
"Jepaaang!" Satu kata yang merupakan nama negara disebutkan. Tinggi dan panjang, begitulah nadanya.
Kata-kata lain ikut dikatakan setelahnya. Keterkejutan, itulah intinya. Tak perlu diungkapkan apa yang terucap setelah nama negara itu. Semua itu hanya ada dalam batin.
"Eh? T-tunggu dulu …." Jeda waktu diciptakan untuk berpikir.
Suara jarum detik dari jam menjadi nyaring dalam keheningan ini. "Emm … iniii, mau ku apain, ya?"
"Dasar."
Eh?
Pandangan dibelokkan ke belakang, melihat sosok hitam yang kembali datang. Suara dari sosok itulah yang membuat rasa penasaran. Rasa penasaran untuk Afian.
"Ma-maksudnya?"
"Hah. Kau tau 'kan, itu apa?"
Anggukan kepala ditunjukkan sebagai jawaban. Sosok hitam bersiap kembali untuk memberi penjelasan. Namun kini, dirinya langsung berpindah dan mengambil jarak dekat.
Afian melebarkan matanya. Sosok hitam itu sudah ada di hadapannya dan mulai membisikkan sesuatu.
"Kalau sudah tau, kenapa kau tidak bersiap dan kembali menjadi murid sekolah, hah! Apa kau tidak peduli dengan orang-orang yang, yah … mungkin."
Hem?
"Aargh. Cepat bersiap dan berangkat! Kau pasti tau bagaimana caranya menjadi murid pindahan 'kan? Cepat-cepat cepat! Daasar bee-go!"
Sosok hitam langsung menutup pintu kamar. Afian telah berada di luar. Tangannya pun sudah tidak memegang apa-apa, hanya posisinya saja yang tetap sama.
Otak seketika kembali bekerja, selepas setiap kata dan kalimat yang dikatakan sosok hitam tercerna.
"Aneh. Seperti diceramahi perempuan."
Eh? Sebentar.
"Nama apa yang harus ku pakai? Tak mungkin 'kan, aku pakai namaku sendiri." Afian berkata dengan nada yang ditinggikan, meski masih masuk batas normal.
Ia memandang pintu kamar, menunggu jawaban diutarakan.
"Haah. Pakai saja nama yang tertulis di berkas tadi!"
"Oh, oke." Afian mengakhiri percakapan dengan nada yang diturunkan.
"Jadi, itu, ya, namaku?-menghela napas-"pantas saja kau memanggilku Ian."
"Hah? Kenapa belum siap-siap?" Sosok hitam tiba-tiba muncul di hadapan, membuat keterkejutan yang hampir merenggut nyawa.
"Eh? Sekarang, ya?"
"Ya iyalah, bego! Cepat mandi dan siap-siap! Apa kau tidak memikirkan orang-orang yang kau tinggalkan setelah kau menjadi seperti sekarang, hah!"
Bagai petir yang menyambar dalam diri, Afian menciptakan hawa gelap tak berpenghuni. Dirinya terdiam, berpikir dan memikirkan kembali apa yang hampir ia hilangkan.
"Sintya … Bella."
__ADS_1
.
Waktu istirahat akhirnya tiba. Rahasia kecil kecil sedikit dibongkar akhir-akhir ini. Walau sepertinya, masih belum ada yang menyadarinya. Ian Kurozuki, murid pindahan dari Jepang itu, kini tengah menjadi sorotan para murid.
"Eh, benarkah kamu murid dari Jepang?"
"Iya. Bahasa Indonesia mu lancar sekali. Jangan-jangan, kamu orang Indonesia, ya? Tapi tinggalnya di Jepang?"
Ian hanya bisa tertawa kecil sebelum akhirnya menjawab rasa penasaran para murid di kelas IX C.
"Yah, ibuku sebenarnya orang Jepang, tetapi ayahku itu orang Indonesia. Jadi, ya … wajar, aku mahir berbahasa Indonesia."
"Begitu, ya? Pantas saja." Pemahaman diterima dengan baik oleh para murid yang bertanya.
"Ngomong-ngomong, salam kenal, ya! Namaku …."
Oh ayolaah! Aku sudah tau nama kalian! batin Ian sembari berusaha bersikap layaknya murid pindahan. Mendengar dan berpura-pura mengingat nama yang sebenarnya sudah membekas di ingatan.
Perkenalan itu sangatlah tidak berguna jika dijadikan dialog. Begitu juga dengan menjelaskan siapa Ian Kurozuki.
Beberapa murid memberi ajakan, tetapi Ian menolaknya dengan tenang. Meski ucapan yang kurang pantas diberikan sebagai tanggapan atas penolakannya.
Mereka semua sama saja, yaa. Tidak ada rasa dukanya sama sekali.
Yah, memangnya, sepenting apa aku? Mau aku ada atau tiada kek. Toh, tidak ada pengaruhnya bagi mereka.
Haha, ternyata benar, yaa, rasanya seperti ini.
