
"Jangan bercanda! Kita baru bertemu mana mungkin kamu bisa mencintaiku dengan semudah itu," Yuri terkekeh mendengar ucapan yang dari mulut Maru.
"Apa kau tidak percaya, Yuri?"
Yuri hanya mengedikkan bahunya, lalu Yuri pergi meninggalkan Maru seorang diri, akan tetapi Maru tidak akan pernah mengurungkan niatnya untuk mendekati Yuri. Karena dia ingin membalaskan dendam sama Han.
'Kita lihat saja, Yuri. Sampai kapan kau akan menolak cintaku…,' batin Madu dalam hati.
Maru pergi meninggalkan rumah Yuri, ia memang tinggal di sebuah apartemen yang tidak tahu dari rumah Yuri. Karena Maru ingin memantau Han lebih dekat, bahkan Maru sudah menyuruh Gui untuk menaruh cctv di sekitar rumah Tuan Troy.
***
Yuri sampai di rumah dan tak sengaja berpapasan dengan ibu tirinya yang tak lain adalah Han. Han sedari tadi menunggu kepulangan Yuri. Karena dia ingin bertanya tentang hubungannya dengan Madu sahabatnya itu.
"Dari mana saja kamu? Anak gadis jam segini baru pulang," Han menghentikan langkah Yuri.
"Memangnya penting? Lagian mau pulang jam berapa pun itu terserah aku, kenapa kamu yang ngatur-ngatur?" kata Yuri dengan datar.
"Bukan begitu, Ibu hanya khawatir saja sama kamu… Bukankakamu…,"
Yuri memutar bola mata malasnya, lalu ia pergi meninggalkan Han sendiri. Sebab, Yuri sudah muak melihat wajah ibu tirinya yang sok polos dan baik itu. Jika Yuri tidak menyayangi Ayahnya, sudah dari dulu Yuri mengusir Han dari rumahnya.
'Ck, andai saja Ayahku tidak mencintaimu. Sudah aku pastikan kau hengkang dari rumahku,' batin Yuri dalam hati.
Sedangkan Han, yang sedang khawatir serta panik karena Maru sudah kembali dan ia pastikan jika Maru akan membalas dendam karena dirinya sudah menjebak Maru waktu itu. Dari atas Yuri melihat tingkah Han yang begitu mencurigakan akan tetapi, ia bakalan mencari informasi tentang apa yang sebenarnya terjadi.
***
Di sisi lain, Maru yang baru saja sampai di apartemen miliknya. Maru melihat sahabatnya yang sedang sibuk dengan laptopnya.
"Sudah pulang kau?" tanya Giu ketika melihat Maru.
"Hem…,"
"Bagaimana? Apa kau sudah bertemu dengan wanita pujaanmu?" Giu mulai meledek sahabatnya itu.
__ADS_1
"Tentu saja, dan kau tahu bagaimana reaksi Han ketika melihat ku?"
"Memangnya, seperti apa?" tanya Giu.
"Dia panik ketika aku mengatakan sesuatu, dan hal itu membuat aku senang…," Maru tersenyum smirk saat mengingat betapa ketakutannya Han dengan dirinya.
Giu hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya yang sekarang sangat berbeda dari yang dulu. Bahkan, Maru kini menjadi pria yang dingin dan datar ketika berhadapan dengan seorang wanita. Akan tetapi, Giu sangat yakin jika Maru akan berhasil untuk membalaskan dendamnya.
"Ingat, bro! Jangan pernah bermain-main dengan hati! Jika kau tidak ingin terperangkap ke dalamnya…," Giu mengingatkan Madu untuk tetap menjaga hatinya.
"Kau tenang saja, aku hanya ingin memanfaatkan Yuri. Agar aku bisa membalas perbuatan Han kepada ku dulu…," jawab Maru.
"Baguslah, aku tidak ingin kamu akan menyesal nantinya. Dan aku lihat kalau Yuri itu gadis yang baik dan polos,"
Maru hanya terdiam, dia memang kasihan sama Yuri karena akan dijadikan jembatan untuk menjebak Han. Dan Maru juga sudah memikirkan hal itu dengan matang, Maru juga tidak akan memakai hati ketika sedang bersandiwara.
