
Vina sangat kesal saat ini. Dia bahkan sudah menunggu lama untuk interview ini, tapi tanpa melakukan apapun aku sudah di tolak tidak hormat hanya karena badanku.
"Astaga... Mengingat wajahnya saja aku sudah sangat kesal! Memang ada Bos yang jahat seperti itu? Setidaknya, kalau tidak mau seseorang menjadi sekretaris, jangan perlakukan kami dengan sangat keterlaluan." Omel Vina sambil membuka bungkus nasi Padang keduanya yang dia beli saat perjalanan pulang tadi.
"Rasanya aku ingin membakar kantornya itu." Lanjut Vina.
Saat nasi Padang keduanya hampir habis, tiba-tiba Dewi mengajak video call.
"Iya, jawab Vina dengan nasi yang masih penuh di mulutnya.
"Astaga Vina, apa yang sedang kamu lakukan?" Dewi melotot saat melihat mulut Vina penuh dengan makanan, dan juga tiga bungkus nasi Padang yang belum terbuka di sampingnya.
"Aku sedang makan." Jawab Vina.
"Makan apa kamu? Kamu makan sama siapa? Kenapa ada tiga nasi bungkus di sampingmu dan ada bungkus yang habis juga." Tunjuk Dewi sambil melotot.
"Aku hanya merasa sangat kesal, jadi akan ku lampiaskan dengan makanan ini."
"Ya ampun Vin.... Bagaimana kamu mau kurus kalau makanmu sebanyak itu! Dan bagaimana dengan wawancaramu hari ini? Apakah berhasil?"
Vina menghentikan suapan nasinya dan kelihatan gusar.
"Iya, padahal aku sudah berjanji dengan mas Levi, tapi kalau keadaannya seperti ini, aku tidak akan bisa tampil cantik di hadapannya. Aku pasti kerasukan sesuatu saat aku bilang bisa menjadi cantik dalam tiga bulan. Terus gimana Wi? Dua bungkus nasi Padang sudah masuk, pasti sekarang sudah jadi lemak.." isak Vina.
"Sudah jangan menangis, sekarang kamu lari-lari keliling stadion yang ada di dekat kontrakanmu, agar nasi lemak yang kamu makan bisa tercerna dengan baik dan tidak jadi lemak."
"Lari?" Tanya Vina.
"Iya lari, satu-satunya cara agar kamu bisa kurus, yaitu lari. Karena kalau kamu mau sedot lemak, Kamu juga tidak memiliki biaya kan?"
"Tapi aku tidak bisa lari Wi." Mewek Vina.
"Ya sudah, kalau begitu kamu tidur saja di rumah dan kamu tidak akan bisa tunjukkan ke Levi kalau kamu juga bisa tampil cantik. Selamanya kamu akan hidup berdampingan dengan lemak-lemak di dalam tubuhmu." Meski terdengar kasar, tapi Dewi melakukannya demi sahabatnya agar tidak mudah menyerah demi keinginannya untuk tampil cantik di depan suaminya.
"Baiklah, aku akan mencobanya."
"Tunggu Vin, bagaimana dengan wawancaramu tadi?" Tanya Dewi penasaran.
"Jangan bahas itu, gara-gara kejadian tadi pagi, aku jadi khilaf membeli Lim bungkus nasi Padang."
"Memangnya kejadian apa?" Dewi sangat penasaran.
"Bos di perusahaan itu benar-benar sangat gila. bayangkan saja, lima orang yang melamar menjadi sekretaris, tidak ada satupun yang lolos. bayangin, empat wanita yang cantik-cantik tidak lolos hanya ketahuan gosip sebelum wawancara, Gila gak sih?"
"Dan yang lebih parahnya. Aku tidak ikutan ngegosip, tapi juga di usir dengan tidak terhormat. Hanya dia bilang, karena tubuhku gendut, aku tidak akan bisa melakukan apa-apa? Rasanya aku ingin membakar kantornya saja!" Ucap Vina berapi-api.
"Sabar... Jangan mudah menyerah, besok kita cari kerjaan lagi, aku yakin usaha pasti tidak akan menghianati hasil Vin." Dewi menyemangati temannya agar tidak mudah putus asa.
__ADS_1
"Tapi aku tidak yakin Wi. Benar kata Bos itu, kalau tidak akan ada perusahaan yang mau menerima wanita gendut sepertiku. Bahkan mas Levi juga mengatakannya, Kamu tidak akan bisa melakukan apa-apa dengan tubuhku yang seperti ini." Vina kembali sedih.
"Jangan menyerah Vin, aku yakin kamu pasti bisa. Nanti kalau aku libur aku akan nemenin kamu olahraga dan diet, supaya kamu bisa kurus dalam waktu tiga bulan. Yang penting kamu jangan makan nasi Padang dulu, pokoknya dalam tiga bulan Kamu harus berjuang, dan bikin si kutu kupret itu menyesal karena telah berselingkuh."
"Iya Wi, aku akan berusaha."
"Ya udah, aku tutup dulu. Jangan lupa kamu tidak boleh berdiam diri di dalam rumah, keluar sana jalan-jalan dua jam atau lari berkeliling stadion, agar nasi lemak di dalam perutmu itu bisa tercerna dengan baik."
"Oke Wi, aku akan coba."
Panggilan pun terputus. Vina melangkahkan kakinya dengan malas keluar rumah. Karena perutnya kekenyangan dan dia akhirnya merasakan ngantuk sehingga dia mengurungkan niatnya untuk keluar rumah.
