Itami No Chikara

Itami No Chikara
Tidak Ada Aku Di Sini


__ADS_3

Dunia, inilah tempat di mana semuanya menjadi abadi. Meski sebenarnya tidak ada satupun yang akan abadi di dunia ini. Waktu, tempat, keadaan, emosi ataupun perasaan. Semua yang ada … belum pernah bisa dirasakan oleh satu orang sekalipun.


Mau seberapa banyak pun semua hal di dunia ini, tak 'kan ada yang bisa merasakan semuanya sekaligus. Hanya pengetahuan yang menjadi ilmu pengertian.


.


.


Larut dalam kegelapan, lukisan angkasa telah lenyap karenanya. Kini, kegaduhan telah datang pada pulau kapas hitam yang tak mungkin diinjak. Mendatangkan jarum jam yang menuju pada angka lima.


Basah, itulah dampak dari jarum jam itu. Rasa sakit mulai tercipta ketika jarum jam tersebut berubah menjadi bentuk lain. Bintang jatuh transparan berjumlah sama seperti simetri lipat dan putar lingkaran, ukuran kecil yang membiaskan cahaya.


Perubahan yang sangat drastis dari jarum jam menuju bintang jatuh mikro transparan.


.


.


Huh, sepertinya sudah cukup. Tinggal Asia, lalu sisanya dan selesai!


"Mas! Tidur! Dah malem! Ibu sita handphonenya kalau tidak tidur!"


"Iya-iya!"


.


.


Suara gemercik yang sangat indah. Apakah masih bisa merasakan mentari di esok pagi?


.


"Ya Tuhanku, seperti biasanya, ya …."


Besok telah menjadi hari ini. Selepas harapan diutarakan, juga rasa syukur dikatakan, hari baru pun dimulai. Sinar dari sang surya telah memasuki ruangan. Kerlip lampu belum dimatikan, tetapi itu tidak menjadi halangan.


Yah, semoga tidak terlambat.


Dialog drama dimulai. Hanya perlu narasi 'tuk mengatakannya. Kemalasan seorang ibu, pengejaran waktu dengan batas nol enam tiga puluh. Hingga berakhir dengan permintaan pada sang Ayah.


.


.


Huh, sampai!


Jejak sepatu tak tertinggal di bumi, tetapi langkah tetap berjalan tanpa henti. Melewati dan melirik sekilas orang-orang berpakaian rapi di sisi-sisi. Putih biru dikenakan yang lebih kecil, warna cokelat kayu menjadi pakaian bagi pembesar.


Sekolah menengah pertama, inilah tempat belajar bagi pelajar berusia remaja bermula.


.


.


Salam diberikan, beban di pundak pun diletakkan. Setelah melihat siapa-siapa saja yang ada di ruangan bernama kelas, pandangan seketika terfokus kepada pelajar perempuan.


Duduk tenang dengan alat tulis yang tengah digunakan untuk menulis ulang kata, itulah yang dilakukan pelajar perempuan itu. Semua itu dipandang dan dilihat dengan rasa.


"Fian, ada formalitas tidak hari ini?" Pelajar perempuan lain bertanya dan mengalihkan pandangan.


"Oh, ada. Keanggotaan yang jadi penyelenggaranya. Huh, merepotkan."


"Yah, aku tidak bawa topinya! Kemarin-kemarin ku bawa tidak dipakai!" Pelajar perempuan lainnya mengeluh.

__ADS_1


Tidak ada kata-kata terakhir. Pandangan pun kembali diarahkan pada pelajar perempuan itu. Namun, itu semua hanya berlangsung sementara karena pelajar perempuan lainnya.


Yah, untung sudah terfoto.


.


.


Formalitas dimulai. Penghormatan dan sikap sopan dilaksanakan. Meski masih ada beberapa kesalahan yang dilakukan, termasuk untuk keanggotaannya.


"Eng …."


Pikiran yang mengubah warna pandangan, udara dalam tubuh ikut teracuni. Aku tidak kuat! Begitulah akhirnya, suara kosong dalam makna jatuh yang sebenarnya. Menghasilkan warna hitam dalam pandangan.


.


"An …."


"Ian …."


"Fian …."


"Afian …!"


Rasa cahaya didapatkan, tetapi rasa lainnya juga turut menyertai. Netra telah melihat dunia, tetapi dada mendapatkan kabut penyakit. Bangun perlahan, kemudian menyesuaikan diri.


"Apa … yang …." Jeda sementara, menyadarkan saraf otak dan sistem kesadaran.


"Ah … hanya mimpi, ya?"-tersenyum dalam raut cuaca mendung-"mimpi yang nyata di hari kemarin."


Pantulan diri terlihat jelas di sana. Rambut panjang berwarna hitam, kulit putih yang sedikit pucat dan netra merah tajam. Ya, itulah dirinya. Afian Ika Pratama.


Dirinya yang kini sudah berubah drastis dan tak mungkin kembali pada masa lalu.


Biar cerita tentangnya kembali berlanjut. Dimulai dari mimpi nyata yang asalnya adalah masa lalu itu. Namun, sepertinya tidak akan ada yang peduli dengan kisahnya ini.


