
"Maksud bapak apa? Saya di pecat?" Ucap Vina dengan wajah yang terkejut, bingung tak menyangka.
"Iya, kamu saya pecat, sebelum kamu merugikan perusahaan saya karena ketidak disiplinanmu."
Vina melongo. Dia bahkan berusaha keras dan penuh dengan perjuangan untuk sampai ke kantor ini. Dia bolak balik dari kantor ke rumahnya, dan kerumahnya kembali ke kantor lagi. Dan dengan seenak jidatnya, Bos yang berada tepat di depannya ini memecatnya dengan sangat tidak terhormat.
"Hanya telat dua menit Pak. Dua menit tidak akan membuat bapak jatuh miskin. Lagi pula aku telat juga karena gara-gara bapak, kalau bapak tadi tidak menyuruh saya untuk pulang lagi, saya tidak akan pulang Pak." Ucap Vina dengan nada ngos-ngosan.
"Saya tidak menerima alasan apapun. Ammar, cepat usir dia dari sini. Saya muak melihat wajahnya!" Titah Sean.
Tidak bisa di gambarkan betapa kesal dan kecewanya Vina saat ini. Bahkan air matanya keluar tanpa bisa di bendung lagi. Entah kenapa kesialan selalu menimpa dirinya akhir-akhir ini.
Ammar yang ingin meminta Vina untuk segera keluar, kini mengurungkan niatnya saat melihat Vina terisak.
Vina mendekat ke meja Sean, tidak ada pilihan lain selain merendah dan meminta kesempatan sekali lagi, berharap Sean memberinya kesempatan kedua.
"Saya mohon Pak, saya sangat membutuhkan pekerjaan ini. Suami saya membuang saya karena tidak secantik selingkuhannya. Dia sangat meremehkan ibu rumah tangga seperti saya, dia mengatakan bahwa saya tidak akan bisa melakukan apapun jika berpisah dengannya." Isak Vina.
Sean mendongak menatap wajah Vina yang kini memelas dengan penuh permohonan. "Itu bukan urusan saya, dan saya tidak perduli dengan urusan keluargamu." Ucap Sean.
Baiklah, Vina pun pasrah. Dia tidak bisa lagi membujuk bosnya ini, dan dia pun mundur perlahan. Tidak mau berusaha untuk membujuknya lagi, karena dia yakin kalau bosnya ini tidaklah manusia, melainkan iblis yang berwujud seperti manusia.
__ADS_1
Vina pun berbalik dan melangkahkan kakinya menuju pintu, lalu membukanya.
"Ammar! Beritahu dia tentang apa yang harus dia lakukan!" Ucap Sean yang membuat Vina tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"A-apa Pak?" Ammar pun tidak menyangka dengan apa yang di katakan bosnya.
"Aku rasa kamu masih muda dan pendengaranmu masih cukup baik. Aku tidak suka mengulangi perkataanku." Ucap Sean dengan kentus.
"Baik Pak, akan saya laksanakan." Ammar pun menghampiri Vina.
"Katakan padanya, ini adalah kesempatan terakhirnya, jika dia mengulangi lagi, aku tidak akan berfikir dua kali."
"Baik Pak."
"Iya Pak." Vina pun menatap tidak percaya kepada pria yang tengah fokus menatap layar komputer. Vina mengira kalau dia akan benar-benar pergi dari kantor ini karena dia merasa tidak mendapatkan kesempatan dari bosnya.
"Ayo cepat! Pak Sean tidak suka dengan orang lelet."
Vina pun menganggukkan kepalanya dan mengikuti pria itu menuju suatu ruangan untuk mendengarkan tentang apa saja yang harus dia kerjakan selama menjadi sekretaris Sean.
Setelah Vina keluar dari ruangan. Sean pun menarik nafas panjang, dan bersandar di kursinya. Sejujurnya dia sangat kesal melihat wanita yang akan menjadi sekretaris ini. Tapi setelah melihat tangisan kepedihannya, Sean tiba-tiba tidak tega. Sean buka orang yang mudah percaya dengan cerita kesedihan orang lain, tapi Sean sudah melihat Vina nangis dua kali, dan itu membuat hatinya yang tadi keras seperti batu, kini menjadi lunak seketika.
__ADS_1
"Aku akan memberikannya kesempatan sekali lagi, tapi bukan berarti aku akan menerima. Aku akan tetap mencari cara agar wanita itu keluar dari kantor ini dengan sendirinya." Gumam Sean.
Seharian ini Vina di ajarkan oleh Ammar apa saja pekerjaannya, apa saja yang harus dia catat. Daya ingatnya pun harus tajam. Karena Sean tidak suka dengan orang yang pelupa.
Beruntungnya Vina sudah pernah bekerja di kantor sebelumnya, dan Vina pun terbilang orang yang cukup cerdas, jadi dia dengan mudah menyerah apa yang di ajarkan oleh Ammar. Cara kerjanya pun rapi, dan Ammar sangat mengakui itu. Bisa di bilang tubuh Vina itu kelebihan lemak, tapi wanita ini tidak selemah apa yang di bayangkan. Vina selalu bergerak dengan cepat saat di suruh ini dan itu.
Saat jam pulang, Vina pun bersiap untuk pulang. Dia pun keluar dari kantor bersama dengan karyawan lain, bedanya karyawan lain naik kendaraan dan dia berjalan kaki untuk menghemat uangnya.
Saat perjalanan pulang, Vina mencium aroma bakso dan itu membuat perutnya memberontak untuk di isi. Vina mencoba mendekat ke tukang bakso dan diapun segera menghentikan langkahnya.
"Vina ingat, kalau kamu boros Kamu tidak akan bisa makan sampai akhir bulan. Kamu akan menjadi gembel sebelum gajian."
Vina menelan ludahnya, dan membayangkan betapa gurihnya, enaknya makan bakso saat pulang kerja. Apalagi kalau makan tiga porsi, pasti enak sekali. Vina berusaha menjauh dari tempat itu agar dia tidak tergoda oleh aroma bakso yang menggoda perutnya.
Beberapa meter dia menjauh dari tukang bakso, dia tiba-tiba mencium aroma nasi Padang yang benar-benar membuat pikiran Vina tidak bisa konsentrasi.
Vina pun menutup hidungnya lalu berlari menjauh dari sana. Vina terus berlari sampai di depan rumahnya.
Akhirnya Vina pun bisa bernafas dengan lega, karena sudah terhidang dari aroma-aroma yang menggoda perutnya. Vina pun masuk ke dalam rumahnya untuk membersihkan diri dan mengisi perutnya, karena sejak tadi siang dia tidak sempat Makan karena terlalu sibuk dengan pekerjaan kantor, bukan hanya karena itu, Vina malu kalau pergi ke kantin Kantor hanya untuk membeli nasi dan sayur saja. Karena dia tidak akan bisa hidup jika membeli lebih dari nasi dan sayur.
Vina sebenarnya bisa saja meminjam uang dari Dewi, tapi dia tidak enak karena Dewi sudah sering membantunya, dan dia merasa malu jika harus meminjam uang kepada Dewi lagi.
__ADS_1
Sedangkan orang tua Vina bukanlah orang yang kaya, mereka hanya hidup pas-pasan tidak mungkin kalau Vina meminta bantuan kedua orang tuanya, sedangkan orang tuanya masih menanggung biaya adiknya yang sekarang masih duduk di bangku SMA.
Vina akan bertahan dengan usahanya sendiri dan dia tidak ingin menyusahkan orang lain, dia bertekad untuk melalui ini seorang diri.