Izinkan Aku Mencintaimu, Nona!

Izinkan Aku Mencintaimu, Nona!
Chapter 1. Awal mula


__ADS_3

Menit-menit yang aneh dan tak biasa hadir malam itu. Pria polos itu tak menyadari kalau malam yang menciptakan garis senyumnya, akan menjadi sebuah awal dari genre tragedi hidupnya. Maru pulang dari magangnya sebagai mahasiswa semester akhir, jurusan kedokterannya di Universitas Mataram. Pukul 22.00 Maru bersama wajah lesunya, tas kuliah, dan pakaian kusut akhir pekan menjadi awal plot masalah malam itu. Di rumah kontrakannya, suara gadis menangis memanggil namanya. Limi, asal suara itu. Suara yang sering merengek padanya. Wajah tampan Maru menjelma menjadi awan hitam melihat adiknya yang terduduk lemah di lantai depan pintu.


"Mi, kenapa tidak menelponku? Meningitis mu kumat lagi?"


"Iya, tadi juga ada Kak Han menelpon. Aku memberitahu kalau kakak belum pulang."


'Han? Eh, baiklah ... biar kakak telepon.


Mendengar nama Han, Maru kehilangan setengah pikirannya. Han, sahabat Maru dari kecil, adalah sosok yang dicintai Maru dalam diam. Diam yang mengenaskan. Maru setiap hari harus mengumpulkan tenaga batin menyimpan perasaannya pada Han. Bahkan Limi adiknya, tak menyadari itu.


"Halo, Han ... ini aku. Apa aku bisa minta bantuanmu?" tangan Maru bergetar seakan menelpon seorang ibu negara.


"Kenapa panik begitu, Maru. Aku sedang ada di rumah. Tadi aku sempat menelponmu. Apa penyakitnya kumat lagi?"


"Ya, benar. Aku ingin meminjam kendaraan pribadi mu untuk mengantarnya ke rumah sakit."


"Tapi aku juga dalam masalah, Maru. Aku ... aku disekap."


"Apa maksudmu?"


"Apa perlu ada pengulangan? Aku disekap Maru. Di rumahku sendiri. Ibu tidak ada di rumah. Aku masuk rumah dan aku dipukul dari belakang. Saat bangun, aku sudah diikat. Aahhh!"


"Han!"


Suara Han mendadak lenyap. Seseorang memutuskan sambungan ponsel Han. Maru kian panik. Wajahnya temaram tak menentu. Ia berubah sudut pandang. Adiknya seolah tak ada disitu yang sedari tadi menarik pelan lengan bajunya.

__ADS_1


"Limi, kau tunggu di sini. Han, dia ..."


"Kakak ini bicara apa? Aku merasa sakit sekali, Kak. Kakak hubungi polisi saja. Apa kakak sudah gila meninggalkan aku tiba-tiba?" Limi memotong laju ucapan Maru dan kalimatnya membuat Maru semakin bingung dan menggigil.


"Tidak, kau pasti bisa bertahan sementara waktu, Limi. Tunggulah disini. Han dalam bahaya."


Sebetulnya Maru sedang tidak tahu harus mengambil keputusan apa. Maru berkaca-kaca penglihatannya, bibirnya mengkerut, dan pandangannya diarahkan tak menentu. Limi berusaha menahan kepergian Maru namun lelaki 25 tahun itu tetap pada keputusan malangnya.


"Setelah kakak menyelamatkan Han, pasti kakak akan segera kembali," Maru benar-benar kehilangan pikiran mulusnya. Situasi yang tak disangka-sangka akan menghimpitnya. Maru pun beranjak. Membuka pintu tanpa kalimat kepedulian. Limi menahan isak antara sabar dan tidak percaya. Di sisi lain, sebenarnya Limi berharap Maru membawanya dulu ke rumah sakit. Namun rasa sayang Maru terhadap Han, melunturkan itu. Darah, darah, dan darah yang mengalir dalam penglihatan pertama Maru. Bibir Maru bergetar. Jemarinya menutupi setengah wajahnya. Hal itu dilakukan spontan karena Maru melihat mayat ibu Han terkapar di lantai dekat kursi kayu kumuh, tangannya terikat, dan darah itu mengalir dari sela perut kanannya. Tak ada pilihan lain selain menelpon Han, yang terlintas di pikiran panik Maru. Namun ponselnya lebih dulu bergetar. Pesan masuk dari Limi.


"Jangan dulu, Limi," Maru menyuarakan lirihan yang mengindikasikan kekosongan batin. Tak ada yang bisa mengisi lubang hatinya kecuali Han. Limi sudah tak ada dalam kepeduliannya. Memberitahukan Maru dalam kondisi seperti sekarang ini, seperti memberitahu lalat kalau bunga lebih manis daripada sampah. Pria polos itu terus mengikuti kata hatinya yang tak jelas. Pesan adiknya ia selipkan. Ia melanjutkan menelepon Han. Tanpa disadari udara dan waktu, CCTV mini tertempel di sudut ruangan rumah Han. Tak terdeteksi Maru. Bagaimana mungkin pikiran acak-acakan bisa menganalisis situasi dengan jernih?


