
Rara menyandarkan tubuhnya di tepi ranjang, duduk di lantai dan melipatkan kedua lututnya. Kedua tangannya di kalungkan ke lututnya, dagunya di sandarkankan ke lututnya. Kedua matanya terus mengalir deras.
Memorinya kembali ke masa lalu saat-saat bersama Gege. Adiknya selalu mengalah dan menemaninya, keceriaan wajahnya selalu ia rindukan jika berjauhan dengannya. Tidak bisa di pungkiri, ia begitu merindukan Gege.
Dia merasa bersalah, jika pun bisa ia ingin berlutut pada Gege. Dia mengambil sebuah fotonya dengan Gege di atas ranjang. "Maafkan kakak Ge, maafkan kakak mu Ge."
Dia tau kesalahannya sangat fatal, ia menerima semua keadaan saat ini karena memang salahnya. Gege menderita karenanya.
"Aku harus minta maaf."
Dia pun menghubungi seseorang dan menyuruhnya menemaninya untuk bertemu dengan Gege, ia memaksanya dan tidak ingin menunggu lama dan pria itu pun menyanggupinya.
Kini sampailah mereka di rumah Gege. Pria itu menoleh ke arah Rara. Sepanjang jalan dia diam dan tak meliriknya. Dia sudah menyuruhnya untuk mendatangi Gege besok pagi karena ia sendiri tidak ingin mengganggu waktu Gege. Ini sudah larut malam dan Gege sudah pasti tidur.
"Sudah sampai,"
Rara mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Elmer. Pria yang di paksanya untuk menemaninya bertemu dengan Gege. Ia bersyukur, Elmer tidak sejahat itu. Padahal dia sudah menyakitinya dan menghancurkannya.
__ADS_1
"Maafkan aku Elmer."
Elmer mengabaikan perkataan Rara. Dia keluar dari mobilnya dan Rara pun ikut membuka mobilnya dia berjalan di belakang Elmer.
"Kalau Gege sudah tidur, kau jangan mengganggunya."
Elmer pun masuk ke dalam dia berpapasan dengan pelayan Mona. "Bi, apa Gege sudah tidur?"
"Belum Tuan, nyonya tadi ke dapur mengambil air minum," ujarnya. Tadi dia memang melihat Gege ke dapur.
Elmer mengangguk, "Aku ingin menemuinya sebentar saja."
Bibi Mona pun mengantar Elmer ke kamar Gege. "Saya tinggal tuan," ujarnya.
Elmer mengetuk kamar Gege beberapa kali dan terdengar langkah kaki yang tergesa-gesa dari dalam kamar. "Iya, tunggu sebentar."
Gege membuka pintu kamarnya dan terkejut melihat Elmer berada di depan pintunya. "Elmer, kau datang kesini?" tanya Gege. Tidak mungkin Elmer tidur di dalam kamarnya.
__ADS_1
"Maaf aku mengganggu waktunya." Elmer menyingkir, dia memperlihatkan seorang wanita yang berada di belakangnya.
Tenggorakan Gege terasa tercekat, wanita di depannya adalah orang yang sangat ia rindukan meskipun menyakitkan. Selama ini ia memang sudah mendengar ceritanya kalau Mommy dan Daddynya mengusir saudaranya itu. Ia ingin mencarinya, tapi rasa sakit di hatinya belum bisa di bebaskan. Bahkan Elmer melarangnya untuk mencarinya. Selalu mengatakan kalau Rara akan datang sendiri jika dia sudah menyesali perbuatannya.
Rara langsung bersimpuh di depan kaki Gege. Ia benar-benar menyesali semua perbuatannya. Namun Gege membantunya berdiri.
"Maafkan Kakak Ge, Kakak salah. Tidak seharusnya Kakak Egois. Semua salah Kakak, maafkan Kakak Ge."
Gege langsung memeluk tubuh Rara. Ia senang Kakaknya datang dan mau mengakui kesalahannya.
"Maafkan Kakak Ge, maafkan Kakak. Kakak berjanji akan melakukan apa pun untuk mu."
"Gege juga minta maaf karena menyakiti Kakak."
Rara mengurai pelukannya, ia merasa seperti kembali ke waktu dulu. Dimana ia leluasa memeluk adiknya itu. Ia menghapus air mata yang mengalir deras di kedua pipi Gege. "Kau tidak bersalah, justru karena Kakak kau berpisah dengan orang yang kamu cintai."
Rara mengambil sebelah tangan Elmer dan menyatukan dengan tangan Gege. "Kalian tidak bersalah, justru karena keegoisan ku kalian berpisah. Kalian saling mencintai, tapi karena kekejaman ku kalian berpisah. Kembalilah seperti semula, kalian berhak bahagia. Satukan cinta kalian yang sempat terputus."
__ADS_1
Satu Bulan Kemudian ....