
"Haaah. Aku … jadi malas buat keluar,"-mematikan televisi-"kapanlah … siluet hitam itu datang!"
"Tch."
He?
"Apa lihat-lihat? Afian Ika Pratama—"
Suara keras tercipta dan terdengar menyakitkan. Lokasinya ada di ruang tamu atau mungkin, bisa disebut ruang tengah. Sebelumnya, Afian atau bisa disebut Ian sedang duduk bersandar di sofa. Menonton acara televisi yang menurutnya tidak menarik.
Dirinya sempat mengeluh sejenak, hingga datanglah Yian dengan wujud hitam bagai siluet. Ian yang sebelumnya membicarakan Yian dalam keluhannya langsung menoleh.
Memberikan tatapan tajam dengan mata merahnya yang seketika membuat Yian berhenti berbicara. Meski keduanya sama-sama memiliki mata merah, entah kenapa Yian malah terdiam.
"Cepat jelaskan!" tegas Ian dengan nada yang benar-benar baru. Dingin dan mengancam.
Meskipun Yian menyimpulkan senyuman misterius sesaat setelah Ian berkata demikian.
"Heh. Haruskah?"
"Ck." Ian tak bisa berkata-kata lagi.
"Lain kali kalau mau bicara itu yang bener! Jelaskan apaan coba?" Yian berkata dengan nada Ian ketika mengeluh.
Ian menyipitkan matanya dan masih menunjukkan tatapan mengintimidasi, "aku jadi malas mengatakannya setelah mendengar perkataan mu itu."
.
.
"Jadi, hanya itu?"
"He?"
"Hm?"
"Hanya itu katamu!"
Kekesalan tercipta. Kini, sudah berselang beberapa menit dari kejadian sebelumnya. Cerita tentang ketidakpercayaan yang dialami juga telah tersampaikan. Ian dan Yian, keduanya tengah duduk berhadapan di ruang tamu.
Detik-detik kekesalan pun berlalu selepas Ian menghembuskan napas kasar.
"Sudahlah! Cepat jelaskan! Kenapa, bisa, seperti, ini!" Ian berkata dengan emosi kesal yang sudah tak bisa mengalahkan rasa kelelahan.
Ian menyandarkan dirinya pada sofa dengan kasar, sedangkan Yian tersenyum miring. Jawaban mulai dibeberkan oleh Yian setelahnya.
"Yah, intinya, sih … aku, ingin, kau, mencaritahu, sen-di-ri! Sayonara!"
"H-hoi!" Ian berteriak, tetapi itu tidak mengubah apapun.
Yian telah pergi. Menghilang menjadi kabut dan membuat pandangan Ian melihat warna hitam yang mengganggu.
Sialan! batin Ian kembali pada kekesalan.
Siang mulai terik dan kini Ian bergeming dalam kesunyian. Tak tahu harus melakukan apa, Ian kembali melihat-lihat sekeliling. Memeriksa tiap sudut dan memikirkan kemungkinan adanya ruang rahasia.
Meskipun akhirnya, ia memilih keluar dari rumah dengan membawa uang recehan yang ada di laci meja kamarnya. Niatnya hanya satu.
Beli mie goreng lalu kembali lagi.
Begitulah kalimat yang Ian katakan dalam batin dengan nada malas. Dirinya sudah bersiap untuk membuka pagar rumah, tetapi sosok lain telah membukanya dari luar. Sosok perempuan yang menutupi rambutnya dengan tudung dari sweater ungunya.
__ADS_1
Netranya hitam tajam dengan aura dingin yang memikat. Meski bagi Ian, itu memberikan rasa keterkejutan yang benar-benar berdebar.
"Mau ke mana kau?" tanya sosok perempuan itu dengan rait dingin yang terpampang jelas.
Ian membalas tatapan perempuan itu meski harus menundukkan pandangannya. Tentu, tatapan yang diberikan olehnya tidak sama dengan tatapan perempuan itu.
"A-aku mau beli mie—"
"Hm." Tanpa basa-basi, sosok perempuan itu langsung menggenggam pergelangan tangan Ian dengan erat. Menarik dan membuat Ian harus mengikuti langkah kakinya.
Ian terkejut dan tak bisa melawan. Pagar rumah langsung ditutup bersamaan dengan genggaman tangan yang diberikan untuknya. Sosok perempuan itu menariknya. Membawanya menuju rumah di sebelah rumahnya.
"H-hei, Sintya—"
"Urusai."
Degupan jantung mulai mengeras. Menghasilkan getaran yang menghasilkan keterkejutan. Lagi dan lagi, Ian tak bisa berkata-kata setelah mendengar perkataan sosok perempuan yang ternyata adalah Sintya Bella itu.
S-sejak kapan Sintya bisa bahasa Jepang?
.
.
Waktu tak berjalan, tetapi bumi yang bergerak. Mentari seolah-olah mengelilingi dunia ini. Meski begitu, tidak ada kepentingan yang pasti dari semua itu. Kecuali kondisi Ian yang saat ini sedang duduk menunggu di rumah Sintya.
