
Vina akan bertahan dengan usahanya sendiri dan dia tidak ingin menyusahkan orang lain, dia bertekad untuk melalui ini seorang diri.
Setelah selesai mandi, Vina tiba-tiba teringat dengan putrinya. Dia mengurungkan dirinya untuk makan, tapi justru membaringkan tubuhnya di lantai lalu membuka handphone dan melihat-lihat foto putrinya seketika itu membuat Vina menjadi rindu, padahal baru beberapa hari tidak bertemu.
"Mama sengaja nitipin kamu ke papa sayang, supaya papa tidak bisa macam-macam. Maafin mama ya sayang." Isak Vina, dia begitu rindu sehingga tidak bisa menahan tangisannya.
Setelah cukup lama memandang foto putrinya, tak sadar Vina pun tertidur. Mungkin setelah pekerjaan yang sangat melelahkan dia pun ketiduran sampai lupa untuk makan.
Keesokan harinya dia kembali bangun saat subuh, dan dia kembali berjalan kaki menuju tempat kerjanya untuk mengirit uangnya, supaya dia bisa makan sampai akhir bulan. Hanya saja dia berangkat lebih pagi untuk mengintipasi apabila ada kejadian seperti kemarin.
Udara di pagi itu sangat sejuk, dia berlari kecil sesekali menghirup nafas dalam-dalam, merasa udara yang sejuk masih bersih dari polusi memenuhi paru-parunya, dan saat Vina sampai di kantor, keadaan kantor masih sangat sepi, tapi bosnya itu sudah berdiri di depan gerbang dengan wajahnya yang datar.
"Mungkin jika dia bisa tersenyum sedikit, itu bisa membuat wajahnya kelihatan tampan." Ucap Vina dalam hati.
"Astaga!" Vina menampar pipinya, dan mengutuk ucapan hatinya barusan.
Saat Vina ingin berjalan masuk menuju kantor, tiba-tiba Sean menghembuskan langkahnya.
"Kamu terlambat!"
"Bapak berbicara dengan saya?" Tanya Vina sesopan mungkin.
"Kamu kira aku lagi berbicara sama biawak." Ucap Sean dengan kentus.
"Inikan baru pukul jam setengah tujuh Pak, sedangkan kantor bukannya jam setengah delapan?" Jawab Vina pelan, takut kalau dia nanti salah bicara.
"Kamu itu sekertaris saya, kamu seharusnya datang lebih dulu dari saya!"
"Tapi sepertinya di daftar kontrak pekerjaan tidak ada hal semacam itu Pak?"
"Kamu bekerja sama sama siapa?"
"Sama Bapak."
"Jadi kamu seharusnya mengikuti kata siapa?"
"Bapak." Jawab Vina dengan wajah polos.
"Besok kalau kamu datang lagi setelah saya, kamu akan saya pecat!" Setelah mengatakan itu Sean pun meninggalkan Vina sendirian.
"Hah! Dia adalah Bos yang paling tidak waras yang pernah aku tau, mana ada peraturan seperti itu? Sekertaris harus datang sebelum Bosnya datang. Aturan dari mana itu." Grutu Vina.
"Sabar Neng.. Pak Sean memang seperti itu orangnya, dia sangat keras terhadap setiap sekertaris nya, ya.. meskipun sama Neng yang paling keras terhadap sekertaris sebelumnya. Tapi percayalah Neng, sebenarnya Pak Sean adalah orang yang baik, cuman memang sangat disiplin dalam pekerjaan." Ucap seorang scurity yang kemarin membukakan gerbang untuk Vina.
"Dia itu mau membuat saya menyerah Pak, dia itu ingin membuat saya keluar dari sini, makanya dia bersikap sangat kejam terhadap saya." Ucap Vina dengan wajah yang sangat kesal.
"Sabar Neng.... Kalau Neng bisa melewati masa training ini, saya yakin pak Sean akan memberikan keringanan kedepannya, karena sebenarnya dia itu baik. Ya meskipun selama ini tidak ada yang bisa bertahan lebih dari dua bulan."
"Lihat saja, aku akan bertahan disini selama yang aku inginkan, lihat saja." Ucap Vina yakin.
__ADS_1
"Vina!!" Teriak Sean dari dalam.
"Iya Pak... saya datang."
"Kamu kesini mau bekerja, apa mau ngerumpi dengan scurity di sana?"
"Dua-duanya Pak." Sayangnya kata-kata itu hanya bisa keluar dari dalam hati.
..........
"Beli makan siang, saya lapar." Ucap Sean pada Vina.
"Bukannya bisa menyuruh OB Pak." Jawab Vina setelah jam makan siang tiba.
"Kamu mau membantah."
"Enggak Pak, pak Sean yang tampan mau makan apa? Bisa saya belikan untuk Bapak." Jawab Vina dengan nada yang manis, meskipun hatinya sangat kesal.
Sean melirik tajam mendengar ucapan Vina.
"Apakah saya melakukan kesalahan Pak?" Tanya Vina memastikan.
"Saya memang tau kalau aku sangat tampan, tapi mulutmu tidak perlu mengatakan saya tampan, saya tidak suka wanita murahan!"
"Saya juga benci pria pemarah Pak, apalagi yang sedikit gila."
