
Mentari pagi akhirnya memunculkan diri. Napas pepohonan masih tersampaikan pada kota yang identik akan polusi. Meski sebenarnya, kota ini cukup menyeimbangkan kehidupannya.
Semoga sempat.
Jejak kaki tertinggal secara samar. Intonasi nada pada alunan langkah memasuki mode allegro. Warna putih menghapus cat biru milik angkasa. Tidak ada kata samar untuk bangunan yang ada di sekitar.
"Tunggu, Pak! Jangan jalan dulu!"
Gerak roda empat dari kendaraan biru terhenti. Tak jauh dari halte, pintu angkutan umum menyerupai bus itu segera terbuka. Membiarkan satu penumpang yang berteriak itu masuk ke dalam.
"Huh, huh … terima kasih, Pak!"
Pergerakan terjadi, sang sopir sudah menginjak pedal gas. Sang penumpang yang masih seorang remaja itu pun telah duduk di kursi. Ekspresi senang ditampilkan oleh remaja dengan gender laki-laki itu.
"Mau ke mana, Nak? Buru-buru sekali. Mau ke SMP dua, ya?" Pak sopir bertanya pada remaja itu.
"Iya. Ke SMP dua, Pak. Kebetulan, saya dipindahkan ke sana."
"Oh, murid pindahan, ya. Murid pindahan dari mana?
"Dari Jepang, Pak."
.
Waktu telah berganti begitu juga dengan latarnya. Sekolah menengah pertama, inilah tempatnya. Mentari pagi pada pukul 07.00 menjadi pertanda bagi bel melodi.
Untuk membunyikan alunan nada sebagai tanda masukinnya waktu belajar.
.
.
Ketenangan dan kesunyian menjadi suasana di luar. Sedang di dalam ruangan bernama kelas, tidak ada rasa yang sama seperti di luar. Hanya ada ketenangan yang tetap menghasilkan suara.
"Anak-anak, sebelum memulai pelajaran, ibu ingin memberitahukan sesuatu kepada kalian.
Ini tentang teman sekelas kalian, Afian Ika Pratama," sambung sang ibu guru dengan nada yang terdengar berduka.
"Sebelumnya, ibu ingin mengatakan bahwa, turut berduka cita atas meninggalnya Afian Ika Pratama atas kejadian ledakan kemarin siang. Mungkin kalian yang sudah lihat berita tadi pagi pasti tahu, kalau Afian sudah …."
Keheningan tercipta, sang guru berhenti memberi kata-kata. Semua murid tampak diam dan mulai menundukkan kepala. Namun, salah satu murid sudah menundukkan kepalanya sedari tadi.
Murid itu duduk sendirian. Kursi di sebelahnya tidak diisi oleh murid lainnya. Pojok belakang dengan jendela yang memperlihatkan lapangan hijau, di situlah murid itu berada.
"Kita doa' kan Afian bersama-sama, ya, berdoaa mulai." Sang guru ikut menundukkan kepalanya.
Doa-doa dipanjatkan oleh semua yang ada di ruang kelas. Tak terkecuali murid yang semakin menyembunyikan wajahnya dengan menatap ke bawah.
.
.
"Baik, Anak-anak. Kita mulai pelajarannya, ya. Sampai mana kita?"
Bunyi pintu diketuk terdengar. Sang guru langsung menoleh ke arah pintu. Para murid juga melihat ke arah yang sama, meski beberapa terlihat fokus pada buku catatan dan pelajaran.
__ADS_1
"Maaf, Bu, mengganggu waktunya."
"Oh, murid baru, ya? Maafkan ibu, ya … ibu lupa mengatakannya. Ayo masuk dulu, Nak."
Rasa penasaran yang dibalut keingintahuan tinggi. Ketidaktahuan menyelimuti sebelum akhirnya seseorang di luar memasuki ruangan. Pandangan diperluas, seseorang yang merupakan murid baru itu sudah berdiri di depan kelas.
Memandang para murid yang menatapnya dengan terbelalak.
"Anak-anak, perkenalkan. Ini ada murid pindahan dari Jepang. Namanya …." Sang guru tampak berpikir. Meski akhirnya jawaban langsung dikatakan oleh sang murid baru.
"Perkenalkan. Atashi, Ian Kurozuki desu," ucap Ian Kurozuki--sang murid baru--memperkenalkan diri.
Berbagai macam ekspresi dan rasa ditunjukkan. Kagum, takjub dan lain sebagainya. Meski satu murid tampak sibuk dengan bukunya sendiri, beberapa sudah memandang ke arah sang murid baru.
Ian Kurozuki. Murid baru dengan postur tubuh tinggi dan kulit putih yang agak pucat. Netranya berwarna hitam yang memancarkan sedikit warna kemerahan. Namun, hal yang membuat para murid terus menatapnya adalah karena rambut hitamnya.
Yah, rambut panjang ini sedikit emm, membuatku risih, sebenarnya.
"Ya, terima kasih, Nak Atashi, atas perkenalannya." Ucapan dari sang guru berhasil memancing tawa para murid, begitu juga dengan Ian, sang murid baru.
