
Dunia. Hanya satu makna, tetapi berjuta cerita. Banyak sekali rasa dan segalanya. Meski di sini, satu cerita dan satu rasa akan menjadi inti dari dunia.
.
Tempat yang masih belum diketahui. Waktunya belum bisa diperkirakan pasti. Meskipun, satu selalu menjadi hal yang bisa disebut pasti.
Satu kegelapan dengan berjuta makhluk hitam di dalamnya, itulah kepastian yang ada.
Wujudnya tak beraturan. Ada yang seperti manusia, ada yang seperti hewan. Namun, akan selalu ada taring atau tanduk di kepala, juga telinga runcing sebagai tanda.
"Kukuku … sudah waktunya, ya?" Salah satu makhluk berkata dengan suara beratnya.
"Kyaaa …! Aku sudah tidak sabar, lho …! Untuk mencicipi para manusia!" Makhluk lainnya menjawab, tetapi suaranya terdengar lebih feminim.
Suara-suara lain juga ikut terdengar. Walaupun, inti dari semua kata adalah menuju dunia manusia. Teriakkan, kata-kata bernada tinggi dan nafsu yang merajalela.
"Semuanya! Mulai detik ini, kita para Kurai akan menggelapkan cahaya manusia!" Kalimat penegasan dan penuh hawa nafsu diucapkan.
Sosok hitam dengan perawakan raksasa, lebih tinggi dan lebih diagungkan oleh semua sosok hitam yang ada. Suara tegas menunjukkan kepemimpinan, menciptakan dukungan keras dari semua makhluk hitam.
"Ya! Ya!"
.
.
Mentari dan udara yang tak nampak, pepohonan bersama bunga-bunganya. Rumah-rumah yang masih terlihat seperti gubuk berjejeran. Orang-orangnya saling menyapa dan menebar senyuman.
Nyaman dan aman dirasakan. Tidak ada yang namanya gangguan. Hingga hal yang tidak bernama itu datang, semua rasa pun berubah.
"Hei! Lihat langitnya!"
Pandangan mengarah pada lukisan angkasa yang seketika menggelap. Tak ada proses perubahan, warna putih dan biru langsung berganti. Hitam dan merah, inilah angkasa detik ini.
Ketenangan masih menghinggapi jiwa, tetapi gelisah tengah menyelimuti belenggu. Keterkejutan menjadi-jadi, memunculkan ketidakpercayaan.
"L-lari semuanya!"
Satu teriakkan disuarakan oleh satu manusia, mendorong rasa mementingkan diri sendiri dalam diri. Semuanya berlari membelakangi langit merah dan sosok hitam yang tengah terbang ke bawah.
Menghampiri manusia dengan suara-suara mengerikan yang dikeluarkan. Kini, tidak ada kata satu. Hanya ada kata tak terhingga dan tak mungkin dihitung. Para sosok hitam itu sudah menyelimuti muka bumi dengan kegelapan dari belenggunya.
"Khukhukhu, mau ke mana kau, Manusia!"
"Tidak! Tolong!"
"Semuanya cepat lari!"
"Jangan berpikir kalian bisa lari, Manusia!"
"Aaaaaaarrghhh!"
__ADS_1
Kobaran api, asap gelap dari sosok hitam yang tak menapak pada tanah. Teriakkan dan suara-suara yang saling bertentangan. Rasa sakit dan kematian, belenggu tanpa jiwa bersih di dalamnya.
Semuanya telah terjadi sekarang.
.
Mata terbelalak. Hal sama kembali terulang. Napas terputus-putus dan ingatan yang dimimpikan. Menutup pandangan dengan satu tangan, hanya itu yang bisa dilakukan.
"Kenapa … mimpi aneh itu?"
" 'Kau bukan manusia bernama Afian Ika Pratama! Dirimu yang sekarang adalah Ian Kurozuki!' "
Aargh. Bisa diam tidak sih! Jangan ganggu pikiranku!
.
.
"Huh."
Aku benci ini.
Pagi telah menyinari. Hari telah berganti. Inilah pergantian hari. Tak peduli jikalau ingin mati, tidak akan pernah harapan itu terkabul. Terkecuali kalau memang sudah saatnya.
Kini, selepas kata mengeluh telah tiada, rasa ketidaktahuan datang. Ian Kurozuki, nama aslinya adalah Afian Ika Pratama. Namun sayangnya, menyebut nama asli itu hal tabu.
"Kenapa … tidak ada makanan? Mana makanannya woi!"
"Emmm."
Beban otak kembali bertambah, dipaksa untuk mengingat masa lalu yang selalu dilupakan. Meskipun hasilnya adalah nihil. Ya, tidak ada hasil sama sekali. Hanya ada rasa ketidakpuasan.
