
Apa maksudnya ini?
"Itami No Chikara."
Warna hitam seketika bermunculan dari belakang tubuh lelaki bermata merah itu. Bagai bayangan, tetapi menampilkan ruang hampa pada kegelapannya. Tak mungkin bisa mengekspresikan rasa selain rasa terkejut saat ini.
Ucapan lelaki bermata merah itu mulai mengubah keadaan. Tangan hitam dari kegelapan bergerak-gerak di sekeliling lelaki itu. Membuat rasa merinding bagi yang melihatnya, yaitu Afian sendiri. Hanya pemiliknya lah yang tak mungkin merasakan hal itu.
"Terimalah … dirimu sebagai diriku, Ian!"
"Aaaaaaarrghhh!"
Suara teriakkan melanda ruangan yang tengah menggelap ini. Lingkup kuno nan suram karena arsitektur bangunan berupa kayu serabutan. Ditambah dengan kegelapan dari tangan hitam itu.
Hanya ada satu kata, juga satu rasa. Tanpa luka fisik yang berarti, tetapi sifatnya sangatlah menyiksa diri. Berada dalam lubang kegelapan, menghasilkan jari jemari yang mengikat dan menusuk.
Inilah rasa sakit yang kini dirasakan Afian Ika Pratama.
"Aaaaargghh!
Penyiksaan atas cakar hitam pencipta kesakitan membuatnya terus berteriak. Hawa gelap telah menyelimuti dirinya, membuat pandangan tak mungkin bisa melihatnya. Hanya bisa mendengarkan suara kesakitan tanpa batasan.
.
"A-apa-apaan ini! Bagaimana bisa ada manusia setengah makhluk di sini!"
Rasa takut, ekspresi yang ditampilkan sebagai jawaban atas gertakan sosok hitam. Anak kecil berambut hitam panjang itu hanya bisa menunjukkan ketakutannya.
"Jangan apa-apakan anakku! Ku mohon!" Sosok hitam lainnya memohon. Suaranya terdengar berbeda. Mirip seperti seorang ibu yang peduli akan anaknya.
Sosok hitam yang menggertak hanya bisa berdecih. Suara pria adalah identitasnya. "Jika anakmu tidak setengah-setengah seperti itu, sudah aku hapus roh kehidupannya!"
.
.
Suara tangisan terdengar. Ruangan yang mirip dengan gubuk menjadi latar setelah lingkup tanah gersang. Anak kecil dengan sosok hitam di dekatnya. Keduanya sama-sama memiliki rambut panjang berwarna hitam, juga netra merah tajam.
Hanya wajah dan rupa anak kecil itu yang terlihat jelas. Mirip seperti anak berumur lima tahun. Kulit putihnya yang tampak pucat memberi kesan pas untuk rambut hitamnya.
"Cup cup cup … jangan menangis, ya, Yian."
Sosok hitam yang memiliki rupa seperti wanita cantik, tetapi dalam bentuk siluet gelap. Sosok itu terlihat tenang dan berbelas kasih sayang pada anak kecil bernama Yian itu. Anak kecil yang sebelumnya menangis itu.
.
.
"Jangan! Tolong jangan bawa anakku! Aku mohon! Jangan tempatkan Yian di sana!"
"Diam kau! Tidak boleh ada makhluk setengah manusia di sini!"
__ADS_1
"Ibu! Hiks, hiks. Ibu!"
Sosok hitam yang disebut ibu, sosok hitam lain telah berada di kedua sisinya. Mengikat erat tangannya dengan rantai. Membiarkan permohonannya hanya sebatas kata-kata terakhir saja.
Sosok hitam lainnya turut ada. Berpenampilan seperti siluet pria bertubuh besar. Di tangannya, terdapat rantai hitam yang mengikat leher anak kecil bernama Yian. Anak kecil dengan netra merah dan rambut hitam panjang.
Hanya isak tangis yang bisa dikeluarkan sosok hitam bernama ibu. Begitu juga dengan sang anak yang bernama Yian. Anak yang disebut-sebut sebagai 'makhluk setengah manusia'.
.
.
"Argh! Akh! Aaargh! Aaaaargghhhh!"
Cambuk, rantai, duri-duri tajam dan semua benda-benda hitam lainnya. Sifat tajam tanpa ampun, kekerasan yang tak mungkin dilembutkan. Inilah penyiksaan yang menghasilkan kekentalan darah.
Anak kecil bernama Yian. Kini, dirinya telah berada di ruang penyiksaan. Gelap tanpa cahaya dan tak ada siapapun selain dirinya. Hanya ada genangan darah miliknya sendiri, juga senjata-senjata tajam dari besi hitam yang terus-menerus berdatangan.
"Aaaakhhh!" Yian kembali berteriak.
