Itami No Chikara

Itami No Chikara
Berbincang Denganmu Yang Lain


__ADS_3

Rasa terkejut dan ketidakpercayaan. Tekanan seketika terasa pada organ kehidupan dalam belenggu berjiwa. Seakan-akan tak menghasilkan gerakan, itulah yang terlihat dari Ian Kurozuki sekarang.


Netranya hanya bisa terbelalak dan menampakkan kekosongan. Sedangkan Sintya berulang kali menghembuskan napas karena ucapan bernada tingginya.


"Hah … hah … hah …."


Menyandarkan diri pada sofa, itulah yang dilakukan Sintya selepasnya. Tak ada kata lagi yang terucapkan. Hanya ada keheningan. Tak ada yang pergi dan tak ada pembicaraan.


Hingga akhirnya salah satu di antara keduanya membuka kata.


"Maaf, Sintya."


Ya, sudah bisa dipastikan siapa yang berbicara dan kini, perkataan kembali dilanjutkan olehnya.


"Aku … tidak akan melakukannya."


"Cepatlah pergi …," lirih Sintya dengan nada yang tetap dingin.


Ian pun langsung beranjak dari tempat duduknya. Tak memikirkan lagi apa yang akan terjadi setelahnya, dirinya mulai melangkah keluar dari ruangan. Hingga dirinya sampai di depan pintu rumah, langkah kakinya terhenti.


"Aku bukanlah Ian Kurozuki yang kau kenal sekarang, dan aku …."


Suara pintu yang ditutup terdengar. Ian telah keluar, bersamaan dengan kata-kata yang belum selesai. Sintya mengeluarkan bulir bening dari matanya. Membiarkan kekosongan menjadi akhir dari kalimat Ian.


"Afian …."


.


Malam pun datang bersama kegelisahan. Rasa penasaran dan tertarik yang saling bersatu. Menambahkan jawaban yang sebenarnya tengah ditelusuri lebih jauh.


Aku bukan Afian! Aku Ian! Ian! Jangan berpikir dirimu Afian!


Suara pintu diketuk terdengar. Tiga kali ketukan dalam satu detik membuat Ian membuka matanya. Siapa? Tanyanya dalam diam.


Dirinya mulai bangun dan keluar dari kamarnya. Sekilas jam dinding menunjukkan pukul delapan malam. Rasanya agak aneh ada yang berkunjung, apalagi—


"Mari bicara sebentar, Ian Kurozuki."


Terbelalak, itulah yang terjadi. Pintu baru saja ia buka. Matanya langsung melihat lebih rendah dari arah pandang biasanya. Menatap mata hitam tajam yang ditunjukkan oleh sosok gadis di depannya.


Gadis yang sudah tentu adalah Sintya.


.


.


Tak ada kata terbit untuk bulan, apalagi terbenam. Terkadang, penglihatan langsung melihatnya sudah di sana. Angkasa atas yang tidak berawal sejajar. Meskipun kenyataannya, tidak ada kepentingan untuk memikirkannya.


Ruang tamu terasa sunyi, tetapi menusuk hati. Gadis bermata hitam gelap, tetapi menyinarkan cahaya ungu yang tajam. Rambut hitam sebahu yang sudah bisa dibilang panjang.


Netranya yang tampak kecil memberi kesan mengintimidasi. Senyuman tidak terlihat di wajahnya yang cantik. Putih dan sedikit pucat.


"Kau tampak aneh hari ini. Ada apa? Rencana apa lagi yang kau ingin lakukan?" tanya Sintya, si gadis berekspresi dingin itu mengawali pembicaraan.


Matanya tetap terfokuskan pada iris merah lelaki di hadapannya. Lelaki dengan rambut hitam yang panjangnya menyamai panjang rambutnya. Begitu juga dengan kulit putihnya yang sedikit pucat.


Hanya gender dan warna iris pada mata, juga bentuk wajah. Itulah pembeda jika dari fisiknya.


"Ma-maksudnya, g-gimana, ya? I-itu … aku tak paham," jawab Ian, si lelaki dengan senyuman yang berusaha dibuat untuk menutupi kegugupan.

__ADS_1


"Sia! Padahal aku bisa bicara dengan benar dulu! Kenapa aku jadi gugup gini! Rasanya buruk! Buruk! Aaaaa!"


Ya, itulah yang diucapkan dalam batin oleh Ian dengan ekspresi wajah tak teratur. Tak teratur dalam artian tak bisa mengendalikan rasa negatif dalam diri.


"Hm. Begitu, ya?" Sintya mengakhiri tatapan dan beralih pada secangkir teh yang sudah disediakan Ian sebelumnya.


Mengambil dan meminum sedikit teh tersebut, kemudian meletakkannya kembali di meja. Ian hanya melihat dengan kondisi yang tidak mengenakkan. Sementara Sintya mulai melihat benda-benda lain di sekeliling, sampai kalimat lain keluar dari mulutnya.


"Aneh."


Detak jantung tidak bisa berdetak normal. Getaran tercipta selepas perkataan Sintya terekam di memori otak. Ian mulai menyadari ketidaknyamanan dalam dirinya.


"S-Sintya—"


"Mati."


Suara tembakan terdengar melewati sebelah telinga Ian. Cipratan basah yang lengket langsung terasa setelahnya. Bunyi kesakitan yang tak normal terdengar jelas di belakang punggungnya.


.


.


A-apa ini?


Ruangannya berubah. Kegelapan menyelimutinya. Namun, masih ada dirinya di sini. Tentu, tidak ada kata sendiri. Ada Sintya yang kini sudah berdiri.


Di belakangnya.


"Shine."


