
Vina bersyukur akhirnya dia akan mendapatkan pekerjaan. Jika Vina bertemu dengan Bos kemarin, dia pasti akan memamerkan kalau dia bisa mendapatkan pekerjaan meskipun dengan tubuh gendut.
Vina pun bersenandung ria saat dia sudah selesai dari kamar mandi dan bersiap-siap untuk menunggu kedatangan Bu Ningsih.
Tepat jam tujuh tepat, Vina mendengar suara mobil yang sedang berhenti di depan rumahnya. Vina segera bergegas keluar untuk melihat siapa yang datang ke rumahnya. Ternyata benar dugaannya, ternyata Bu Ningsih yang datang bersama dengan wanita yang kemarin.
Bu Ningsih pu mendatangi Vina."kita bicarakan dulu di dalam." Ucap Bu Ningsih.
Vina pun mempersilahkan tamunya untuk masuk dengan rasa segan.
"Maaf Bu, kalau kontrakan saya kecil dan bikin ibu tidak nyaman." Ucap Vina merasa tidak enak hati.
"Tenang saja, saya bukan tipe pemilih kok." Ucap Bu Ningsih.
"Alhamdulillah." Lega Vina.
"Langsung saja Vina, karena karena kemarin kamu menolak uang yang saya berikan, jadi sebagai ucapan terima kasih saya, saya ingin memberikan kamu pekerjaan. Saya dengar, kamu sedang butuh pekerjaan."
"I-iy Bu, saya memang sedang mencari pekerjaan." Jawab Vina.
"Bagus, kebetulan anak saya sedang mencari sekertaris untuknya."
Mata Vina berbinar.
"Kalau kamu mau, saya bisa membantu kamu menjadi sekretarisnya."
"Iya Bu, saya mau banget Bu." Jawab Vina.
__ADS_1
"Tapi selain itu, saya punya misi menempatkan kamu menjadi sekretarisnya."
"Misi?" Vina mengerutkan alisnya.
"Anak Saya seorang duda yang dulu ditinggal istrinya saat dia tidak memiliki apa-apa. Istrinya itu bahkan meninggalkan putrinya bersama anak saya setelah selesai melahirkan. Dan dari itu putra saya mulai membenci wanita."
Selamat beberapa tahun dia bekerja sangat keras sehingga bisa seperti sekarang. Sayangnya, karena penghinaan istrinya, putraku mengganggap rendah setiap wanita yang datang kepadanya. Kamu tau, dia bahkan hanya bersenang-senang dengan wanita lain. Setelah membayarnya, dia akan bersenang-senang lagi dengan wanita lain. Saya takut, perbuatannya yang hanya bermain-main dengan wanita, akan terjadi juga dengan putranya kelak. Saya takut, karma akan jatuh ke cucunya nanti." Cerita Bu Ningsih panjang lebar.
Vina menarik nafas panjang mendengar cerita Bu Ningsih. Vina merasa bersimpati terhadap putranya.
"Rencana saya, saya akan menjodohkannya dengan wanita baik-baik. Tapi sebelum itu kamu harus bisa mengawasi semua kelakuan putra saya, jangan sampai dia jajan sembarangan, apalagi sampai berbuat mesum di kantornya, karena kalau sampai keluarga yang akan saya jodohkan sampai tau apa yang sudah putra saya lakukan, pasti mereka akan menolak perjodohan ini."
"Saya bingung Bu, apakah saya mampu melakukannya atau tidak. Kalau putra Ibu marah karena saya ikut-ikutan dalam urusannya gimana?"
"Tenang.. kamu tinggal laporkan saja apa yang di lakukannya kepada saya. Hanya saja, saya tidak bisa memantaunya selama dua puluh empat jam, jadi saya selalu kecolongan, menurut laporan, dia bahkan sering membawa wanita ke kantornya."
Vina menelan ludahnya dengan susah payah. Membayangkan dia akan mendapatkan gaji dua kali lipat setiap bulannya, membuat khayalannya menjadi tingkat tinggi.
"Aku bisa melakukan apapun dengan uang sebanyak itu. Aku bisa sedot lemak dan mempercantik diri. Selingkuhan mas Levi pasti kalah cantik dariku, dan mas Levi akan kembali kepadaku." Ucap Vina dalam hati.
"Bagaimana, apakah kamu setuju?" Tanya Bu Ningsih dan memecahkan lamunan Vina.
"Saya.... Akan mencobanya Bu."
"Saya tidak mau dengan hal yang tidak pasti. Kalau kamu hanya ingin coba-coba, berarti nanti kamu bisa saja berhenti suatu saat nanti. Yang mau saya dengan adalah jawaban yang pasti. Kalau kamu ragu, saya akan mencari sekertaris yang lain." Ucap Bu Ningsih.
Vina menarik nafas panjang. Hanya menjaga dari kuntilanak yang gentayangan, Vina pasti bisa melakukannya. Vina pun mengangguk kan kepalanya dengan yakin. "Saya bersedia Bu." Ucap Vina yakin.
__ADS_1
Bu Ningsih tersenyum. "Bagus, aku punya sesuatu yang harus kamu tanda tangani."
"Tanda tangan?"
"Iya tanda tangan, kamu tidak boleh mundur sebelum menjauhkan putra saya dengan wanita kupu-kupu malam yang dia bayar untuk memuaskannya. Kalau kamu mundur, kamu harus bayar lima kali lipat dari gaji kamu menjadi sekretaris. Bagaimana?"
Vina kembali menelan ludahnya dengan susah payah, tapi bukan tergiur seperti di awal, melainkan dia takut kalau harus mengembalikan uang sebanyak itu.
"Bagaimana Vina?"
"Bismillah, saya setuju Bu." Ucap Vina.
Hanya menjadi sekretaris sekaligus menjaga Bosnya dari kuntilanak yang sedang bergentayangan di malam hari, kecil.
Setelah Vina menanda tangani perjanjiannya Vina pun berjabat tangan dengan Bu Ningsih, lalu mereka pun berangkat bersama ke kantor putranya Bu Ningsih.
Saat berada di dalam mobil jantung Vina terus berdebar-debar, entah kenapa? diapun tak mengerti, tak biasa dia seperti ini.
Apa hari ini dia akan mulai bekerja? Entahlah, Vina terus mengatur nafasnya yang memburu, agar debaran di dadanya sedikit berkurang.
Saat sampai di depan kantor, Vina pun cukup kaget, karena dia sangat mengenali kantor ini. Ini adalah kantor yang dia datangi kemarin, yang membuatnya khilaf sampai hampir makan nasi Padang lima bungkus.
Suara ketukan jendela memecahkan lamunan Vina. "Ayo turun katanya kamu mau bekerja." Ucap Bu Ningsih
"Kita ngapain datang ke sini Bu?" Tanya penasaran Vina
"Ini adalah kantor putra saya, jadi ayo cepat turun. Kita tidak boleh terlambat, karena putra saya sangat benci dengan orang yang tidak tepat waktu."
__ADS_1
"Putra Ibu kerja di kantor ini? Tanya Vina sembari matanya melotot.