Itami No Chikara

Itami No Chikara
Mimpi Di Dalam Mimpi


__ADS_3

Keheningan, inilah yang terjadi. Tidak ada kata-kata. Tidak ada perubahan, hanya ada kesenyapan yang sudah menjadi. Dua Kurai masih berada di sisi, begitu juga dengan sosok hitam bermata merah yang tetap di sini.


Eh?


"Aaah! Ayo kita pergi saja!"


"Ya! Dia ini kebanyakan mimpi!"


"H-hei! Jangan pergi kau!" Kalimat perintah bernada tinggi dikeluarkan, menciptakan mata hitam Kurai yang melebar.


Kaku, tak bergerak dan menghasilkan ketidakpercayaan. Dua Kurai itu langsung terdiam. Tak bergerak dan tidak menghasilkan suara. Semua anggota tubuh mereka yang gelap telah berhenti menghasilkan gerakan.


Bahkan, ekor terbang yang menjadi kaki bagi kedua Kurai itu juga tidak menghasilkan gerakan.


"A-apa—"


"Wleee!"


"Wleeee!"


Suara aneh yang menyeramkan langsung diutarakan oleh dua Kurai itu. Keduanya langsung menunjukkan wajah pencipta kesuraman. Menciptakan hasil yang benar-benar berlebihan.


Tidak hanya terbelalak, sang tokoh utama ini sudah tidak bisa berekspresi secara baik. Wajahnya seketika pucat, netranya terbuka lebar, tubuhnya gemetaran. Perlahan-lahan, dirinya berjalan mundur hingga terduduk di lantai.


Tawa kepuasan dikeluarkan oleh dua Kurai. Emosi kejahatan dan ekspresi mengejek menciptakan ketakutan bagi yang melihatnya. Terkecuali bagi sosok hitam bermata merah yang malah fokus memandang Ian, sang tokoh utama.


"Hoi! Sadarlah!" Sosok hitam itu langsung memegang kedua pundak Ian, tetapi dirinya langsung melepaskan setelah merasakan panas.


Rasa panas melebihi tangan manusia yang menyentuh logam panas.


"Hei! Apa yang kalian berdua lakukan!" tanya sosok hitam dengan nada tinggi dan mencekam.


Tekanan gravitasi seakan bertambah, membuat getaran yang hampir menyamai pergeseran lempeng. Namun, kedua sosok Kurai itu terlihat tidak terpengaruh. Ekspresi mengejek semakin ditunjukkan oleh keduanya.


"Haha! Hanya membuatnya sadar, bahwa ekspretasi tinggi itu tidak berguna!"


"Yah… hahaha! Membuatnya takut juga … hihi, termasuk dalam hal itu!"


"Roh kalian tidak punya akal kah! Kalau dia ketakutan seperti itu, maka—"


Ketidakmauan terjadi. Ian Kurozuki atau mungkin bisa dipanggil Ian. Nama yang masih melekat dengan nama aslinya, Afian Ika Pratama.


Kini, dirinya yang sudah tenggelam dalam ketakutan mulai merasakan kekuatan. Kekuatan dalam rasa ketidaknyamanannya itu.


"Aaaaaaarrghhh!"


Teriakkan dikeluarkan oleh Ian. Sosok hitam seketika terpojokkan pada dinding, menjauh dari tempat Ian terduduk.


"Tidaaak!"


"Aaakh!"


Dua Kurai yang sebelumnya tertawa kini tiada. Lenyap seketika dikarenakan bayangan hitam yang menelan keduanya. Ya, bayangan hitam yang keluar dari tubuh Ian adalah penyebabnya.


Bayangan hitam yang kini mulai mendekatkan diri pada sosok hitam bermata merah.


"Sialan!" batin sosok hitam tidak bisa menghindari bayangan hitam yang mulai membentuk tangan berkuku tajam.


Meskipun akhirnya, bayangan hitam itu seketika lenyap bagai kaca yang pecah. Memberi kesan tidak percaya bagi sosok hitam. Pandangan pun diarahkan pada Ian yang kehilangan kesadarannya dalam mata terbuka.


"Sial! Aku harus melakukan sesuatu sebelum terlambat!"


.

__ADS_1


"Huh."


Apa ini? Ada di mana aku?


Kegelapan, kosong, tidak ada siapapun. Tempat gelap yang masih bisa dilihat mata. Entah dari mana asal cahayanya. Diri tetap nampak dalam kehitaman yang hampa ini.


"H-hei, di-di mana aku?"


Eh? Bukankah itu suaraku?


Pandangan mencari asal suara yang sama. Menoleh kanan dan kiri hingga berakhir di belakang. Layar lebar berukuran besar dengan garis tepi berwarna biru, sementara warna-warna lain menghiasi tengahnya.


