
B-bukannya cukup jalan kaki saja? Rumahmu dekat lho dengan sekolah! Kenapa naik kendaraan umum!
Begitulah batin yang tercipta dengan sedikit emosi kesal. Namun, ekspresi wajah tampak mengiyakan saja apa yang dikatakan oleh perempuan itu. Perempuan bernama Sintya Bella tersebut.
Ian Kurozuki, sang lelaki yang menjadi murid pindahan dari Jepang itu terdiam. Tak ada kata lagi yang bisa diucapkannya. Hingga kesadaran tentang suatu hal menghampiri pikirannya.
Ya, meski itu bukan tentang bagaimana bisa ia keluar rumah tanpa mengetahui rumahnya di mana. Namun, ini masih berhubungan dengan hal itu.
"Tadi … aku berangkatnya gimana, ya? Aku tidak ingat rumah baruku," batin Ian mulai merasakan ketidaknyamanan.
Dirinya melirik sekilas ke arah Sintya, tetapi hawa tajam terpancarkan dari gadis itu.
"Hm?"
"A-ah! B-bukan apa-apa, bukan apa-apa!" Tawa kecil yang dibuat-buat dikeluarkan demi menutupi rasa takut.
A-aku harus turun di mana ini! Dia saja tidak turun di halte dekat jalan ke rumahnya!
.
.
"A-aku turun duluan, ya, Sintya."
"Ya."
Pintu bus tertutup, disusul suara mesin dan sedikit asap dari knalpotnya. Bus telah bergerak, Ian melambaikan tangannya dan melihat kepergian bus itu. Kini, dirinya menghela napas. Mengingat bahwa dirinya turun di halte yang lama.
Halte yang ada di dekat jalan menuju rumah asalnya.
"Haaah … payah sekali. Aku 'kan bukan Afian," batin Ian dengan kepasrahan yang tidak tahu harus diapakan.
"Apa aku harus … mengecek kondisi orang tuaku saja? Atau tidak?"
Hmmmmmmmmmmm.
Pikiran memikirkan pemikiran yang sebelumnya tak terpikirkan. Hanya berupa batin yang terucap begitu saja. Walaupun akhirnya tak ada hasil di sana.
"Aaah! Aku tidak tahu lagi!"
.
Eh? Apa ini? Kenapa … mataku mati rasa?
"A-aakh!"
Terjatuh dengan posisi duduk. Kedua betisnya menjadi penopang dari pahanya. Dengan satu tangan yang menutupi satu mata, rasa tak percaya kembali datang.
Lingkungan yang awalnya berisi jalanan aspal dan bangunan rumah di sekitarnya berubah. Tidak ada pohon atau bangunan. Tanah berupa aspal pun berubah menjadi pasir yang retak.
Langit biru nan cerah juga berganti. Menjadi merah menyala nan panas. Namun, sekujur tubuh malah merasakan hawa dingin yang mencekam, menusuk dan tak bisa dikatakan.
"A-apa … ini?"
__ADS_1
Detak jantung seketika bergemuruh. Membuat tangan lain tak kuasa untuk memegang dada. Hanya bisa menahan diri untuk tetap duduk dengan mendorong tanah pasir yang terasa panas.
Aaakh!
Rasa sakit perlahan bergejolak. Organ-organ dalam tubuh terasa berguncang. Dimulai dari jantung yang berdetak tanpa aturan dan lainnya ikut bergetar. Mengubah tujuan dari kehidupan menjadi kematian.
Detakan keras menjadi pengantar dari kelanjutan. Rasa basah, tetapi amis diterima oleh tangan. Mati rasa dari satu mata merah memberi hasil yang tak bisa diterima secara tenang. Teriakan karena kesengsaraan yang masih baru digemakan di tempat penyiksaan ini.
"Aaaaaaarrghhh!"
Cairan merah berbau amis yang menyengat. Memberikan rasa basah yang tak terelakkan. Cairan bernama darah itu keluar dari mata yang sedari tadi ditutupi tangan. Mata merah meneteskan darah merah, benar-benar menyakitkan!
.
.
"Dasar, Manusia pembunuh!"
.
.
Asap hitam nan gelap kembali berbunga, berkembang dan menyebar keluar dari punggungnya. Bersama dengan darah merah yang terus keluar tiada henti. Menetes dan membekas di tanah berpasir ini.
Rasa sakit yang sudah tidak perlu dijelaskan lagi. Semuanya tak tersamarkan meski asap hitam dari punggung sudah menjadi kabut. Menyelimuti dan menutupi diri yang sudah bermata darah.
Apa ini! Kenapa tiba-tiba seperti ini! Ini benar-benar sakit!
Ya, hanya itu kata-kata yang bisa diutarakan dalam batin. Menahan darah dari mata yang tak henti, bersama dengan asap tak jelas dari punggung. Entah itu asap maupun tidak, tetapi rasanya benar-benar tak bisa dijelaskan betapa sakitnya.