"Nama saya Ian Kurozuki, Bu. Atashi itu bahasa Jepang, artinya aku." Ian menjelaskan dengan nada yang lembut. Sopan santun tentu terasa di setiap katanya.
"Owalah, gitu, toh."
"Iya, Bu."
"Ngomong-ngomong, bahasa Indonesia kamu lancar, ya? Sudah lama tinggal di sini?" tanya sang guru penasaran.
Ian tertawa kecil sebelum menjawab. "Iya, Bu. Saya sudah tinggal di sini sekitar satu bulan."
Keterkejutan tercipta. Pandangan langsung digantikan kepada sosok laki-laki di depan kelas. Rasa duka disingkirkan sejenak setelah mendengar perkataan sang guru.
Ian memandang ke pojok belakang, tepat di arah yang ibu guru tunjukkan. Pandangannya tak langsung terarah pada kursinya, melainkan ke arah murid perempuan di sebelahnya.
Murid perempuan yang terlihat membelalakkan mata kepadanya.
"Tidak apa-apa 'kan, Ian?"
"Ah, tidak apa-apa kok, Bu. Terima kasih," pungkas Ian menundukkan kepalanya kepada sang guru.
Setelahnya, dirinya pun berjalan menuju tempat duduk yang ditunjukkan. Tempat duduk yang berada di pojok belakang. Bersebelahan dengan pemandangan lapangan hijau yang diperlihatkan oleh kaca jendela.
.
.
Selepas duduk dengan tenang, pembelajaran pun dimulai. Hawa dan rasa yang baru, semua itu terasa setelah kedatangan Ian Kurozuki. Meski ada sesuatu yang masih tetap sama.
"Hem?"
"Ah, bukan apa-apa. Maaf."
Rasa canggung, mungkin inilah sesuatu itu. Ekspresi heran dan penasaran ditunjukkan oleh Ian Kurozuki, lelaki dengan rambut panjang sepundak yang diikat sanggul. Pandangannya terus mengarah pada murid perempuan di sebelahnya.
Murid perempuan yang diketahui bernama Sintya Bella.
__ADS_1
"Kau … kenapa, Sintya? Kenapa kau duduk di tempatku?" batin Ian sebelum akhirnya kembali fokus pada pembelajaran.
.
Sebelumnya, ketika mentari belum menunjukkan diri, tetapi pagi sudah menjadi identitas diri. Kisah dari sang tokoh utama mulai difokuskan. Untuk mengetahui bagaimana alurnya berganti.
.
.
Jarum jam berbunyi, menghasilkan suara yang menandai keheningan. Dirinya tak mungkin terdengar jika tidak ada rasa sunyi. Kesunyian dan hawa senyap, itu tercipta atas tatapan mata antara dua sosok di sini.
"Heh."
"Tch."
"Haah?"
"Huh. Sekarang apa?" tanya Afian mengakhiri dialog singkat yang dimulai oleh sosok hitam bermata merah.
Ruangan berbentuk persegi panjang, tetapi masih memberi kesan bahwa bentuknya itu persegi. Satu televisi dan jam dinding, dua sofa juga satu meja. Menandakan ruang tamu yang minimalis.
Afian kini berada di sana. Berdiri di dekat pintu kamar yang letaknya jauh dari TV dan sofa. Mata merahnya menatap tajam ke arah sana. Ke tempat sosok hitam bermata merah itu duduk dengan santainya.
"Ya, siapa peduli." Bunyi TV yang dimatikan terdengar, bersamaan dengan hilangnya sang sosok hitam. Afian tak bisa berkata-kata.
.
.
"Haaaah … jam berapa sekarang?"-melihat ke arah jam yang ada di atas cermin-"jam lima, ya? Masih pagi."
Kembali memejamkan mata dan menutupi diri dengan selimut, rasa kantuk berusaha dikumpulkan. Meski rasanya itu sangatlah tidak berguna.
"Hah! Tidak bisa tidur! Aku harus aapa coba!" Nada tinggi menjadi pertanda ketidaktahuan pada perkataan.
Ketika memilih duduk dan memandang cermin, pemikiran lama kembali muncul. Mendatangi dan memasuki diri.
"Aku …."
Masih tak percaya.
"Huh." Napas kecil dikeluarkan, kemudian beranjak dan merapikan ruangan yang sebenarnya tidak terlalu berantakan.
Hampir semua anggota tubuh digerakkan. Kesadaran memasuki pikiran ketika pergerakan terasa berbeda. Meski benda lain berhasil mengalihkan pemikirannya.
"I-ini 'kan …." Mata melebar, pandangan tetap diarahkan kepada benda di tangan.
Benda berbentuk persegi panjang dengan tulisan tangan langsung. Pandangan terfokuskan pada benda itu. Satu persatu kata di baca, meski beberapa huruf dan kata ditulis berbeda.
"Aneh."
Bukannya ini tulisan kanji? Batin melanjutkan satu kata yang dibunyikan.
"Eh?" Otak seketika mengaktifkan kembali rasa keterkejutan.
__ADS_1
"Jepaaang!"