Izinkan Aku Mencintaimu, Nona!

Izinkan Aku Mencintaimu, Nona!
Chapter 3


__ADS_3

Gui menyadari pikiran Maru. Biasanya Maru selalu mengelak dan tak ingin membahas hal, yang di mana jika pembahasan itu berkaitan dengan gerak-gerik Han. Bagi Maru, ia tak ingin ada pikiran negatif sedikitpun pada sahabat yang dicintainya itu.


"Limi, tak perlu membebani kakakmu dengan pertanyaan aneh lagi," Gui mendekati Limi dan Maru, memegang kedua pundak mereka bersamaan. "Kita ke Seoul."


"Seoul? Korea Selatan?"


"Yah, aku sebetulnya tak ingin mengatakan ini sebelumnya. Lantaran kau memilih keputusan baru untuk memintaku menyelidiki kasus lima tahun lalu, kita jadi harus mengikuti Han dan suaminya."


"Jadi, mereka sudah tak tinggal di Indonesia?"


"Kurasa, tetapi baru seminggu lalu mereka memutuskan pindah dan berangkat."


****


Tiga hari kemudian ...


Bandar Udara Internasional Incheon, Hangul. Korea Selatan. Pukul 03.00 dini hari.


Ketiga manusia kelam itu berderet di nomor kursi yang sama. Tertidur. Belum menyadari jika pesawat yang mereka tumpangi akan segera mendarat. Seorang gadis cantik memandangi wajah Maru yang tertidur dengan earphone di telinga. Ada kekaguman di wajahnya. Hanya Gui yang menyadari karena lebih dulu terbangun.


"Eh, Nona, jangan terlalu memandangnya. Dia tak setampan yang kau kira."


Gadis itu justru membalas, "Minggir, aku ingin melihatnya lagi. Badut, jangan halangi pandanganku."


"Eh, kuret. Kau bisa mengatai aku badut karena kau tak tahu kekayaanku, Nona."


Gui Malah men candai gadis itu dan terus menghalangi pandangannya ke arah Maru.


"Aku sudah katakan aku tidak tertarik denganmu."


Mendengar itu, Gui menyerah dan memandang ke arah Limi yang masih pulas. Limi begitu rekat kepalanya bersandar di pundak kakaknya. Maru pun secara alam bawah sadar dibuat terbangun. Melepas penutup telinganya.


"Aku ingin ke toilet sebentar. Jaga Limi, ya?"


"Baik, tenang saja."


Saat bangun dan mencoba memegang setiap kursi pesawat agar tetap seimbang, Maru masih ditatap gila oleh gadis tadi. Menyadari itu, Gui sontak menahan lengan belakang Maru.


"Ada apa?" Maru bertanya dengan nada datar.


Gui menjawab dengan menunjukkan telunjuknya ke arah gadis itu. Sembari tersenyum setengah tawa, Gui menutup mulutnya dan memindahkan arah wajah. Menyembunyikan senyuman jahatnya yang akan menjadi tawa kencang. Maru hanya semringah melihat kelakuan gadis itu dan melanjutkan jalan kakinya mencari toilet.


Singkatnya, di ujung toilet usai keluar, Maru melihat sosok perempuan berjalan setengah sadar. Seperti mabuk. Melangkah tanpa membuka mata sepenuhnya. Maru hanya diam, menyebabkan dirinya dan perempuan itu bertabrakan. Maru memang sengaja melakukan itu. Ia menyadari perempuan itu akan jatuh ke lantai dan menahan dengan tubuhnya adalah pilihan tepat.

__ADS_1


"Aku sebetulnya tidak keberatan dengan ini. Tapi ya sudah."


Seakan mendengar batin Maru, perempuan itu membuka matanya namun masih tak sadar seutuhnya. Selepas mencoba membuka mata kuat-kuat, perempuan itu justru rebah. Maru dengan setengah hati menahannya.


"Apa kau ingin mati, Nona?" gumam Maru.


Perempuan itu direbahkan di lantai pesawat di depan pintu ruang toilet. Maru meninggalkannya setelah itu. Ia merasa tak ada gunanya peduli, pada seseorang yang tak lagi menginginkan hidup.


Saat kembali ke nomor kursinya, Maru dikejutkan seorang pramugari yang terbirit-birit melintasinya ke arah berlawanan. Sementara gadis yang memandangnya tadi, kini saling bertukar tatap dan mengobrol dengan Gui.


"Hei, itu kursiku, Nona."


"Eh, Maru ... kau sudah kembali rupanya. Begini, gadis ini meminta nomor teleponmu dan aku memberikannya. Bagaimana menurutmu?"


"Terserah kau saja."


"Jangan marah begitu, Maru. Kau bisa duduk di kursi gadis itu lebih dahulu. Ia akan berkencan denganku. Kau senang mendengarnya?"


"Tidak sama sekali."


Saat itu, suara jeritan perempuan merayap ke seluruh ruangan pesawat. Menggema dengan mudahnya.


