
Keempat wanita yang ketahuan bergosip di kantor Sean itu pun keluar dengan tau wajah yang sangat kecewa. Mereka bahkan belum melakukan wawancara untuk maju ke tahap selanjutnya, tapi sudah di usir dengan tidak hormat dari ruangan tersebut.
"Kamu!" Tunjuk Sean pada Vina.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Cepat keluar dari sini." Ucap Sean dengan suara dingin.
"Kenapa saya juga harus keluar pak? Saya kan tidak ikut-ikutan mereka untuk ngegosip, jadi saya wajib mempunyai kesempatan untuk ikut wawancara," jawab Vina.
Kedua orang di sebelah pria itu serempak menoleh ke arahnya dan Vina.
"Kamu Nggak baca persyaratan yang tertera di luar?" Tanya Sean mulai tidak sabar.
"Baca Pak, makanya saya memberanikan diri untuk melamar pekerjaan di sini, dan ikut wawancara hari ini."
"Ammar...!" Teriak Sean yang menggelegar sontak membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu kaget.
"Iya.. Pak." Jawab Ammar.
"Tunggu apa lagi? Kamu kira dia mampu menjadi sekretaris dengan tubuhnya yang seperti ini? Dia bahkan tidak akan kuat berjalan melewati tangga darurat? Syarat pertama untuk menjadi sekretaris adalah.."
"Cekatan dan bekerja keras kan pak? Saya punya dua kualitas itu." Jawab Vina memotong perkataan Sean. Kedua orang di samping Sean makin ternganga dibuat nya.
"Dan saya paling tidak suka dengan orang yang suka memotong pembicaraan saya!" Teriak Sean murka.
"Ammar! Cepat usir si gendut ini dari sini." Titah Sean sekali lagi.
"Baik pak."
Tapi sebelum Ammar menggapai tangan Vina, wanita itu tiba-tiba bangkit lalu bersimpuh di kaki Sean.
"Saya mohon Pak, saya sangat butuh pekerjaan ini. Meskipun penampilan saya tidak menarik, tapi saya siap melakukan apapun untuk perusahaan ini, saya janji pak." Ucap Vina menghiba.
"Jessica! Jatuhkan wanita ini dari kakai saya, saya tidak suka pada wanita ini." Ucap Sean pada Jessica.
"Baik pak." Maya pun meraih tangan Vina.
"Pak Sean tidak menerima anda, jadi anda harus pergi dari tempat ini." Jessica pun menarik tangan Vina untuk menjauh dari kaki Sean yang kini memasang wajah garang.
__ADS_1
"Tapi ijinkan saya bekerja di sini Bu. Setidaknya beri saya kesempatan untuk menunjukkan kemampuan saya, setelah itu terserah anda mau menerima saya atau tidak." Ucap Vina memelas.
"Tapi mbak, keputusan pak Sean itu mutlak tidak bisa di ganggu gugat." Kata Jessica.
"Cepat bawa keluar si gendut itu dari sini!" Triak Sean.
Vina yang kesal karena terus di bilang gendut, segera menghampiri Sean yang kini cukup kaget karena Vina berada tepat di hadapannya.
Bugh
Vina menendang Sean di bagian sensitif menggunakan lututnya.
"Ammar... Asetku." Ucap Sean geram, serasa ingin pingsan karena perempuan itu.
"Setidaknya kalaupun saya tidak di terima di sini, tapi saya bisa membuat hati saya puas dengan melakukan ini pada bapak!" Setelah melakukan itu, Vina pun keluar dengan sangat kesal dari ruangan Sean.
"Dasar... Jika aku menangkap mu aku pasti akan membunuhmu!" Teriak Sean meskipun suaranya tidak keluar.
Vina terus mengumpat saat keluar dari ruangan itu. Vina memang butuh pekerjaan, tapi jika harga dirinya di injak-injak dia tidak akan tinggal menerimanya.
Vina berjalan keluar dari kantor menyebalkan itu. Lalu sekarang bagaimana nasibnya? Harusnya dia bisa menahan emosinya tidak langsung marah seperti tadi. Harusnya dia bisa lebih menghiba lagi supaya bekerja di sana.
"Jambret..."
Vina membalikkan tubuhnya dan melihat pengendara motor memegang tas hasil jambretan nya. Vina pun mengayunkan tas selempangnya dan memukulkannya ke arah wajah orang yang mengendarai motor tersebut.
