Izinkan Aku Mencintaimu, Nona!

Izinkan Aku Mencintaimu, Nona!
Chapter 11


__ADS_3

"Sayang, kamu mengejutkan aku saja...," kata Han yang melihat suaminya datang tiba-tiba.


"Maaf, sayang. Dari tadi aku mencarimu kemana-mana, tahu nya ada di dapur...," kata Tuan Troy.


"Iya, tadi aku lagi berbincang sama Yuri. Sayang, aku rasa kita harus pindah deh. Kayaknya, Maru sudah mengajari hal-hal yang nggak baik sama Yuri...," Han mulai mempengaruhi suaminya lagi.


"Sudahlah, sayang. Ini masih pagi jangan bahas hal yang nggak penting!" kata Tuan Troy.


Han memilih untuk mengalah terlebih dahulu, karena dia ingin merayu suaminya agar memindahkan semua harta kekayaannya dengan nama Han. Dan setelah itu Han akan menyingkirkan Tuan Troy serta Yuri.


Kini Han dan Tuan Troy sarapan bersama karena Yuri sudah pergi duluan sama Maru. Han bermanja-manja dengan suaminya yang tua bangka itu.


"Sayang, aku minta uang dong! Aku mau beli tas keluaran baru...," ucap Han kepada suaminya.


"Tentu saja, nanti aku transfer uang ke rekening kamu sayang...,"


"Terima kasih sayang, kamu memang suami yang sangat baik dan perhatian sama istrinya...," Han memeluk suaminya itu.


"Sama-sama, sayang. Apapun akan aku lakukan agar kamu bahagia...,"


'Kebahagianku ya hartamu! Jadi, tunggu tanggal mainnya. Dimana aku akan mengambil semua hartamu dan membuang mu jauh-jauh dari


kehidupan ku,' gumam Han dalam hati.


Han kembali menyantap makanannya dan setelah selesai, Tuan Troy pun pamit untuk berangkat ke kantor. Karena hari ini sedang banyak kerjaan padahal Tuan Troy baru saja pulang dari luar kota.


***


Di tempat lain, Yuri dan Maru sedang duduk di pantai sambil menikmati indahnya pemandangan yang ada di depannya itu. Dan Yuri teringat sesuatu bahwa Yuri ingin kalau Maru bekerja di perusahaan milik Ayahnya.


"Maru... Kamu mau nggak kerja di kantor Ayah ku?" tanya Yuri dengan tiba-tiba.


Maru menoleh, " aku nggak pantas kerja di kantor Ayah kamu, Yuri...,"


"Siapa yang bilang kalau kamu nggak pantas? Kamu itu pintar dan cekatan walaupun dulu kuliah kedokteran tapi kamu sangat pandai di bidang marketing...," kata Yuri.

__ADS_1


"Tapi aku tidak mau Ayah kamu berpikir yang tidak-tidak tentang aku, cinta...,"


"Ayahku baik, pasti Ayah akan senang kalau kamu mau membantu beliau untuk mengurus perusahaan," ucap Yuri dengan antusias.


"Aku tidak yakin, kamu tahu sendiri kalau aku cuma lulusan SMA saja...,"


"Jangan seperti itu! Aku yakin kamu pasti bisa, Cinta... Jadi, kamu mau kan mencoba...," Kata Yuri meyakinkan Maru agar mau menerima tawarannya.


Maru hanya menghela nafas panjangnya, dia memang ingin sekali melanjutkan pendidikannya yang sempat tertunda gara-gara jebakan Han. Kalau dari restoran pasti tidak memungkinkan karena Maru dan Gui baru saja merintis usahanya itu.


"Nanti aku bicarakan dengan Gui dulu, karena tidak enak juga kalau aku mengambil keputusan tanpa memberitahu Gui," jawab Maru.


"Baiklah, aku harap kamu menerimanya. Karena aku tidak mau jika Han menguasai harta Ayahku," ucap Yuri.


Maru terdiam, ia mencerna ucapan dari Yuri. Maru memiliki ide jika ia bekerja di perusahaan milik ayahnya Yuri otomatis dia bisa menghancurkan Han secara perlahan-lahan tanpa harus bersusah payah. Dan sedangkan Yuri, dia ingin melihat seberapa besar hubungan antara Maru dan Han.


Yuri memang sudah tahu semuanya akan tetapi, Yuri masih belum bisa mengumpulkan semua bukti-buktinya. Tanpa sepengetahuan Maru, Yuri sudah menyuruh Riu untuk mengikuti kemanapun Maru pergi.


