
Afian Ika Pratama. Dulunya, ia adalah seorang pelajar laki-laki biasa. Rambut pendek dan mata normal, tidak ada kelainan apapun darinya. Meski begitu, kejadian penuh ketidaknyamanan menjadi roda takdir baginya.
Dimulai dari kepayahannya sewaktu formalitas. Meski sebenarnya ia hanya tidak kuat menghadapi sesak napas dadakan itu. Yah, itu juga masuk dalam kepayahan.
Kepayahan karena selama ini tak berpikir kemungkinan terjadinya hal itu.
"Kenapa … aku, bisa seperti ini?"
Sebenarnya, apa yang terjadi sih!
Hanya ucapan suara dan suara hampa yang dikeluarkan. Ekspresi wajah masih tetap pada perasaan. Terkejut dan tak tahu harus mengatakan apa selain pertanyaan.
Afian Ika Pratama. Sekarang, dirinya telah berubah. Hanya karena kejadian angkutan umum yang sama sekali belum selesai dijelaskan. Wujud baru dan mungkin, identitas baru.
Dirinya yang normal telah tiada. Berganti dengan tubuh baru dengan ciri khasnya yang tak lain adalah mata merah. Rambut panjang berwarna hitam? Tentu saja itu masih normal.
Normal jika dikatakan ia adalah perempuan. Namun sayangnya, ia itu laki-laki dan jarang ada laki-laki berambut panjang sepundak.
"Mata merah …. Kenapa ini?" Afian kembali mempertanyakan kondisinya.
Ruangan bernuansa kamar laki-laki menjadi tempat dirinya berada. Duduk di atas ranjang dengan mata yang memandang pantulan diri di cermin.
Ia sudah tak tahu harus apa lagi.
"Hoi, Ian!"
Eh? Siapa?
Pandangan berganti. Cermin sepanjang dua meter dibiarkan memandangi, seperti diri menoleh ke arah lain. Melihat dan mencoba mencari asal suara familiar itu.
"Hoi! Lihat cerminnya, bego!"
Panah imajinasi berhasil menancap di dada, membuat detak jantung bersuara keras sejenak. Dengan segera, pandangan langsung kembali pada cermin. Membelalakkan mata, kejadian setelahnya lah yang menjadikannya seperti itu.
"K-ka-kau!" Afian berkata dengan nada tinggi, keterkejutan masih menyelimuti ucapannya.
Cermin yang seharusnya menampakkan bayangan diri seketika menggelap. Sosok hitam keluar dari sana, membentuk siluet sosok lelaki familiar. Udara hitam menyelimuti sosok hitam itu.
"Hoi, Iaaan! Tampaknya kau baik-baik saja, ya?" tanya sosok hitam itu dengan senyuman seringai di wajahnya yang gelap.
"K-kau! Apa yang kau lakukan padaku! Kenapa aku jadi seperti mu!" Afian bertanya dengan emosi yang meluap-luap.
Sosok hitam itu hanya menggaruk-garuk kepalanya. Wujudnya semakin terlihat jelas. Seperti sosok siluet laki-laki dengan postur remaja kelas dua belas. Rambut panjang dan mata merah yang menjadi pembeda.
Sosok hitam itu tentu saja adalah lelaki bermata merah, sang Itami No Chikara yang membuat Afian seperti sekarang.
Kini, Afian lah yang memiliki wujud manusia. Sedang lelaki bermata merah itu menjadi siluet berwarna hitam. Tentu semua tubuhnya menjadi hitam, terkecuali matanya yang tetap merah.
"Yah, sepertinya aku bisa pergi."
Hei!
.
__ADS_1
Malam, inilah settingnya. Lukisan angkasa berwarna gelap ini terlihat sama. Sekumpulan kapas hitam tampak di salah satu sisi, sementara lampu kelip galaksi menyinari sisi lainnya.
Tidak ada kepastian dari settingnya. Kepentingan hanya berada pada sang tokoh utama.
Kini, berpusat pada salah satu bangunan yang di sana terdapat dirinya. Waktu penjelasan sudah berlalu sebelumnya. Masa pembicaraan Afian dengan sosok hitam bermata merah itu telah sampai pada intinya.
"Yah, seperti yang ku jelaskan barusan. Kau bukan Afian Ika Pratama sekarang. Dirimu yang dulu itu … sudah mati."
Detakan menciptakan rasa keterkejutan. Sosok hitam bermata merah itu kembali mengulang perkataannya. Meski begitu, Afian hanya bergeming tanpa jawaban. Wajahnya yang sudah berganti itu telah ditutupi bayangan suram.
