
"ok, kenalin.... Gue Tasya Selestia De-Luna, putri Pemilik perusahaan De Luna Corp. Sahabat masa kecil, kek..... "ucapan Tasya terpotong.
"hanya sahabat masa kecil tapi berani ngatur ngatur Gio! " ucap Jessica sambil tersenyum meremehkan.
"lo gak di ajarin sopan santun hah... motong perkataan orang. gue belum selesai ngomong lo udah motong. dengerin gue sampe selesai" ucap Tasya kesal.
"Ck" Jessica menatap malas dan berdecih.
"Huh, gue ulangin. Gue Tasya Selestia De-luna, putri pemilik perusahaan De-luna corp, Sahabat masa kecil, kekasih masa kecil, tunangan dan sekaligus calon istrinya cowok yang ada di samping gue Giovanio Arthuro yang dipilih dan direstui langsung oleh Mamah Indah dan Papah Arthur orang tua kak Gio " jelas Tasya sambil tersenyum dan bersedekap dada.
Putra, Zara, langit, Hana, Ray dan Rev, Jessica, dab Mawar terkejut. bahkan Zara yang barusan sedang minum tak sengaja tersedak, dan putra pun mengusap punggung Zara menetralkan ketersedakan nya.
"pelan pelan ra" ucap putra.
"uhuk uhuk, ya bang maaf" ucap Zara.
Gio yang mendengarkan ucap Tasya pun tak luput dari rasa terkejut, tapi tak terpungkiri jika hatinya merasa senang mendengar penuturan Tasya. semua yang dikatakan Tasya memang cukup benar karena mereka memang dijodohkan walau Tasya belum memberi jawaban. tapi setelah mendengar ucapan Tasya barusan. Gio yakin jika Tasya secara tidak langsung menerima perjodohan nya.
"lo gak usah berkhayal jadi istrinya Gio" ucap Jessica.
"gue? ngaku ngaku?! hallo lo liat gue ya... gue yang cantik, kaya, baik hati, rajin menabung, dan tidak sombong ini lo bilang ngaku ngaku! gak ada kerjaan banget gue hih" ucap Tasya
"kalo lo gak ngaku ngaku apa bukti lo, nyariin ke gue kalo omongan lo itu bener" ucap Jessica meremehkan.
"lo pengen bukti? ok gue buktiin" ucap Tasya tenang.
"kak Gio" panggil Tasya.
Gio yang dipanggil pun mendongak, tanpa aba aba Tasya mendekatkan wajah nya pada wajah Gio, Tasya memejamkan matanya dan Menempelkan bibir nya pada bibir Gio. Gio yang mendapatkan serangan mendadak dari Tasya pun terkejut matanya membulat dan kemudian ikut terpejam jantung ke dua nya berdetak dengan kencang.
bibir mereka yang awalnya hanya menempel kini saling memanggut karena Gio yang terbawa suasana. beberapa detik mereka masih dengan posisi itu. sampai Tasya memukul Gio dengan pelan karena dia hampir tak bernafas.
Gio melepaskan pagutannya, Tasya membuka mata nya yang terpejam terlihat jika wajah nya merah seperti kepiting rebus, namun dia harus tetap terlihat cool. begitupun juga Gio.
__ADS_1
"Yahhh, cukup manis untuk bibir seorang pria" ucap Tasya sambil tersenyum pada Gio dan menyeka bibir nya yang basah.
Gio tertegun, bukankah Tasya hanya menempelkan nya saja, dan dia yang lebih, kenapa sekarang Tasya yang mengucapkan itu, harusnya dia yang mengucapkan kata kata itu. Gio pun tersenyum.
"gue udah kasih lo bukti, lo masih gk percaya? atau lo mau bukti lagi" ucap Tasya pada Jessica.
Jessica yang benar benar kesal atas apa yang ia lihat barusan tak bisa berkata kata. ia pun mengepalkan tangan nya dan langsung melesat pergi meninggal kan Tasya dkk dan Gio dkk dengan di ikuti mawar mereka meninggalkan kafe.
Putra dkk, dan Hana Zara terkejut bukan main melihat Tasya yang nyosor mencium Gio apalagi sebelum nya Tasya berkata jika dia calon istrinya Gio tentu saja menambah rasa terkejut mereka.
Gio dan Tasya mencoba menetralkan jantung nya yang masih membuncah.
"Oh Tuhan kenapa gue main nyosor aja" batin malu Tasya.
"gimana kalo kak Gio jadi gak suka gue" batin Tasya khawatir.
"uh kalo inget, gue jadi kayak butuh yang haus belaian main nyosor" batin Tasya bergidik.
Gio yang melihat tingkah Tasya mengangkat sebelah alisnya dan mendekat pada Tasya.
"sya kamu gak papa?" tanya Gio mendekatkan wajah nya pada Tasya.