"Hem?"
"Ah, maaf. Bisakah kau berhenti menatapku? Aku tidak suka ditatap seperti itu," ujar Sintya langsung pada inti permasalahannya.
Meski sebenarnya itu bukan masalah bagi Ian, tetapi tak ada alasan untuk melawan. Ian hanya mengangguk kemudian tersenyum kecil.
"Namamu Sintya Bella 'kan? Yoroshiku nee."
.
.
Berlalu, pergi dan meninggalkan masa lalu. Itulah waktu. Perjalanannya tak bisa berhenti sebelum waktu lainnya menghadang. Begitulah akhirnya, akhir dari waktu pembelajaran hari ini.
"Hati-hati di jalan, ya, Anak-anak. Jangan mampir ke tempat lain, langsung pulang ke rumah!"
"Baik, Bu!" jawab semua murid bersamaan, tak terkecuali Ian Kurozuki.
Para murid beranjak dari tempat duduknya masing-masing. Sang guru dibiarkan keluar dari ruang kelas dahulu. Barulah setelahnya, para murid berjalan keluar. Meski beberapa murid melangkahkan kakinya menuju tempat alat kebersihan berada.
"Weeh! Laki-laki piket!" teriak salah satu murid perempuan yang sudah menggenggam sapu di tangannya.
Pandangan murid itu mengarah pada murid laki-laki yang hampir saja melalaikan tugas piketnya.
"Piketku hapus papan tulis saja, ya!" Dengan segera, murid laki-laki itu mengambil penghapus papan tulis dan menghapus sekilas tulisan di papan tulis.
Langkah kaki seribu langsung dilakukan oleh murid laki-laki itu, membuat murid perempuan lainnya berteriak padanya.
__ADS_1
"Heei! Jangan kabur, ya! Piket!" Hanya teriakkan yang dilakukan oleh murid perempuan itu, kemudian helaan napas mengikuti selepasnya.
Tiada niat untuk mengejar, begitulah.
"Aneh." Ian berkata dengan nada yang hanya bisa didengar oleh Sintya.
Kebetulan, keduanya masih berada di kelas. Sengaja menunggu suasana kelas sepi dan hanya diisi murid yang piket. Tentu, ini adalah sebuah kebetulan semata.
"Seharusnya, dia bilang kalau hanya ingin menghapus tulisan di papan tulis saja, bukan menghapus papan tulisnya. Bukankah … penggunaan katanya salah?" Ian melanjutkan perkataannya, memberi tanda tanya di akhir kepada Sintya yang tampak sama.
Sama dalam hal menatap, berekspresi dan berucap.
"Memang itu salah, tapi itu sudah jadi kebiasaan. Wajar saja mengatakannya begitu," tutur Sintya menjawab rasa keheranan Ian dengan nada yang bisa dibilang dingin.
"Duluan, ya," sambung Sintya mengakhiri percakapan.
Ian hanya mengangguk kecil dan bergumam, "kurasa … hanya kau saja, Sintya."
Hanya kau yang bersikap berbeda.
.
"Heh? Siapa dia? Saudaramu kah?" tanya sosok hitam memberi intonasi suara yang terasa tinggi.
Tinggi dalam artian menganggap rendah sang lawan bicara.
"Ah, bukan siapa-siapa. Hanya … teman sekolah saja," jawab Afian dengan nada yang merendah di akhir.
Rasa ketidakpercayaan ditunjukkan oleh sosok hitam. Mata merahnya menatap lekat netra merah milik Afian. Menciptakan rasa gugup dan paksaan untuk menelan saliva hangat bagi Afian
"Aku tau, kau berbohong padaku 'kan?"
Detak jantung berbunyi nyaring, memasuki otak tanpa perlu melewati telinga. Afian tak bisa berkata-kata, meski sebenarnya bukan itu masalahnya.
"A-akh …." Suara rintihan dikeluarkan, Afian mulai memegangi kepalanya.
Apa ini? Kenapa aku merasa seperti ini?
"Aaakh!" Terduduk, itulah posisinya.
Kini, rasa ketidaknyamanan menjadi-jadi dalam diri. Bagai paku yang menancap di batang pohon. Bukan hanya satu, tetapi lebih dari itu.
Afian tak bisa menahan rasa tak menyenangkan ini. Rasa yang mulai memberi ingatan pahit ini.
"Aaaakh!"
Jangan ingatkan aku!
"Tch." Siulan jari dilakukan setelahnya. Sosok hitam bermata merah telah menghilangkan rasa sakitnya.
Menyisakan napas tak bernada bagi Afian yang sudah berdarah dalam jiwanya.
"Itami No Chikara. Jika kau tak bisa mengendalikan kekuatan ku itu, wujudku yang kau gunakan itu takkan pernah berguna nantinya!"
"A … apa maksudmu?"
__ADS_1
"Karena kau … sudah bukan manusia normal lagi, Ian Kurozuki!"