
"Apa kekuranganku " tanya Vina yang telah memergoki suaminya berciuman panas dengan wanita lain di sebuah Cafe yang di dekor untuk acara ulang tahun suaminya Levi.
Levi diam, dan perempuan cantik bersamanya juga terdiam. Dan menatap Vina yang saat ini sedang menatap suaminya dan selingkuhannya dengan air mata yang hampir keluar dari pelupuk matanya.
"Aku dan vanilla telah menunggumu di rumah untuk merayakan hari ulang tahun bersama. Aku telah menyelesaikan semuanya dari pagi hingga malam untuk kamu mas. Tapi kamu disini malah bersama... " Vina sudah tidak mampu berkata kata lagi . Air mata yang dia tahan dari tadi akhirnya terjun membasahi pipinya.
"Apa kesetiaanku selama beberapa tahun ini masih kurang.? Apa aku kurang menyayangi dan mengurus mu di rumah.?"
"Aku bahkan menahan tidur dan menunggumu pulang kerja mas. Aku akan tetap terjaga dari tidurku sampai anda ada di dalam rumah. Aku bahkan tidak pernah berfikir untuk tidak mengurusi kamu dan anak kita, jadi di mana kurang ku sebagai seorang istri?" Triak Vina, dadanya trasa sesak, hatinya seperti teriris.
"Kamu tidak bisa memuaskan nafsu suamimu saat suamimu pulang kerja. Jadi jangan salahkan suamimu jika suamimu melirik wanita **** yang ada di luar sana. Kamu trus menunjukkan kelebihanmu, pandai memasak, mengurus anak, mengurus suami, mengurus rumah, menyiapkan segala untuk suami, tapi semua itu percuma kalau kamu tidak bisa membuat jagoan ku bersemangat . Karena Kamu seperti karung beras !" Wanita yang bernama Wulan itu seketika maju dan membuat Vina menciut.
"Lihatlah penampilanmu dari atas sampai bawah, menang ada yang bisa menarik perhatianku dan membuat suamimu betah di rumah ?" Wulan menarik Vina untuk menghadap kaca besar yang ada di Cafe tersebut. Berdampingan dengan Wulan yang terlihat tubuhnya yang ramping dan seksi.
Sementara Vina menatap Levi suaminya dengan mata yang berkaca kaca " apakah benar karena penampilanku membuat kamu tidak nyaman di dalam rumah mas? Apa karena aku gendut , makanya tidak pernah mengajakku jalan meski hanya untuk makan di luar?" Tanya Vina dengan harapan suaminya tidak mengatakan iya atas pertanyaan nya itu.
"Jawab mas! kenapa malah diam saja?" Bentak Vina.
"Iya!"
"Aku muak dengan penampilanmu! Aku manusia biasa yang punya nafsu dan keinginan, saat pulang kerja aku selalu ingin melihat istriku bisa memuaskan mataku dengan penampilannya , seharusnya kamu sadar, kenapa aku bisa berbuat seperti ini, lihat Wulan, tubuhnya langsing, tubuhnya terawat, wajahnya begitu cantik. Padahal dia mempunyai anak Dua , tapi dia pandai merawat tubuh dan wajahnya . Lihat tubuhmu anak baru satu, tapi badan sudah melar seperti ban mobil. Jadi jangan salahkan aku jika mataku puas jika melihatnya.!" Jawab Levi.
Hati Vina seperti di remuk remuk mendengar jawaban Levi, suami yang dia sayangi selama ini. Jika orang lain mengatakan kekurangan nya dia tidak akan sakit hati, tapi kalau suaminya sendiri yang mengatakan hati hancur dan tubuh menjadi lemas rasanya.
"Aku baru tahu kalau kamu mempermasalahkan penampilan ku. Aku kira mas berbeda dari orang lain, yang memandang fisik istrinya." Hi sak Vina.
"Pulanglah kita akan selesaikan ini di rumah.!"ucap Levi.
Tanpa banyak kata Vina pun meninggalkan Cafe tersebut.
__ADS_1
Vina memasuki mobil yang terparkir di halaman Cafe tersebut sambil berkata "jalan kelapa rumah nomor dua tiga ya pak!" Ucap Vina dengan hi sakan yang tidak bisa terhenti.
