
"Kita ngapain datang ke sini Bu?" Tanya penasaran Vina
"Ini adalah kantor putra saya, jadi ayo cepat turun. Kita tidak boleh terlambat, karena putra saya sangat benci dengan orang yang tidak tepat waktu."
"Putra Ibu kerja di kantor ini? Tanya Vina sembari matanya melotot.
"Iya, putra saya kerja di sini." Jawab Bu Ningsih. "Ayo cepat kita masuk!" Pintu mobilpun di buka, dan tangan Vina di tarik untuk segera keluar dari mobil.
Vina pun mengikuti langkah Bu Ningsih dengan perasaan was-was. Sepanjang memasuki ruang putra Bu Ningsih, Vina pun terus berdoa, semoga putra Bu Ningsih bukanlah Bos yang gila kemarin itu.
Saat sampai ke ruangan yang Vina datangi kemarin, jantung Vina pun sudah tidak bisa lagi di kondisikan. Jantungnya berdetak dengan kencang sampai-sampai Vina sulit untuk bernafas.
"Ammar, Sean ada?" Tanya Bu Ningsih kepada Ammar sang asisten.
"A... Ada tapi.." belum selesai bicara tangan Bu Ningsih langsung memegang gagang pintu ruang putranya. Namun secepat kilat Ammar menahan ibu dari bosnya itu.
"Pak sean masih ada tamu Bu, beliau sedang tidak ingin di ganggu." Ucap Ammar dengan terpaksa. Dia harus membuat Ibu dari bosnya itu agar tidak masuk ruangan sebab ada tamu sepesial bosnya di dalam sana.
Ammar tidak kalau Bu Ningsih ingin membawa Vina ke kantor ini, tapi dia tidak tahu kalau akan datang hari ini. Ammar kira kalau Bu Ningsih akan datang besok bersama Vina.
"Tamu spesial seperti apa yang menemui Sean, sampai-sampai kamu melarangku untuk masuk?" Ucap Bu Ningsih kesal, sambil menghempaskan tangan Ammar, lalu Bu Ningsih langsung masuk begitu saja dengan Ammar yang sudah kelabakan di belakangnya.
"Sean! Apa-apaan kamu hah?" Teriak Bu Ningsih saat melihat putranya sedang memangku wanita seksi, dan mereka sedang bercumbu.
"Mama."
"Sialan! Ammar, aku akan membunuhmu." Umpat Sean kesal. Soalnya, dia baru saja menikmati santapannya, tapi harus di paksa berhenti karena kedatangan ibunya.
"Saya sudah menjelaskan kepada Bu Ningsih, kalau bapak sedang ada tamu." Jawab Ammar.
Sean merasa sangat kesal, ini karena dia lupa mengunci ruangannya.
"Berhenti memarahi Ammar. Ini semua karena kesalahanmu sendiri. Mama kan sudah sering bilang, kalau kamu mau melakukan hal seperti ini, menikah saja, nanti kamu bisa melakukannya dengan istrimu setiap hari." Oceh Bu Ningsih.
"Pergilah!" Printer Bu Ningsih kepada wanita yang sedang membenarkan kancing bajunya yang tadi sempat Sean buka.
Meskipun sangat kecewa, wanita itu pun segera pergi dan meninggalkan ruangan Sean.
Sean Pun memperbaiki pakaiannya yang sedikit berantakan akibat wanita tadi.
__ADS_1
"Sampai kapan kamu akan menjadi seperti ini hah? Menikahlah dengan wanita baik-baik. Jangan melampiaskan hasratmu kepada sembarang wanita."
"Semua wanita itu budaknya uang ma, tidak ada yang tulus. Mereka akan mau denganku yang sekarang ini, tapi saat aku tidak memiliki apa-apa, merekapun akan meninggalkanku seperti wanita itu." Ucap Sean sembari membuang muka.
"Nak... Tidak semua wanita itu seperti mantan istrimu. Dan ingatlah mama dan putrimu ini juga seorang wanita. Jangan sampai apa yang perbuat, karmanya akan menimpa kami nantinya."
"Ma, jangan katakan hal seperti itu. Kalian berdua adalah seseorang yang paling saya sayangi, tidak akan kubiarkan apa pun menyakiti mama dan melodi."
"Maka dari itu nak, berhentilah melakukan hal yang tidak senonoh ini. Menikahlah, karena semua wanita itu tidak sama seperti mantan istrimu. Banyak wanita di luar sana yang baik."
"Akan ku pikirkan ma, untuk saat ini mungkin aku masih belum siap. Tolong beri aku waktu." Ucap Sean.
"Mama beri kamu waktu tiga bulan, jika dalam waktu tiga bulan kamu masih siap, maka jangan salahkan mama jika mama harus memaksamu."
Sean menghembuskan nafas kasar. "Ada hal penting apa yang membuat mama sampai datang ke sini? Apa Ammar yang melaporkan ke mama tentang wanita barusan?" Tanya Sean, tapi mata menatap Ammar dengan tajam.
"Saya tidak mungkin berani pak melakukannya." Ammar sambil melambaikan tangannya, tanda kalau dia tidak tahu tentang kedatangan Bu Ningsih ke kantor ini.
