Istri Reinkarnasi Presdir Kejam

Istri Reinkarnasi Presdir Kejam
Kesalahan


__ADS_3

"Sayang aku temani ya bertemu sama Amelia." Gabriel merayu istri tercintanya ini. Rara ngotot ingin menemui Amelia dan nenek Amora sendirian. Ia khawatir akan terjadi sesuatu padanya. Mengingat permintaan konyolnya itu bisa jadi nenek Amora akan bersikap kelewatan.


Rara sudah selesai mengikat dasi Gabriel kemudian kedua tangannya mengusap dada Gabriel. "Ini urusan wanita, seorang pria yang tidak boleh ikut campur." Dia ingin berbicara dengan mereka karena sudah kelewatan meminta Gabriel menikah. Sungguh lucu bukan?


"Tapi sayang, yang kalian bahas itu kan aku." Gabriel menunjuk dirinya sendiri. "Aku ini suami mu."


"Kau percaya istri mu kan?" Gabriel menngangguk cepat.


Rara menarik hidung Gabriel. "Jadi tolonglah percaya. Biar istri mu yang harus. Aku akan mempertahankan dirimu dari siapa pun."


Gabriel terharu, ia seperti anak kecil yang ingin menangis. "Sayang terimakasih."


Sementara itu, Elmer tengah gelisah sendiri. Memikirkan penampilannya yang tidak menawan lagi. Ia takut Gege akan beralih pada orang lain. Apa lagi banyak sekali yang melirik Gege jika wanita itu sudah keluar.


Ia menatap wajahnya yang terlihat kusam.


Gege sudah keluar dari kamar mandi. Kini dia mau bersiap-siap ke perusahaan Gabriel. Laporan Gabriel sudah di terima, ia akan memperingati Gabriel jika berbuat macam-macam dengan kakanya itu. Selama ini Joe bukan hanya bertuga sebagai tangan kanan Elmer, tapi juga dirinya yang memerintahkan untuk mengawasi Gabriel. Ternyata ada semilir angin yang ingin mengguncang rumah tangga kakaknya.


"Sayang." Elmer menatap istrinya yang tengah memolesi wajahnya. "Kalau keluar rumah jangan terlalu cantik." Elmer mengambil hair dryer dari tangan Gege.


Gege menoleh dan mendapati Elmer memasang wajah sedih. "Cemburu? Siapa sih yang mau sama aku. Aku sudah punya anak."


"Tapi kamu masih kayak remeja tau." Elmer tak terima, kecantikan istrinya harus menjadi miliknya. Apa ini Gege mau keluar? pasti akan banyak pria yang melihat ke arahnya.


"Sayang, harusnya kau bangga. Uwah istri presdir Elmer cantik."


"Aku senang kamu cantik, tapi kan banyak yang lirik."


"Gini saja, bagaimana kalau kita minggu ini ke salon?"

__ADS_1


Elmer berpikir sejenak, tapi bagaimana dengan baby Devan?


"Jangan khawatirkan Devan, aku tidak melarang mu mengkhawatirkannya, tapi kau harus punya waktu untuk mu. Kau selalu menyuruh ku untuk meluangkan waktu untuk ku sendiri." Kadang Elmer membawa Baby Devan ke kantornya bersama dengannya.


"Baiklah, tapi baby Devan akan ikut." Elmer sangat senang, hari minggu ini ia akan keluar bersama dengan Gege. "Sekalian ajak Krystal kita shoping."


"Ya ya ya." Gege pasrah, omongannya tadi seperti angin lalu saja bagi Elmer. Sepertinya otaknya tidak akan lepas dari Devan dan Krystal.


"Ya sudah, aku berangkat dulu mau ke perusahaan Gabriel."


"Sayang aku ikut."


Gege terdiam dan Elmer pun mengerti. "Ya, ya ya aku tau urusan wanita."


Gege tersenyum dan mengecup bibir Elmer. "Sayang ingat jangan main-main di luar." Elmer pun melanjutkan dirinya yang belum mandi dan bersiap-siap, seperti biasa kali ini pun ia akan datang terlambat lagi.


Di tempat yang berbeda kini sepasang anak kembar itu tengah-tengah siap-siap keluar rumah menuju tujuan masing-masing.


"Nyonya, silahkan masuk."


Jordan membuka pintu ruangan itu. Rara melihat seorang wanita kurus dan paruh baya terbaring lemah dan ada seorang wanita di sampingnya. Saat melihat wanita itu, ia merasa tak asing dan teringat akan sesuatu.


Sama halnya dengan Amelia, ia terkejut untuk kedua kalinya bertemu dengan wanita yang sama. "Jadi dia istri Gabriel." Tebaknya saat melihat Jordan bersamanya.


"Kau kenal dia?" tanya nenek Amora. Ini kesempatannya untuk berbicara, ternyata Gabriel berkata jujur pada istrinya.


"Maaf saya baru datang."


Nenek Amora tersenyum lemah. "Kau istrinya Gabriel?"

__ADS_1


"Benar nyonya, saya istrinya." Rara menoleh pada Jordan. "Tunggulah di luar Jo."


"Baik Nyonya," ucap Jordan menurut.


Kini tinggalah Rara, Nenek Amora dan Amelia di ruangan itu. Jordan sedikit mengintip, ia penasaran dengan pembicaraan mereka.


"Pasti bukan hanya ingin menjenguk ku kan?" tanya nenek Amora.


Rara tersenyum pada wanita yang terbaring lemah itu. Wanita ini bisa menebak niatnya. "Benar, aku hanya bertanya apa maksud anda menyuruh suami saya menikahi cucu anda."


Nenek Amora bangkit, tidak ada kekhawatiran selain masa depan Amelia. "Dia tidak memiliko siapapun hanya Gabriel yang dia punya. Berbaik hatilah pada Amelia."


Amelia terdiam, dia menatap reaksi wajah Rara.


"Berbaik hati, termasuk membuat wanita lain tersakiti. Anda perempuan, Amelia juga perempuan. Tetapi anda menuruh seorang wanita harus mengorbankan perasaannya, bukan hanya wanita itu tapi anaknya."


Amelia tercengang, ia masih menahan rasa kesalnya.


"Tapi anda menikah dengan Gabriel hanya karena kesalahan." Sarkas Amelia.


Rara tersenyum, entah tau dari mana Amelia sampai tau kesalahannya dengan Gabriel. Tidak mungkin Gabriel mengatakannya, ia harus bertanya pada Gabriel nanti.


"Kami memang menikah karena kesalahan tapi bukan berarti yang kami jalani ini adalah kesalahan."


Rara beralih pada nenek Amora. "Jangan menyuruh cucu anda menjadi orang ketiga dengan mengorbankan perasaan orang lain. Saya dan Gabriel saling mencintai, tidak mungkin anda berpikir cucu anda menerima bekas orang lain."


"Saya tidak akan membiarkannya." Tanpa mereka sadari, Rara merekam pembicaraan mereka untuk berjaga-jaga ke depannya.


"Saya permisi dan renungkanlah."

__ADS_1


Di lain tempat.


Gabriel meneguk air ludahnya susah payah. adik iparnya langsung datang dan menggebrak meja di depannya itu.


__ADS_2