
Maru melintasi suatu jalan bersama mobil milik Gui. Gadis bernama Rin juga ikut. Misi liar, misi aneh, dan entah apa sebutan untuk keputusan Maru ini. Dia adalah lelaki yang sudah berubah terbalik seutuhnya. Meski ia belum mengetahui jelas apa yang terjadi pada Han lima tahun lalu, ia tentu menaruh dendam dan curiga yang tak perlu penguat seperti apapun lagi. Dendam yang tak jelas bentuknya. Hanya Maru yang mengerti dirinya sendiri sepenuhnya.
"Biasanya gadis itu pulang kuliah jam segini," ucap Gui ketika mobil mereka berhenti tepat di depan Universitas Seoul. Yuri berkuliah di situ. Mungkin.
"Keluar duluan, Rin," pinta Maru.
"Baik."
Yuri, gadis itu akhirnya muncul di tengah-tengah kerumunan mahasiswa dan mahasiswi. Yuri yang dilihat oleh Maru berbeda dengan Yuri saat kritis di bandara. Maru keluar dari mobil karena melihat Rin terperanga melihat perbedaan Yuri, dengan foto yang diberikan Gui.
"Itu memang dia kan, Maru?"
"Tidak salah lagi."
Maru telah berada dalam ruang kedekatan itu. Yuri menghentikan langkah kakinya karena sedari tadi Rin mengajaknya berbicara sambil berdiri. Maru jadi memiliki waktu untuk bisa memastikan.
"Terimakasih, sudah cukup," ujar Maru pada Rin.
Rin pergi dan pandangan Yuri mencerminkan ketidakpahaman, terhadap ucapan Maru pada Rin tadi. Maru menatap Yuri. Yuri tanpa sadar mengikuti arah mata Maru yang menuju padanya. Sementara Gui mengirimkan pesan pada Maru dari dalam mobil.
"Kami pergi dulu, semoga kau berhasil masuk ke dalam kehidupan Han."
Maru tersenyum sinis lalu menatap Yuri kembali, "Kau berbeda sekarang, Yuri."
"Kau tahu namaku? Apa sebelumnya kita pernah bertemu?"
"Kau tak mengenakan hijab saat kritis di bandara. Tapi, aku sama sekali tak melupakan wajahmu itu."
Yuri diam sejenak mencoba memahami maksud perkataan Maru. Hingga akhirnya memutuskan untuk bertanya, "Kau ... berada di dalam pesawat itu juga? Apa kau ..."
"Aku adalah orang yang memberimu pertolongan pertama."
"Kau seorang dokter?"
"Bukan, tapi kau bisa menganggapnya begitu jika kau mau."
"Ya, siapapun dirimu ... aku berterimakasih karena sudah menyelamatkan hidupku. Dari situ aku memutuskan untuk tidak mabuk-mabukan lagi. Akhirnya aku memilih berhijab."
"Jadi, begitu singkat ceritanya? Kehidupanmu sebelumnya cukup bar-bar juga, ya?"
"Benar."
"Lalu, apa hanya cukup dengan berterimakasih saja?"
"Maksudmu?"
"Aku ingin meminta bantuanmu."
"Apa itu?"
"Kau adalah putri Tuan Troy."
"Kau mengenal ayahku?"
"Ya, dia orang terkenal, pengusaha, wajar saja."
"Lalu, apa permintaanmu?"
"Aku ingin kau mengajakku menemui ayahmu di kediaman kalian."
"Ada urusan apa? Kau rekan kerja ayahku?"
"Lebih tepatnya, sahabat ibu tirimu."
__ADS_1
Pernyataan Maru menciptakan garis baru pada wajah Yuri, yang tak sesantai sebelumnya. Maru seakan menghentikan waktu dengan kemampuan berkata-katanya yang selalu berkarisma. Ada keanehan tertanam pada raut muka Maru yang terbaca oleh Yuri.
"Kau menyebut ibu tiriku? Han, kah?"
"Tepat."
"Aku yakin kau memiliki niat tersembunyi. Kau pasti bukan sekedar menganggap Han sebagai sahabat, kan?"
"Kenapa kau memanggil ibu tirimu dengan sebutan tak sopan begitu?"
"Ah, sudah kuduga kau akan bertanya demikianlah. Ikut aku, tak enak membicarakan ini di sini."