"Awas saja kalau aku tau.."
"Jangan asal menuduhnya! Ammar memang tidak tau apa-apa. Mama datang ke hanya ingin memperkenalkan sese.."
Plak
Bu Ningsih menggeplak kepala putranya karena memotong pembicaraannya.
"Dasar anak bodoh. Kamu akan mama kutuk menjadi tokek, kalau kamu sekali lagi memotong pembicaraan mama."
"Iya ma, ampun. Mama galak banget sih."
"Bukankan nya kamu sekarang lagi membutuhkan sekertaris? Maka dari itu mama bawakan sekertaris baru untukmu." Bu Ningsih keluar dan menarik paksa tangan Vina yang sekarang sedang gemetar ketakutan.
"Bu... Saya mohon, perjanjian kita batalkan saja ya." Ucap Vina dengan wajah memelas.
"Tidak bisa, kamu sudah menanda tangani perjanjian itu. Maka kamu harus menepatinya, Karena kalau tidak kamu sendiri tau apa akibatnya.
Dengan terpaksa Vina pun akhirnya masuk Sambil bersembunyi di belakang tubuh Bu Ningsih, meskipun tubuhnya terlihat jelas lebih besar dari tubuh Bu Ningsih.
Bu Ningsih menggeser tubuhnya ke samping dan terlihatlah wajah Vina, meskipun kepalanya sedang tertunduk.
__ADS_1
"Di-dia?" Sean pun melotot ke arah Vina.
"Iya, dia yang akan menjadi sekretaris kamu saat ini." Jawab Bu Ningsih.
"Mama serius? Si gendut ini, memang apa yang bisa dia lakukan? Aku bisa cari sekertaris sendiri Ma. Aku nggak mau dia." Sean jelas menolak, karena dia tidak suka dengan Vina, apalagi mengingat kejadian kemarin, rasa bagian sensitifnya jadi kerasa ngilu saat membayangkan nya.
"Dia ini yang nolongin mama dari jambret kemarin. Meski dia ini tumbuhnya besar, Mama yakin dia ini pekerja keras. Buktinya dia berani menghajar jambret itu."
"Iya, tapi ini masalahnya beda Ma... Pokoknya Sean tetap tidak bisa. Banyak di luar sana yang lebih pantas, yang pasti bukan dia."
"Pokoknya, mama sudah mengambil keputusan, kalau Vina yang akan menjadi sekretaris kamu mulai dari sekarang. Kamu setuju atau tidak mama tidak perduli. Kalau kamu sampai menolak, nama kamu akan mama coret dari kartu keluarga!"
"Mama ini selalu saja ngancem nya begitu." Garut Sean.
"Pokoknya keputusan mama sudah bulat, tidak bisa di ganggu gugat lagi."
"Tapi tetap saja dia harus training dulu Ma, kalau dia tidak ada kemajuan dalam tiga bulan, maka dia harus di keluarkan dari kantor ini. Sekertaris itu kerjaannya tidak seperti memasak untuk anak-anak. Dia harus gerak cepat sat set dan juga harus pintar. Kalau dalam waktu tiga bulan dia tidak bisa mengikuti cara kerja kantor ini, maka dia harus di pecat."
Vina terus berdoa dalam hatinya semoga pria itu menolaknya, agar perjanjiannya dengan Bu Ningsih bisa batal, dan tidak ada yang akan di rugikan baik Bu Ningsih maupun aku, karena putranya sendiri yang menolak.
Vina tidak bisa membayangkan nya jika setiap hari dia harus bersama Bos mesum dan gila ini. Bisa di pastikan umurnya tidak akan lama lagi.
"Baiklah, tapi kamu tidak boleh berbuat curang. Kalau dia memang layak dia harus di pertanyakan."
"Oke, deal." Ucap Sean dengan senyuman sumringah.
Sean punya rencana sendiri, agar wanita ini akan menyerah dan mengundurkan diri dengan sendirinya.
"Baiklah kalau begitu, dia harus datang pagi-pagi untuk mulai bekerja, dan Ammar yang akan menjelaskan pekerjaan apa saja yang akan dia kerjakan selama bekerja di kantor ini." Ucap Sean.
"Okay! Ayo Vina, aku antar kamu pulang." Bu Ningsih pun mengajak Vina untuk keluar dari ruangan Sean.
Setelah ibunya dan airin keluar dari ruangannya, Sean pun menghampiri Ammar. "Mama bertemu di mana sih sama wanita gendut itu? Astaga.... Aku bisa malu kalau membawa dia ke rapat penting. Semua orang akan menertawakanku karena sekertarisku tidak menarik sama sekali, dan juga gendut. Ya ampun.... Ammar, mimpi apa aku semalam sampai-sampai bisa mendapatkan sekertaris gendut seperti itu."
"Sabar Pak, aku berdoa semoga saja dia bisa kempes dan menjadi seksi dan bisa menjadi sekretaris idaman bapak."
"Ammar, aku akan menghabisimu!"
Ammar pun sudah menghilang dari hadapan Sean, karena setelah mengatakan itu dia pun langsung kabur karena dia menyadari jika bosnya akan marah mendengar perkataannya.
__ADS_1
"Ammar!!!"