"Tidur dulu setengah jam kali ya, kan cuma sebentar habis itu baru lari."
Vina pun masuk ke dalam rumah merebahkan tubuhnya sambil bermain ponsel.
Vina pun teringat dengan wanita yang bernama Levi, kalau tidak salah namanya Wulan. Vina pun iseng membuka akun soalnya. Ada banyak nama Wulan di sana, tapi mata Vina tertuju ke arah foto yang mirip dengan wanita yang bernama suaminya.
Vina pun membukanya. Disana banyak foto-foto Wulan yang seksi dan cantik-cantik dan juga foto kedua anaknya.
Seketika Vina teringat dengan kata-kata Levi.
"Wulan itu punya dua anak, tapi lihat tubuhnya sangat bagus. Dan kamu, anak baru satu, sudah tidak bisa menjaga penampilan." Ucap Levi waktu itu.
Vina pun segera bangkit dak keluar rumahnya, lalu menuju stadion sepakbola yang berjarak sekitar tiga puluh menit jika berjalan kaki dari rumah Vina.
Sesampainya di sana masih ada banyak orang yang berolahraga di sana meskipun saat ini sudah pukul sebelas siang. Ada juga yang datang hanya untuk membeli jajanan di sana, ada juga beberapa pasangan yang berjalan jalan bersama di sekitar stadion.
Vina marah, sakit hati, tapi Vina tidak bisa melakukan apa-apa. Vina pun memejamkan matanya untuk menghilangkan bayangan tersebut. Bukannya malah hilang tapi aksinya malam membuatnya menabrak seseorang.
Bruk
"Astaga! Punya mata nggak sih lo." Triak wanita yang di tabrak Vina
"Maaf mbak, sungguh saya minta maaf, saya benar-benar tidak sengaja." Vina panik karena sudah membuat wanita itu jatuh terjengkang.
Vina pun mengulurkan tangannya untuk menolongnya, tapi di tepis dengan kasar oleh wanita tersebut.
Wanita itu pun bangkit dari jatuhnya dan mengambil botol minuman yang masih berisi setengah, lalu menyiramkan nya ke wajah Vina.
"Rasain, ini hukuman buat lo karena sudah menabrak gue." Ucap wanita itu kentus.
Vina megap-megap karena siraman yang tiba-tiba datang ke wajahnya.
"Fila, kenapa kamu kasar seperti itu?" Ucap seorang pria yang menghampiri wanita tadi yang menyiram Vina.
"Dia lari nggak pake mata, makanya dia nabrak aku. Aku jatuh, dan kakiku sakit, wajar saja aku melakukan itu ke dia."
__ADS_1
"Nggak sekasar itu Fil, dia juga pasti tidak sengaja."
"Iya nggak sengaja, tapi aku sakit karena ketidak sengaja an dian." Wanita yang bernama Fila itu cemberut.
"Bu, aku minta maaf karena kekasaran pacar saya ya." Ucap Marco kekasih Fila.
"Bu?" Dahi Vina mengkerut saat mendengar pria itu memanggilnya Bu. Setua itukah wajahnya. Padahal umurnya baru dua puluh lima tahun. Apa wajahnya sudah mirip ibu-ibu?
"Ngapain kamu minta maaf sih sayang." Fila protes.
"Dia lebih tua dari kita Fil. Jadi tolong jangan bersikap kasar."
"Nggak papa mas, nggak papa. Ini memang salah saya, jadi saya menerimanya." ucap Vina.
"Tuh kan, dia aja ngaku kalau dia yang salah." Ketus Fila.
"Kalau begitu saya permisi dulu Bu."
Marco pun meninggalkan Vina dengan menarik tangan pacarnya.
"Ibu? Astaga... Apakah aku setua itu?" Vina pun menatap wajah dan tubuhnya di pantulan pintu kaca stadion tersebut.
"Astagfirullah!" Vina pun membalikkan tubuhnya tidak kuat melihat dirinya dari pantulan kaca itu.
Hari sudah sangat panas. Vina pun segera pulang saat adzan selesai kumandang.
Sore hari karena Vina bingung tak tau ingin mengerjakan apa, Vina pun keluar rumah. Bersama dengan itu, ada seorang wanita dan pria yang sedang menghampiri Vina.
"Mbak yang tadi nolongin Bu Ningsih kan?" Tanya wanita tersebut.
Vina bengong
"Tas Bu Ningsih tadi di jambret, kata Bu Ningsih, mbak yang menolongnya." Jelas wanita itu.
"Iya, memang kenapa ya mbak?" Tanya Vina penasaran.
"Apa anda sedang mencari pekerjaan?"
"I... Iya. memang kenapa ya." Tanya Vina ragu-ragu.
"Bu Ningsih menawarkan pekerjaan menjadi sekretaris di kantor putranya, untuk membalas jasa mbak."
"Be-benark?" Vina terkejut.
"Iya benar. Kalau anda mau, besok bersiaplah pagi-pagi, karena Bu Ningsih sendiri yang akan mengantar anda ke kantor putranya." Jelas wanita Tersebut.
"Baik mbak, besok aku akan bersiap pagi-pagi."
__ADS_1
Setelah itu asisten Bu Ningsih pun meninggalkan Vina yang kini sedang tersenyum sumringah.
"Syukurlah. Akhirnya, aku dapat pekerjaan juga." Ucap Vina.