Istriku Berubah Menjadi Cantik

Istriku Berubah Menjadi Cantik
Ibu Levi curiga


__ADS_3

Beberapa hari ini Levi kelabakan karena kepergian Vina yang tiba-tiba. Vanilla yang sering nangis, rumah yang seperti kapal pecah tidak bisa membuat Levi nyaman beristirahat di rumahnya.


"Mamamu sungguh menyebalkan, lihatlah, dia malah enak-enakan sekarang ini. Meninggalkan anak dan rumah seenak jidatnya. Jika saja kalau dia bilang sebulan yang lalu kalau mau pergi, papa nggak akan kelabakan seperti ini. Dia kira mencari baby sitter itu perkara yang mudah?" Ucap Levi yang sedang menendang mainan anaknya yang berserakan.


"Udah tau kalau papa nggak suka barang berserakan. Seenaknya saja dia pergi. Memangnya nggak bisa diam saja di rumah meskipun tau sesuatu?" Levi membaringkan tubuhnya di samping Vanilla yang saat ini sedang makan cemilan. Tubuhnya sudah lelah dari kantor, di tambah menjaga anak dan rumah yang berantakan seperti ini.


Sejak kemarin Levi sudah menghubungi yayasan untuk mencari ART dan Baby sitter, tapi sampai sekarang belum yang menghubunginya.


Saat rebahan hpnya tiba-tiba bergetar. Levi langsung merogoh hpnya yang berada di saku celana.


"Iya, Lan." Ucap Levi lesu.


"Aku Nggak bisa, aku sibuk, aku lagi jagain Vanilla, aku nggak mungkin ninggalin dia sendirian."


"Aku nggak mungkin nitipin Vanilla sama ibu terus terusan. Nanti ibu bisa curiga."


"Iya... Aku juga kangen. tapi mau bagaimana lagi."


Wulan menutup telfonnya karena kesal. Sedangkan Levi juga ikutan kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa. Baru beberapa hari kepergian Vina, Levi rasanya ingin menjemputnya untuk di ajak pulang, tapi Levi tidak mungkin melakukannya, bisa-bisa dia besar kepala nanti.


Lagi pula Levi sudah bosan melihat Vina, hanya saja dia tidak mungkin menceritakannya karena ibunya sangat menyayanginya, dan juga membutuhkannya untuk mengurus Vanilla.


Keesokan harinya Levi sudah di buat sibuk membuat sarapan untuk Vanilla yang kini merengek kelaparan.


Dia bahkan tidak sempat mandi karena bangun kesiangan akibat kelebihan semalaman, dan kini Vanilla terus merengek membuat kepala Levi serasa ingin pecah.


"Vina... Semua ini gara-gara kamu. Aku akan mengutukmu menjadi putri kodok. Dasar wanita menyebalkan... Aw!" Jeritan Levi saat tangannya terkena minyak panas ketika memasak telur mata sapi untuk putrinya.


"Papa..." Rengek Vanilla yang


"Iya sayang.. sabar." Ucap Levi


Saat ingin membawakan makanan untuk putrinya, tiba-tiba bel rumahnya berbunyi.


"Tunggu di sini ya sayang.. papa mau buka pintu dulu." Ucap Levi pada putrinya.


Levi pun membuka pintu dan pria itu cukup kaget melihat ibunya berdiri di depan pintu.


"I...ibu?" Ucap Levi gugup.

__ADS_1


"Kamu nggak mau nyuruh ibu masuk!"


"I... Iya Bu, mari masuk." Levi pun memperkenalkan ibunya masuk.


Saat ibunya masuk matanya langsung terbelalak, melihat keadaan rumah seperti habis terkena gempa.


"Apa kamu bertengkar dengan Vina?" Tanya ibunya Levi.


"Nggak Bu." Elak Levi.


"Lalu dimana Vina? Kenapa rumahmu seperti kapal Titanic yang tenggelam?" Tanya bu Ajeng curiga. Soalnya selama pernikahan, dia tidak pernah melihat anaknya seperti ini.


Dan saat melihat Vanilla, Bu Ajeng semakin curiga.


"Sarapan apa ini? Siap yang membuatkan sarapan Vanilla seperti ini?"


"Saya Bu, soalnya saya cuman bisa membuat sarapan seperti itu." Jawab Levi.


"Memangnya kemana Vina? Kenapa rumahmu seperti ini dan dia juga tidak membuatkan sarapan untuk kalian!"


"Vina kerja Bu." Jawab Levi asal.


"Bukan begitu Bu, Vina katanya jenuh di dalam rumah, dia bilang ingin mencari suasana baru di luar sana. Makanya dia memutuskan untuk bekerja."


