
Tak tahu bagaimana menceritakannya, tetapi inilah kenyataannya. Ya, ini adalah cerita tentang bagaimana dirinya bisa seperti sekarang. Tidak tahu dan masih tidak bisa memahami apapun.
Waktu sebelum berlari-lari menuju halte sudah dijelaskan. Namun, masih belum ada penerangan di sana.
.
.
A-ada di mana ini?
Mata terperangah melihat sekeliling. Gersang dan hawa panas menjadi-jadi. Tanah yang retak dan banyaknya pasir menyelimuti. Langit putih kemerah-merahan dan tak ada awan di sana.
Hanya ada sinar matahari merah yang langsung membakar penglihatan meski baru sekilas memandang.
"Akh! Apa-apaan ini? Ada di mana aku!"
Teriakannya tak digubris siapapun. Tidak ada siapapun di sini. Hanya ada dirinya sendiri bersama kawasan tanpa nama ini.
Huh. Ini pasti ulah orang hitam itu.
Batin berkata dan helaan napas dikeluarkan. Pandangan kembali melihat semua yang ada. Mencoba untuk tidak menyaksikan secara sekilas. Tanah gersang bagai gurun dengan langit putih kemerah-merahan.
"Sepertinya … tidak ada apapun di si—"
"Khukhuuu!"
Keterkejutan ditunjukkan secara spontan dengan mata terbelalak. Terjatuh dan berhasil menghindar dari jari hitam berkuku tajam, itulah yang terjadi. Rasa takut dan tak bisa mengatur ketegangan terasa sangat menyengat.
"Khukhu … manusiaaaaa!" Panggilan menuju kematian diucapkan dengan penuh kengerian.
Makhluk hitam dengan tubuh kurus bagai kerangka. Taring tajam dengan kuku tangan panjang. Asap hitam mengelilingi makhluk dengan mata hitam pekat tersebut. Makhluk yang kini bersiap menyambar selepas berhenti jauh di belakang incarannya.
"A-apa itu!" Spontan terucap setelah memandang ke belakang. Membuat makhluk itu mengeluarkan suara awalan.
"Khuaa!" Makhluk itu menyambar bagai petir horizontal berwarna hitam.
Kembali terbelalak, tetapi tak tahu harus berbuat apa. Tangan langsung membentuk huruf x karena keadaan. Bersamaan dengan makhluk hitam yang seketika terpental karenanya.
Suara kesakitan dari makhluk hitam itu terdengar, sedangkan ketidakpercayaan melingkupi diri.
"A-apa yang terjadi? A-apa aku berhasil menahannya?"
"Khaaa!" Suara kengerian terdengar dari belakang. Membuat penglihatan spontan menoleh dan menatap bilah tajam dari kuku berdarah.
"Aaaaaaakkkhhh!"
Bilah tajam berupa kuku tangan bagai besi. Hitam, tetapi berselimutkan darah. Merah pekat dengan baunya yang menyengat. Benda itu berhasil mengenai satu mata merahnya.
Menyebabkan cairan merah kental keluar dari kerusakan pada mata merahnya. Cairan yang biasa disebut darah. Cairan yang kini menghasilkan hal lain dalam diri.
"Khukhukhu, matilah kau, Manusia!"
"Aaaaaaarrghhh!"
Kesalahpahaman. Mungkin, perkiraan yang terjadi sekarang adalah diambang kematian. Namun, itu tidak sepenuhnya terjadi. Makhluk hitam itu sudah menyerang. Mengarahkan kuku tajamnya pada target.
Meskipun, target tersebut berhasil membalikkan keadaan.
__ADS_1
Aku tidak mau mati!
Aku tidak tau lagi!
Ini! Benar-benar sakit!
Aku! Ingin pergi dari sini!
.
.
Warna hitam berkobar. Pekat dan bercahaya. Bagaikan asap yang terbakar. Warna hitam itu tidak berasal dari makhluk hitam bernama Kurai.
Ya, asal kehidupannya adalah dirinya, manusia bermata merah yang menjadi target dari Kurai. Manusia yang sudah diketahui siapa dirinya tanpa perlu diberitahukan lagi.
"Aaaaakhhgrrhh!" Kurai itu berteriak kesakitan. Asap hitam dengan aliran-aliran aneh yang menyengat menyelimuti tubuhnya.
Membuat semua organ dan sel dalam tubuhnya membeku dengan rasa panas yang membakar. Rasa panas yang ada di dalam dinginnya es. Semuanya menjadikan dirinya tak berdaya lagi.
Asap hitam dengan satu warna: hitam. Tidak ada warna lainnya. Namun, rasa sakit dalam kehitaman yang dalam itu sangatlah berwarna.
Aku! Tidak ingin! Mati! Aku ingin kembali!
.
.