Tasya melihat Gio hanya diam tak menjawab karena ia fokus menatap bibirnya Gio yang barusan ia sosor. Gio yang mendapat keterdiaman Tasya sedikit khawatir ia bertanya lagi
"Asya, kamu gak papa? " tanya Gio lagi
namun Tasya tak bergeming ia masih menatap bibir Gio terbayang lagi oleh Tasya saat ia mencium Gio dan BOOM itu sukses membuat wajah Tasya memerah bak kepiting rebus dan jantungnya yang sudah tenang kini membuncah lagi.
Tasya pun tersadar dari lamunan nya dan agak menjauhkan sedikit tubuhnya dari Gio.
"ekhemmmmm. aku gak papa kak" ucap Tasya.
"yakin? " tanya Gio lagi
"iya, makasih udah khawatir in aku" ucap Tasya.
"hmmmm" ucap Gio.
"asya pinjam hp kamu sebentar boleh" ucap Gio
tanpa ba bi bu be bo Tasya memberikan HP nya pada Gio dan itu tak luput dari pandangan putra dkk, Hana dan Zara. Gio menerima handphone Tasya. ia menghidupkan HP Tasya dan terpampang locksrceen bergambar kucing yang lucu.
"sya... pin nya?" tanya Gio.
"tanggal lahir kakak" jawab Tasya santai. Gio pun mengangguk.
"sya lo beneran calon istrinya gio? " tanya putra.
"hemmmmm" Tasya ber Hmmm saja.
"serius, sejak kapan sya?" tanya Hana.
"apa? ko gitu? maksud nya apa gue gak ngerti sumpah! " tanya Zara meminta penjelasan.
" gue sama kak Gio itu dijodohin orang tua" ucap Tasya.
"hah ko bisa? terus! "tanya langit sekarang.
"gini..... ayah ka Gio sama ayah gue itu sahabatan dari mereka kecil..... singkat nya ayah kak Gio ada problem dia minta ayah buat jodohin gue sama kak Gio" terang Tasya.
"terus? " ucap Hana
"sebelum nya ayah nanya dulu ke gue mau atau enggak gue di jodohin sama kak Gio" ucap Tasya
"terus lo mau gitu? "sekarang Ray yang penasaran.
"gue belum ngasih jawaban iya atau enggak. karena gue belum ditanya langsung sama ortunya kak Gio. rencananya besok mau di masukin lagi". ucap Tasya jujur.
"jadi lo ngegantung gio?" tanya rev
"mati dong dia kalau gue gantung" ucap Tasya.
"bukan itu maksud gue sya. maksud gue status si Gio ini lo gantung? bukan pacar? atau bukan calon suami lo gitu" ucap Revanza.
"Oh itu, gak gue gantung. kan gue udah bilang dia calon suami gue" ucap Tasya.
"gue udah terima perjodohan itu, tapi gue belom bilang ke ayah atau ortunya kak gio" meneruskan ucapannya lagi.
"Ohhh" ucap mereka semua.
"ck, gue udah jelasin panjang lebar cuma di jawab Ohh doang" ucap Tasya sambil memutar bola mata malas.
sedangkan Gio hanya menyimak obrolan mereka sekali kali dan kembali fokus mengotak aatk ponsel Tasya. Gio membuka setiap folder yang ada di handphone Tasya, mulai dari sosmed sampai galeri ponselnya.
dia membuka sosmed Tasya mulai dari IG, FB, dan lainnya. banyak pesan yang dikirim oleh cowok cowok yang tertarik k pada Tasya namun Tasya tak pernah membalas, melihat, atau menggubris chat mereka, Gio pun tersenyum.
setelah puas melihat sosmed nya, ia pun beralih ke galeri fotonya, ia melihat beberapa folder yang di beri nama *ME* berisi foto foto selir Tasya, *FAMYLI* berisi foto foto Alex Dion dan Tasya, lalu film terakhir bernama *MyMemory* berisikan foto tasya dan Gio saat masih kecil.
Tak ada foto Gio yang sudah dewasa, ia pun berinisiatif untuk berfoto sefie di HP Tasya dan klik sangat kiyowo
sekali hasil foto selfie nya. dia pun diam diam memakai fotonya itu untuk mengganti wallpaper home screen dan lock screen ponsel Tasya
setelah itu memberikan handphone itu ke pemiliknya. tasya melirik pada jam tangannya menunjukan hampir jam 10 malam.
__ADS_1
"zar, lo mau balik kapan? "tanya Tasya.
"Hmmm kenapa? bentar lagi sya masih betah disini gue lagian dirumah bosen" ucap Zara.
"hmmm, tapi gue harus pulang" ucap Tasya.
"loh emang lo gak bawa mobil sya?" tanya putra.
Tasya menggeleng kan kepalanya "enggak, tadi gue di jemput Zara pas kesini" ucap Tasya.
"ohhh" ucap putra.
"Yaudah kalo zara masih mau disini, kamu kakak antero pulang aja yok" ucap Gio.
"tapi.... " perkataan Tasya terpotong
"udah ayok, gak ada penolakan.
"ck, kalo balik dianterkeun kak gio bakal canggung gue" ucap Tasya membatin.
"Emmm ok" Tasya menyetujui.
