
Setelah bersiap Gio pun menghampiri Indah dan Arthur yang sudah menunggu nya. mereka pun segera pergi ke rumah Tasya.
di perjalanan mereka mampir ke sebuah toko untuk membeli buah tangan untuk Tasya, Alex, dan Dion. karena mereka merasa tidak enak jika bertemu tak membawa apa apa.
setelah membeli buah tangan mereka pun melanjutkan perjalanan menuju rumah Tasya. sepanjang perjalanan Indah dan Arthur saling mengobrol sedangkan Gio duduk tenang di jok belakang dengan gadjetnya.
posisi mereka, Arthur yang mengemudi Indah duduk di sebelah Arthur dan Gio sebagai nyamuk diantara mereka duduk di belakang.
mereka pun sampai di rumah Tasya. mereka disambut oleh bi Sri terlebih dahulu yang memperSilahkan mereka untuk masuk, setelah itu disambut oleh Alex yang sudah menunggu mereka di ruang tamu.
sedangkan Tasya dan Dion masih berada di kamarnya masing masing.
"kalian sudah datang, kemarilah duduk terlebih dahulu sambil menunggu makan malam siap" ucap Alex kepada Gio and Family.
"Hmmmm ya, apa kamu datang terlalu cepat? Dimana Tasya dan Dion? " tanya Indah.
"tidak, Yaaa seperti biasa mereka masih sedang bersolek" jawab Alex.
indah pun menganggukan kepalanya paham.
"Oh ya hampir saja lupa. ini dari kami, maaf bila tak sesuai selera mu " ucap Indah.
"Hmmm terimakasih. tidak perlu repot repot padahal" ucap Alex.
"bagaimana kabar mu?" tanya Arthur.
"yah seperti yang kau lihat, aku dan anak anak baik" ucap Alex.
"Hmmmm baguslah" jawab Arthur.
"bagaimana dengan mu? dan bibi? " tanya Alex balik.
"Hmmmm aku baik, dan ibu lumayan baik" ucap Arthur.
"hmmmmmmm syukurlah" ucap Alex.
percakapan mereka terhenti saat melihat Dion menghampiri mereka.
"Selamat malam Om, bibi, dan bang Gio" sapa Dion sambil mendudukan dirinya di samping Alex.
"selamat malam" ucap Gio and family.
"dimana kakak mu? dia belum siap juga? " tanya Alex.
"entahlah, masih dikamar mungkin, ayah seperti tak tahu dia saja" ucap Dion.
mereka pun kembali mengobrol, dan beberapa menit bi Sri Memberitahu jika makan malam sudah siap. mereka pun beranjak ke ruang makan, disana sudah ada beberapa hidangan.
"Bi, tolong panggilan Tasya, kita akan mulai makan malam" ucap Alex pada bi Sri.
"baik tuan" jawab bi Sri setelah itu melenggang pergi meninggalkan Alex.
bi Sri pun kini sudah berada di depan pintu kamar Tasya, ia pun mengetuk pintu itu dan berkata....
"Non.... non Tasya " panggil bi Sri pada Tasya.
"iya bi sebentar, ada apa? " terdengar suara Tasya dari dalam kamar.
"non sudah di tunggu tuan Alex dan yang lainnya di ruang makan" ucap bi Sri.
"Ohhh baik bi Tasya akan turun sebentar lagi" jawab Tasya
"kalau begitu bibi permisi dulu ya non" ucap bi Sri.
"iya bi terimakasih " ucap Tasya.
"sama sama non" jawab bi Sri.
bi Sri pun meninggalkan Tasya. sedangkan di dalam kamar Tasya.....
Tasya kini sedang duduk di depan meja rias, ia menatap dirinya dalam pantulan cermin, dia merasa gugup untuk menemui Gio dan keluarganya.
dia gugup bukan karna penampilannya yang tidak sempurna (faktanya penampilan Tasya sekarang sangat sempurna) melainkan hatinya mendadak terasa gelisah.
dia pun menghela nafas dan menguatkan hatinya.
