
"Setelah si gendut itu pulang, minta moura untuk datang ke sini, aku sangat membutuhkannya." Ucap Sean.
Sudah dua Minggu dia menahan hasratnya, karena ada Vina yang jelas Sean tau, kalau dia sedang di memata-matai oleh Vina karena printah dari Mamanya.
"Baik Pak." Ammar pun melanjutkan perjalanannya.
Setengah hari ini tumben sekali Sean tidak menyiksa Vina. Vina merasa ada yang berbeda meski wajahnya tetap saja kaku seperti kanebo kering, tapi setidaknya Bosnya itu tidak meminta sesuatu yang di luar nalar seperti biasanya.
Vina merentangkan kedua tangannya dan melihat jam dinding, sepuluh menit lagi akan jam tujuh tepat dia mulai membereskan tempat kerjanya dan bersiap-siap untuk pulang.
"Pulanglah tidak perlu menunggu jam tujuh pas." Ucap Sean yang masih menatap ke layar komputer.
"Benarkah pak?"
"Iya!" Jawab Sean kentus.
"Wah, Bapak kerasukan apa sampai menyuruhku pulang sebelum jam tujuh tepat?" Jawab Vina sampai tidak mempercayai pendengarnya. Biasanya Sean sangat disiplin tentang waktu, dia bahkan tidak mau rugi satu menit pun, dan kini tumben sekali dia menyuruhku pulang saat jam tujuh kurang sepuluh menit.
"Berisik!! Pulanglah Jangan sampai aku berubah pikiran dan membuatmu lembar sampai jam sepuluh malam." Ucap Sean sambil menatap sinis ke arah Vina.
"Enggak Pak, enggak, saya mau pulang sekarang saja." Begitu girangnya, Vina langsung cepat-cepat bangkit dari kursinya dan keluar dari ruangan Sean.
Sean Mendesah lega. " Cepat hubungi Moura sekarang, suruh kesini sekarang juga!" Printah Sean ke Ammar.
"Baik Pak." Ammar mengangguk pelan, lalu merogoh ponselnya di kantong lalu menelfon Moura, wanita yang selalu bisa memuaskan Sean dalam segala hal. Hanya Moura yang mampu bertahan lama dengan Sean, karena selama ini tidak ada wanita bayaran yang bisa memuaskan Sean lagi kecuali Moura.
Tak lama berselang, Moura dengan begitu seksinya dengan pakaian serba minim masuk ke dalam ruangan Sean dengan menggoyangkan pinggulnya mendekati Sean.
__ADS_1
Sean melonggarkan dasinya yang sejak tadi pagi serasa mencekik lehernya, Sean mengundurkan kursinya dan mempersilahkan Moura duduk di pangkuannya, lalu wanita itu daduk sambil memegangi kerah baju Sean. Kemudian Moura membuka satu persatu kancing kemeja Sean lalu mencumbunya.
"Terus sayang...!" Desa Sean yang kini di kuasai oleh gairahnya.
Saat keduanya sedang asyik-asyiknya bercumbu, tiba-tiba pintu ruangan terbuka.
"Pak saya mau mengambil.. Huaaah??" Triak Vina sambil menutup matanya dengan kedua tangan lalu segera berbalik.
"Sial!!" Triak Sean.
"Dasar berengsek!! Kenapa kamu datang kemari?" Sean langsung mendorong tubuh Moura untuk menjauh darinya karena ada Vina di sini.
"Sa.. Saya mau mengambil tas saya yang ketinggalan Pak." Ya baru setengah perjalanan Vina baru sadar kalau tasnya ketinggalan. Karena terlalu kegirangan di suruh Sean, pulang sampai-sampai tidak tahu kalau tasnya ketinggalan.
"Cepat ambil!! Lalu segera pergi dari sini. cepat!" Triak Sean emosi. Saat itu hasratnya juga tertunda, karena Vina datang bersama Mamanya, dan kini Vina lagi-lagi mengganggu kesenangannya. Sean benar-benar ingin menelannya hidup-hidup.
Vina baru ingin hendak keluar, tapi dia baru ingat tugas dari Bu Ningsih.
"Bu Ningsih menugaskanku untuk melindungi Bapak dari kuntilanak akhirnya zaman yang gentayangan ini, jadi... Aku tidak akan pergi sebelum wanita yang bernama Bapak pergi dulu dari sini."
"Aku yang menggajimu, kamu harus patuh padaku, jadi cepat pergi dari sini!"
"Bu Ningsih juga menggajiku Pak."
"Vina... Kamu benar-benar menguji kesabaranku!"
"Tenang baby.. biar aku yang memberikannya pelajaran." Ucap Moura lalu berjalan ke arah Vina.
__ADS_1
Vina tidak takut dan bergetar sedikitpun, karena badannya lebih besar dari Moura. Jika wanita ini macam-macam dengannya, Vina akan menindihnya sampai gepeng.
"Dasar wanita pengganggu!" Moura melayangkan tamparan ke arah wajah Vina, tapi Vina segera menepisnya, lalu memelintir tangannya kebelakang badannya.
"Awww, lepaskan gendut, dasar brengsek." Umpat Moura.
"Apa kamu bilang?" Vina menambahkan sedikit tenaganya, dan itu membuat Moura tambah sedikit meringis kesakitan.
"Heiii, lepaskan Vina!" Ucap Sean. Sekarang dia tau kenapa mamanya memilih dia untuk menjadi sekretarisnya. Ternyata Vina bukan wanita bisa.
Vina tidak mendengarkan Sean, dia masih tetap pada posisinya.
"Aku akan memecatmu jika kamu tidak segera melepaskan Moura!" Ancam Sean.
"Baiklah." Vina pun melepaskan Moura, tapi dia segera mengambil ponselnya yang berada di meja kerja.
"Tapi aku akan menghubungi Bu Ningsih." Ucap Vina dengan santai dan Dia berpura-pura ingin menghubungi Bu Ningsih.
"Vina jangan!" Sean merebut ponsel Vina dari tangannya." Kau ini memang dasar wanita gila. Lihat saja, besok aku akan memberimu pelajaran." Ucap Sean kesal.
"Kita ke hotel saja beb." Rengek Moura.
"Modku sudah hilang, kamu pergilah dari sini!" Triak Sean. Hasrat yang telah menggebu-gebu kini telah hilang akibat ulah Vina yang datang tiba-tiba.
Moura mencak-mencak kesal karena tidak jadi bercinta dengan Sean. "Dasar gendut!! Awas saja kapan-kapan aku akan memberimu pelajaran!!" Triak Moura.
"Coba saja kalau berani, Aku akan mencekik batang lehermu." Vina maju dan menggertak Moura. Moura meras ketakutan lalu segera pergi dari ruangan Sean.
__ADS_1
Tak lama setelah Moura pergi, Sean pun pergi dari ruangannya. Sambil membanting pintu dengan kesal.
"Huuufff... Setidaknya aku bisa mencegahnya kali ini, entah sampai kapan aku bisa terus mengawasinya." Ucap Vina, lalu dia juga keluar dari ruangan Sean. Bergegas pulang karena waktu sesudah hampir pukul jam delapan, dan dia pun juga sangat lapar.