
Rara mengerutkan keningnya saat mengambil jas yang baru saja di taruh suaminya di atas ranjang. Ia kembali mengendus-ngendus aroma parfum yang berbeda. Ia kira ia indra penciumannya salah, tapi ternyata ada dua aroma yang berbeda.
Ceklek
Rara menatap suaminya berteeelanjang dada, otot perutnya sangat menawan. Rara menahan kekuatan nafsunya itu. Saat ini bukan memikirkan sembarang tempat.
"Sayang tadi kau bertemu dengan siapa saja?" Tanya Rara.
"Oh tadi aku bertemu dengan ...." Menyadari ucapannya yang hampir kelepasan, Gabriel menghentikan ucapan. Dia sejenak menatap Rara. "Aku bertemu dengan pekerjaan, ya begitu."
Sebagai seorang istri Rara tak begitu langsung percaya. Ia mencium bau-bau yang di sembunyikan. "Yakin? Tapi jas mu ada dua aroma berbeda. Aku kenal betul parfum yang kamu pakai," ucap Rara dengan nada lembut.
Gabriel memegang kedua bahunya, ia tidak akan menyembunyikan apapun. "Aku akan menceritakan semuanya, tapi kau jangan marah."
"Aku pakai baju dulu." Rara diam, ia menunggu suaminya memakai kimononya. "Sayang begini, sebenarnya kemarin mantan ku datang dan dia meminta bantuan ku untuk membantu pengobatana neneknya. Sebenarnya dulu dan dia saling mencintai." Gabriel menjeda, ia memperhatikan ekspresi Rara. "Jangan salah paham sayang, maksudnya cintanya dulu bukan sekarang."
__ADS_1
"Ya sudah lanjutkan." Nada perkataan Rara lembut, tapi tidak untuk Gabriel, nada istrinya seperti jarum yang hendak menusuknya.
"Kami berpisah karena perjodohan dan aku memulai mencintai Helena, kau tau sendiri aku tidak memiliki anak bertahun-tahun dengan Helena, tapi aku tetap mencintai dan menghargainya hingga suatu hari kejadian dengan mu. Jadi intinya aku berpisah dengannya baik-baik dan tidak mungkin aku menolak permohonannya."
"Kejadian di rumah sakit." Gabriel mengatupkan kedua tangannya. "Aku mohon percaya pada ku, aku tidak sengaja. Amelia memeluk ku dan menarik ku bertemu dengan nenek Amora."
Rara mengangguk membuat Gabriel was-was. Ia tidak mau jatah malamnya hilang, bisa-bisa dia menjadi manusia karatan.
"Sayang masih di kasik jatah kan?" Tanya Gabriel.
Mendadak wajah Gabriel lesu. "Sedikit saja sayang, mau ya? Mau ya?"
Rara mengangguk, dalam sekejap Gabrile melayangkan ciuman mautnya. Dia mengecap setiap inci bibir Rara. Gabriel membuang jasnya ke lantai kemudian membaringkan tubuh Rara.
Ciuman itu semakin panas, ruangan yang dingin itu kini berubah menjadi panas. Rara mengelus leher Gabriel semakin membuat Gabriel merinding. Burung panjangnya semakin menegang dan terasa berat.
__ADS_1
Dengan cepat Gabriel membuka resleting dres milik Rara, kemudian merosotkan ke bawah dan membuangnya kelantai. Kini tersisa kain pembungkus gunung kembar dan segiti itu. Gabriel menggigit bibirnya, ia kembali menidih tubuh Rara. Kembali ciuman itu layangkan pada bibir Rara.
"Eummm ..."
Kedua tangan Gabriel menelusup memasuki kain pembungkus gunung kembar itu dan memainkannya seakan menggenggam sebuah batu yang kenyal.
Rara mendeusah, Gabriel semakin menginginkan lebih. Dia melepaskan mainannya dan melepaskan kimono miliknya kemudian melepaskan pakaian yang masih membungkus akses milik dua istrinya.
Kini keduanya tanpa sehelai benang. Rara mengalungkan lengannya, dia memulai duluan ciuman panasnya. Memberikan beberapa tanda leher Gabriel. Kacung Gabriel semakin menegang, bahkan keduan tangannya mencubit pelan dan lembut dua buah di bawaaah pinggang milik Rara.
Gabriel sedikit menaikkan jenjang kaki mulus Rara. Kemudian menekan kacungnya memasuki sebuah terowongan. Rara melenguh, milik Gabriel memenuhi miliknya.
Gabriel mencium salah satu buki kembar milik Rara bagaikan anak kecil yang memainkan Asi ibunya.
Ah
__ADS_1
Gabriel mendeeesah, dia melajukan miliknya lembut, pelan-pelan, kemudian mempercepatnya lajuannya. Pasangan suami istri mendeeesah panjang, nafasnya terasa berat. Setiap menitnya gelora panas di ruangan itu semakin memuncak hingg cairan itu keluar di iringi deesahan keduanya.