Istriku Berubah Menjadi Cantik

Istriku Berubah Menjadi Cantik
Pengalaman bekerja


__ADS_3

"Aku ingin melihat berkasnya, tolong berikan kepadaku." Ucap Sean.


"Vina kamu tuli atau.." Sean menatap kesal ke arah Vina yang sedang menatap keluar jendela. Sean mengikuti ke arah pandang Vina, lalu memandang Vina yang kini air matanya mulai menetes dari pelupuk matanya.


Tubuh Vina bergetar, bahkan kedua matanya mengepal dengan kuat. Vina ingin melabrak mereka tapi mobil yang di kendarainya mulai berjalan menjauh dari mereka berdua. Kini Vina hanya bisa menangis tanpa bersuara.


"Ada apa? Apa kamu melihat hantu." Tanya Sean kesal.


Tapi Vina hanya terdiam dan menatap kearah luar jendela yang berada di sampingnya dengan air mata yang masih mengalir di pipinya.


"Aku tidak perduli apa masalahmu, yang terpenting rapikan dirimu dulu, aku tidak mau kalau kamu membuatku malu saat rapat nanti." Ucap Sean kepada Vina lalu mengambil tisu dan menaruhnya di dekat Vina.


Vina hanya diam tak bersuara, dia hanya mengambili satu persatu tisu yang berada di dekatnya dengan tangan gemetar.


Vina tak menyangka kalau Levi akan berbuat seperti itu. Memang apa yang di harapkan dari Vina? Berharap agar Levi menunggunya selama tiga bulan? Memangnya Levi pria sesetia itu?


Berkali-kali Vina menghirup nafas dalam-dalam supaya rasa sesak di dadanya bisa berkurang. Saat sampai di hotel, Vina pun meminta ijin ke toilet sebentar untuk merapikan diri.


Rapat ini berjalan dengan lancar, tapi tidak dengan hatinya Vina. Vina terus diam selama dalam perjalanan, tapi Sean justru diam-diam memperhatikannya.


Esok harinya saat Vina selesai mengcopy berkas yang di minta oleh Sean, tak sengaja dia mendengar bisik-bisik dari karyawan lain.


"Iih, kok bisa ya pek Sean menerima sekertaris yang tidak ada bentuknya seperti dia? Bukannya selera Pak Sean itu tinggi ya? Kok bisa sih menerima sekertaris kayak kudanil gitu?"


"Iya, aku sebenarnya juga heran sih. Tapi aku yang kalau dia tidak akan bisa bertahan sampai satu bulan. Soalnya yang aku dengar sih, katanya Pak Sean menerima dia dengan terpaksa. Lihat saja perlakuan Pak Sean terhadap dia. Selama dia bekerja di sini, pekerjaannya benar-benar tidak manusiawi, padahal sekertaris-sekertaris sebelumnya tidak pernah di perlakukan sekejam ini?" Ucap dua karyawati yang berada di belakang Vina.


Saat Vina hendak masuk ke dalam lift, tiba-tiba kedua karyawati yang berada di belakangnya mendahuluinya.

__ADS_1


"Tunggu lift selanjutnya, nanti lift ini akan penuh dan tidak kuwat naik jika kamu ikutan masuk." Ucap dua karyawati itu.


Karena sedang malas berdebat, Vina pun menurutinya lalu mundur ke belakang dua langkah, dan menunggu lift berikutnya. sudah tidak heran, semenjak beberapa hari bekerja di sini, Vina memang sering mendengar nyinyiran karyawati yang bekerja di sini, tapi dia hanya mengabaikannya, selama mereka tidak melukai fisik, Vina tidak perduli.


Vina pun menunggu lift berikutnya, dan setelah itu dia masuk ke ruangan Bosnya lalu menyerahkan apa yang tadi di minta oleh Bosnya.


"Kamu tadi ngapain aja di bawah, ngerjain kayak gini aja lama banget." Ucap Sean kesal.


"Memangnya ada permainan game di bawah, sehingga saya akan mampir dan bermain di sana." Balas Vina datar.


"Kamu itu selalu saja menjawab, kalau saja aku tidak takut dengan mama, aku pasti tidak akan menerimamu di kantor ini, atau mungkin aku juga bisa menyatemu."


"Aku juga tidak akan mau bekerja di sini jika saja aku tidak terlanjur menanda tangani perjanjian yang bodoh itu." Ucap Vina dalam hati, hanya dalam hati lo, tidak mungkin dia keluarkan.


Saat tiba waktunya jam makan siang, karena pekerjaannya masih banyak, Sean tidak ingin makan di luar kantor, melainkan meminta Vina untuk membeli makanan.


Meskipun heran, Vina pun tetap tetap mengikuti apa yang di perintahkan oleh Ammar, lalu pergi membeli makanan yang di perintahkan oleh bosnya tadi.


Tidak seperti waktu pertama kali Vina membelikan makanan untuk Bosnya, kini Vina lebih cepat membelinya, dan memberikannya kepada Sean yang kini telah menatap tajam padanya.


"Saya tidak terlambat pak, Bapak tidak perlu menatap saya seperti itu." Ucap Vina.


"Mata-mata saya, ya terserah saya dong." Balas Sean.


Vina pun pamit dan seperti biasanya saat jam istirahat dia selalu menyendiri di mushola kantor. Perutnya sangat lapar, tapi dia harus menahannya sampai malam, untuk menghemat uangnya.


Saat Vina sedang beristirahat, tiba-tiba satu bungkus makanan tergantung tempat di depan wajahnya. Saat Vina menengok ternyata Ammar yang memberikannya.

__ADS_1


"Apa ini mas?" Tanya Vina.


"Untukmu, dari pada tidak di makan, jadi aku berikan kepadamu saja." Jawab Ammar.


"Tapi..."


"Masih ada waktu sepuluh menit, jadi cepat habiskan. Setelah itu kita akan kembali bekerja dengan keras."


"Terima kasih maa."


"Sama-sama." Ucap Ammar.


Vina sangat bahagia karena mendapatkan makan siang gratis. Sejak tadi pagi dia hanya sarapan segelas teh manis dan roti satu bungkus saja, dan ikni perutnya seolah bersorak kegirangan karena mendapatkan makanan.


Tak menunggu lama, Vina pun memakannya di belakang gudang, agar tidak ada yang terganggu olehnya.


"Dari mana?" Tanya Sean pada Ammar.


"Buang sampah Pak." Jawab Ammar.


"Oh.." hanya itu yang Sean katakan, setelah itu Ammar kembali ke tempat duduknya.


"Setelah si gendut itu pulang, minta moura untuk datang ke sini, aku sangat membutuhkannya." Ucap Sean.


Sudah dua Minggu dia menahan hasratnya, karena ada Vina yang jelas Sean tau, kalau dia sedang di memata-matai oleh Vina karena printah dari Mamanya.


"Baik Pak." Ammar pun melanjutkan perjalanannya.

__ADS_1


Setengah hari ini tumben sekali Sean tidak menyiksa Vina. Vina merasa ada yang berbeda meski wajahnya tetap saja kaku seperti kanebo kering, tapi setidaknya Bosnya itu tidak meminta sesuatu yang di luar nalar seperti biasanya.


__ADS_2