"Yang terpenting sekarang, aku bisa balas dendam dengan Han. Karena gara-gara dia semua impianku jadi hilang…,"
"Sabar, bro. Aku yakin semuanya akan kembali seperti dulu. Kita tinggal buat rencana yang begitu dahsyat setelah itu kita kirim ke Han," kata Giu.
Memang mereka hanya berdua, dan kamarnya juga ada dua kamar. Apartemen disitu sangat murah dan Maru memang sengaja menyewanya agar rencananya untuk membongkar siapa Han sebenarnya.
***
Pagi harinya, seperti biasa Yuri bangun terlebih dahulu. Karena hari ini ia ada kuliah pagi. Dan setelah bangun dengan cepat Yuri membersihkan dirinya. 20 menit Yuri sudah selesai mandi.
"Kenapa aku masih kepikiran tentang perkataan, Maru?"gerutu Yuri.
Karena tidak ingin mengingat-ingat tentang Maru lagi, Yuri memutuskan untuk keluar kamar dan menuju ke ruang makan. Seperti biasa Yuri menyala Ayahnya dan berpura-pura menyukai ibu tirinya yang tak lain adalah Han.
"Morning, Ayah…," Yuri mencium pipi Tuan Troy.
"Morning, girl… Kamu ada kuliah pagi?" tanya Tuan Troy.
Yuri mengangguk, "iya Ayah… Makanya aku bangun pagi…,"
__ADS_1
"Ini sarapanmu, sayang…," Han menyela pembicaraan antara Yuri dan Tuan Troy.
"Terima kasih, Ibu…," ucap Yuri yang ingin rasanya muntah karena memanggil Han dengan sebutan tersebut.
"Sama-sama, sayang…," kata Han tersenyum manis kepada Yuri.
Tuan Troy sangat bahagia karena istrinya begitu menyayangi Yuri, ia tidak salah pilih karena Han memang wanita yang begitu baik dan sederhana. Dan mereka pun memulai sarapan bersama, Yuri melirik ke arah Han yang sekarang sedang sarapan juga. Beberapa menit, mereka sudah selesai sarapan. Yuri pamit untuk berangkat kuliah, kali ini Yuri ingin naik busway menuju ke kampusnya.
Akan tetapi, saat baru keluar dari rumahnya Yuri melihat Maru yang baru saja datang. Dan Maru tersenyum manis kepada Yuri.
"Selamat pagi, Yuri…," sapa Maru.
"Pagi, kamu pagi-pagi datang kesini ada keperluan apa?" tanya Yuri to the points.
"Ah tidak, aku memang sengaja datang kesini untuk menjemput kamu," jawab Maru dengan santainya. " Ayo, aku antar kamu berangkat ke kampus," sambung Maru.
Yuri melihat jam tangannya, memang ia sedang buru-buru. Tanpa berpikir panjang Yuri pun menerima tawaran dari Maru untuk mengantarkan ke kampus. Maru hanya tersenyum dalam hati, ia akan melakukan apapun yang terpenting Yuri bisa masuk ke dalam perangkap cintanya.
Sepanjangan perjalanan, mereka hanya diam membisu. Tidak ada pembicaraan yang keluar dari mulut kalian, Yuri juga masih bimbang dengan hatinya antara percaya sama Madu atau tidak.
"Yuri, apa kamu sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaan ku tadi malam?" tanya Maru memecahkan keheningan.
"Kenapa kamu masih bahas soal tadi malam? Jangan bercanda Maru! Mana mungkin kita baru saja bertemu tapi kamu sudah jatuh cinta padaku," jawab Yuri yang masih keheranan.
"Cinta itu seperti angin, yang datang secara tiba-tiba tidak tahu waktu dan tempat…," ucap Maru.
"Apa kau yakin?" Yuri bertanya lagi kepada Maru.
"Of course…,"
"Kasih aku waktu untuk memikirkan jawabannya,"
"Sampai kapan aku harus memberimu waktu, Yuri?"
"Nanti malam temui aku di taman dekat komplek perumahan ku," ucap Yuri yang langsung di angguki Maru.
__ADS_1
Maru tersenyum, benar yang dikatakan sama Giu kalau Yuri itu gadis yang polos dan baik. Ia yakin rencananya akan berjalan dengan lancar jika Yuri mau membantu dirinya untuk membalas dendam kepada Han. Dan beberapa menit kemudian mereka pun sudah sampai di kampus dimana Yuri kuliah.