
Kisah masa lalu. Mimpi dalam mimpi. Jika fokus dari awal, maka jawabannya sudah jelas.
.
Suara dihasilkan dari aktivitas menguap. Penglihatan tertutup sejenak, kemudian kembali membuka. Memandang cermin yang menampilkan diri.
"Huh."
Dasar pelupa. Mimpi saja membuatmu lupa! Fian, Fian!
"Yah, lagipula … sebagian mimpi itu, rasanya nyata."
.
.
Selepas beranjak dan membunyikan tulang jari tangan, Ian pun keluar dari kamar. Pergi melihat ruangan tamu yang tampak sunyi. Setelahnya, langkah kaki berpijak di ruang dapur.
Heeh, lumayan juga dapurnya.
Pintu biru kehijauan berhadapan dengan kompor dapur, tetapi letaknya cukup jauh. Pintu itu letaknya sejajar dengan pintu kamar.
Hem?
Ian berjalan menuju pintu itu. Mengetuk kemudian menempelkan telinganya pada pintu tersebut. Setelah beberapa detik mendengar kekosongan, ia membuka pintunya.
Melihat ruangan bernama kamar mandi yang sangat minimalis, tetapi masih menyisakan keindahan.
"Haha! Aku masih saja terkejut meski sudah melihat semua ruangan di sini."
Eh?
Rasa terkejut dan heran bercampur. Ian menutup pintu kamar mandi. Berjalan dan melangkahkan kakinya menuju ruang tamu, pandangannya tidak menemukan apapun di sana.
Hanya ada kesunyian dalam kerapian benda-benda.
"Orang— ah iya, dia 'kan bukan orang,"-meletakkan tangan di dagu-"tunggu, kalau tidak salah, namanya Yian 'kan? Di mana dia?"
"Yo ndak tau kok tanya saya," kata Ian menjawab sendiri pertanyaan yang ia ucapkan.
Tawa disuarakan sejenak, kemudian sunyi kembali. Rasa bosan menghampiri, tetapi rasa lain ikut mendatangi.
"Apa aku … harus keluar?" Ian membatin.
Niat diucapkan dalam diam. Ian mulai berjalan meninggalkan ruang tamu. Melangkahkan kaki ke depan menuju pintu rumah yang sudah ada di hadapan.
Tangannya mulai memegang gagang pintu. Menghasilkan suara decitan kecil saat ia membuka pintunya perlahan. Menghilangkan cahaya di mata ketika cahaya luar memasuki penglihatan.
I-ini 'kan!
Ian membelalakkan matanya, mengusap dan mencoba mempercayai apa yang dilihat. Rumput hijau menjadi pewarna selepas kaki menginjak bebatuan yang menjadi alas. Bebatuan yang menjadi jalan untuk keluar dari rumah seutuhnya.
Teras dengan dua kursi dan satu meja. Di depannya terdapat taman kecil yang diisi rerumputan khusus. Satu pohon tumbuh indah di sisi kanan depan. Sedang di sisi kiri ke belakang, terdapat rumah lain yang masih menyatu dengan rumah Ian.
Meski ruangannya tentu saja terpisah.
"Eh?"
Ada rumah lain, ya? Pantas saja! Yian pasti di situ.
Ian mulai berjalan. Menginjakkan kaki di rumput yang tak seharusnya diinjak. Ya, karena ada tempat berpijak berupa batu di sisi lain. Namun, letaknya terlalu jauh. Sehingga Ian mengambil jalur diagonal agar cepat sampai di rumah itu.
Rumah yang ada di sebelah rumah Ian. Rumah yang masih satu pagar dengan rumahnya.
"Aku tinggal membukanya dan—"
Mata terbelalak. Keterkejutan. Ketidakpercayaan. Kaku, terdiam dan tak bisa berkata-kata. Ian baru saja ingin memegang gagang pintu, tetapi pintu itu sudah langsung terbuka duluan.
Memperlihatkan sosok perempuan berambut panjang sebahu. Warna hitam menjadi warna dari mata dan rambutnya. Sikap dingin yang menjadi ekspresi adalah jati diri dari dirinya.
__ADS_1
Sosok perempuan itu mendongakkan kepalanya sedikit. Menatap netra merah Ian dengan ketidaksenangan. Bergeming, itulah yang menjadi sikap Ian sekarang. Dirinya tak bisa berkata-kata saat mengetahui jelas siapa perempuan ini.
"Ada apa? Apa kau ingin mengatakan sesuatu setelah seenaknya saja menjadi murid pindahan, Ian Kurozuki?"
Detak jantung mulai menunjukkan suara kerasnya. Membuat mulut tak bisa berkata-kata. Hanya kata batin yang kini menjadi suara selain detak jantung ini.
Sintya!
"Hem. Sudahlah."
"A-ah! Tunggu!"
Keterkejutan tercipta lebih cepat dalam diri Ian. Membuat tangan bergerak untuk meraih pundak perempuan yang masih seumuran dengannya. Namun, tangan perempuan itu segera menepis tangannya.
Tatapan tajam diberikan perempuan itu. Perempuan bernama Sintya Bella.
"Jangan ganggu aku, Pembunuh!" tegas Sintya dengan nada yang sangat-sangat berbeda bagi Ian.
Ya, mengingat Ian Kurozuki adalah Afian Ika Pratama. Laki-laki yang memiliki rahasia sesuatu dengan Sintya Bella. Laki-laki yang kehidupannya masih tidak jelas diperlihatkan.
