Izinkan Aku Mencintaimu, Nona!

Izinkan Aku Mencintaimu, Nona!
Chapter 10


__ADS_3

Pagi harinya, Maru pun sedang bersiap-siap untuk menjemput Yuri karena hari ini dia ingin mengajak kekasihnya itu jalan-jalan. Setelah selesai Maru pun pamit sama Gui terlebih dahulu.


"Ingat! Jangan malam-malam, kalian masih belum sah...," kata Gui.


"Cih, kau tahu sendiri? Kalau aku hanya ingin membalaskan dendam ku saja...,"


"Haha, aku yakin kamu akan menyesal Maru! Dan aku juga yakin kalau kamu juga lama-lama akan jatuh cinta sama Yuri...," Gui mulai mengejek Maru.


"Jangan mimpi!" ketus Maru.


"Kita lihat saja, Bung! Jadi, kalau kamu sudah jatuh cinta sama Yuri. Aku harap kamu hentikan rencana mu...,"


Maru tidak menggubris ucapan dari sahabatnya itu. Dia pun langsung keluar dari apartemen miliknya menuju ke lobby. Maru memberitahu Yuri kalau dirinya sudah mau menuju ke rumahnya.


Namun, saat sedang dilobby Maru merasa jika ada yang mengikuti tapi, saat Maru menoleh ke belakang tidak ada siapa-siapa. Karena tidak mau menunggu lama, akhirnya Maru pun langsung masuk ke mobilnya dan melajukan mobilnya menuju ke rumah Yuri.


***


Di tempat lain, Yuri sedang menunggu Maru datang. Dan Yuri keluar dari kamarnya lalu menuju ke dapur untuk mengambil minum. Han tak sengaja melihat Yuri yang sudah rapi, Han langsung kepo dan menghampiri Yuri.


"Yuri...," Han memanggil anak tirinya dengan begitu lembut.


Yuri yang sudah tahu siapa yang memanggilnya pun hanya memutar bola mata malasnya. Ingin rasanya Yuri menonjok wajah ibu tirinya yang pandai sekali berpura-pura baik padanya.


Yuri langsung membalikkan badannya dengan tatapan datar, jika bukan karena ayahnya mungkin Yuri sudah lama mengusir Han dari rumahnya karena baginya Han adalah parasit yang sudah merusak kebahagiaan keluarganya.


"Kenapa?" tanya Yuri tanpa basa-basi.


"Tidak, Ibu hanya ingin bertanya kamu mau pergi kemana? Bukankah, hari ini kamu ada kuliah, Yuri?" tanya Han.


"Jangan kepo, Ibu tiriku tersayang! Mau saya kemana pun nggak ada urusannya sama anda... Jadi, lebih baik diam dan jangan mencampuri urusan saya!" jawab Yuri dengan suara datarnya.

__ADS_1


"Saya ini Ibu kamu, walaupun ibu tiri tapi kamu wajib menghormati saya!" kata Han yang sudah mulai melihatkan ketidaksukaan nya kepada Yuri.


Yuri yang sudah malas mendengar ucapan Han pun melanjutkan meminum susu pisang kesukaannya. Yuri bisa saja bersikap sopan dan menghargai Han. Namun, entah kenapa Yuri merasa jika Han adalah penyebab kematian Ibu kandungnya. Dan Yuri yakin kalau ayahnya serta Han sudah lama menjalin hubungan meskipun ibunya masih hidup.


"Yuri! Kamu punya mulut kan? Jadi, jangan diam saja!" kata Han dengan nada setengah tinggi.


"Memangnya, aku harus jawab apa Nyonya Troy? Bukankah, diam itu lebih baik? Jadi, daripada mendengarkan ucapan Nyonya Troy yang tidak penting ini," kata Yuri yang tersenyum menyeringai dibalik cadarnya.


Han kembali mengepalkan tangannya karena dia benar-benar sudah tidak bisa menahan emosinya, Han juga merasa jika Yuri memang ingin sekali membuat dirinya marah-marah lalu pergi meninggalkan suaminya yaitu Tuan Troy.


Yuri yang melihat Han diam, lalu dengan cepat meninggalkan Han di dapur. Karena Maru sudah berada di depan rumahnya. Dengan senyuman yang indah Yuri pun bergegas keluar untuk menemui kekasih hatinya itu.


"Assalamualaikum, sayang...," Maru mengucapkan salam setelah melihat Yuri datang.


