Izinkan Aku Mencintaimu, Nona!

Izinkan Aku Mencintaimu, Nona!
Chapter 2. Kebebasan Maru


__ADS_3

Lima tahun melangkah manis usai kejadian malam itu. Maru akhirnya dibebaskan dari tahanan. Sebuah fitnah hidup yang harus ia terima. Bahkan saat keluar, Maru masih sempat hanya memikirkan Han. Padahal adiknya, Limi, telah berdiri di hadapannya menunggu kebebasannya sedari pagi. Limi ditemani Gui, sahabat pria Maru. Gui yang menjaga Limi selama Maru tak ada. 


"Kakak," Limi membuka kata dengan sangat getir. 


"Maru, angkat kepalamu," Gui memohon kecil. Ia mendekati Maru. Berbisik, "Kita minum di bar sedikit setelah ini agar pikiranmu sehat kembali, bagaimana?"


"Terserah kau saja."


Maru tanpa waktu lama, memilih mendekati adiknya, mengusap wajah lesu adiknya, dan menarik tangannya ke dalam pelukan. 


"Maaf, maafkan aku, Limi. Aku, bukan kakak yang pantas dibanggakan adik manapun di dunia ini."


Mendengar itu, Limi terisak tak jelas. Ia membuka pelukan Maru tanpa membalasnya. 


"Kak Han, apa sebenarnya kakak mencintainya? Kakak sampai segitunya jika memang Kak Han hanya seorang sahabat."


"Ya, aku mencintainya," jelas Maru. 


"Kakak memang mencintai Han sebagai seorang pria kepada perempuan. Apa itu sebuah kesalahan?"


"Tidak, tidak sama sekali. Hanya saja, kenapa sampai tidak mampu berpikir lurus. Kakak bahkan seharusnya bisa sambilan membawaku ke rumah sakit. Iih!" Limi menepuk dada pundak Maru dengan separuh tenaga. 


"Kau kesal? Kau boleh membenci kakak. Kakak memang pantas mendapatkan itu."


Limi menggeleng pelan, bibirnya termangu, dan ia berujar, "Tidak apa-apa. Saat itu, untungnya ada Kak Gui yang menolongku dan mengantarkan ke rumah sakit."


Maru membeku. Ia tak ingin berkata apapun. Han masihlah menjadi prioritas dalam pikiran Maru. Maru justru merasa bersalah meski ia sadar, bukan ia pelakunya. Ia merasa bertanggung jawab karena terlambat melindungi Han. Ia terlambat mencegah masa depan yang buruk terjadi. 


"Ini, Maru," Gui menyerahkan sebuah surat.


"Aku dikeluarkan dari kampus, ya?"


"Benarkah?" Limi terkejut. 


"Biarkan saja. Kampus suci seperti itu, memang tak bisa dimasuki narapidana sepertiku."


"Kakak, jangan bicara begitu. Bukan kakak kan, yang melakukannya?"


"Maru, sebenarnya apa yang kau terjadi malam itu?" Gui masuk bertanya. "Kau harusnya membela diri di hadapan polisi."


"Tidak, Gui. Aku gagal. Aku pantas mendapatkan semua ini karena tak berhasil menyelamatkan Han. Aku membuat hati dan hidupnya sengsara. Dipenjara lima tahun tak berarti apa-apa jika dibanding penderitaan batin Han karena kehilangan ibunya," entah kenapa Maru mendadak menangis.


"Kakak?"


"Maru, kau berlebihan. Ketika kau mencintai seseorang sangat dalam, bukan berarti kamu menjatuhkan dirimu sendiri!"

__ADS_1


"Kak Han ..."


"Han, kenapa dia, Limi?" tangis Maru mendadak berhenti. "Apa dia telah menjadi insinyur sekarang? Usaha yang ia katakan itu telah terwujud? Ah, harusnya sudah. Ini telah berjalan lima tahun."


"Tidak, bukan itu yang ingin kusampaikan, Kak."


"Bukan, lalu?"


Limi memindahkan tatapannya ke arah Gui. Gui peka maksud tatapan itu. Gui pun memilih menunda informasi Limi ingin, agar ia yang menyampaikan pada Maru.


"Aku ke mobil dulu. Aku tunggu di sana saja."


"Tunggu, Gui," Maru menghentikan Gui dan menatapnya tajam. "Apa yang kalian ingin katakan? Jika Link tak sanggup mengatakannya, katakanlah olehmu. Beritahu aku, apa yang terjadi pada Han?"


Gui yang menerima kepolosan mental Maru dalam bentuk yang seperti itu, membuatnya mengeluarkan semuanya tanpa tertahan.


"Han, dia sudah menikah. Presdir bernama Tuan Troy yang statusnya duda itu, menikahi Han."