"semangat Tasya, apapun yang terjadi gue yakin jika pilihan gue ini yang terbaik buat gue dan semuanya" ucap Tasya pada dirinya sendiri.
ia pun berdiri dari duduk nya, sebelum itu ia mengecek lagi riasan dan penampilan nya takut jika ada kesalahan dan ternyata tidak.
penampilan Tasya sekarang, ia memakai dress brukat berwarna grey, dengan riasan tipis nya , ia juga menata rambut nya dengan tataan Scrunchie Ponytail yang ditambahkan pita berwarna grey senada dengan dress yang dipakai nya. tak lupa dia juga menambahkan plester berwarna senada dengan kulit wajah di pipinya karena terdapat goresan yang masih ada setelah kejadian tadi pagi.
............
visual outfit Tasya
visual gaya rambut Tasya *anggap aja rambut nya warna hitam ya*............
Tasya pun keluar dari kamarnya dan menuju ruang makan. disana sudah terlihat jika Alex dan yang lain menunggunya.
Tasya pun menyapa mereka.
"selamat malam semua, maaf membuat kalian menunggu" ucap Tasya.
"tak apa, kami mengerti. wanita memang sudah kebiasaan" ucap Indah
Tasya pun tersenyum merasa malu. setelah itu ia duduk di samping Dion.
"apa kabar bibi, dan Paman? " tanya Tasya.
"kami baik. bagaimana dengan mu? " tanya Arthur kembali
"aku baik" ucap Tasya.
mereka pun mulai makan malam, namun Tasya merasa tak nyaman karena Gio terus melihat ke arah nya sejak ia duduk sampai sekarang.
apa karena ia tak menyapa Gio atau ada hal yang lain Tasya tak tahu kenapa Gio terus melihat kearah nya. meskipun ia sedang makan tapi itu tak membuat Gio berhenti melirik Tasya.
beberapa menit kemudian mereka telah menyelesaikan makan malam nya. kini mereka beralih sedang menikmati desert yang di buat oleh Tasya tadi siang.
desert itu adalah Puding susu yang di beri toping blueberry syroup.
contoh visual desert *Author gak tau nama asli desert ini penjelasan author diatas autor karang"
saat sedang makan makanan malam utama sampai sekarang
tak ada yang membuka percakapan sampai mereka menyelesaikan semuanya dan beralih ke ruang keluarga pun tak ada yang berbicara.
__ADS_1
sampai Gio yang dari tadi diam dan masih melirik lirik dan menatap tasya kini memulai membuka pembicaraan.
"pipi kamu kenapa sya? " tanya Gio yang pertama kali membuka pembicaraan yang membuat Alex, Dion, Arthur, Indah menoleh kearah Tasya seketika.
ternyata dari awal Gio melirik lirik dan memandang Tasya itu karena ia menyadari ada sesuatu di pipi Tasya Guys, sedangkan Alex, Indah dan Arthur tidak menyadari itu sampai Gio menanyakan hal itu baru membuat Alex, Arthur dan Indah memperhatikan Tasya.
sedangkan Dion yang sudah tahu hanya diam.
"eh, bukan apa apa kak" jawab Tasya pada Gio.
"gak papa ko pake plester" ucap Gio.
"mampus, jeli juga matanya padahal gue udah pake plester yang gak mencolok" batin Tasya.
"Emmm ini...." ucap Tasya sambil memegang pipinya yang tertempel plester
" iya sya kamu kenapa sayang? tanya Indah yang kini meriah posisi duduk nya didampinh Tasya yang awalnya Indah duduk di samping Arthur.
"itu..... " ucap Tasya terpotong.
"kamu gak bilang sama ayah sya kalo kamu luka" ucap Alex sedangkan Arthur diam menyimak.
"eh harus bilang ya.... ini kan cuma luka kecil yah" ucap Tasya.
"harus, mau sekecil apapun luka kamu ayah bisa khawatir sya" ucap Alex.
"uh baiklah ayah lain kali Tasya bilang ke ayah" ucap Tasya.
"jadi kenapa pipi kamu di pakein plester" tanya Gio lagi
"itu.... emmmmmhhh" jawab Tasya gugup.
Dion yang sedari tadi diam merasa gemas pada Tasya yang susah sekali membuka mulutnya untuk menjelaskan apa yang terjadi.
dia tak bisa menahan rasa gemas nya dan.....