"Waalaikumsalam, Cinta...," jawab Yuri sembari menyalami tangan Maru.


Meskipun belum menikah cuma Yuri memang sering bersikap seperti itu kepada orang yang lebih dewasa kepada dirinya. Begitu juga dengan Maru yang sudah terbiasa dengan kebiasaan Yuri kepadanya.


"Tentu saja, aku sudah menunggumu dari tadi. Sampai aku harus berdebat dengan wanita ular itu," jawab Yuri yang membuat Maru terkekeh.


"Sudah, jangan bahas yang tidak penting sayang! Mending kita berangkat sekarang gimana?"


Yuri mengangguk, " baiklah, cinta. Kita berangkat sekarang...,"


Maru membukakan pintu mobilnya untuk Yuri, lalu dia pun ikut masuk dan melajukan mobilnya menuju ke suatu tempat.


"Kamu mau ngajak aku kemana, cinta?" tanya Yuri.


"Terserah kamu maunya kemana? Hari ini aku akan menuruti semua keinginan kamu," jawab Maru.


"Gimana kalau kita ke pantai Kangmun Beach?" jawab Yuri sembari mengedip-ngedipkan matanya.

__ADS_1


Maru begitu gemas dengan tingkah Yuri yang sangat menggemaskan itu. Pantai Kangmun terletak di wilayah Kangmu di kota Gangneung. Yuri sangat menyukai udara di pantai itu, bahkan Yuri sering mengajak sahabatnya ke pantai Kangmun, suasana sangat sejuk. Hamparan pasir yang luas dan dermaga dengan menara pandang yang berada tidak jauh dari bibir pantai Kangmun.


"Boleh saja, kita ke sana sekarang. Oh iya, kenapa kamu suka sekali dengan pantai?" tanya Maru.


"Benar sekali, aku sangat menyukai pantai. Karena ada hal yang belum bisa aku katakan sama kamu, soalnya aku belum siap," jawab Yuri dengan nada yang lembut.


Maru mengangguk, lagian dia tidak kepo dengan urusan Yuri. Maru juga tidak mencintai Yuri jadi mau bagaimanapun kehidupan Yuri ia tidak peduli sama sekali. Setelah semuanya semua selesai, Maru akan memutuskan Yuri dan memilih untuk kembali ke Indonesia.


Sepanjang perjalanan Yuri terus bercerita tentang dirinya, Maru hanya tersenyum sembari mendengarkan cerita dari kekasihnya itu.


"Sayang, nanti kalau kamu ketemu sama Ibu tiriku lagi. Mending kamu cuekin saja, dia nggak penting soalnya...," Kata Yuri yang kadang merasa tidak enak karena Han selalu tidak menyukai Maru.


"Kamu tenang saja, sayang. Aku tidak akan terpengaruh dengan rayuan maut Ibu tiri mu itu," kata Maru.


"Terima kasih, sayang. Kamu memang pria yang baik, aku beruntung bisa memilikimu...," Yuri menatap wajah wajah Maru.


Maru hanya tersenyum, dan mereka pun sudah sampai di pantai Kangmun. Yuri begitu sangat senang karena baru kali ini datang ke pantai Kangmun setelah beberapa tahun tidak datang. Maru hanya melihat Yuri bermain air dia heran kenapa Yuri itu begitu baik dan polos.


"Sayang, awas nanti bajumu basah semua! Kamu kan tidak bawa baju ganti, kan?" Maru memberi peringatan kepada kekasihnya karena memang benar Yuri tidak membawa baju ganti.


"Iya sayang, kita ke sebelah sana yuk!" ajak Yuri.


Maru mengangguk, lalu mereka pun berjalan-jalan di bibir pantai sambil bergandengan tangan. Yuri dan Maru berjalan sambil melempar candaan.


***


Di tempat lain, Han mondar-mandir karena dia sedang memikirkan bagaimana caranya untuk menyingkirkan Yuri dan Tuan Troy dengan cepat tanpa membuat semua orang curiga. Dia benar-benar sudah jengah hidup bersama dengan Tuan Troy, dan Han juga sudah muak kalau disuruh baik sama Yuri dan suaminya.


"Ini tidak bisa dibiarkan lama-lama! Aku harus melakukan sesuatu sebelum semuanya terlambat!" gumam Han.


"Apanya yang terlambat?" tanya Seseorang yang membuat Han langsung menoleh.

__ADS_1


__ADS_2