Ya, rumah tempat Sintya tinggal.
"Eh?"
"Hm?"
"A-ah, u-untuk ku?"
Detak jantung kembali bersuara keras. Saliva hangat terpaksa ditelan dengan rasa kepasrahan. Ian pun mulai memakan makanan yang sudah ada di hadapannya. Walau ragu tetap ada dalam dirinya.
Kini, ruang makan menjadi latar. Ian Kurozuki dan Sintya Bella ada di sana. Keduanya duduk berhadapan. Namun, ada satu perbedaan yang jelas. Ian duduk dengan makanan yang tengah disantap.
Sedangkan Sintya tengah duduk dengan pandangan yang diarahkan pada Ian secara tajam.
"Ugh … aku tidak tahan …!" batin Ian berusaha setenang mungkin menghadapi tatapan tajam dari Sintya.
Hingga akhirnya suara kursi yang digeser terdengar. Ian merasakan keanehan saat Sintya beranjak dan pergi begitu saja. Meskipun itu memberi ketenangan yang tidak didapatkan sebelumnya.
Eh? Mau ke mana?
"Bukan urusanmu," gumam Sintya sembari berjalan pergi.
Ian tentu melebarkan matanya. Terkejut dan tak percaya mendengar gumaman Sintya yang masih terdengar jelas itu.
He?
.
.
"Sudah selesai?"
"A-ah … y-ya."
"Hm. Cepat pergi."
__ADS_1
Eh?
Ketidakpercayaan lagi-lagi kembali. Ian baru saja selesai memakan makanan yang dibuat Sintya. Dirinya juga baru saja menghampiri gadis itu. Namun sayangnya, gadis yang kini masih duduk di sofa itu malah mengusirnya.
Tanpa setitik pun menoleh ke arahnya.
"P-pergi?"
"Yah. Cepat kembali ke rumahmu, Ian Kurozuki."
"Iya!"
"Hng?" Sintya menolehkan kepalanya. Memandang dan menatap ekspresi serius yang ditunjukkan Ian.
"Iya. Aku tidak akan pergi sebelum kau menjawab perkataanku." Ian berkata dengan nada yang cukup serius. Meski begitu ….
"Nah, aku sudah menjawab perkataanmu. Jadi, pergilah, Pembunuh!"
"Kenapa kau memanggilku pembunuh, Sintya!"
Ya, kupikir akan terjadi hal seperti itu, batin Ian selepas membayangkan firasat yang akan terjadi setelah ia selesai makan.
"Ya, nyatanya aku disuruh duduk di sini daaan, ditatap terus ma dia." Ian membatin lagi. Namun kini, ia membatin dengan merasakan kembali kondisi dirinya saat ini.
Kondisi dirinya yang tengah duduk berhadapan di ruang tamu dengan Sintya. Tatapan tajam diberikan kepadanya. Kesamaan ruang tamu menjadi sesuatu yang tidak diacuhkan untuk saat ini.
"A-ah …." Ian membuka percakapan, tetapi dengan kata yang cukup mengganggu bagi Sintya.
Sehingga menciptakan kesunyian yang semakin menjadi karena ketidakpedulian dari Sintya. Ya, gadis itu sama sekali tidak peduli.
"A-aku …."
"Cepat katakan saja, Pembohong yang kerjanya membunuh orang!" Sintya berbicara di tengah kekosongan perkataan Ian. Menambah rasa saliva yang kembali ditelan oleh remaja lelaki ini.
Ucapanmu membuatku tidak bisa bicara tau! batin Ian tak bisa berkata-kata maupun melakukan apapun lagi.
Dirinya memilih diam dan tak berniat mengatakan apa-apa. Membiarkan netra hitam tajam dari Sintya terus menatapnya tanpa sekalipun beralih. Tak ada senyuman di wajah gadis itu.
Hanya ada gulungan bibir yang akhirnya menjadikan hembusan napas keluar dari mulut.
"Kau tidak pernah mengerti, ya … Afian."
Eh?
"Rasanya … perasaanku ini."
.
.
"A-apa yang kau katakan, Sintya?" Ian bertanya setelah gumaman lirih terdengar jelas di pendengarannya.
Kata-kata yang disuarakan lirih oleh Sintya benar-benar terdengar jelas baginya.
"Hm? Apa maksudmu?"
"Eh? B-bukannya kau mengatakan sesua—"
"Aku tidak mengatakan apa-apa dan jangan berpura-pura lugu!" tegas Sintya menampilkan warna lain dari matanya yang beriris hitam.
Warna ungu. Itulah yang terlihat jelas di mata merah Ian selepas Sintya meningkatkan ketajaman tatapan.
__ADS_1
"Jangan berpikir hanya karena aku tinggal di rumahmu ini karena orang tuaku menitipkanku padamu, kau bisa melakukan apapun sebebasmu!" sambung Sintya semakin meninggikan suaranya dan itu membuat mata Ian terbelalak lebar.
Bersamaan dengan detak jantung yang langsung mendatangkan hal tak terduga.