"Kamu mau mengatakan kalau aku gila dan tidak waras?" Sean berdiri dengan raut wajah siap membantai segalanya.
"Pak Ammar, apakah tadi saya menggunakan kalau Pak Sean pemarah dan gila?" Vina beralih menatap Ammar untuk mendapatkan pembelaan.
"Tidak." Ammar menggelengkan kepalanya.
"Ammar!!!"
"Iya Pak."
"Apakah kamu membelanya?" Kini Sean berganti menatap tajam wajah Ammar.
"Enggak Pak... Sama sekali tidak, Tapi yang di katakan Vina memang benar, dia tidak pernah menyebut kalau Bapak pemarah maupun tidak waras." Sejujurnya Ammar ingin sekali tertawa, melihat baru kali ini ada yang berani berdebat dengan Bosnya itu.
"Kamu sama saja dengannya, sama-sama tidak waras!!" Ucap Sean kesal.
"Berikan dia uang, dan suruh dia membeli di tempat ini." Sean menyebutkan alamatnya.
"Jangan sampai terlambat, kalau kamu sampai terlambat aku akan memotong gajimu. Kamu mengerti!!"
Ammar pun memberikan uang kes kepada Vina.
"Cepat pergi, jangan sampai terlambat!" Ucap Ammar.
__ADS_1
Vina pun mengambil uang yang diberikan oleh Ammar dan berjalan keluar dari ruangan Sean.
Sampai jam makan siang hampir habis, Vina belum datang juga, Sean yang sangat lapar dari tadi dia sangat gelisah.
"Apa jangan-jangan dia kabur membawa uang itu?" Tanya Sean pada Ammar.
"Tempat itu memang jauh Pak, apalagi saat jam makan siang pasti antri. Seharusnya saya memesan satu jam sebelum waktu makan siang." Jawab Ammar.
"Tidak usah membelanya, dia itu memang tidak becus!"
Tak lama berselang Vina pun datang, dan membuka pintu dengan nafas terengah-engah.
"Maaf Pak saya terlambat." Ucap Vina.
"Gaji kamu saya potong!!" Ucap Sean kesal.
"Bapak jangan gitu dong, bukan salah saya kalau terlambat. Restorannya antriannya panjang Pak." Vina mencoba membela diri.
"Saya tidak perduli, yang jelas gaji kamu saya potong dua puluh persen."
Vina tidak berani berkata apa-apa lagi. Selain dia tidak punya tenaga karena lapar dia juga lelah karena berlari dari lantai bawah, dia juga malas berdebat dengan Bosnya itu, pada akhirnya dia juga yang akan di salahkan.
Vina pun pergi dari ruangan Sean setelah dia menaruh makanan yang di belinya di meja Sean.
Vina masuk ke dalam toilet, menumpahkan tangisan yang tanpa suara. Pagi tadi dia hanya sarapan sedikit, dan siang ini dia belum sempat sarapan sama sekali, lalu dia di marahi dan gajinya akan di potong bulan depan.
Entah ujian seperti apa yang menimpa Vina saat ini, jika saja dia bisa, dia ingin menjemur bosnya sambil telanjang, agar menjadi tontonan para karyawan.
..........
Tepat setengah bulan Vina bekerja di kantor Sean yang hampir menggut kewarasannya karena tingkah laku bosnya yang bisa di bilang di luar nalar. Sean mengajak Vina rapat di hotel berbintang dengan klien yang berasal dari luar negeri.
Sebelum itu, sopir Sean menghentikan mobilnya di pom bensin untuk mengisi bahan bakar.
"Berkas-berkasnya sudah kamu persiapkan semuanya kan?" Tanya Sean yang saat ini sedang sibuk dengan ponselnya.
"Sudah Pak, Semua sudah di siapkan." Jawab Vina.
"Saya tidak mau mendengar ada drama tentang berkas yang ketinggalan. Kalau sampai itu terjadi, aku akan menyuruhmu berlari ke kantor untuk mengambilnya." Kata Sean kentus.
"Bapak tentang saja, semua sudah saya siapkan. Selama saya menjadi sekretaris Bapak, Bapak tidak perlu kwatir. Bapak hanya perlu tersenyum, karena jika Bapak sering tersenyum, wajah bapak tidak akan cepat tua."
"Diam!! Berisik!!"
Vina pun diam, dan di saat yang bersamaan dia melihat Levi bersamaan dengan sekertaris di samping mobil Sean. Sekertaris itu memeluk Levi dengan begitu mesranya.
Hati Vina Serasa teriris dan di remas. Padahal Levi sudah berjanji kalau dia tidak akan menyentuh Wulan lagi, tapi buktinya dia masih bermesraan, bahkan di depan umum.
"Aku ingin melihat berkasnya, tolong berikan kepadaku." Ucap Sean.
__ADS_1
"Vina kamu tuli atau.." Sean menatap kesal ke arah Vina yang sedang menatap keluar jendela. Sean mengikuti ke arah pandang Vina, lalu memandang Vina yang kini air matanya mulai menetes dari pelupuk matanya.
Tubuh Vina bergetar, bahkan kedua matanya mengepal dengan kuat. Vina ingin melabrak mereka tapi mobil yang di kendarainya mulai berjalan menjauh dari mereka berdua. Kini Vina hanya bisa menangis tanpa bersuara.