Angin di bulan itu terasa tidak dingin dan juga tidak panas. Hangat pun tak bisa menjadi kosakata yang bisa menggambarkan, betapa terpukulnya psikologi Maru. Apa yang terlintas langsung di cuping telinganya, menjadi suatu informasi yang merubah hidupnya. Maru semakin merasa bersalah. 


"Tidak, ini pasti salahku. Aku yang salah karena tidak bisa memastikan masa depannya. Ia pasti membenciku dan memilih jalan yang tidak baik. Ia tak mampu berpikir jernih dan menerima saja dinikahi Presdir duda itu. Aku sangat memahami jalan pikiran Han. Dia tidak mungkin ..."


"Bagaimana kakak bisa tahu? Lalu adikmu ini? Apa kakak mengerti jalan pikiranku?"


"Han, dia ... masih sering datang ke rumah?"


"Kurasa, Kak Han mencoba merubah cara pandangnya terhadap masa depan, setelah kejadian itu. Aku juga setuju ia menikah dengan Tuan Troy. Melihat besarnya impiannya dan kondisi kakak saat ini, aku justru berterima kasih pada keputusannya."


Maru menyudutkan bibir. Ada tangis baru yang warnanya berbeda. Ia memilih tidak mengeluarkannya. Rasa malu terhadap Limi karena meninggalkannya saat kritis, menjadi hantu baru yang hinggap di batang kepalanya. 


"Kita pergi," ucap Maru pendek.


"Maksudnya ke rumah?"


"Ya, memangnya kemana lagi?"


"Kakak tidak ingin menemui Kak Han dulu agar lebih baik?"


"Lebih baik secara apa? Sudahlah, tak usah membahas Han lagi."


Maru mengingat kembali lembaran-lembaran ingatan ketika masih bersama Han. Merajut mimpi saat di jam istirahat perkuliahan mereka. Di taman hijau di depan kampus, Han selalu menyuarakan keras, "Aku ingin merebut posisi itu! Puncak kehidupan layaknya gunung Himalaya."


"Bagaimana cara kau sampai ke puncak impian itu?" Maru yang polos dan diam-diam mencintai sahabatnya itu, selalu tak pernah sadar dengan setiap kalimat yang ia utarakan.


"Aku rasa ... perlu bantuan dirimu, Maru. Kau tak ingin jadi batu loncatan yang baik?"

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Berjanjilah untuk selalu saling memaafkan di setiap perjuangan kita. Eh, aku masuk dulu ya, sebentar lagi mata kuliah Pak Troy akan dimulai."


Tuan Troy, sosok yang kini merenggut impian Maru untuk hidup bersama Han. Pikiran polos itu mulai beracun. Maru detik itu bukanlah Maru lima tahun lalu. 


"Tuan Troy."


"Tuan Troy?" 


"Ada apa lagi, Maru? Kita tak jadi kembali ke rumah kalian?"


"Tunggu, Gui. Aku ingin meminta bantuanmu."


Maru bersama perubahan warna wajahnya, memberi kesan hitam dalam pandangan Limi dan Gui. Maru benar-benar sudah tak sama lagi. 


"Aku ingin ... kau menyelidiki kasus lima tahun lalu. Kau memiliki materi yang sebanding dengan Tuan Troy, kau pasti bisa menyuruh orang untuk menyelidikinya."


"Kakak, kau ..." Limi berdesir sendirian. 


"Maru, bukannya aku tidak mau. Tetapi, bukankah kau sudah menyerah dengan keputusanmu?"


"Tidak, kali ini berbeda. Aku teringat dengan suara."


"Suara? Suara apa?" 


"Suara Han sewaktu meminta tolong di telepon. Saat itu, aku meninggalkan Limi dan buru-buru menyusulnya. Lalu, ada seorang perempuan bertopeng bersama temannya. Suara perempuan itu mirip seperti Han. Tetapi, saat polisi datang, Han juga muncul dan seperti tak pernah terjadi hal buruk apapun padanya. Aku ..."


"Itu situasi yang pasti membingungkan sekali untukmu."


"Ya, aku saat itu benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi. Yang jelas, memang bukan aku yang membunuh ibunya Han."


"Jadi, sekarang kau belajar untuk lebih tegas pada dirimu? Apa kau mencurigai Tuan Troy dengan kasus dan keputusan Han?"


"Tidak, bukan Tuan Troy. Aku ingin kau berfokus pada Han. Dia lah pusatnya. Seseorang yang mencintai pada seseorang yang lain begitu dalam, tidak pernah salah mendengar warna suaranya."


"Kak Han?"


"Ada apa, Limi?"


"Apa kakak berubah pikiran?"


"Maksudmu?"


"Kakak seperti seorang yang penuh rasa dendam."

__ADS_1


__ADS_2