
7 bulan kemudian.
Seorang wanita tengah menatap tajam ke arah putrinya sulungnya. Dahinya berkerut, bibirnya bergetar, dadanya terasa sesak. "Katakan kamu hamil anak siapa?" tanya wanita itu dengan tajam. Kini usia kandungan itu menginjak 4 bulan. Pantas saja Rara kadang mual dan jika di ajak ke Dokter, Rara selalu menolaknya. Ia mengetahuinya karena Rara pingsan. Mungkin karena banyak pikiran setelah menyembunyikan kehamilannya.
Elmer merangkul tubuh Gege. Sebagai suami ia harus siap siaga menahan tubuh istrinya agar tidak terjatuh. Kenyataan ini pasti membuatnya terguncang.
Plak
Sebuah tamparan melayang di pipi Rara. Wanita itu jatuh ke dua kaki Mommy Becca. "Maafkan aku Mom, aku tidak tau. Kejadian itu sungguh aku tidak tau Mom." Ini kedua kalinya ia membuat semua orang kecewa.
"Sayang, sebaiknya kamu istirahat," ujar Elmer. Kandungan Gege sudah menginjak 7 bulan dan tinggal 2 bulan lagi akan melahirkan. Ia tidak ingin membuat istrinya stress.
"Mom, sepertinya Kakak memang tidak tau. Kita dengarkan dulu penjelasannya." Gege tidak tega melihat kakaknya menangis pilu seperti itu.
Gege melangkah, dia membantu Rara berdiri dan menuju ke sofa. "Kakak bisa menceritakan semuanya."
Sebagai seorang adik ia hancur ketika mendengarkan kakaknya hamil tanpa seorang suami. Jelas saja nama keluarga Lewis tercemar. Namun saat ini bukan mementingkan nama itu, tapi mental kakaknya.
Rara menceritakan semuanya dan membuat Gege merasakan iba bahkan sakitnya berkali-kali lipat.
"Aku tidak tau siapa pria itu. Aku mohon percaya pada ku, kau pasti percaya pada ku kan? Aku, aku jujur..."
__ADS_1
Gege langsung memeluk Rara dengan cepat dan mengelus punggungnya yang bergetar. "Mommy, Daddy, terlepas anak ini anak siapa. Bagikita, dia tetap keturunan keluarga Lewis. Dia cucu Mommy dan Daddy, bukankah pasti senang kalau kita menambah anggota baru."
Gege tersenyum sambil mengelus perut Rara. "Selamat datang sayang."
"Benar yang di katakan Gege Mom."
"Kalau Mommy dan Daddy merasa malu. Aku akan pergi,"
Mommy Becca terduduk lemas di sofa. Tuan Arthur tak banyak bicara, ia kecewa sampai tidak mengungkapkan kemarahan di hatinya. Akan tetapi perkataan Gege benar, anak itu tidak bersalah. Apa lagi mendengarkan penjelasan Rara.
"Kita akan menerimanya, masalah ini kita sudahi. Mom, perhatikan kesehatan Gege. Dia tidak boleh terlalu banyak pikiran."
Mommy Becca masih menangis, Tuan Arthur pun memeluknya.
2 Bulan Kemudian.
Gege menghembuskan nafasnya berkali-kali, kemudian mengejan beberapa kali. Peluh keringat membanjiri tubuhnya. Elmer dengan sabar menghapus keringat Gege dan mengucapkan nada cinta untuk memberikan semangat pada istrinya.
"Sayang, kau kuat. Kau wanita hebat, aku mencintai mu."
Kuku Gege yang menancap di tangannya tak ia rasakan sakitnya. Justru saat ini ia takut dan khawatir, melihat perjuangan Gege seperti saat ini, ia teringat dengan Krystal. Ia tidak bisa membayangkan perjuangan Gege saat melahirkan tanpa dirinya.
__ADS_1
"Ayo Bu, terus Bu, kepalanya sudah terlihat." Dokter memberikan intruksi agar Gege mengejam kembali.
"Sayang, aku mencintai mu, sangat." Kedua air matanya mengalir, ia tidak tega melihat Gege kesakitan. Ia sudah cukup memiliki dua anak, ia tidak ingin menambah lagi. Ia tidak tega melihat Gege kesakitan mempertaruhkan nyawanya.
"Argkkkk ....."
Oek
Oek
Oek
Suasana yang menegangkan itu seketika mencair ketika mendengarkan suara tangisan bayi menggema.
"Selamat Pak Elmer, bayinya sempurna dan laki-laki."
Elmer mengusap air matanya dengan kemeja tangannya. Dia pun mengecup kening Gege. "Terimakasih Sayang, aku tidak akan pernah melupakan pengorbanan mu."
Dokter pun segera menaruh bayi itu ke atas dada Gege.
Bayi merah itu mencari area milim Gege, Elmer begitu terharu. Air mata Gege pun tak terbendung melihat putranya. Elmer menghapus air mata Gege.
__ADS_1
"Terimakasih cinta ku."