"ck, tinggal bilang lo luka karna tadi pagi lo di serempet mobil orang aja susah banget sih ka" celetuk Dion yang membuat atensi mata Gio, Alex, Arthur, Indah, beralih ke arah Dion dan kembali ke Tasya.
Tasya yang mendengar celetukan Dion matanya membulat tajam menatap Dion, ia tak percaya jika Dion bicara seperti itu walau kenyataan nya memang fakta.
"apa? lo udah tau ion? tanya Gio pada Dion.
"tau, karena tadi pagi gue juga bantu ngobatin lukanya" jawab Dion santai.
"kenapa kamu gak bilang sama ayah sya, kamu juga Dion kenapa gak bilang?" ucap Alex pada Tasya dan Dion.
"maaf yah, Dion kepaksa bungkam karena kak Tasya larang Dion buat bilang ke ayah" jawab Dion
"udah dilarang tapi tetep bilang kan" ucap Tasya pada Dion.
"Tasya Selestia De Luna kamu belum jawab pertanyaan ayah, kenapa kamu gak bilang ke ayah soal ini Hm? " ucap Alex sambil menatap tajam Tasya.
Tasya dang ditatap Alex seperti itu menunduk takut.
"maaf yah" ucap Tasya.
"kemari" titah Alex.
Tasya pun berpindah posisi duduk ke samping Alex.
"kenapa kamu gak bilang sya, kamu itu anak ayah, ada kejadian seperti ini kenapa kamu gak bilang, kalo kamu kenapa napa dan luka kamu lebih dari ini gimana? "ucap Alex pada Tasya.
"maaf yah, Tasya cuma gak mau bikin ayah khawatir makanya gak bilanh" ucap Tasya.
"maaf yah, Tasya minta maaf" ucap Alex.
"ok kali ini ayah maaf kan, tapi tidak lain kali" ucap Alex sambil merangkul Tasya.
"iya sya, kalau kamu kenapa napa gimana? tante sama om sama Gio juga jadi ikut khawatir kalo kamu kenapa napa sya" ucap Indah
"maaf bibi, maaf paman, maaf ka Nio udah bikin kalian khawatir" ucap Tasya meminta maaf.
Gio menganggukan kepalanya ia berpikir siapa yang melakukan itu.
"kamu tau siapa yang merepet kamu sya?" tanya Gio yang membuat atensi mata yang lain melihat kesahnya lagi lalu kembali menatap Tasya penasaran.
"tidak kak, Tasya gak tau..... tadi pagi Tasya sempat ingat plat nomor mobilnya, tapi seketika juga lupa karena kesal" ucap Tasya sambil sedikit tertawa dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"untung saja kamu tak apa apa sya, seandainya kamu kenapa napa tante gak bisa bayangkan apa yang akan terjadi" ucap Indah sambil melirik Gio.
Gio hanya diam mendengar perkataan Indah. ia masih merasa jika kejadian Tasya di serempet itu bukan lah kebetulan namun ia menepis pemikiran itu dahulu karena ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan itu.
setelah membahas kejadian Tasya diserempet orang tak bertanggung jawab. kini mereka masuk ke pembahasan perjodohan Gio dan Tasya.
"Alex, bagaimana dengan rencana perjodohan Gio dan Tasya apa keputusan nya? " tanya Arthur yang sedari tadi diam.
"Hmmmmm, aku serahkan semuanya pada Tasya. karena dia yang berhak memutuskan ini karena dia juga yang akan menjalani itu" ucap Alex.
Indah, Arthur, dan Gio pun melihat kearah Tasya.
"bagaimana sya? Alex pasti sudah menceritakan semuanya kan? jika iya, kami tidak akan menceritakan nya lagi" ucap Arthur.
Tasya mengangguk mengatakan jika ayahnya telah menceritakan semuanya.
"jadi bagaimana sayang apa kamu menerima perjodohan ini? " tanya Indah pada Tasya sembari menggenggam tangan Tasya karna Tasya kini ada disampingnya kembali.
Gio menatap Tasya gelisah karena takut jika Tasya menolak
"aku.... " ucap Tasya.
"ck lama, apa aku harus membantu mu mengatakan nya lagi kak" goda Dion.