Bruk.
Seketika pengendara motor itu kehilangan keseimbangan dan menabrak pagar rumah orang.
Vina dengan cepat memukul jambret itu dengan tasnya.
"Dasar menyebalkan! Kamu pikir mencari uang itu mudah? Seenaknya saja mengambil barang milik orang lain." Kebetulan Vina sedang kesal dan akhirnya diapun bisa melampiaskan kemarahannya pada jambret itu dengan membabi buta.
Saat jambret itu tidak berdaya, Vina pun mengambil tas yang di pegang oleh jambret itu dan menghampiri wanita paruh baya yang berteriak tadi.
"Terima kasih nak, kamu sangat hebat bisa mengalahkan jambret itu."
__ADS_1
"Sama-sama buk, kebetulan saya lagi kesal dengan Bos perusahaan itu." Tunjuk Vina ke arah perusahaan yang tadi dia datangi.
"Masa mentang-mentang saya gendut, dia tidak mau menerima saya untuk bekerja, padahal saya memenuhi semua persyaratan. Dia benar-benar sungguh menyebalkan." Gerutu Vina di ujung kalimatnya.
"Kamu habis melamar di perusahaan itu?" Tanya wanita paruh baya itu sambil menunjuk perusahaan yang di datangi Vina tadi.
"Iya Bu, dan ibu tau? Bosnya sangat menyeramkan. Tapi ya sudahlah, saya mau permisi mau pulang dulu." Ucap Vina sembari pamit.
"Hei nak... Tunggu!" Wanita itu merogohi tasnya sambil mengeluarkan uang kertas berwarna merah seluruh lembar, lalu memberikannya kepada Vina. Namun Vina menolaknya.
"Saya tidak berhak atas semua itu buk. Saya tadi tidak sengaja saja menolong ibuk. Jadi kejadian tadi bukanlah apa-apa. terima kasih sekali lagi."
"Tapi saya memberanikan nya dengan ikhlas, kalau kamu tadi tidak menolong, saya pasti akan kehilangan banyak barang berharga di dalamnya. Jadi..... Di terima ya."
"Sungguh buk, saya tidak bisa, terima kasih sebelumnya, tapi saya memang tidak bisa menerimanya." Vina tetap pada pendiriannya untuk tidak menerima uang tersebut.
"Baiklah, terima kasih atas bantuannya Nak."
"Sama-sama Buk, saya permisi dulu." Vina pun meninggalkan wanita paruh baya tersebut.
"Bu Ningsih mengenal wanita tersebut?" Tiba-tiba asisten Sean menghampiri wanita yang melahirkan Bosnya itu.
"Dia tadi yang menolongku dari jambret. Lihat, kalau bukan karena dia, tasku pasti sudah hilang di tangan orang jahat. Oh iya dia bilang tadi melamar pekerjaan di kantor Sean, dan tidak di terima, benarkah begitu?" Tanya Bu Ningsih.
Ammar tiba-tiba membisikkan sesuatu di telinga Bu Ningsih dan setelah itu Bu Ningsih tertawa terbahak-bahak di buatnya.
"Benar begitu? Astaga... Aku baru tahu ada seseorang yang bisa bertindak seperti itu pada Sean. Sungguh luar biasa wanita itu." Bu Ningsih mengeluhkan kepalanya.
"Ammar!"
"Iya Nonya." Jawab Ammar.
"Cari tau alamat wanita itu, dia itu wanita jujur dan baik. Dia cocok menjadi sekretaris Sean, dan aku lihat dia memang wanita pekerja keras dan tidak gampang menyerah. Aku yakin dia pasti bisa menandingi gilanya putra ku." Ucap Bu Ningsih.
"Tapi Bu... Pak Sean akan sangat marah. Dia bahkan berkata akan membunuh wanita itu saking kesalnya. Pak Sean tidak menyukai wanita itu karena tidak sesuai kriterianya, dan pak Sean pasti akan membunuhku jika aku membawa wanita itu kembali ke hadapan pak Sean."
Ammar tidak mungkin membawa wanita itu ke hadapan Sean, bisa tamat riwayatnya Ammar kalau terus memaksa.
__ADS_1
"Bukan kamu yang akan membawanya, akulah yang akan membawanya. Jadi.... Cari tahu saja alamatnya dan bawa dia besok kerumahku." Printah Bu Ningsih.
"Baik Nyonya." Ammar tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah Bu Ningsih.