"Han, ibumu. Kau ada dimana?"


"Ya, ibumu. Bukankah kau mengatakan sedang disekap? Mengapa kau tidak berada di rumah? Ibumu, Han."


Han tak menggubris pengulangan kata kunci itu. Han memang memperlihatkan keanehan tapi Maru seolah tak mengindahkannya.


"Aku tak mengerti apa yang terjadi. Aku hanya berharap Han baik-baik saja," Maru bergumam sendirian. Matanya bolak-balik memandangi tubuh ibu, Han.


"Mengapa tak ada senjata atau semacamnya yang menjadi penyebab ibu Han terluka?" Maru mendekati tubuh ibu Han. Maru terduduk setengah badan di lantai. Jarinya bergetar menutupi bibir. Hembuskan nafasnya tak beraturan. Maru melotot memandangi darah yang begitu lancarnya berpindahnya tempat. Ponsel Maru kembali bergetar. Ia bangkit dan kepalanya melihat ke arah belakang karena sontak, merasa ada yang memperhatikan. Tak ada yang lebih berbahaya dari CCTV mini itu. Maru benar-benar tak menyadarinya. Maru menatap lagi ke ke belakang untuk kedua kalinya dan duk! Seseorang memukul tengkuknya menggunakan tongkat baseball. Seketika Maru kehilangan dirinya. Setengah jam lamanya sampai sosok itu bersuara.


"Apa yang harus kita lakukan lagi?" lelaki bertopeng yang memukul Maru tadi, bertanya pada seorang di kejauhan.


Lelaki bertopeng tadi mengambil CCTV mini yang dipasangnya di sudut tembok. Memasukkannya ke balik jaket hitamnya. Sosok lain hadir. Menyentuh pundak lelaki bertopeng itu dan berkata, "Ini cukup."

__ADS_1


"Apa kita telepon polisi?"


"Jangan dulu. Biarkan dia ..."


"Apa aku tak salah?" Maru mendadak tersadar dan memotong pembicaraan mereka. Namun raganya masih belum mampu bangkit. Tatapannya masih sayu. Informasi di kepalanya hanya menangkap, kalau dua orang itu ada lelaki dan perempuan. Sama-sama menggunakan topeng.


"Kau akan jadi batu loncatan kami. Terimakasih karena sudah hadir dengan polosnya. Aku akan memberimu selamat, karena sebentar lagi hidupmu akan berakhir di rumah besi itu," perempuan itu mengambil ponsel Maru dengan paksa.


Mereka berdua pun beranjak keluar ruangan. Mata sayu Maru masih menatap punggung perempuan yang berbicara menyakitkan padanya tadi.


"Apa itu kau, Han? Ah, tidak mungkin. Kurasa mereka menjebakku Han dan menggunakan ponselnya. Tapi, suara itu ... suara yang persis seperti suara Han. Bagaimana mungkin ia membunuh ibunya sendiri? Sahabat masa kecilku itu, benar-benar sosok yang baik dan polos seperti aku, kan? Pasti ada yang salah," Maru bergumam kecil dan menjadi semakin pasrah saat suara mobil polisi di luar, terdengar jelas hingga ke gendang telinga cicak sekalipun. Polisi masuk dan jelaslah tubuh Maru dan jasad ibu Han yang terpampang pertama kali.


"Maru?" seorang gadis menyebut nama Maru dan muncul dari kerumunan polisi yang memeriksa keadaan. "Kau, apa yang kau lakukan pada ibuku?"


"Han? Kau ternyata masih baik-baik saja," ujar Maru yang masih sempat-sempatnya bersikap polos. Padahal kalimat Han tadi adalah sebuah siratan kebencian. Han menyalahkan Maru atas kematian ibunya.


"Bukankah kau mengatakan kalau kau disekap, Han? Apa kau kabur dari mereka saat aku berusaha datang kemari? Kau tak melihat pembunuhan ibumu?" Maru berujar tak menentu, membuatku Han bergejolak. Maru pun bangkit sambil mengenai tengkuknya.


"Apa maksudmu? Aku tak pernah kabur dari apapun, Maru."


Kalimat Han menciptakan kebingungan dan misteri yang semakin dalam di pikiran Maru. Entah apa yang sebenarnya terjadi.


"Tuan, Anda harus ikut kami ke kantor polisi dan akan dimintai keterangan tentang itu," salah seorang polisi menunjuk tangan kanan Maru yang tanpa ia sadari, memegang pisau dapur yang berkarat namun masih tajam.


"Sejak kapan?"

__ADS_1


__ADS_2