Yuri mengajak Maru ke sebuah taman yang cukup hening, namun masih di depan jalan raya. Yuri menatap Maru serius.
"Siapa namamu?"
"Maru."
"Maru, aku ingin bertanya dan kau harus menjawab jujur."
"Dengan senang hati."
"Baik, apa kau menyukai Han?"
"Apa kau tak menyukai ibu tirimu?"
"Kenapa kau malah bertanya balik?"
"Pertanyaanmu itu mudah ditebak. Ada hal yang harus kusampaikan padanya."
"Apa ada hubungannya dengan pernikahan ayahku dengannya?"
"Tidak ada, tidak sama sekali," Maru mencoba untuk berbohong dengan elegan.
Mendengar penuturan Yuri yang terbuka, Maru kembali tersenyum sinis. Ia jadi merasa keputusan memilih Yuri sebagai batu loncatan, adalah hal terbaik yang pernah ia putuskan dalam hidup.
"Aku tak ada waktu mendengarkan curhatan kehidupan keluargamu, bisa kita ke tempatmu sekarang," Maru kembali bersikap misterius dan seolah tak membutuhkan pengakuan Yuri yan yang terbuka seperti tadi.
Tanpa disadari kehidupan, mereka telat berada di rumah bersinergi itu. Kediaman seorang Presdir. Tuan Troy yang sikapnya terlihat matang, hadir dan duduk di meja makan yang memanjang. Seperti meja makan di hotel.
"Aku jadi ingat Astoria," ucap Maru dalam hati. "Mandalika, bukankah itu impianmu dulu, Han?"
"Apa dia temanku, Yuri?" tanya Tuan Troy.
"Eh ... dia," Yuri kebingungan untuk menjawab.
Maru tanpa pikir panjang, menjawab pertanyaan itu, "Saya kekasihnya Yuri, Tuan. Saya kebetulan ingin bertemu dengan Anda."
Yuri yang tak ada tahu apa-apa dan menyangka Maru ingin membantunya, justru mendapatkan jawaban mengejek itu dari Maru. Sontak Yuri mengirimi pesan ke temannya bernama Rui.
"Rui, bantu aku. Apa kau bisa menyelidiki lelaki ini?"
Begitu isi pesannya. Yuri pun diam-diam memiringkan ponsel dan memotret Maru dari samping.
"Jika ada tamu, kau seharusnya tidak terlalu banyak bermain ponsel, Yuri," ucap Tuan Troy. "Silahkan duduk, anak muda. Kau pandai sekali bercanda. Mental mu boleh juga."
Maru senyum. Dia seakan sudah menduga kalau Tuan Troy, akan menganggap ujaran mengejutkannya tadi adalah candaan yang besar. Maru menuruti permintaan Tuan Troy agar dirinya duduk dan Yuri pun mengikutinya. Makanan kebetulan telah disiapkan pelayan rumah Tuan Troy. Maru mengecek ponselnya dan membaca sebuah pesan dari Gui.
"Ternyata Han lah pelakunya, dia sendiri yang membunuh ibunya. Perasaanmu tentang suara wanita bertopeng yang kau yakini adalah Han, tidaklah salah. Dia memang menjebakmu untuk mencapai tujuannya mendapatkan harta dan kehidupan dari Tuan Troy. Akan aku ceritakan nanti lebih lengkap jika kau sudah bertemu Tuan Troy."
Maru yang hendak memulai dengan segelas air, mendadak menaruh kembali gelas itu ke meja dengan cukup keras. Hampir saja gelas itu menumpahkan isinya dan Maru nyaris memecahkannya. Tuan Troy yang sedari tadi bersikap santai karena menganggap Maru hanyalah teman Yuri, mulia terlihat berubah cara pandangnya. Ditambah lagi, sosok itu muncul. Sosok yang ternyata telah memfitnah Maru dan menambah penuh kebencian itu.
Maru yang awalnya dendam pada Han lantaran Han mengambil cita-citanya dengan cara yang salah, berubah menjadi dendam yang benar-benar mengarah pada ketidaksukaan lagi. Namun Maru tentu tak ingin langsung percaya dengan informasi itu. Meskipun informasi itu berasal dari sahabatnya sendiri. Maru memandang Han yang masih terperanga karena kehadirannya di rumah Tuan Troy.