Teriakan terdengar keras. Petir seakan menyambar dengan suara menggelegar. Warna merah menjadi cahaya dalam kegelapan yang menjadi latar dari waktu ini. Napas yang mulai hilang perlahan menyadarkan diri ini.


Ian tersadarkan. Dirinya masih duduk di sofa dengan Sintya yang juga ada di hadapannya. Duduk dan meminum teh dengan tenang.


"Hm? Ada apa?"


"A-ah! Nandemonai!"


"Huh? Memangnya ini Jepang? Bicaralah dengan benar!"


"B-baiklah!"


Aaaargh! Lagi-lagi seperti ini! Lagipula kenapa sih kau, Sintya! Nada bicaramu terdengar seperti aku yang dulu!


Bunyi cangkir yang diletakkan terdengar. Terangnya cahaya lampu tetap menjadikan suasana sunyi hingga detik ini. Ian berusaha menenangkan batin dan diri. Sedangkan Sintya kembali memberi tatapan yang mematikan semangat hidup.


"Afian."


Eh?


"Kau membunuhnya 'kan? Afian Ika Pratama … laki-laki itu!" tegas Sintya menampilkan cahaya ungu yang kini bersinar terang di matanya.


Cahaya itu langsung masuk melalui penglihatan Ian. Membuat otak mengunci tubuh agar tidak bergerak. Ian tentu membelalakkan matanya. Namun, ia tidak tahu harus melakukan apa sekarang.


"Pembunuh, pembunuh, pembunuh!" Sintya beranjak dari tempat duduknya. Menyingkirkan meja dan membuat taplak serta cangkir jatuh ke lantai.


Ian semakin tak percaya. Apalagi saat dirinya melihat sebilah pisau di tangan gadis bernama Sintya itu. Gadis yang sebenarnya selalu ia perhatikan di waktu dirinya adalah Afian.


"Iaaaan!" Nada tinggi dan gerakan mematikan, Sintya telah mengarahkan pisau di tangannya ke wajah Ian. Namun, tangan hitam langsung menghentikan ajal yang hampir menjemput itu.

__ADS_1


Tangan hitam yang kemudian menghilangkan cahaya ungu di mata gadis itu dan membuatnya terjatuh. Ian langsung merasakan kembali tubuhnya. Napasnya seketika tak beraturan.


Meskipun dirinya langsung bangun dan duduk di lantai demi memeriksa kondiri gadis itu.


"Sintya!" Ian hampir menyentuh pundak Sintya, tetapi bilah pisau langsung mengarah tepat di lehernya.


"Sentuh aku berarti mati selamanya," ucap Sintya dengan dingin sembari perlahan bangkit dan berdiri.


Matanya masih mengarah tajam pada Ian yang hanya terdiam. Bilah pisau ia masukkan ke dalam pakaiannya. Pandangannya pun menoleh ke arah lain. Menatap tajam sosok hitam bermata merah yang menjadi tujuan Sintya.


"Sekarang jelaskan, siapa yang menempati tubuh ini, Yian!"


Ketidakpercayaan kembali. Ian tetap terduduk di lantai, tetapi matanya memperhatikan jelas sosok hitam bermata merah itu. Sosok hitam bernama Yian yang kini ada di hadapannya dan juga Sintya.


"Huh, instingmu benar-benar tajam, ya, Nai," ujar Yian hanya bisa pasrah dan menghela napas panjang. "Namun sayangnya, kau tidak bisa mengetahuinya sekarang."


Suara detakan tiba-tiba terdengar menyelimuti seluruh ruangan. Semuanya tampak berwarna abu-abu sejenak, kemudian kembali kepada kenormalan. Namun, kesadaran Sintya seketika menghilang.


Gadis itu langsung jatuh ke belakang dan Ian pun menahannya. Tentu, perasaannya tidak bisa dijelaskan sekarang. Antara terkejut dan kebingungan, juga rasa penasaran.


Semuanya membuat dirinya tak bisa berkata-kata.


"Heh, kau bisa mati jika memegangnya," tutur Yian dengan nada mengejek. Namun, Ian tampak tidak peduli.


Matanya terbuka lebar dan memandang fokus dalam diam. Menatap wajah sayu Sintya yang sudah terpejam dan kini ada di dekapan.


"Aku … tak bisa bicara," batin Ian dengan mata yang mulai kehilangan tanda-tanda kehidupan.


Kosong, itulah yang terlihat jelas di mata merahnya. Bersamaan dengan darah yang tiba-tiba mengalir keluar dari lehernya dan mengenai pipi Sintya.


"Huh, drama banget! Cepat bangun dan bawa dia ke rumahnya!" tegas Yian memberi perintah tanpa bertanya akan kondisi saat ini.


Kondisi yang bisa dibilang sebagai kekosongan dalam rasa tanpa aturan.


.


.


Kenapa denganmu? Apa yang terjadi denganmu? Bagaimana kau bisa melakukan ini?


Kau Sintya 'kan? Lalu kenapa?


Kenapa kau tampak sepertiku?


Apa kau benar-benar Sintya yang ku kenal?


.


.


"Haha."


"Heh?"


"Hahahaha! Hahaha!"


Ketidakpercayaan terpampang jelas. Yian membelalakkan matanya. Sedangkan Ian mulai meneteskan bulir bening dari matanya. Bersama dengan tawa yang ia keraskan.


"Aku … sebenarnya apa bagimu? Apa kau melakukan ini untukku, Sintya?" batin Ian perlahan mengubah tawanya menjadi kesedihan.

__ADS_1


Menangis tanpa ketidaknormalan dan perlahan mulai memeluk gadis yang tampak tidak sadarkan diri.


Maafkan aku, Sintya.


__ADS_2