Istri Kecil CEO Muda Tampan Yang Menggemaskan

Istri Kecil CEO Muda Tampan Yang Menggemaskan
Ep. 03


__ADS_3

Gio yang melihat Tasya tertidur dipaha nya pun terus memperhatikan Tasya. Dia tak berniat membangunkan Tasya yang menjadikan paha nya sebagai bantal walau gio mulai merasa pegal dibuatnya.


karena merasa pegal dia membenarkan posisinya dengan hati hati untuk duduk menyandar di sofa. Dia takut tasya terbangun dengan gerakan yang iya buat. entah kenapa melihat Tasya tidur membuat hati Gio menghangat dan merasa nyaman.


Perlakuan Gio pada Tasya pun tak luput dari pandangan Dion adik Tasya. dia terus memperhatikan mereka "kak Gio kayak nya tertarik sama ka Tasya, Hmmmm gw bakal punya kakak ipar dong ya". Dion membatin.


Dion yang merasa kasihan pada Gio pun mencoba membangunkan Tasya, tapi itu sia sia. tasya tak kunjung juga bangun.


"kak bangun ka, jangan tidur disini. pindah ke kamar sana". ucapnya pada Tasya sambil mencubit pipinya tapi Tasya tak bergeming.


"hah, dasar kebo" ucapnya agak kesal karena Tasya tak kunjung bangun.


Dion pun berniat menggendong Tasya untuk memindahkan nya ke kamar. tapi gerakannya terhenti oleh Gio.


"ion ngapain ? " tanya Gio pada Dion.


"mau mindahin ka Tasya ke kamar. gue tau kak lu pasti pegel kayak gitu mulu. makanya gue mau mindahin ka Tasya". terang nya.


"emang lu kuat buat ngangkat Tasya ke kamar?? badan lu kecil gitu. udah biar gue aja yang gondong Tasya. lu ikut gue anterin ke kamar". terangnya *padahal Gio sebenarnya gak mau Tasya di pegang cowok lain termasuk adiknya. *hahaha gio gio belom apa apa udah posesif.


"dih jahat banget body shamming lagi. bilang aja lu suka kan kak ama kak tasya dan gk mau gue pegang ". jelasnya to the poin. "padahal gak bakal gue apa apain juga, orang gue adek nya". tutur nya lagi.


Gio yang mendengar itu pun terdiam dan menghiraukan ocehan dion padanya dan mulai mengangkat tubuh Tasya dengan posisi bridal style untuk memindahkan tasya ke kamar.


Sebelum itu Gio meminta izin terlebih dulu untuk memindahkan Tasya ke kamar pada Alex.


"Permisi. om Alex maaf ganggu. Gio mau minta izin buat mindahin tasya ke kamarnya boleh om? sama Dion juga ko". tuturnya pada alex sambil menunjuk pada Tasya yang sedang berada dalam gendongan Gio dengan matanya.


Alex, indah, dan arthur pun melihat ke arah tasya.


"dasar anak ini" gumam Alex pada Tasya sambil menggelengkan kepalanya "Gio maaf jadi ngerepotin kamu buat mindahin Tasya. iya boleh, minta Dion buat nunjukin kamar Tasya di atas". terangnya.


"iya gk papa ko om, kalo gitu Gio permisi dulu om" tuturnya yang diangguki oleh Alex. sedangkan indah dan arthur hanya tersenyum melihat tingkah putranya.


Gio pun pergi ke kamar Tasya dengan Dion yang mengikuti di belakang.


sementara Alex, Arthur, dan Indah melanjutkan obrolan nya yang sempat terjeda.


"lex... ada sesuatu yang mau gue omongin ke lo".ucap Arthur dengan nada serius. sedangkan Indah hanya menjadi pendengar saja.


"Apa?" tanyanya singkat


"lo masih inget sama ibu gue kan?? ". tanyanya kembali


"iya gw inget. gimana kabar nya sekarang?" tanyanya kembali.


"keadaan nya gak baik. gue bingung lex." tutur nya


"kenapa?? apa yang terjadi sama bu Arum? ". tanyanya penasaran.