"Huh?" Rasa tanya ditunjukkan sosok hitam. Afian tetap dalam rasa kesuraman.
"Jadi … aku, sudah mati, ya?"
"Iya …! Kenapa ekspresi mu seperti itu?"
Afian berhenti menunduk. Dirinya mulai menatap sosok hitam. Meski ia sempat mengusap sejenak netra merah miliknya.
"Em,"-Afian menggeleng-"lupakan saja."
Lagipula, ini sudah takdir-Nya.
"Huh? Terserahlah." Ucapan pasrah diucapkan oleh sosok hitam.
Mendengar perkataan Afian yang tampak memendam semua rasa, membuat sosok hitam merasa tak nyaman. Ingin sekali rasanya mengatakan sesuatu, tetapi sayangnya itu tak sesuai dengan jati dirinya.
Sosok hitam itu berubah menjadi kabut, bergerak mengelilingi ruangan. Kemudian kembali menginjakkan kaki di sebelah Afian yang kini membaringkan diri.
"Ada apa? Kau tidak senang, ya?"
"Biarkan aku sendiri. Tolonglah …!" pinta Afian sembari menyembunyikan dirinya dengan selimut.
Bergeming tanpa tahu akan jawaban, sosok hitam itu mulai pergi. Meninggalkan satu kalimat sebelum berubah menjadi kabut dan hilang.
"Lakukanlah apa yang seharusnya kau lakukan. Ini adalah dunia tempatmu, seharusnya kau tau … di mana kau sekarang."
.
Settingnya dibiarkan berlalu. Mengalir bagaikan air, tetapi tak terang seperti cahaya. Kegelapan, itulah rasanya. Lukisan angkasa yang menyeimbangkan antara awan dan bintang. Sang tokoh utama hanya bisa diam.
Tak tahu akan apa yang harus dilakukannya sekarang, kecuali menganggap semuanya tidak ada.
.
.
"Cepat belajar! Disuruh belajar susah banget! Pikirannya main terus! Ayah pukul kalau tidak mau belajar!"
Begitulah, kata-kata keras yang masih belum memasuki kekasaran. Seorang ayah tampak memarahi anak laki-laki nya yang masih berumur tujuh tahun. Meski begitu, raut wajah sang anak terlihat tidak wajar.
Antara takut dan tidak terima dengan perlakuan sang ayah, kedua rasa itu saling bercampur dalam ekspresinya.
"Ini bantuin oh!" Sang anak berteriak keras, tak kalah kerasnya dengan sang ayah.
__ADS_1
Menciptakan satu tamparan keras pada meja belajar. "Yang bener minta tolongnya!" tegas sang ayah sudah dipenuhi amarah.
Kesunyian terjadi di ruang kamar lainnya. Tepatnya, di sebelah kamar tempat sang anak dan ayah itu.
"Kenapa … kenapa aku yang jadi takut sekarang! Padahal bukan aku yang salah!" batin seorang remaja lelaki yang tengah gemetar ketakutan.
.
.
Apa ini? Ada di mana aku?
"Hooi! Kau yang di sanaaa!"
Eh?
"Ya! Kemarilah! Robot babu!"
Suara teriakkan melolong bagai serigala. Bersamaan dengan ruang hampa putih yang menjadi serpihan kaca.
.
.
"Eh, Fian."
"Huh?"
"Kau sudah selesai tugasnya 'kan? Kasih ke aku, cepat!"
Detak jantung serasa ingin berhenti, saliva hangat ditelan dengan terpaksa.
"Cepat kasih, Babu!"
.
.
"Aaaaaaarrghhh! Kenapa-kenapa kenapa-kenapa!"
"Kenapa aku harus merasakan rasa sakit iniiii!"
Sosok laki-laki, latar berupa tanah gersang. Terdapat sosok lain selain sang lelaki, tetapi sosok itu terbaring bersama darah pada diri. Membuat lolongan penyesalan terus keluar dari mulut sang lelaki.
"Yi … an. To-long … terima, rasa sakit itu."
.
"Huh!" Mata terbuka, mimpi acak telah tiada. Meski suara lain mulai terdengar.
"Berita terbaru. Angkutan umum tiba-tiba dilahap si jago merah. Belum diketahui penyebab pastinya, tetapi identitas korbannya telah diketahui secara pasti.
Ada dua korban, satu sang sopir dan satunya murid remaja bernama Afian Ika Pratama."
__ADS_1
Inti kehidupan menghasilkan gejolak. Pendengaran merangsang penglihatan dan pikiran untuk beranjak. Pergi meninggalkan ruangan bernama kamar dan memandang ruangan lain.
"Huh? Sudah sadar, ya?"