"Aaaaakhhgrrhh!"
.
.
Lukisan merah pembakar di langit telah sirna. Bersamaan dengan pijakan kaki berdasarkan warna coklat yang dihasilkan secara pointilis. Sirna dan pergi, lenyap juga tiada tak mungkin kembali begitu saja.
Dikarenakan warna hitam berupa gas pelebur pandangan telah menyatu dengan lingkupnya. Mengubah semua menjadi hitam dengan mengubah dirinya. Berpisah dan berpecah menjadi asap dan bayang.
Menutup langit dan tanah yang berwarna menjadi hitam tak bercahaya. Walaupun warna merah tetap ada di atas keramik gelap ini. Menggenangi kegelapan dan membuat pantulan diri yang tampak jelas.
Meskipun di setiap detiknya akan datang tetesan darah yang mengaburkan pantulan itu.
"Aah … apa ‥ yang kulakukan?"
Ada apa denganku? Kenapa aku bisa seperti ini?
Mata kiri ia buka dengan sedikit rasa tak mengenakan. Mata kanan tetap ia tutupi dengan tangannya dan tak dibuka sedikitpun. Namun, darah merah dengan bau amisnya yang menyengat tetap keluar. Menambah lingkup genangan darah yang ada tepat di depan pandangan satu matanya.
.
.
__ADS_1
"Kenapa, Nak …! Kenapa kau harus meninggalkan ibu!"
Eh?
"Sudah, Bu. Ikhlaskan saja …."
"Bagaimana ibu bisa ikhlas, Yah! Jasad anak kita saja tidak ada! Hanya tinggal barang-barangnya saja!"
Suara tangisan terdengar dari ibu tersebut. Tidak ada kata-kata yang bisa ia ucapkan. Hanya bisa menangis tersedu-sedu tanpa henti karena mengingat kematian anaknya.
Sang ayah hanya diam. Berusaha menahan air mata yang tak bisa ia sembunyikan di ujung matanya. Memandang bersama sang ibu kuburan dari sang anak dengan batu nisan bertulis: Afian Ika Pratama.
.
.
Keterkejutan dan ketidakpercayaan tercipta. Meskipun hanya berdasar pantulan dari genangan darah mata, gambaran itu terlihat jelas. Gambaran tentang ibu dan ayah yang menangisi kuburan sang anak.
Sedikit buram memang, juga terlihat bergetar seperti televisi yang buram. Namun kini, tidak ada gambaran lagi yang terlihat di genangan darahnya, kecuali wajahnya sendiri. Wajahnya saat ini yang menahan pedihnya air mata darah di kanan diri.
Sesenggukan tangis terdengar. Air bening keluar dari mata kiri, sedang kanan tetap menghasilkan merahnya darah mati.
"Ibu … Ayah …."
.
"Haaaaah …."
Lagi-lagi.
Bangun dan duduk, kemudian menoleh menuju cahaya di luar jendela. Sinar putih keemasan menyinari ruang kamar yang hampir sepenuhnya gelap. Berkedip sekali, dua kali, kemudian menghela napas dalam sunyi.
"Apa aku ketiduran setelah pulang? Kepalaku terasa pusing," gumam Ian dengan sedikit rasa penasaran dan bingung.
Akh!
Kedua tangan langsung memegangi kepala. Rasa sakit yang terasa menusuk-nusuk dirasakan tanpa jeda. Walaupun selepas detik waktu berlalu, rasa sakit itu juga sirna.
"Aaah …! Kepalaku …!"
Lebih baik aku tidur lagi saja!
.
Ya, begitulah yang terjadi. Hanya perlu menyesuaikan saja dengan hal-hal yang sudah digambarkan, maka kepingan akan terselesaikan. Kini, penglihatan masa lalu sudah diselesaikan. Sehingga mata dunia memilih melihat satu tokoh lainnya.
Satu tokoh yang kini duduk sendiri dalam ruang tamu tak berlampu. Sinarnya yang sengaja dimatikan dan memilih untuk mengandalkan lilin di hadapan. Tokoh yang diketahui seorang gadis itu duduk dengan tatapan tajam.
Mengarah pada lilin yang apinya tergerak karena udara berjalan. Mata ungu bercahaya, rambut putih dengan panjang setengah punggung, atau mungkin bisa disebut sebahu. Kulit putihnya yang tampak pucat seakan bersinar karena api dari lilin.
"Ian dan ‥ Afian." Kata-kata diucapkan oleh gadis berumur sekitar empat belas tahun itu.
Bibir atasnya sedikit ia usap dengan lidahnya. Kemudian, satu dialog kembali diucapkan secara lirih. Namun, dalam nada yang tajam nan dingin.
__ADS_1
"Apa kalian orang yang sama?"