*bu Arum adalah orang tua Arthur yang lebih tepat nya ibunya. dan Alex itu sahabat Arthur dari kecil, jadi gak heran jika Alex memanggil ibunya arthur dengan sebutan ibu. karna Alex sudah menganggap ibu arthur seperti ibu nya sendiri begitupun sebaliknya.


"ibu sakit, dia mengidap penyakit kanker stadium akhir. sekarang masih dalam perawatan di rumah."jelas nya


Alex yang mendengar nya pun merasa terkejut.


"apa kau bercanda? dulu ibu bukan kah sangat sehat? kenapa bisa mengidap penyakit mematikan seperti itu? dan lagi kenapa harus dirawat dirumah? kenapa gak di rumah sakit!! " dia merasa bersedih. sudah lama dia tidak mendengar kabar tentang bu Arum. sekali nya bisa malah kabar buruk seperti ini.


"lex, lo kira gue bercanda. liat mata gue apa gue lagi bercanda sama lo? apalagi menyangkut nyawa". geram nya.


Alex terdiam.

__ADS_1


"gue bingung lex, penyakit ibu makin lama makin parah. dia gak bisa bertahan lebih lama dan lagi sia gak mau dirawat di rumah sakit. dia cuma mau di rumah," tutur Arthur yang merasa frustasi.


"lalu? apa yang bisa gue bantu?. tutur nya pada arthur.


"ibu pernah bilang kalau dia pengen liat gio nikah, dan gue pengen ngabulin permintaan ibu sebelum sesuatu terjadi" jelasnya.


"jadi apa yang bisa gue lakuin buat ngebantu lo? " tanya Alex pada arthur.


"lex.... lo bisa ngizinin gue buat nikahin Gio sama Tasya kan? gue pengen jodohin mereka?" terangnya


Alex yang mendengar itu sontak terkejut.


"jangan bercanda, Tasya masih sekolah gak mungkin buat gue nikahin dia secepat itu." tuturnya membantah


"gue gak bercanda lex. gue mohon izinin Gio buat nikahin Tasya. tadinya gue mikir gue mau minta bantuan lo buat nyariin Gio seorang istri tapi setelah gue liat Tasya anak lo, gue mutusin kenapa gak Tasya yang dijodohkan sama Gio." terang nya dengan penuh penjelasan. "lagipula setelah gue perhatiin ,Gio setelah ketemu Tasya walau ini pertama kali, gue ngerasa kalo Gio tertarik sama Tasya anak lo". tutur nya lagi


Alex yang mendengar nya pun mencoba berpikir "ini gila" ucap batinnya. dia memijit pelipisnya mendengar permintaan Arthur untuk menjodohkan Tasya dengan Gio.


"hah... ini.... gue pikirin dulu. Gue gak bisa mutusin ini tanpa Tasya. walau pun gue ngizinin belum tentu Tasya setuju". tutur Alex memberi pengertian pada Arthur.


"gue gak akan nuntut lu buat ngasih jawaban sekarang. gue bakal kesini lagi minggu depan buat ngedenger jawaban dari Tasya sendiri". tuturnya.


Alex pun merasa lega mendengar penuturan Arthur karna tak meminta jawaban keputusannya sekarang. dengan begini dia bisa membicarakan tentang perjodohan ini dengan Tasya terlebih dahulu.


setelah membahas maksud Arthur yang ingin menjodohkan Gio dan Tasya. mereka pun membicarakan urusan nya yang lain yang berhubungan dengan perusahaan.


*author gak ngerti sama yang berhubungan dengan perusahaan. so... author skip aja ya.hhehe...