"Terus, kamu membiarkan dia bekerja? Dimana harga dirimu sebagai suami? Tempat ternyaman istri itu di rumah. Seharusnya istri itu tidak akan keluar rumah selagi dia nyaman di rumah. Kamu pasti sudah bikin mantu ibu tidak nyaman kan?" Sedikit curiga Bu Ajeng dengan putranya.


"Bu... Vina itu jenuh di rumah. Jadi ya biarin aja dia mencari suasana baru di luar sana." Jawab Levi enteng.


"Kalau sampai istrimu kepincut pria di luar sana, baru tahu rasa kamu."


Levi tertawa. "Memangnya siapa juga yang mau dengan wanita seperti karung beras BU? Ibu jangan bercanda."


"Nah, ini nih. Kamu pasti sering menghina Vina kan, makanya dia memutuskan untuk bekerja? Ingat ya Lev, istri yang sering kamu sebut dengan karung beras itu, kalau sudah bertindak, Buaya yang sudah matipun bisa kembali hidup. Saat dia sudah bertekad mengubah dirinya, dan kamu akan menyesal karena sudah mengatainya karung beras."


"Ingat Bapakmu yang berengsek itu. Dia juga berselingkuh sebelum ibu belum bisa dandan. Saat Ibu sedah berubah menjadi lebih cantik, bapakmu setengah mati ngejar-ngejar Ibu, dan karena Ibu sudah sakit hati, jadi Ibu tidak sudi mau lagi balikan sama tukang selingkuh."


Saat mereka berdua sedang berbincang-bincang bel rumahnya kini berbunyi kembali.


Levi pun keluar melihat siapa yang datang. Levi terlihat lebih terkejut melihat siapa yang sedang datang ke rumahnya. Ternyata Wulan, dan saat ini Wulan bersiap memeluk Levi karena begitu rindu. Tapi segera di urungkan niatnya saat Bu Ajeng muncul dengan wajah sangat menatap Wulan.

__ADS_1


"Siap kamu?" Tanya Bu Ajeng.


"S... Saya sekertaris mas Levi Bu." Wulan memperkenalkan diri dan ingin menjabat tangan Bu Ajeng. Tapi Bu Ajeng menepis tangan Wulan.


"Sekertaris mana yang memanggil atasannya dengan panggilan Mas?"


Wulan menelan ludahnya dengan susah payah. Dia baru tahu Ibu dari kekasihnya itu ternyata sangat menakutkan.


Levi ber dehem" ehemm, Wulan kamu sudah membawa berkas yang saya minta?" Tanya Levi sepontan.


"I-iy pak, ada di dalam mobil." Jawab Wulan tergagap. Wulan pun kembali ke mobil mengambil bekas bersampul warna biru, lalu menyerahkannya kepada Levi.


Setelah Levi menerima berkas tersebut, Levi pun mengisyaratkan untuk Wulan agar segera pergi dari rumahnya, karena situasi sedang tidak aman.


"Kalau begitu saya permisi dulu Pak, Bu."


Levi pun hendak masuk tapi langkahnya terhenti saat mendengar suara Ibunya.


"Tunggu." Bu Ajeng menghentikan langkah Wulan.


"Iy, Bu." Jawab Wulan.


"Kamu tau? Saya bisa mencium bau-bau ****** meskipun jaraknya sangat jauh. Kamu adalah wanita yang sangat cantik. Jadi... Aku berharap kamu tidak akan menjadi ****** yang menghancurkan rumah tangga orang lain. Apalagi rumah tangga anak saya."


"Saya bukan ****** Bu, saya wanita baik-baik." Ucap Wulan gugup.


"Syukurlah." Bu Ajeng mengusap rambut panjang Wulan. "Kamu tau suami saya dulu juga berselingkuh, dan kamu tau apa yang saya lakukan kepada selingkuhannya?"


Wulan menggunakan kepalanya.


Bu Ajeng pun berbisik di telinga Wulan. "Aku menyiramkannya dengan air keras sehingga wajahnya hancur."


Wulan reflek memegang wajahnya.


"Dan akupun akan melakukan sesuatu yang sama kalau ada wanita yang ingin merusak rumah tangga putraku." Bu Ajeng tersenyum menyeramkan saat menjauhkan wajahnya dari telinga Wulan.


Seketika tubuh Wulan bergetar hebat. Membayangkan wajahnya akan tersiram air keras seperti selingkuhannya Bapaknya Levi. Wajah Wulan menjadi pucat saat itu juga. Dia pun mundur dan hampir saja tergeletak jika saja Bu Ajeng tidak meraih tangannya.


"Jangan takut, aku tau kalau kamu wanita baik-baik. Jadi tidak perlu berekpresi seperti ini." Ucap Bu Ajeng sambil tersenyum manis.

__ADS_1


__ADS_2