
Setelah kedua pria itu babak belur Maru pun menghentikan aksinya karena Yuri yang menarik Maru. Semua orang pada melihat hal itu sontak membuat Yuri merasa tidak enak karena sudah membuat kegaduhan. Maru langsung menggenggam tangan Yuri dan menyuruh Yuri untuk masuk ke dalam mobilnya. Maru terus menatap ke arah kedua pria itu dengan tatapan tajam.
Setelah itu, Maru pun masuk ke dalam mobilnya. Dan menoleh ke arah Yuri yang masih menangis.
"Maafkan aku, sudah membuat kamu takut...," Maru benar-benar menyesal karena sudah membuat Yuri ketakutan dengan tingkahnya yang begitu brutal tadi saat menghajar kedua pria itu.
"Tidak apa-apa, seharusnya aku yang berterima kasih karena kamu sudah menolongku, sayang...,"
"Lain kali, jangan menunggu di luar kampus! Aku tidak mau jika ada pria lain yang menyentuhmu atau melecehkan kamu...," Kata Maru dengan tegas.
"Iya aku janji, lain kali aku akan tunggu kamu di dalam saja,"
Maru mengangguk, " apa ada yang sakit? Maafkan aku tadi sudah telat...,"
"Aku tidak apa-apa. Maru, tangan kamu yang luka dan memar. Nanti kita langsung ke restoran saja biar aku obati lukanya...," Kata Yuri.
"Ini hanya luka kecil, sayang. Sakitnya tidak sebanding saat aku kehilanganmu," jawab Maru membuat jantung Yuri berdegup kencang.
Yuri pun dibuat salah tingkah sama Maru. Akan tetapi, entah mengapa saat ini Maru merasakan ada hal aneh yang ada dalam dirinya.
'Perasaan aneh apa ini? Astaga Maru, ingat jangan sampai kamu jatuh cinta beneran sama Yuri!' batin Maru dalam hati.
Maru langsung tersadar kalau dirinya hanya menjadikan Yuri sebagai batu loncatan saja. Dan dia tidak ingin terkena karma dengan cara jatuh cinta beneran dengan Yuri. Maru pun langsung menyalakan mobilnya lalu menuju ke restoran miliknya. Yuri yang melihat perubahan sikap Maru hanya bisa mengelus dada karena dia tahu jika Maru tidak mencintainya.
"Sayang, kamu tahu nggak? Tadi aku dihukum sama Dosen killer gara-gara telat 2 menit...," Yuri mengadu kepada kekasihnya.
"Kenapa dihukum? Kan, cuma telat 2 menit. Dosen kejam itu namanya, sayang kalau kamu dihukum lagi sama Dosen itu, bilang saja sama aku...,"
"Oh tidak bisa, nanti yang ada kamu menghajar Dosenku sampai bonyok. Itu murni kesalahan aku, sayang...," kata Yuri. " Soalnya, tadi aku sakit perut. Mungkin karena di toilet terlalu lama makanya aku telat," sambung Yuri mencari alasan agar Maru tidak curiga.
"Kamu ini ada-ada saja, tapi perut kamu sudah baik-baik saja, kan?" Tanya Maru.
__ADS_1
"Iya, perutku sudah aman kamu tenang saja sayang...,"
"Jangan makan sembarangan sayang! Aku tidak mau calon ibu dari anak-anakku sakit cuma gara-gara salah makan," kata Maru.
"Oh, so sweet banget sih kamu, sayang. Aku jadi terhura...,"
"Terharu sayang,"
"Hehe, iya maaf. Saking senengnya aku di gombalin kamu jadi salah ngomong kan," ujar Yuri sambil nyengir dibalik cadarnya.
Maru hanya tertawa melihat tingkah Yuri, tak beberapa saat Maru teringat kalau ia ingin mengatakan kalau dirinya menerima tawaran dari Yuri untuk bekerja di kantor milik ayahnya.
"Oh iya sayang, aku sudah memikirkan semuanya. Dan aku memutuskan mau menerima tawaran kamu untuk bekerja di kantor milik Ayah kamu," ucap Maru to the points.
Yuri langsung sumringah mendengar perkataan dari kekasihnya itu, dia tidak menyangka kalau Maru mau menerima tawaran darinya. Padahal Yuri tidak terlalu berharap banyak tetapi saat ini Yuri sangat bahagia karena Maru akhirnya menerima tawarannya.