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=/////////////////////////\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Gio yang menggendong Tasya ke kamar nya pun kini sudah sampai di depan pintu kamar tasya yang berwarna lilac berbunga kecil yang bertuliskan "Tasya's Room"


dengan di ikuti oleh Dion, Gio yang kesusahan untuk membuka pegangan pintu pun meminta Dion untuk membantu membuka pintu kamar itu. setelah pintu terbuka, terpampang lah sebuah ruangan bernuansa lilac dan Purple yang smooth dengan sebuah ranjang di bagian tengah ruangan yang sama sama ber sprei kan warna lilac. singkat kata semua yang ada di kamar Tasya mulai dari tempat tidur, sofa, sprei, gorden, semua berwarna lilac. kecuali lemari, rak rak buku, atau rak tempat Tasya menyimpan semua koleksi biasnya yang berwarna putih.


mata Gio menyapu setiap sudut kamar Tasya saat menuju tempat tidur, hingga ia pun menurunkan dan menempatkan Tasya di tempat tidur dan sedikit menyelimuti nya.


Tasya yang merasakan ada sebuah gerakan pun sontak menggeliat kecil dan bersuara namun dia tidak terbangun. *dasar kebo.


Gio yang melihat nya pun memasang senyuman.


"ya tuhan.... bahkan saat tertidur pun dia sangat cantik dan menggemaskan" batinnya.


sekian detik dia tak melepaskan pandangannya dari Tasya yang sedang tertidur. saat akan berbalik meninggalkan Tasya, Gio tak sengaja melihat sebuah lemari kaca yang dipenuhi piagam dan beberapa penghargaan lainnya.


karena penasaran dia pun mendekati lemari itu. dia melihat satu persatu piagam itu. Dion yang hanya berasa menjadi nyamuk pun tetap mengikuti Gio dari belakang.


"apa yang kau lihat ka? ". tanya Dion


Gio hanya diam tak menjawab. karena masih fokus dengan piagam piagam itu.


"ah kau sedang melihat prestasi prestasi kakak ku ternyata. bukan kah dia sangat jenius?? aku saja bahkan sangat iri dengan kejeniusanya". tuturnya.


Gio masih diam tak mengindahkan perkataan Dion. Gio masih sibuk melihat lihat apa saja yang ada dalam kamar Tasya.


"hah, kau mengacuhkan ku. sakit sekali" tutur Dion pada Gio dengan menghela nafas agak jengkel karena Gio mengacuhkan nya.


Dion dan Gio memang cukup akrab meskipun pertama kali bertemu.


sebenar nya saat Dion dan Tasya masih kecil *tasya berusia 3 tahun dan Dion 1 tahun sedangkan saat itu Gio baru berusia 5 tahun.. Tasya dan Dion sering bermain bersama Gio karena orangtua mereka sering bersama. hanya saja saat Gio berusia 6 tahun orang tua Gio serta Gio memutuskan untuk pindah ke luar negeri dan menetap disana karena mereka ingin mengurus bisnis nya.


mereka baru kembali ke dalam negeri minggu lalu, karena ibu arthur menderita sakit dan sedang dalam masa perawatan. karna itulah setelah mereka kembali Arthur menemui sahabatnya, Alex.

__ADS_1


sudah 16 tahun mereka tidak berkumpul bersama. bahkan saat istri alex meninggal pun Arthur tak sempat menghadirinya karena masih berada di luar negeri.


Alex sendiri pun tak menyangka jika Arthur akan kembali ke sini lagi dan datang untuk menemui nya. jika Alex tau mungkin akan mempersiapkan penyambutan untuk menyambut kedatangan Arthur kerumah nya.


Tasya dan Dion pun bahkan tak mengenali atau mengingat soal mereka karena memang selama 16 tahun ini mereka jarang mendengar kabar Arthur, Indah, dan Gio. jangan kan Tasya dan Dion bahkan Alex pun tak tau.


*ah baiklah sepertinya cukup untuk penjelasannya. mari kita kembali ke Dion dan Gio ok.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=/////////////////////////\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Gio yang mendengar perkataan Dion pun melihat kearah Dion. dan berkata.


"ini.... piagam ini semua apakah benar-benar didapatkan oleh kakak mu?". tanya Gio pada Dion.


"tentu saja itu semua kakak ku yang mendapatkan nya. jika bukan, mana mungkin benda benda itu berada disini" jelasnya agak ketus karena dia masih jengkel tadi Gio mengacuhkan nya.