"tidak perlu" ketus Tasya.
"Dion diamlah" ucap Alex.
Dion pun mengangguk patuh.
"bagaimana? "tanya Indah lagi.
"aku............ menerima perjodohan ini" ucap Tasya pelan karena sedikit malu
"apa? kami tak mendengar mu kak" ucap Dion sambil tersenyum.
"uh, Aku Menerima Perjodohan ini" ucap Tasya agak kencang.
mereka semua terdiam beberapa detik dan tersenyum. begitupun Gio yang kini merasa senang di dalam hati karena Tasya tak menolak nya.
"benarkah sya? " tanya Alex memastikan.
"iya ayah, aku akan menerima perjodohannya " ucap Tasya
"apa alasan mu menerima perjodohan ini sya? apa karena ayah? " ucap Alex.
__ADS_1
"salah satunya itu yah, untuk alasan yang lain nya.... aku tak suka jika ada ulat bulu yang menempel nempel pada kak Nio seperti semalam" ucap Tasya.
"ulat bulu?" tanya mereka serempak tak mengerti.
Tasya menganggukan kepalanya.
"iyakan kak Nio?" ucap Tasya pada Gio dengan smirk nya membuat Gio terdiam.
"apa maksudnya boy?" tanya Indah.
"bukan apa apa mi" ucap Gio berbohong.
Tasya hanya tersenyum melihat Gio mengelak. diapun berniat untuk menjahili Gio.
"Omo, bibi gak tahu ya? kak Nio gak cerita sama bibi? " ucap Tasya pada Indah sambil melirik ke arah Gio.
Gio menatap tajam Tasya, sedangkan yang ditatap hanya tersenyum jahil.
"cerita apa? apa yang kalian sembunyikan? " ucap Indah.
"bukan apa apa mih jangan dengarkan Tasya" ucap Gio.
"Huh bibi apa kau tau jika..... " ucapan Tasya terpotong karena Gio menyela ucapan Tasya.
"jika Tasya mencuri ciuman pertama ku" celetuk Gio tak tahu malu sambil tersenyum jahil dan agak mengejek.
Tasya pun menatap tajam Gio "Oh Good gue gak percaya bisa bisa dia bilang kayak gitu" batin Tasya.
"ingin bermain dengan ku girl? kamu masih harus belajar kucing kecil" batin Gio kepada Tasya
"Apa? " ucap Alex, Arthur, Dion, dan Indah bersamaan.
Tasya yang mendengar kejahatan mereka hanya bisa ketar ketir bingung harus menjelaskan apa.
"Wahhhh gue gak nyangka kak, ternyata.... lo..... gue kira cupu ternyata suhu boss" goda Dion sambil tersenyum
"heh gak gitu ya, dia juga ngambil ciuman gue di mobil pas nganterin gue pulang kesini kemarin" ucap Tasya keceplosan. setelah sadar dengan apa yang ia katakan ia membekam mulut nya dengan kedua tangannya.
"apa?" kaget mereka semua lagi.
"mampus, kenapa mesti keceplosan segala sih" ucap Tasya dalam batin.
sedangkan Gio hanya tersenyum manis dengan wajah tak berdosa nya.
"bisa bisa nya dia senyam senyum tak berdosa kayak gitu" batin Tasya geram tak habis pikir.
"kalian, astaga.......... benar benar" ucap Alex tak bisa berkata kata.
Tasya diam menunduk menyembunyikan wajah merah padam nya yang seperti kepiting rebus karena menahan malu.
"Hmmmmm jika seperti ini kita nikah kan saja mereka langsung tak perlu tunangan tunangan atau apalah itu" ucap Indah yang membuat mereka menatap Indah.
"apa maksudmu?" tanya Alex
"will, bukankah mereka sudah berciuman? itu menunjukkan jika mereka sudah saling menyukai. jadi ku pikir kita tak perlu embel embel perjodohan. kita langsung nikahkan saja mereka". ucap Indah.
"tidak bibi, aku menolak.... aku belum siap untuk menikah sekarang..... aku masih belum lulus" ucap Tasya menolak.
Gio menaikkan sebelah alisnya mendengar penolakan Tasya.