Tasya dan Gio pun pamit untuk pulang. mereka pun keluar dari cafe menuju parkiran. Tasya tak melihat mobil Gio.
"kak, mobil kakak mana? " tanya Tasya karena dari tadi dia tak menemukan mobil Gio.
Gio pun menunjukan Sebuah mobil sport mewah berwarna hitam yang terparkir tak jauh dari mobil putra.
visual mobil Gio
Tasya tau mobil itu, itu adalah mobil sport bermerek Bugatti La Voiture Noire. dia ingat mobil terakhir yang sering Gio pakai untuk mengantarnya bukan yang ini. pantas saja Tasya tak mengenali mobil itu.
"kakak ganti mobil? seingat aku mobil kakak bukan yang ini" ucap Tasya.
"ini memang mobil yang sering kakak pakai saat di negara K, kakak menyuruh seseorang membawa mobil ini kemarin". ucap Gio menjelaskan.
"ohhhhh" Tasya hanya ber-oh ria.
mereka pun masuk kedalam mobil, dan Gio pun melajukan mobilnya meninggalkan parkiran kafe. suasana hening pun menyelimuti tak ada yang berbicara. Tasya yang sibuk menikmati suasana malam perkotaan dan Gio yang fokus menyetir.
tak berselang lama Tasya memainkan ponselnya, dia terkejut karena saat tasya menyalakan layar ponselnya terpampang foto Gio....
"gue gak salah bawa HP kan?? ko wallpapernya jadi gini? " ucap Tasya membatin.
dia membolak balikan HP nya memeriksa, tapi tak ada yang aneh. itu memang HP nya. gio yang melihat tingkah tasya pun mengangkat alis nya dan tersenyum.
"kenapa sya? " tanya Gio pura pura tak tau.
"eh enggak ini aku cuma bingung, ini beneran HP aku apa bukan ya" ucap Tasya menggaruk kepalanya.
"memang kenapa? " tanya Gio lagi.
"ah itu ko wallpapernya beda.... "ucap Tasya.
"ohhh" ucap Gio sambil mengangkat sudut bibirnya.
Tasya pun menyalakan ponselnya lagi, dan mengerikan pin ponsel nya.
"pin nya bener, itu berarti ini HP gue. tapi ko wallpapernya jadi gini... ini gimana ceritanya" gumam Tasya kecil namun masih bisa terdengar oleh Gio.
Gio hanya tersenyum karena kalian tau itu ulah gio. Tasya pun ingat jika sebelumnya gio meminjam HP nya, jangan jangan...
"kak gio? ini ulah kak gio ya? " ucap Tasya sambil menunjukan wallpaper ponselnya.
"Hmmmmm kalo iya emang kenapa? " jawab Gio.
"ko kenapa sih, kakak jangan seenak nya ganti ganti wallpaper ku dong. hampir aja aku gak berbaling barang sendiri" ucap Tasya kesal sambil memanyunkan bibirnya.
"kenapa? kamu gak suka? kalo gak suka tinggal ganti lagi aja sya" ucap Gio.
"siapa bilang gak suka, ini kan kiyowo banget ka" ucap Tasya tanpa sadar.
"Ohh jadi kamu suka? " ucap Gio menggoda.
"su.. suka sih" jawab Tasya malu.
Gio pun tersenyum dan mengacak pucuk kepala Tasya.
"yak, jangan acakin rambut ku kak... ih susah dibilangin" ucap Tasya sambil mengerucutkan bibirnya membuat Gio gemas.
setelah perdebatan itu mereka sudah sampai di depan kediaman Tasya.
"nah udah nyampe" tutur Gio. Tasya pun mengangguk.
Tasya pun melepaskan seatbelt yang dikenakannya, saat hendak turun satu tangan nya ditahan oleh Gio. Tasya pun berbalik dan CUP tanpa aba aba Gio mengecup bibir Tasya beberapa detik. dan itu berhasil membuat Tasya tak berkutik. Tasya melebarkan matanya karena terkejut, jantung nya berdetak dengan cepat wajah nya mulai memerah seperti tomat.
Gio pun menjauhkan wajah nya dari wajah Tasya sambil tersenyum. dia suka wajah Tasya yang memerah.
"hukuman untuk kamu, karena kamu telah mengambil ciuman pertama kakak" ucap Gio.
ucapan Gio berhasil membuat Tasya semakin memerah. ia pun menelan saliva nya dengan susah payah. tanpa sepatahkatapun Tasya bergegas keluar dari mobil. setelah akan masuk Tasya berbalik menatap Gio yang juga menatap nya sambil tersenyum.
Gio melambaikan tangannya, dan berucap.
__ADS_1
"Good Night calon nyonya muda Twirdzik" ucap Gio sambil tersenyum menggoda Tasya.
membuat wajah Tasya semakin memerah. Tasya pun melanjutkan langkah kakinya memasuki rumahnya sedangkan Gio yang sudah melihat masuk kedalam rumah pun langsung menjalankan mobil nya menuju mension Twirdzik.