Vina berkali kali mengusap air matanya yang tidak berhenti henti, mengingat kejadian yang baru baru ini mengarah ke perselingkuhan suaminya , tapi dia selalu menepis semua itu dan selalu berpikir positif.
Bahkan temannya yang sekantor dengan suaminya sering mengingatkan tentang perilaku suaminya yang sering bermain dengan wanita lain. Dia tak mempercayai perkataan sahabatnya itu, dengan alasan dia harus saling percaya pada suaminya dimanapun kapanpun.
Dan Malam ini dia merasa menjadi wanita yang paling bodoh di dunia, karena sudah mempercayai suaminya tidak akan pernah berselingkuh.
Tapi nyatanya suaminya benar benar berselingkuh dengan sekertaris nya di kantor.
"Pak dia?"
"Jalan saja!"
"Baik pak."
Vina tidak tahu kalau dia salah menaiki mobil seseorang, Dia pikir ini adalah taksi yang sedang mangkat, ternyata bukan.
"Berhenti!!" Ucap seseorang yang berada di samping sopir.
"Nona turunlah, telingaku muak mendengar tangisanmu yang tidak bermutu itu!!"
Vina kaget dengan mobil yang tiba-tiba berhenti hanya karena mendengar mendengar suara bariton yang memintanya turun.
Karena Vina tidak kunjung turun juga, pria itu turun dari mobil membuka pintu belakang, lalu menarik Vina untuk turun dari sana.
"Awalnya aku akan mengantarkan mu tapi karena Kamu berisik sepanjang jalan, aku terpaksa menurunkan mu di sini."
Vina Hanya diam
__ADS_1
"Wanita memang menyusahkan! Cepat jalan!"
"Baik. Pak."
Mobil itupun berlalu dari hadapan Vina, dan kini Vina berjalan seorang diri dengan ingatannya yang kembali saat dia melihat suaminya berciuman dengan wanita lain. Vina bahkan lupa kapan terakhir kali suaminya mencium dirinya.
Vina baru sadar atas penolakan suaminya akhir-akhir ini. Ternyata bukan karena lelah, tapi mungkin Levi sudah muak melihat tubuhnya yang tidak semenarik dulu.
Beberapa saat kemudian Vina sampai di rumah, belum ada tanda-tanda jika suaminya pulang, sementara anaknya di titipkan ke ibunya saat dia pergi menemui suaminya di cafe.
Vina masuk ke kamar kemudian dia berdiri tepat di depan kaca besar meja riasnya. Memandangi wajah dan juga tubuh yang belakangan ini memang jarang sekali dia perhatikan karena terlalu sibuk mengurus rumah dan juga putrinya yang sedikit rewel.
Vina tidak punya waktu untuk berolahraga dan berdandan selama ini, karena menurutnya kebutuhan suaminya dan juga putrinya nomor satu. Vina setiap hari di sibukkan dengan pekerjaan rumah yang tidak ada habis-habisnya sehingga dia lupa dengan mengurus dirinya sendiri.
Tidak lama pintu kamar pun terbuka dan Levi pun masuk tanpa mengeluarkan kata apapun. Dia langsung mengambil handuk dan segera masuk ke kamar mandi.
Setelah Levi selesai mandi, Vina masih berdiri di depan cermin sambil memperhatikan suaminya dari pantulan cermin .
"Jika aku kembali cantik dan seksi, apakah kamu mau kembali mencintaiku?" Tanya Vina.
"Nggak usah mimpi," jawab Levi
"Dalam waktu tiga bulan aku akan lebih cantik dan seksi dari selingkuhanmu," ucap Vina dengan penuh keyakinan.
"Bagaimana mungkin! Itu adalah hal yang sangat mustahil." Levi tersenyum meremehkan, lalu menatap tubuh Vina dari atas ke bawah yang terlihat seperti karung beras.
"Bisakah bersabar sebentar saja? Aku berjanji aku akan berubah dalam tiga bulan dan membuatmu mencintaiku kembali. Tapi sebelum itu kumohon, jangan melakukan hal yang begitu jauh dengan wanita selingkuhanmu. Jangan melakukan hal yang melebihi batas, karena hanya aku yang halal untukmu."
Levi menghembuskan nafas panjang dan tetap keluar dari kamarnya dan Vina.
__ADS_1
"Tunggu saja, dalam waktu tiga bulan aku akan tampil lebih cantik dari wanita itu."