Warna hitam berkobar. Mematikan para Kurai yang bermunculan selepas kematian satu Kurai. Bagai api, tetapi lebih menyerupai kabut dalam tsunami tornado.
.
"A-akh … sakit …."
Mataku terasa hilang sebelah!
Satu tangan menutupi satu mata. Bangkit dan mencoba untuk mengubah posisi tertelungkup. Akh! Begitulah suara kesakitan kecil yang dikeluarkan saat mendudukkan diri dan bersandar.
Masih dalam kondisi melihat kegelapan, satu mata mencoba dibuka dengan rasa kesakitan. Melihat sebuah ruangan minim cahaya dengan dindingnya yang berwarna biru gelap. Walaupun warna gelap adalah yang paling terlihat di matanya.
"A-apa itu?"
Penglihatan merasakan pandangan lain. Kegelapan perlahan sirna setelah cahaya terbit di mata. Hanya dengan sebelah penglihatan sebagai kompas, belenggu perlahan bangkit dan bergerak.
Menuju garis lurus penyalur cahaya di sana.
"Cahaya … keluar."
Rasa sakit pada mata seakan sirna dan terlupakan. Cahaya putih perlahan disentuh tangan yang meraih lemah. Pandangan pun menutup karena sinar yang menyilaukan. Lalu terbuka dengan keterkejutan yang tak terasa akan datang.
"Hei, Nak."
Eh?
Kepala menoleh ke belakang, diikuti tubuh yang refleks menurut. Seorang lelaki yang menyentuh pundaknya menjadi alasan dirinya berbalik pandangan. Lelaki berpakaian rapi bak orang kantoran itu tersenyum tipis.
"Kau sedang apa? Apa kau tidak bergegas ke sekolah? Sudah hampir jam tujuh, lho!"
__ADS_1
Eh?
Lelaki itu memiringkan kepalanya sedikit. "Kau baik-baik saja? Kau tidak dihipnotis 'kan? Kau melamun dan diam saja di sini."
"E-eh? B-benarkah?"
"Yah. Sebaiknya kau bergegas, Nak. Bapak duluan, ya! Bapak juga harus bergegas."
Lelaki itu pun pergi dengan langkah yang dipercepat. Bingung dan penasaran ditunjukkan jelas di wajah sembari memandang kepergian lelaki itu. Meskipun akhirnya gelengan kepala menjadi akhir untuk mengarsipkan hal tersebut.
"A-apa yang aku pikirkan! Aku harus cepat! Harap-harap masih bisa diterima jadi murid pindahan!" ucap dalam batin dengan kesadaran yang tak ingat akan masa lalu.
Langkah kaki dilakukan dengan tempo cepat. Dengan seragam sekolah yang seketika menjadi pakaiannya di masa kini, dirinya berlari. Menuju halte bus yang terlihat jelas satu bus di sana, siap untuk bergerak pergi.
Semoga sempat.
"Tunggu, Pak! Jangan jalan dulu!"
.
.
Ya, itulah kisahnya. Entah bagaimana rasa sakit di mata bisa terlupakan begitu saja. Hanya karena cahaya dan tokoh figuran tak berkepentingan.
.
"Hm? Ada apa, Ian?"
"A-ah … nandemonai. Aku hanya mengikutimu saja, hehe."
"Oh."
Singkat, padat dan sangat membekukan suasana. Langkah kaki yang tak cepat dan tak lambat. Masih dalam kategori normal. Dua orang saling berjalan bersama, meski tidak saling berdampingan.
Lelaki berambut hitam dengan postur tubuh tinggi. Masih terbilang normal jika disamakan dengan orang dulu. Lelaki itu mengenakan seragam sekolah yang berbeda dengan perempuan di depan kirinya.
Perempuan berambut hitam sebahu yang lebih pendek dari lelaki berambut hitam. Walaupun keduanya sama-sama berambut panjang sebahu, terdapat perbedaan jelas antara keduanya selain gender dan seragam sekolah menengah pertama.
"Ngomong-ngomong, matamu unik, ya, seperti orang yang terkena penyakit albino."
He?
Rasa heran dan tak bisa berkata-kata ditunjukkan oleh sang lelaki. Ya, mata merah dan kulitnya yang putih pucat itu menjadi sebuah fakta. Walaupun kenyataannya tidak demikian, tetapi tetap saja.
"Sudah, ah!" pungkas perempuan itu berhenti berjalan tepat di halte bus.
Kakinya melangkah menaiki bus kategori sedang itu. Membiarkan rasa heran tertinggal di pikiran sang lelaki.
"H-hei!" Lelaki itu berteriak, meskipun tidak terlalu keras.
Dirinya mengikuti langkah kaki perempuan itu. Memasuki bus dan duduk di sebelah perempuan itu duduk. Hingga kemudian bus bergerak, obrolan kembali dilanjutkan.
"Kau mau ke mana, Sintya?"
"Pulang, lah!"
Eh?
__ADS_1