"Sayang, kamu serius mau kerja di kantor Ayahku?" tanya Yuri.
"Terima kasih, sayang. Nanti malam aku akan bilang sama Ayah kalau kamu mau melamar pekerjaan di kantor Ayah," ucap Yuri kegirangan.
"Iya sayang, doakan agar aku tidak mengecewakan Ayah kamu,"
"Tentu saja, sayang. Doaku akan terus menyertaimu...,"
Maru tersenyum tipis, dan Yuri langsung mengabari Ayahnya lewat chat. Kalau nanti malam Yuri ingin berbicara hal penting dengan ayahnya berdua agar ibu tirinya itu tidak mengganggu rencananya.
***
Di tempat lain, dua pria yang tadi di hajar Maru pun sedang uring-uringan sama Riu. Karena gara-gara Riu wajah mereka yang tampan itu jadi bonyok karena pukulan dari Maru.
"Kurang ajar! Kalau tahu begini aku tidak mau ikut-ikutan...," Kata Lee.
__ADS_1
"Iya, aku pikir kekasihnya Yuri itu nggak bringasan seperti itu...," Sahut Ken yang sedang mengobati lukanya.
Riu hanya tertawa terbahak-bahak melihat kedua temannya itu terus aja mengumpat dan menggerutu. Benar memang Riu sengaja menyuruh kedua temannya untuk menguji Maru. Dan ini diluar skenarionya, Maru benar-benar marah dan memukuli Ken serta Lee.
"Hei, jangan tertawa! Itu sangat menyebalkan!" teriak Lee yang kesal dengan Riu.
"Ck, kalian ini lemah sekali jadi cowok! Baru kena pukulan seperti itu sudah lembek...," ledek Rui.
"Kau tidak tahu saja, bagaimana pria itu menghajar kami habis-habisan?" Ken menimpali ucapan Riu.
"Iya, kalau kau tahu dan merasakan sendiri. Pasti kau akan encok langsung," sahut Lee.
Riu hanya terdiam, dalam hatinya sudah yakin kalau memang Maru beneran ada rasa dengan Yuri. Dan kali ini Riu harus berlapang dada serta ikhlas jika suatu hari nanti Yuri akan menikah dengan Maru. Sedangkan dirinya hanya bisa mendoakan agar wanita yang disayanginya bahagia meskipun bukan dengan dirinya melainkan sama orang lain.
Ken dan Lee yang melihat Riu terdiam pun langsung menepuk pundak sahabatnya itu. Mereka berdua sudah tahu kalau Riu sangat menyayangi Yuri.
"Jangan sedih! Masih banyak kok wanita yang jauh lebih baik dari Yuri, mungkin saat ini hatimu masih terisi dengan Yuri. Tetapi, aku yakin suatu saat nanti akan ada wanita yang akan menetap di hatimu," kata Ken.
"Kata-kata Ken benar, Riu. Sekarang kamu harus belajar mengikhlaskan Yuri. Dan jangan khawatir, kami berdua akan terus menemani mu...," Sahut Lee.
Riu terkekeh, " kalian ini dari tadi bicara apa sih? Lagian yang sedih itu siapa? Aku hanya diam karena sedang capek saja, jangan mikir yang aneh-aneh!"
Ken dan Lee hanya menghela nafas panjangnya karena mereka sahabatnya yang sedang berpura-pura kuat padahal hatinya sedang tidak karuan. Memang dari dulu Riu begitu memprioritaskan Yuri. Bahkan Riu sampai tidak tega jika bilang 'tidak' ketika Yuri meminta bantuan. Walaupun Riu sedang sibuk pasti Riu menyempatkan untuk membuat Yuri bahagia.
"Sudahlah, kalian obati saja lukanya. Aku mau beli makanan dan minuman untuk kita. Ingat, jangan kemana-mana sebelum aku pulang!" kata Riu.
"Iya...," Jawab Ken dan Lee secara bersamaan.
Riu pun keluar dari apartemen miliknya dan menuju ke supermarket untuk membeli beberapa makanan dan minuman untuknya serta kedua sahabatnya itu. Karena memang persediaan makanannya sudah habis.
Saat sedang memilih makanan tak sengaja Riu melihat Han sedang bersama dengan seorang pria tapi itu bukan Tuan Troy.
__ADS_1
"Dasar, wanita murahan!" gerutu Riu yang muak melihat tingkah Han.