"ck, itu masalah sepele dan gampang sayang" ucap Indah pada Tasya.
"tapi......." ucapan Tasya terpotong oleh Indah.
"gak ada penolakan lagi. aku sudah memutuskan hari minggu besok kalian akan menikah! " ucap Indah.
"apa? " ucap mereka semua serempak kaget.
"apa kau gila ndah, jangan sembarangan memutuskan pernikahan" ucap Alex sedikit geram karena walaupun ia menerima pernikahan ini tapi jujur ia sedikit geram dengan keputusan indah yang se enak jidat.
"aku waras ok. lagi pula bukan kah itu bagus jika mereka menikah. pertama bukankah Tasya tak ingin berpacaran? kalau begitu langsung menikah. kedua, mertuaku mungkin tak akan bisa menunggu lagi melihat kondisinya sekarang, bukan aku mendoakan yang jelek jelek terhadap ibumu sayang tapi bukankah itu fakta" ucap indah pada Alex dan Arthur.
"bibi tapi aku tak bisa melakukan pernikahan besok, bukankah itu sangat mendadak tak ada persiapan apapun, dan lagi aku punya janji dengan sahabatku" ucap Tasya pada Indah.
"soal persiapan tenang saja, karena aku sudah menyiapkan semuanya jauh sebelum kamu mengatakan keputusan mu sya" ucap Indah.
"maksud bibi? " tanya Tasya tak mengerti.
"yah.... aku berencana menculik dan menikahkanmu secara paksa jika menolak perjodohan, karena itu aku telah mempersiapkan semuanya. tapi karena kau sudah menerima perjodohan ini maka aku tak akan melaksanakan rencanaku untuk menculikmu" ucap Indah.
Tasya yang mendengar itu meringis. sedangkan yang lainnya termasuk Gio menatap Indah tak percaya.
"ah dan untuk memaksamu menikah dengan Gio besok, aku akan melakukan nya. jadi batalkan janjinya dengan sahabatmu sayang" ucap indah pada Tasya
"sayang apa kau serius?" tanya Arthur
"apa kau melihatku bercanda Arthur Arzkania Twirdzik" ucap Indah.
"tapi sayang pikirkan lagi keputusanmu ini, lagipula aku besok juga ada meeting penting dengan perubahan xxx" ucap Arthur.
"batalkan" ucap Indah tegas.
"kau, aku pun tak bisa, aku ada hal penting dengan perusahaan A" ucap Alex.
"batalkan" ucap Indah tegas lagi.
"mih, aku juga ada sesuatu yang harus aku lakukan besok" ucap Gio, walaupun jujur ia juga ingin menikah dengan Tasya tapi keputusan Indah sangat tidak masuk akal jika ia harus menikah besok.
"batalkan boy" ucap Indah lagi lagi tegas
"maaf bibi aku juga....." ucapan Dion terpotong oleh Indah.
"batalkan semua janji kalian, karena keputusan ku sudah bulat. aku akan memisahkan Gio dan Tasya besok" ucap indah tegas tak ingin di bantah lagi oleh siapapun.
"bibi.... " panggil Tasya pada Indah dengan tatapan sendu.
"tidak Tasya, kamu harus menikah dengan Gio besok." ucap Indah.
mereka pun tak bisa membantah Indah yang tabiatnya keras kepala dan nekat itu. mereka hanya pasrah termasuk Tasya.
"Hahhhhhh, apa gue masih sempat untuk kabur" batin Tasya.
"jangan mencoba itu Tasya, karena kamu tak akan bisa" ucap Indah pada Tasya
"apa? apa bibi bisa membaca pikiranmu? apa ia bisa membaca pikiran? kenapa omongannya tepat seperti yang aku pikirkan" batin Tasya.
"aku tak bisa membaca pikiran mu sya, tapi itu terlihat sangat jelas di wajahmu" ucap indah.
Tasya pun tertegun kembali mendengar perkataan indah.
"apa ini, dia bilang tak bisa membaca pikiran, tapi perkataan nya tepat sekali" ucap Tasya masih membatin
setelah selesai membahas pernikahan Tasya yang 4G itu Gio dan Family pun pulang ke mensionnya.
__ADS_1