Darahnya kembali bercucuran. Keluar tanpa henti dan membasahi seluruh ruangan. Ukuran sempit yang bertujuan untuk mempermudah siksaan.
Mau seberapa banyak senjata yang keluar dari dinding melingkar ini, luka-luka tetap saja sembuh dengan sendirinya. Meski rasa sakit tetap tersiar menuju ruang hampa.
"Aaaaaaaaarrrkkhhh!"
Kehancuran pun datang. Ruangan sempit yang melingkari diri seketika lenyap. Kegelapan menelannya. Warna hitam dari senjata tajam seketika sirna. Kegaduhan datang dari kejauhan.
.
.
"Cepat! Cari anak itu! Jangan biarkan makhluk tabu seperti dia hidup!"
Jejak kaki tertinggal pada tanah gersang berselimutkan darah. Pepohonan hutan yang tampak mati, tetapi hidup tanpa menghasilkan oksigen. Warna hitam menjadi identitas bagi daun dan kayu, sedang tanah memiliki darah sebagai ciri khas.
"Cepat cari dia! Jangan pikir karena ibunya sudah dibunuh, dia bisa bebas begitu saja!"
Kata perintah yang disuarakan secara tinggi terus disebarkan. Sosok hitam saling bergerombol dan membagi kelompok, berlari tanpa kaki yang menapak pada tanah.
Mencari-cari anak kecil bernama Yian yang sebenarnya tengah bersembunyi. Bersembunyi pada semak hitam yang tampak abadi. Menghilangkan hawa keberadaan dan rasa takut pada diri.
"Hiks … ibu …."
.
.
"Hah, hah, hah, hah …."
"Jangan lari kau!"
__ADS_1
Langkah kaki yang menginjak tanah, meninggalkan rasa ketakutan dan ketidakmauan. Beberapa sosok hitam mempercepat pergerakan. Bagai udara yang melawan arah angin, tidak ada kata menginjakkan kaki bagi mereka.
Hanya Yian saja yang berusaha demi mempertahankan roh kehidupannya. Sedangkan sosok hitam yang mengejarnya hanya menginginkan dirinya tiada.
"Krak!" Salah satu sosok hitam mengucapkan rapalan kata.
Tanah gersang berselimutkan darah pun retak. Yian seketika membelalakkan mata, berusaha berhenti sebelum sampai pada retakan tanah di hadapan. Meski usahanya sangatlah tak berguna.
"Aaaaaaaaaaaaaaa!"
Lubang, itulah yang tercipta dari hasil rapalan kata salah satu sosok hitam. Yian terjatuh ke sana, memberikan dampak senang bagi sosok hitam.
"Dengan ini, dia tidak akan pernah ada lagi," kata sosok hitam penyebab retakan tanah itu sambil menjentikkan jarinya, membuat lubang yang menelan Yian tertutup.
.
.
"Yian anakku …. Dengarkan ini, ya …. Apapun yang terjadi, bagaimana pun kehidupan yang ada di sekeliling mu, siapapun yang mendampingi mu, kamu … harus tetap hidup."
"Tetap, jadi dirimu sendiri, Yian."
.
.
"Ada … ada di mana aku?"-mengedarkan mata perlahan-"eh?"
Mata terbuka, posisi duduk mengganti sikap berbaring. Pandangan sedikit diarahkan ke samping. Membuat rasa lain yang merangsang syaraf terkejut.
"Hai, akhirnya kau sadar," ucap sosok perempuan yang menjadi letak fokus pandangan.
.
Retakan tercipta. Warna bening menghasilkan cahaya putih pada lubang pecahan. Rekaman ingatan perlahan menghilang, meninggalkan bekas gelap pada serpihan cermin tanpa pantulan.
Memberikan pembukaan pada penglihatan untuk melihat selepas teriakkan penyiksaan.
"Hah … hah … haah …."-mengumpulkan kesadaran-"apa … yang terjadi padaku, tadi?"
Mata mengedarkan diri, melihat dan memandang sekeliling. Tidak ada dinding kayu berserabut, hanya ada dinding berarsitektur semen dan keramik. Latar sudah berganti, inilah yang terjadi.
Meski tampaknya tidak hanya latar dan waktu yang mengubah jati diri.
"A-apa … apa ini? Eh? Kenapa … aku jadi seperti ini? Eh?"
"Apa ini!"
Satu kalimat berisi dua kata berhasil diucapkan dengan nada tinggi. Afian Ika Pratama, laki-laki yang merupakan pelajar di bangku SMP kelas IX itu, hanya bisa berekspresi tak percaya.
Sosoknya yang ia kenal telah berganti menjadi sosok lain. Mirip seperti lelaki bermata merah dengan rambut hitam panjang. Itulah dirinya saat ini.
__ADS_1
"Kenapa … aku jadi seperti ini!"