Setelah selesai bersenang-senang, Yuri mengajak Maru untuk pulang namun tidak ke rumahnya melainkan ke restoran milik Maru. Sebab, hari ini Yuri tidak ada jadwal kuliah. Jadi, Yuri bisa bersantai-santai sambil membantu Gui dan Maru di restoran.


"Sayang, aku mau ke restoran aja. Jalan-jalannya lain kali saja, soalnya aku sudah capek...," Jawab Yuri.


"Baiklah, bidadari ku...,"


Yuri hanya tertawa kecil dibalik cadarnya. Lalu mereka pun menuju ke restoran memang jarak antara pantai Kangmun dan restoran milik Maru itu lumayan jauh. Untung saja Seoul tidak ada macetnya jalanan lancar jaya.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya mereka berdua sudah sampai di restoran milik Maru. Gui yang melihat sahabatnya sudah pulang pun kebingungan karena memang jadwal hari ini Maru ingin mengajak Yuri jalan-jalan.


"Assalamualaikum...," Maru dan Yuri mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam, kalian sudah pulang? Katanya mau jalan-jalan seharian?" tanya Gui.


"Iya tadinya mah begitu, cuma Yuri bilang mau bantuin kamu di restoran kasihan sendirian jaganya...," jawab Maru.


"Wah,selain cantik dan imut ternyata kamu baik serta perhatian juga ya?" kata Gui.

__ADS_1


"Haha, Kak Gui bisa saja. Lagian kan kita memang tidak boleh terlalu lama pergi berduaan...," ucap Yuri.


"Ck, biasa saja mujinya! Nggak usah perhatian juga kali. Yuri cuma kasihan sama kamu saja," sela Maru yang tidak suka Gui memuji Yuri.


Gui tertawa, dia malah semakin gencar menggoda Maru. Sedangkan Yuri, hanya bisa tertawa melihat tingkah lucu kedua pria yang ada di hadapannya itu. Lalu mereka pun kembali melakukan aktivitasnya di restoran. Yuri membantu Maru untuk membuat pesanan untuk para pelanggan.


***


Di tempat lain, Han sedang shopping dia memang suka sekali membeli barang yang mahal-mahal. Karena tidak mau tampil jelek ataupun kampungan. Han sering menjadi simpanan om-om bangkotan hanya karena dia butuh uangnya saja.


"Senangnya hatiku, sekarang hidupku berubah total. Dulu aku sering dihina karena aku dadi keluarga yang sangat miskin...," gumam Han yang mengingat betapa tidak berharganya dirinya di mata semua orang.


Han memang terlahir dari keluarga yang sangat sederhana, lalu sejak bertemu dengan Tuan Troy. Han tidak lagi mencari om-om bangkotan lagi, karena Tuan Troy sudah memenuhi semua kebutuhannya. Han juga melihat jika Tuan Troy juga sangat kaya raya bahkan hartanya tidak akan habis sampai tujuh turunan.


Karena sudah lelah akhirnya Han memutuskan untuk pulang dan istirahat karena badannya sudah pegal semuanya.


***


Hari pun sudah menjelang sore dan Maru meminta agar Yuri menyudahi pekerjaannya. Hari ini lumayan rame dan Maru tetap bersyukur dengan apa yang di berikan.


"Yuri, aku antar kamu pulang," kata Maru.


"Sebentar lagi, aku sedang menikmati roti bakar...," Kata Yuri.


Maru hanya terkekeh, lalu dia kembali membereskan meja-meja dan kursinya. Begitu juga dengan Gui yang merasa kalau Maru begitu perhatian sama Yuri dan itu bukan karena keterpaksaan.


"Kak Gui, besok aku mampir lagi kesini! Tapi habis pulang kuliah," kata Yuri.


"Sayang, kenapa malah minta izin sama Gui? Yang kekasihmu itu aku, bukan si Gui...," Sahut Maru.


"Haha, iya-iya. Cie... Yang sudah mulai cemburuan...," Yuri meledek Maru.


"Sepertinya, ada yang sudah baper nih!" kata Gui ikut menimpali.


Maru hanya memutar bola mata malasnya, dan setelah itu Maru pun mengantarkan Yuri kali ini Gui juga ikut karena mereka ingin mampir ke supermarket untuk belanja kebutuhan dapur.

__ADS_1


__ADS_2