"Perempuan tadi?" batin Maru menyadari asal suara layaknya seorang yang tengah histeris itu.


"Putri Tuan Presdir, cepat ... kita harus memberinya pertolongan pertama," pramugara dan pramugari lain melintasi Maru dengan kepanikan yang berbeda.


"Limi?"


"Kak Gui, gadis ini siapa?" Limi menyirat kan ketidaksukaan. "Kak Gui sekarang suka main perempuan, ya?"


"Eh, bukan begitu, Lim."


"Limi, kemasi barang-barangmu. Pesawatnya akan segera mendarat," Maru sengaja memotong perdebatan yang tak penting itu.


"Kakak, tadi katanya ada kritis. Kenapa kakak tidak mencoba menolongnya? Kakak dulu kan ..."


"Dokter, apa ada dokter di ruangan ini?" salah seorang pramugari berkata keras sepenuh energi, pada para penumpang yang masih lunglai. "Kami mohon, apa di antara para penumpang ada seorang yang bergelar dokter?"


Pertanyaan dadakan itu menggugah hati Maru. Tak ada satupun penumpang yang bersuara. Mungkin memang hanya dirinya, seorang yang setidaknya paham tentang ilmu kedokteran ... meski tak sempat lulus lantaran kasus itu.


"Maru, kau tak dengar? Tolonglah orang itu. Kau hanya tidak lulus dan tidak bergelar, bukan berarti kau bukan seorang dokter, kan?" ucap Gui mencoba menstimulasi pikiran Maru yang kacau.


"Aku hanya seorang pembunuh. Tak usah membahas masa lalu yang tak penting."

__ADS_1


"Justru kakak yang terus dibayangi masa lalu yang rumit itu," sanggah Limi.


"Selamatkan perempuan itu, kak. Bagaimana jika yang kritis itu adalah aku, apakah kakak akan meninggalkan lagi seperti malam itu?"


Maru langsung terpukul batinnya. Ia sepintas dibuat mengingat kesalahan besarnya selain menerima telepon Han, yaitu ... tak mendengarkan dan menghiraukan rintihan adiknya. Lantas ingatan buruk itu membuat Maru berbalik arah menuju perempuan tadi. Gui dan Limi tersenyum tipis. Maru bersama pikiran tak ingin melakukan kesalahan yang sama, tak butuh lama telah berdiri di hadapan para petugas pesawat, yang terlihat telah payah dah putus asa mencari bantuan.


"Boleh aku melihat keadaannya?" pinta Maru.


"Tentu, apa Anda seorang dokter?"


"Eh, mengenai itu ... sebenarnya aku masih butuh waktu setahun lagi untuk lulus. Tetapi setidaknya, aku mengerti bagaimana menangani ini."


"Baiklah kalau begitu, Tuan. Silahkan."


Lengan perempuan itu diangkat setengah lutut oleh Maru. Ia meminta peralatan seperti suntik dan cairan khusus.


"Kita harus mengeluarkan sisa uap darah pada pernafasannya."


"Apa ia asma?"


"Tidak, kurasa ada pendarahan kecil pada saluran pernafasannya. Mungkin karena Nona ini trauma pada ketinggian. Bisa juga sebelumnya ia tak pernah menaiki pesawat dan memiliki riwayat asma."


"Jadi, adaptasi oksigen pada ketinggian yang sulit dihirup, ya?"


"Benar. Tetapi tenang saja, aku akan melakukan sebisaku."


Sepuluh menit tersentak irama jantung yang tak teratur, perempuan itu mulai menunjukkan tarikan nafasnya. Terlihat mulai seirama.


"Syukurlah, sepertinya putri Tuan Presdir akan baik-baik saja."


"Putri Tuan Presdir? Siapa namanya?"


"Perempuan ini adalah Nona Yuri. Dia anak dari Tuan Troy. Ada sekitar sepuluh penumpang pesawat adalah karyawan beliau. Apakah Anda mengenalnya?"


Tak sempat Maru menjawab, seorang wanita yang nampak seusianya muncul di hadapan mereka.


"Pesawat baru saja mendarat, Nona langsung masuk karena khawatir, kan?"


Maru dibuat mengikuti objek pertanyaan yang ditujukan pramugari itu. Namun matanya masih menatap sepatu hak yang dikenakan wanita itu. Dalan pikiran Maru tentang nama Tuan Troy, ia masih belum yakin kalau Tuan Troy yang dimaksud adalah Tuan Troy yang dinikahi Han. Namun ketidakyakinan itu pupus dan hangus.


"Putriku, oh ... siapa pria ini, Nona Pramugari?"


Maru yang telah mengangkat wajahnya menatap wanita itu. Sebuah tatapan hitam dan tak jelas warna ruhnya kembali terpancar dari Maru.

__ADS_1


"Maru?" wanita yang tak asing itu memulai sebutan dengan gemetar.


"Han ... kau?"


__ADS_2