.


"Eng …. Aku, tidak kuat!" batin mulai mengatakan kata pelemahan.


Posisi tegap seketika berubah menjadi terduduk lemah. Dua orang yang merupakan guru mulai berdatangan menghampiri. Diam tak berdaya dan hanya bisa mengulangi kedipan mata, itulah kondisi di waktu ini.


Mencoba mengubah warna kuning yang kini menjadi cahaya penglihatan. Namun, terpaksa diakhiri dengan melihat kegelapan. Meski sebenarnya, tidak ada alasan untuk masuk lebih dalam ke sana.


.


.


"Aku … benar-benar tidak berdaya, ya …. Dia mungkin tidak akan mau …,"-menghapus pikiran negatif dengan memejamkan mata-"haaaah …. Apa aku, bisa bersikap dingin sekarang?"


Setelah pertolongan diberikan oleh guru, sikap dingin ditunjukkan. Sudah sedikit pudar rasa itu. Penyesalan dalam kesesakan udara, itulah rasa yang didapat saat banyak pelajar memberi tanggapan rendah.


"Dulu … mereka juga sama. Semuanya hanya kepalsuan. Jadi ini, ya … rasanya. Saat tau siapa yang benar-benar teman."


Ya, benar-benar lemah!


.


.


Langkah kaki dilakukan dengan sedikit rasa ketidaknyamanan. Pertanyaan dilontarkan teman sekelas, tetapi jawaban yang diberikan sangatlah singkat. Tidak ada kata basa-basi.


"Pulang ke rumah? Paling-paling disuruh tiduran doang, udah! Gak bisa ngapa-ngapain, cuma ngerepotin orang tua!" Itulah jawabannya.

__ADS_1


.


.


Kelas dimulai, hari-hari tengah dijalani. Banyak hal terjadi, termasuk masalah untuk tetap mengabadikan sikap dingin yang tak acuh. Meski begitu, pandangan tetap saja diarahkan pada pelajar perempuan yang duduk di dekat pintu kelas.


Ternyata benar, dia pakai gelang. Mungkin, itu gelang pertemanan dia dengan temannya itu.


.


.


Berjalan, memberi pengertian berupa pergerakan sepasang kaki yang berpindah tempat. Meski kini, tidak ada kata sendirian dalam perpindahan tempat ini.


Apa … aku harus bertanya?


"Eh, Sin!"


"Ya?" Pelajar perempuan yang merupakan pusat pandangan itu menjawab dengan cepat.


"Kau, SMP-nya nanti mau lanjut ke SMP— a-ah, maksudnya … setelah SMP kamu mau lanjut ke mana?"


"Rencananya sih mau ke SMA dua. Kamu sih?"


"Aku mah ga tau. Ibuku bilang aku harus ke SMA, tapi ayahku memintaku untuk menjadi anak pondok."


"Ya … aku juga sebenarnya ingin ke MAN, tapi orang tua ku memintaku untuk ke SMA dua."


"Begitu, ya …."


"Ya, aku jalan duluan, ya."


"Ya."


Jejak kaki tak mungkin tertinggal pada jalanan tanpa tanah. Pelajar perempuan itu tengah berjalan. Tentu, pandangan tetap diarahkan pada pelajar perempuan itu. Begitu juga dengan langkah kaki yang sengaja diperlambat.


"Sintya Bella …."


Ya, kau masih sama, dan kau tidak mengingkari janjimu.


.


Ku lihat kau mengikat tali sepatumu. Kau berjongkok dan mengikatnya tanpa tau bahwa aku melihatmu.


Ku sengaja berdiri dan berpura-pura mencari angkutan umum. Hingga akhirnya kau berjalan kembali.


Ku mengikuti di belakang, melihatmu sampai kau masuk jalan menuju desamu.


Ku tersenyum tipis dan masuk angkutan umum yang tengah menunggu.


Ku sempat berpikir bahwa kau seperti mereka. Namun ternyata, dirimu tetaplah sama. Tak ingkar dengan apa yang diucapkan.


.


"Ck."


Lantunan narasi indah tentang pelajar perempuan itu terputus. Pandangan pun langsung tertuju pada asal suara itu. Seseorang yang tidak memperkenankan orang lain melihat wajahnya, itulah asal suaranya.


Tudung hoodie dikenakannya, sehingga memberi bayangan pada wajahnya. Hanya sedikit tanda tanya yang diberikan setelah menatapnya.


"Kenapa … perasaanku tidak enak, ya?"


Besi tak bernyawa memberikan amarahnya. Menutup sendiri dan membuat angkutan umum tak membuka jalan masuknya. Rasa terkejut dan tidak percaya tercipta, tetapi semua itu tidak mengubah apa-apa.

__ADS_1


Terkecuali, berubahnya latar cuaca dan suasana dalam angkutan umum itu.


"A-apa yang terjadi?" Afian Ika Pratama bertanya dengan rasa panik dan memberi pembukaan untuk dirinya terlihat.


__ADS_2