
"Mommy," Sapa Krystal. Kedua kaki mungilnya itu melangkah dengan lebar menghampiri Gege dan Elmer yang sedang bersantai di taman samping.
Gege mengecup kedua pipi gembul Krystal. "Senang ya keluar sama tante?"
"Iyalah, Tante kan cantik seperti Krystal."
"Oleh-oleh buat Daddy mana sayang?" tanya Elmer. Dia mencium kedua pipi Krystal secara bergantian.
"Gak ada, lupa Dad." Krystal cengengesan. Dia lupa memberikan hadiah untuk kedua orang tuanya. "Em, tapi Daddy dan Mommy katanya mau buat adik. Kapan adiknya ada?" tanya Krystal dengan wajah polosnya.
"Ee, aku masuk dulu," ujar Rara. Dia tidak mau berlama-lama berada di depan Elmer dan Gege. Bisa-bisa ia kenak sasaran empuknya.
Elmer mengkedipkan sebelah matanya menggoda Gege. Sedangkan wajah Gege sudah memerah dan menatap tajam ke arah Elmer.
"Daddy..." Krystal memukul lengan Elmer karena bermain mata dengan mommynya itu. Seolah mempermainkannya.
"Elmer," Gege sedikit menyentak suaminya itu. Tanpa ada rasa bertanggung jawab untuk menjawab pertanyaan Krystal, putrinya.
"Ehem, ehem ..."
"Begini Krystal sayang, Mommy dan Daddy lagi berusaha buat adik. Nah, adiknya belum jadi. Kita masih berusaha olahraga, begitu sayang." Elmer menjelaskan sehalus mungkin agar mudah di mengerti untuk putrinya itu.
Krystal berpikir, ia mengangguk sebagai tanda paham. "Terus Krystal boleh ikut olahraga membuat adik."
Elmer tersenyum, terkekeh geli. "Gak boleh sayang. Mommy dan Daddy yang harus buat. Kalau ada Krystal gak jadi, terus Krystal gak boleh ganggu Daddy sama Mommy, harus kasik waktu berdua supaya Mommy dan Daddy cepet buat adiknya."
"Oh begitu ya, baiklah. Krystal gak akan ganggu Mommy dan Daddy. Pokoknya bulan depan harus ada adik ya Mom dan Dad, oke." Krystal menatap satu per satu orang tuanya dan memastikannya kalau kedua orang tuanya harus secepatnya membuat adiknya. "Krystal tidak mau tau, bulan depan harus ada ya."
__ADS_1
Elmer mengacungkan jempolnya, tentu saja dia akan mengadonannya tiap hari, tiap malam, tiap menit pula.
"Apa?" Gege tercengang dengan ucapan putrinya itu.
"Sayang," Elmer memanggil dengan tatapan menggodanya.
"Elmer, kau meracuni anak mu sendiri dengan pikiran mesum mu itu." Gege sangat kesal dengan suaminya itu. Tidakkah pria ini tau, bahwa pinggulnya seakan retak seperti nenek yang sudah rentan tuanya. Bahkan saat bangun pun tadi pagi tidak bisa menggerakkan kakinya.
"Sayang, kita harus menuruti permintaan Krystal agar tidak kecewa. Dia maksanya bulan depan harus ada. Pokoknya kita harus membuatnya. Kalau saat ini, bolehlah sayang ku istirahat, tapi kalau malam nanti aku gembur lagi." Elmer mengedipkan sebelah matanya dengan tatapan menggoda.
Satu Bulan Kemudian.
Elmer di sibukkan dengan muntahannya tiap hari. Sudah seminggu ini pria itu mengalami mual, hampir setiap hari dia memuntahkan isi perutnya.
"Sayang, kita ke rumah sakit ya?" Gege begitu khawatir. Suaminya itu sangat lemas dan wajahnya pucat.
"Masuk angin? Ini sudah seminggu?" Gege tidak mau mendengarkan lagi perkataan suaminya. Dia merangkul tubuh Elmer yang masih memeluknya sambil berjalan ke arah ranjang.
Gege membantunya duduk, kemudian mengambil jaket dan memakaikannya pada Elmer. "Kita harus ke rumah sakit sekarang, gak ada penolakan lagi."
Elmer pasrah, dia hanya mengangguk sebagai tanda persetujuannya itu.
Gege pun membantu membaringkan tubuh Elmer di brankar. Dokter Daniel pun memeriksa tubuh Elmer. Namun dia tidak melihat keanehan di tubuh Elmer.
"Bagaimana Dok keadaan suami saya." Gege berharap tidak terjadi sesuatu pada Elmer.
"Tuan Elmer baik-baik saja Nyonya."
__ADS_1
"Hah, tapi tiap hari dia mual dan merasakan pusing. Hidungnya juga sensitif tidak bisa mencium aroma masakan. Hampir setiap hari dalam satu minggu ini dia makan nasi putih saja, itu pun harus di muntahkan."
Gege menggenggam tangan Elmer. Ia begitu kasihan melihat Elmer yang begitu tersiksa.
"Sebaiknya nyonya yang periksa ke Dokter Obygn."
Gege dan Elmer masih mencerna dengan perkataan pria di depannya.
"Sebenarnya gejala yang di alami oleh tuan Elmer seperi morning sickness.
Meningkatnya hormon prolaktin dan kortisol menyebabkan para pria mengalami gejala morning sickness seperti yang dialami oleh ibu hamil.
Perubahan hormon ini dapat dikaitkan dengan rasa kekhawatiran pria yang akan menjadi seorang ayah. Tidak hanya itu, terkadang rasa cemburu terhadap janin dalam kandungan yang dinilai menjadi pusat perhatian istri juga bisa menjadi penyebab seorang calon ayah alami sindrom couvade.
Stres yang dialami para calon ayah dapat menjadi tanda dari ketertarikan dan kebahagiaan para pria yang akan menjadi seorang ayah. Kondisi ini membuat para pria merasakan keterkaitan yang begitu mendalam dengan istri yang sedang menjalani kehamilan. Kondisi ini dapat memengaruhi pria sehingga merasakan gejala kehamilan seperti sindrom couvade (google)." Jelas Dokter Daniel.
"Begitukah Dok, jadi istri saya hamil."
Debaran jantung Elmer semakain berdetak kuat saat melihat sesuatu di layar tak jauh dari pandangannya.
"Dokter wanita itu tersenyum, kandungannnya sudah berjalan dua minggu Bu."
Saking harunya, kedua air mata Elmer menetas. Begitupun Gege, dia tidak bisa menahan air matanya. Akhirnya dia di beri kepercayaan lagi menjadi seorang ibu.
Elmer mencium kening Gege, ia sangat berterimakasih pada Tuhan dan Gege yang membuatnya merasakan sosok seorang ayah. Kali ini ia bisa melihat dan memperhatikan perkembangan anaknya. Jika di masa lalu ia tidak bisa menemani mereka, Gege dan Krystal, tapi kali ini tidak.
Gege dan Elmer dengan serius mendengarkan nasehat dari Dokter. Kedua tangannya saling menggenggam erat seakan menyalurkan rasa bahagia di hatinya.
__ADS_1