"Hmmmmm kakak lo hebat". puji Gio pada Dion.


"tentu saja gue aja bahkan kadang merasa iri sama dia" tuturnya


"kenapa? bukannya kau juga sama sama jenius seperti tasya ?, " jelas Gio pada Dion.


"enggak. gue gak sejenius kaka." tuturnya lagi.


"mau gue tunjukin sesuatu yang nge buat gue iri sekaligus bangga gak sama kakak gue? " tanya Dion pada Gio.


Gio tak menjawab dan hanya mengerutkan kening. sedangkan Dion beranjak meninggalkan Gio, tak lama Gio pun mengikuti Dion yang sudah berada di depan dinding sebelah lemari tempat Tasya menyimpan koleksi souvenir idola nya.


dinding itu berbeda dengan dinding lainnya. dinding kamar itu ditutupi oleh tirai, Dion pun menyibakan tirai itu sampai terbuka dan terpampang lah beberapa foto dalam figura yang cukup besar. yang dalam foto itu ada Tasya dan beberapa orang lainnya.


"ini yang buat gue kadang iri dan sekaligus bangga sama kak tasya" tutur nya sambil menunjuk foto foto itu pada Gio.


Gio menatap satu persatu foto itu, disana ada Tasya, Alex, Dion dan anak anak, juga ada para lansia. Gio mengerutkan kening pertanda tak mengerti dan bertanya pada Dion siapa mereka.


"ini Tasya, elo, sama om Alex kan? terus mereka siapa? dan apa yang elo iriin dari Tasya? ". tanya nya heran.


"hah, gue pikir lo ngerti karena diam mulu dari tadi. ternyata enggak". hela nya.


"gue kadih tau ya calon kakak ipar gue yang ganteng" goda Dion pada Gio.


Gio yang dipanggil dengan sebutan calon kakak ipar pun menautkan alisnya karena bingung kenapa Dion memanggilnya seperti itu.


"calon kakak ipar apaan, sembarangan kalo ngomong" ucap Gio membantah.


*ayolah, gak usah begitu. gue tau ko lu tertarik kan sama kakak gue. dan kayak nya bukan sekadar tertarik aja deh. lu juga suka pada pandangan pertama kan liat kakak gue yang kayak bidadari itu" tuturnya panjang lebar.


Gio yang mendengar nya pun hanya memutar bola mata malas.


"hahaha, okok. gue gak godain lu lagi. sampe mana kita tadi" tanyanya pura pura bingung.


"ah iya. gini nih ya calon kakak ipar...... gue iri sama kakak gue itu bukan iri karna prestasinya, bukan karna dia dapet bayak penghargaan nya. tapi gue iri sama kakak gue itu karna kebaikan hatinya". tuturnya lagi pada Gio.


Gio masih merasa bingung.


"foto foto ini bukan sembarangan foto, foto foto ini itu adalah bukti kebaikan kakak gue. liat foto pertama ini..... ini Tasya sama anak anak panti asuhan.. dan.... lo tau... panti asuhan itu milik Tasya". tuturnya


"foto kedua, itu Tasya sama kakek dan nenek panti jompo.... dan... lo tau juga kalo panti jompo itu punya kakak gue juga".


"foto foto sekitar nya itu adalah foto kedekatan Tasya sama mereka. Tasya nyimpen kenangan itu disini. dia ngeabadiin setiap momen sama mereka disini. di dinding ini. ini yang bikin gue iri bahkan bangga sama kakak gue" tuturnya panjang dan jelas.


Gio yang mendengarkan penjelasan panjang dari Dion pun merasa tercengang dan terkejut, di tak menyangka bila Tasya adalah orang seperti itu.

__ADS_1


*guys, dalam istilah "orang seperti itu" yang ditujukan Gio untuk Tasya bukan termasuk ke hal hal negative ya. tapi maksudnya Gio gak menyangka kalo Tasya itu orang nya bener bener baik bahkan mungkin Gio menganggap bahwa Tasya itu berhati malaikat.


__ADS_2