
Rasa syukur dan senang, semuanya hadir selepas rasa tak menyenangkan tiba. Kini, pada angkutan umum yang baunya saja sudah menyesakkan ini, tengah terjadi awal konflik.
"A-apa yang terjadi?" Pertanyaan seketika dikeluarkan secara spontan.
Retak, itulah yang terjadi pada kaca kendaraan beroda empat ini. Lukisan angkasa di siang hari telah tiada, begitu juga tempat-tempat ciptaan manusia. Ketidakpercayaan hadir di sini.
Langit berubah, warna birunya menjadi merah. Tak ada bangunan, hanya ada tanah gersang. Berselimutkan cairan merah kental, latar kali ini sangatlah di luar nalar.
Hanya ada tiga orang dalam kendaraan ini. Satu sopir dan dua adalah penumpang. Itu sudah termasuk Afian Ika Pratama sendiri. Yah, pelajar lelaki yang tampaknya sudah mendapat banyak beban hari ini.
Entah itu kabut pemberi sesak di waktu formalitas ataupun langit merah yang menjadi latarnya.
"A-apa ini? K-kenapa tiba-tiba jadi—"
"Itami No Chikara."
Tiga kata, diucapkan pada waktu yang sama, memotong kata batin tokoh utama. Orang yang mengenakan hoodie hitam itu penyebabnya. Meskipun, rasa selamat telah diberikan dari balik ketidakpercayaan ini.
Retakan tercipta pada kaca kendaraan, teriakkan datang setelahnya. Sopir telah tiada, berganti menjadi sosok makhluk berwujud tak lazim. Namun, hal itu tak sempat dilihat secara sempurna oleh tokoh utama.
Semuanya telah menjadi cairan merah kental yang menyembur tanpa arah pasti. Hanya karena sosok orang dengan hoodie hitam dan pedang di tangannya itu.
"Ugh!"
Terjatuh dengan posisi terduduk. Gejolak penuh ketidaknyamanan sudah menyelimuti diri. Alfian Ika Pratama, pelajar lelaki tanpa jati diri pasti itu kembali merasakannya.
Perasaan bagai gempa bumi yang hadir pada organ inti kehidupannya.
"Hoi! Kau!" Hanya lirikan mata sejenak, sosok dengan hoodie hitam itu kembali menghasilkan air merah kental.
Bilah tajam berwarna perak miliknya telah mengenai sesuatu yang tak lazim lagi. Niatnya untuk memeriksa kondisi pelajar lelaki itu harus diurungkannya, demi menghilangkan kemungkinan terburuk.
"Kita harus keluar dari sini." Siulan jari terdengar keras, sosok dengan hoodie itulah yang melakukannya.
Selepas kaca retak dan pecah, besi berkarat angkutan umum pun ikut lenyap. Hanya tersisa bawahannya saja, sebelum akhirnya latar angkasa merah berselimut darah ditinggal pergi.
.
Kelahiran pada waktu yang mendukung kematian. Suara tangis terdengar lebih keras dibanding rintik hujan. Manusia kecil yang hanya bisa menangis saat mendapati dirinya di dunia.
Tidak ada kata untuk dikatakan dan ekspresi senanglah yang menjadi jawaban.
"Selamat, Bu. Anaknya lahir dengan normal." Perempuan yang bisa disebut dokter itu memberikan selamat, kemudian memberi bayi di tangannya pada sang ibu.
Ya, sang ibu yang baru saja melahirkan bayi laki-laki. Ekspresi senang dengan air mata yang berlinang menjadi obat atas rasa sakit pengorbanan.
"Ayah mana?" Sang ayah pun muncul dari balik tirai penutup pintu setelah sang ibu memanggil.
Berjalan menghampiri dengan ekspresi senang dan bahagia, sang ibu yang bersandar dalam posisi berbaring berkata, "anak kita, laki-laki, Yah."
Senyum senang dan bahagia, hanya itu yang bisa ditunjukkan sang ayah. "Bagaimana kalau ibu yang menamainya?"
"Ya. Mulai sekarang, nama anak kita, Afian Ika Pratama. Kepercayaan diri itu yang utama." Sang ibu semakin melebarkan senyumannya, kemudian mengusap dan mengelus lembut sang anak.
__ADS_1
Tak acuh dan tak akan pernah memikirkannya. Tentang kondisi alam yang menjadi latar kelahiran sang anak. Begitulah awalnya, kehidupan dari bayi laki-laki bernama Afian Ika Pratama ini.