"Aaaakh! Kenapa rasanya seperti ada yang hilang, ya!"
"Tch. Kau itu bukan lagi Afian! Masak sendiri sana!" perintah sosok hitam menciptakan keterkejutan.
"Iya-iya! Sok tau aja kalo aku ga pernah masak. Eh?
Kesadaran menyelimuti pemikiran. Pertanyaan lain yang tidak berhubungan langsung dengan kondisi sekarang berdatangan. Menciptakan keaktifan mengolah kata-kata.
"Kemarin … sebelum aku berangkat …."
"Hem?" Sosok hitam mempertanyakan pertanyaan yang belum selesai.
Menunduk dan menutupi wajah dengan kegelapan. Sosok hitam sedikit menunjukkan raut wajah heran karenanya. Meski dirinya bagai siluet, itu tidak menyamarkan ekspresi wajahnya.
"Kau … melakukan sesuatu yang aneh 'kan? Sesuatu … tentang kekuatanmu." Pandangan diarahkan, sosok hitam melebarkan matanya.
Afian atau yang sekarang bernama Ian. Kini, dirinya telah menciptakan sesuatu yang bertentangan dengan nada kehidupan. Meskipun itu hanya sekedar perkataan biasa.
Netra merahnya menatap netra merah sosok hitam. Menciptakan cahaya terang yang mengintimidasi kegelapan warna merah.
__ADS_1
Sosok hitam yang menjadi kegelapan warna merah hanya tersenyum tipis. "Ya, aku hanya … memanfaatkan sifat pasifmu itu, Ian."
Suara retakan tercipta dalam hati. Mata terbelalak berganti pada tokoh utama. Membuat sang sosok hitam tersenyum miring. Melihat ekspresi Ian yang kini menghasilkan kegelapan di luar diri.
"Hahahahahahaha!"
"Hahahahahahaha!"
Dua suara tawa terdengar. Mata ian masih terbelalak, tetapi telinganya malah mendengar keanehan itu. Keanehan yang benar-benar nyata.
"Kau dengarkan? Kau hanya dimanfaatkan! Hahahaha!"
"Haha! Orang sepertimu memang sudah sepantasnya dimanfaatkan!"
Retakan lain tercipta dalam hati. Tak terlihat, itulah masalahnya. Dua bayangan yang menghasilkan sosok hitam tanpa kaki. Hanya ada tubuh dan kepala, juga sepasang tangan.
Dua bayangan yang sebenarnya sama seperti sosok hitam bermata merah, tetapi lebih menuju kegelapan. Dua sosok itu adalah Kurai.
"Hahaha! Kau tidak bisa melawan, ya?"
"Kukuku, memangnya dia bisa melawan?"
"Haha! Kurasa tidak!"
Tangan kanan mengepal erat. Ian sudah tidak bisa berdiam diri. Namun sayangnya, fisiknya masih memaksanya untuk bergeming. Tak melawan atau melakukan gerakan lain selain memancarkan indra.
"Kukuku … manusia satu ini benar-benar payah, ya!"
"Yaa! Dia bahkan tidak bisa mengatur dirinya sendiri! Dasar manusia!"
Tawa kembali disuarakan, kepalan tangan semakin dieratkan. Sedang batin mulai memikirkan kata-kata yang sulit ditunjukkan.
"Haha! Lihat ekspresinya!"
"Wah, wah …! Apa kau marah? Uuh, takutnya!"
Dua Kurai itu kembali tertawa. Keduanya saling memberi rasa panas demi menghasilkan amarah benci pada Ian. Dengan membisikkan kata-kata mutiara, keduanya semakin senang atas yang dilakukan.
"Aku … ingat." Ian berkata dengan nada rendah, tetapi dua Kurai yang ada di sebelah kanan dan kirinya tentu mendengarkan.
"Heh? Kau bilang apa tadi?"
"Ha'ah. Aku tak dengar laa!"
Tawa kembali diutarakan oleh dua Kurai itu. Dengan postur tubuh yang hanya setengah dari tubuh Ian, kedua Kurai itu tetap menjunjung tinggi sikap merendahkan.
"Kalian bertiga … adalah penyebabnya," gumam Ian mulai menundukkan kepalanya dan menciptakan hawa baru bagi semuanya.
Terbelalak, hanya itu. Dua Kurai dan sosok hitam bermata merah, ketiganya saling membelalakkan mata. Hal terpenting selain perkataan Ian yang menciptakan suasana ini tentunya ada.
Hal terpenting itu adalah ingatannya.
__ADS_1
"Itami No Chikara."