Layar hologram yang memancarkan video, inilah awalnya. Awal dari ketidakpercayaan dari diri ini. Di mulai dari kejadian sebelum berlari-lari menuju bus dalam wujud murid pindahan.


.


.


"A-apa ini? Kenapa semuanya hitam? Hei!" Ian berteriak kepada sosok hitam bermata merah. Namun, tidak ada jawaban sama sekali.


Sosok hitam itu menundukkan kepalanya. Wajahnya tidak terlihat. Tubuhnya mulai diselimuti kegelapan yang menyinari diri. Latar hitam kehampaan tidak membuat dirinya yang hitam lenyap.


"Tch."


Eh? Ian membatin dengan rasa ketidaknyamanan.


"Kau … harus mengerti, bagaimana rasanya sakit, Ian!" tegas sosok hitam dengan nada tinggi dan tatapan mata yang diberikan.


Netra merah bagai darah menciptakan detakan jantung yang tidak beraturan bagi Ian. Mata merah dari sosok hitam itu membuat detak jantung Ian berubah fungsi. Dari pemberi kehidupan seketika berubah menjadi pemberi kematian.


"Aaaaaaarrghhh!"


Detak jantung semakin menyaring bunyi. Mendatangkan satu pedang yang tiba-tiba menusuk punggung. Rantai berdarah ikut muncul di kedua sisi. Mengikat tangan dan membuat diri Ian terduduk.


Darah segar keluar dari mulut Ian setelah tidak bisa lagi ditahan. Rasa sakit tak bisa diungkapkan lagi selain dengan teriakkan. Pedang hitam yang menusuk punggungnya sudah tidak bisa dihindari. Bertambah dan terus menambah rasa sakit.


Bilah pertama menusuk dari belakang dengan tujuan organ dalam perut. Bilah kedua menusuk di area yang sama, kemudian bilah-bilah lainnya datang tak beraturan. Semua menancap di titik yang saling berdekatan.


Menghasilkan bilah terakhir mengarah pada paru-paru dan jantung.


"Aaaaaaarrghhh!"


.


.


A-apa … ini?


Ian membelalakkan matanya, dirinya mulai berjalan mundur. Rasa aneh menyelimuti dirinya selepas melihat apa yang ditampilkan layar hologram.


Pandangan dialihkan, tetapi layar hologram lain sudah ada di sana. Rekaman lain terpaksa dilihat oleh Ian. Rekaman yang memunculkan ketidakpercayaan.


"Khaaaa …!"


Keterkejutan menjadi-jadi. Ian langsung membalikkan diri dan berlari. Menghancurkan layar hologram yang telah mati dan menjauh dari layar hologram lain.


Menjauhi layar hologram yang kini memunculkan tangan hitam berduri.


.


"Kau tidak akan bisa lari …!"


.

__ADS_1


.


"Kau bukanlah siapa-siapa!"


.


.


"Hahaha!"


.


.


"Jangan hajar dia, kasian …! Hahaha! Babu!"


.


.


"Idih …! Sok asik! Diem aja deh lu!"


.


"Kalian semua diaaaaaa … am."


Kesadaran lenyap secara perlahan. Rasa tertusuk dirasakan sebelumnya. Menciptakan diri yang terjatuh pada kegelapan.


Ian tertelungkup. Matanya mulai terpejam. Pikirannya sudah tidak bisa berbicara. Hanya bisa merasakan kegelapan yang menjadi tempat jatuhnya, juga tempat di mana ia berada.


.


Aku tak paham.


Aku tak tau.


Aku tak ingin mengerti.


Aku tidak ingin peduli.


Semuanya tetap sama.


Selalu saja.


Semuanya memuakkan.


Selalu saja.


Sudahlah.


.


Mata terbuka, rasa percaya terkumpulkan. Satu garis cahaya dari jendela menjadi sinar pembangkit. Ian Kurozuki, dirinya kini menyadari bahwa ia baru benar-benar bangun sekarang.


Pandangannya menatap dirinya sendiri. Cermin kaca menunjukkan takdirnya. Dirinya yang bukanlah Afian Ika Pratama. Dirinya yang kini hanya bisa menghela napas.


Sedikit rasa sakit menyelimuti, tetapi semua dianggap tak acuh. Dialihkan dan dijadikan beban untuk otak, tubuh yang terasa tidak nyaman sudah tidak menjadi masalah.


"Terbangun dalam mimpi, sangat gila, sih …."-menoleh ke samping-"hari minggu, baguslah …! Lanjutkan saja tidurnya!"


.


.

__ADS_1


Ya, setelah itu, mimpi kehilangan kesadaran di sekolah mendatangi. Dengan begini, kisah sekilas masa lalu sudah selesai.


__ADS_2