.
.
Waktu berlalu, dari bayi menjadi anak kecil. Posisi merangkak menjadi berdiri. Otak telah bekerja pasti, memikirkan tentang kehidupan yang masih dianggap setitik.
"Bu! Aku mau itu! Mau ituuu!"
"Nanti, ya, sayang. Nanti ibu dan ayah belikan."
"Benarkah? Hore!"
Ya, masa-masa itu adalah masa yang seketika terlupakan. Meski sebenarnya sengaja dilupakan. Tidak ada permintaan yang dituruti, hingga akhirnya kesadaran menjangkiti diri.
.
.
"Hmph! Ayah jahat! Ibu jahat! Aku benci! Aku tidak mau bersama kalian! Aku ingin pergi!"
Waktu itu, sikap perlawanan ditunjukkan oleh sang anak bernama Afian Ika Pratama ini. Namun, semua itu menjadi sia-sia karena orang tuanya yang meluluhkan hatinya.
Umur Afian belum menginjak bangku sekolah dasar waktu itu, tetapi rasa ingin kabur dan persiapannya benar-benar terlalu matang. Yah, entah apa alasannya.
.
.
"Duh, Bu. Udah deh, Afian dah besar. Lagian, emang Afian pernah gitu, ya?"
"Yah, masa kamu lupa sih? Ibu aja inget lho!"
Ya, sebenarnya aku juga tau itu, batin Afian yang kini telah beranjak menuju bangku SMP itu.
.
.
Dipikir-pikir, kenapa, yaaa, dulu, aku bisa seperti itu?
Berniat kabur hanya karena tidak mendapat kepercayaan dari orang tua.
Padahal, memang siiihh. Orang tuaku saja meninggalkan ku dengan nenek sebelum aku bersekolah.
Yah, buat apa aku memikirkan ini coba?
.
.
"A-afian!"
__ADS_1
"Ya?"
"M-maukah … kamu, berpacaran denganku?"
.
Buliran bening membawa diri. Rasanya tak sama dengan bintang jatuh mikro dari pulau kapas hitam. Penglihatan terbuka dengan kecepatan yang tidak pada batas normal. Membuat organ dalam tubuh bekerja secara abnormal.
"Huuh … huuh … huuuh."
Akh, apaaa yang terjadi?
"Huh? Kau sudah bangun, ya?"
Netra seketika mencari asal suara yang masuk ke pendengaran. Tak ada hitungan detik, pandangan pun mendapatkan targetnya. Sosok lelaki yang tampak sepantaran dengan pelajar kelas dua belas.
"K-kau …."
"Ck. Dasar manusia."
He?
Rasa heran tercipta. Meski kini posisi duduk telah menjadi rasa nyaman untuk tokoh utama ini, tetap saja. Ucapan yang dikatakan sosok lelaki bermata merah itu sangat patut dipertanyakan.
"Siapa namamu?" Lelaki bermata merah itu bertanya.
"A-afian … Ika Pratama."
"Hah? Mana yang benar? A-afian atau Ika Pratama?"
"N-namaku Afian Ika Pratama!"
Sepasang netra dengan iris merah tajam, bagai bulan merah yang ada di cerita fiksi. Rambut panjang dengan poni yang sedikit menutupi pandangan, apalagi dengan warna hitam gelapnya.
Kulit putihnya yang pucat memberi efek silau karena pakaian hitamnya. Afian Ika Pratama, laki-laki yang kini masih duduk di kasur itu terus memperhatikan lelaki bermata merah dengan ciri-ciri di atas.
"Afian Ika Pratama, ya …."-tersenyum tipis-"nama yang mirip."
Eh? Orang ini bicara apa sih?
Hanya kata batin yang bisa diberikan Afian sebagai komentar. Ruangan bernuansa gelap dengan dinding berupa kayu tua. Afian baru sadar kalau dirinya berada di gubuk tua, sepertinya.
"Hei, Ian."
"E-eh? I-ian?" Afian kembali terkejut.
Lelaki bermata merah itu mengangkat alisnya sebelah, "ada apa?"
"B-bukan, apa-apa … sih."
Hanya kaget saja. Baru pertama kali ini ada yang memanggil ku Ian.
"Yah, ku harap kau menuruti perkataan ku sekarang." Rasa terkejut kembali tersampaikan. Afian mulai kebingungan dengan perkataan lelaki bermata merah itu.
__ADS_1
"Karena sekarang … kau harus menjadi diriku, Afian Ika Pratama!"