"S-Sintya—"
Pintu ditutup secara keras. Menghasilkan suara yang begitu kasar. Detak jantung yang tidak beraturan menjadi-jadi. Membuat rasa mencekam dan ketidaktahuan.
Ian tak bisa berkata-kata. Hanya memandang pintu yang ditutup kasar oleh Sintya, juga mendengar suara lirih dari balik pintu itu.
"Pembunuh, pembunuh, dasar pembunuh!"
.
Mentari terlihat lebih tinggi. Menyinarkan cahaya putih yang mewarnai angkasa biru. Indah nan menenangkan, inilah rasa yang seharusnya ada dalam diri.
"Haaah …."
Aku sama sekali tidak paham!
Sunyi dalam diam, Ian sama sekali tidak menggerakkan tubuhnya. Hanya berbaring dan membiarkan organ jantung berdetak. Tak lupa dengan pergerakan udara yang masuk dan keluar dari hidungnya.
"Aku … harus apa sekarang? Aku sama sekali tidak mengerti. Kenapa ini bisa seperti ini? Kenapa?"
.
.
Detak jantung berdegup kencang. Getarannya terasa kuat. Membuat mata melihat ke dalam mimpi bayang-bayang. Kegelapan adalah awalnya. Setelahnya, datanglah gambaran.
Sebuah ponsel android yang menampilkan percakapan pada aplikasi. Gambaran itu berlangsung sejenak dengan meninggalkan satu kata. Hurufnya ada empat. Huruf pertama 'y', kedua 'a', ketiga 'n', keempat—
.
.
"Tidak ada yang bisa dipercaya di dunia ini, Nak!"
"Dia itu hanya memanfaatkan mu saja!"
"Tidak ada rasa 'itu' dalam hubungan kalian!"
.
.
Hah!
.
Di tempat lain, warna hitam menjadi latar. Langit merah dan tanah orange yang gersang. Retak dan penuh akan kehancuran. Tidak ada ketenangan di sana. Teriakkan menjadi suara yang sudah biasa.
"Ck. Menyebalkan sekali."
__ADS_1
"Aaaaakhhgrrhh!"
Teriakkan menjijikkan disuarakan oleh makhluk gelap tak bercahaya. Tubuhnya hitam dengan tangan berkuku panjang nan tajam. Kurus bagaikan kerangka hidup dengan mata hitam yang sama seperti tubuh.
Sosok makhluk hitam bernama Kurai itu lenyap. Menyisakan darah hitam pada tanah gersang yang meninggalkan jejak retakan. Meski begitu, sosok Kurai yang lain mulai bermunculan menggantikan ketiadaan.
Ada yang berkaki dan ada yang terbang bagai hantu. Melayang dengan tubuh bagian bawah yang tampak seperti kabut. Semuanya mendatangi sosok lelaki berambut hitam panjang sebahu dengan mata merah menyala.
"Tch."
Lelaki bermata merah itu berdecih. Menghasilkan ribuan pedang hitam yang langsung menancap pada tubuh para Kurai itu. Kehancuran tentu terjadi. Para Kurai langsung hancur bagai plastik berisi air hitam yang dipecahkan.
Bangkai kerangka hitam dari ribuan Kurai yang awalnya bermunculan dari segala arah itu ikut lenyap. Kembali menyisakan darah hitam yang menjijikkan.
"Afian Ika Pratama, dan Sintya Bella." Lelaki bermata merah itu bergumam.
Rambut hitam panjangnya seketika disisir angin dingin yang menerpa di tanah gersang. Rasa mencekam semakin menjadi. Meski begitu, ia tampak tenang.
Tetap pada tatapan tajam dan pikiran tentang apa yang diucapkan sebelumnya.
"Sepertinya, aku cukup mengawasi saja untuk sekarang."
.
Jadi, rumahku— iya-iya (maksudnya tidak-tidak). Rumah ini, rumah Sintya, ya?
Meski begitu, kenapa? Kenapa! Kenapa ini bisa terjadi!
Yian memang tak mengatakan apapun. Tapi 'kan, aku sudah— aah!
.
.
Intinya, aku sudah bukan Afian. Sintya tentu tidak mengenalku sebagai Afian lagi. Ya, Afian Ika Pratama itu sudah mati! Kini, namaku adalah Ian Kurozuki. Aku tidak ada hubungannya dengan Afian Ika Pratama! Ya!
Meski begitu, tetap saja. Yah, aku masih tidak paham.
.
.
Sejak kapan Sintya punya kakak— ah, bukan. Aku mungkin lebih tinggi, tapi umurku sekarang tetap sama. Empat belas.
Masalahnya ada pada: bagaimana bisa Yian kenal dan, sepertinya, ada hubungan dengan Sintya? Padahal 'kan, Yian tidak tau Sintya saat aku mengatakan namanya tadi!
Lalu, selain itu … ada lagi satu masalah.
.
.
"Kenapa … Sintya mengatakan aku, Ian Kurozuki ini, seorang pembunuh? Apa maksudnya itu?"
Aku … iya (maksudnya tidak!).
"Apa Sintya … mengira bahwa Ian Kurozuki yang bukan aku ini, adalah pembunuh, atas kematian aku, Afian Ika Pratama?
Haha! Sepertinya tidak mungkin."
Eh. Bentar. Sintya sebenarnya mengenalku sebagai Ian atau Yian? Dia di sekolah tampak kaget, tapi sikapnya jadi dingin lagi. Seolah-olah … tidak ingin peduli ataupun tau.
Argh!
.
.
Mou ii! Lebih baik menunggu Yian si muka gelap itu datang!
__ADS_1