__ADS_1
"Kau kenapa , istriku? Kenapa terlihat panik begitu? Duduk lah. Kau seperti baru saja bermimpi buruk."
"Dia ..." Han duduk sambil bergetar mengucapkan kata itu.
"Oh, dia teman kuliahnya Yuri. Dia mengatakan ingin bertemu denganku. Mungkin dia penasaran dengan sosok Presdir tampan ini, haha."
Yuri yang menyadari keanehan itu, membaca pikiran ibu tirinya dan juga Maru. Dia yang sudah mengetahui status Maru saat di kampus, memiliki aura berpikirnya sendiri.
"Dia ....dokter," ucap Han.
"Benarkah? Bukankah Yuri mengatakan ..."
"Aku kan belum mengatakan apapun tadi, Yah," Yuri memotong kebingungan ayahnya.
"Aku akan membawanya kembali. Menuju dunia di mana cita-citanya sesuai dengan permukaan masa lalunya. Dia yang akhirnya mengambil jalan hitam dan mengorbankan sahabatnya sendiri, heh ... benar-benar harus dijemput untuk segera turun," Maru berbicara seperti sedang bercermin. Selain Han, tak ada yang mengerti ucapannya.
Han yang satu-satunya menjadi orang paling mengerti disini, memilih untuk terlihat seolah-olah tak mendengarkannya. Sayangnya, otaknya terlanjur dibuat mengerti ... kalau Maru memiliki niat yang berbahaya untuk hidupnya.
Maru kembali menerima pesan dari Gui, "Kita bertemu di bar, sebentar lagi jam kerjamu. Ada hal yang ingin kusampaikan padamu mengenai informasi tadi."
"Aku harus segera pergi, Tuan Troy ... maaf membuatmu pusing dengan sikapku. Aku harus bekerja sekarang. Terimakasih makanannya," ucap Maru lalu bangkit.
"Dia pria yang aneh," kata Tuan Troy menilai kehadiran Maru yang sesaat namun seakan memberi informasi tanpa kata-kata.
"Ayah, aku akan menuntunnya sebentar," Yuri mencari alasan agar bisa menyampaikannya sesuatu pada Maru.
Di luar Maru yang menanti jemputan Gui, menerima panggilan dari kedatangan Yuri yang menyusulnya.
"Tunggu, Maru," Yuri terengah-engah.
"Kau berlari menyusulku sampai segitunya. Kau ingin aku membantumu?"
"Maksudmu?"
"Han, kau mengatakan tak menyukainya, kan? Apa yang bisa aku bantu?"
"Tunggu, aku masih bingung. Mengapa kau terlihat canggung dan berkata aneh saat Han muncul? Han bahkan terlihat cemas. Bukankah kau mengatakan kalau kalian bersahabat? Dan satu lagi ... mengapa kau mengatakan pada ayahku kalau kau ..."
"Kau mau, tidak?"
"Oh?"
"Apa kau mau menjadi kekasihku, Yuri? Aku tertarik pada gadis sepertimu. Pemberani, kuat, dan juga memiliki prinsip. Aku bisa melihat itu dari caramu melawan takdir saat kritis di pesawat. Aku juga suka dengan perempuan yang berhijab. Berbeda dengan Han."
Yuri hanya menganga kecil dan tak berkedip sedikitpun karena ucapan Maru. Yuri meregam kuat-kuat jemari kedua tangannya dan berkata, "Aku ingin kau membantuku memisahkan Ham dari ayahku. Aku tak menyukainya. Aku tak peduli apa hubunganmu dengan Han. Yang jelas, aku tak ingin ayahku dilukai."
Maru kembali menunjukkan perubahan wajah, "Apa maksudmu?"
"Aku tak sengaja mendengar percakapan Han dengan seseorang. Ia berkata ingin merencanakan pembunuhan terhadap ayah untuk mendapatkan semua hal warisnya. Jika itu terjadi ..."
"Tak akan kubiarkan. Aku akan membantumu, tenang saja," Maru memotong.
Maru tentu tak akan membiarkan Han melakukan hal yang sama lagi. Mendengar pengakuan Yuri, Maru jadi yakin jika informasi Gui memang benar. Han, seorang pembunuh yang telah memfitnahnya. Tanpa sadar, Yuri menaruh kagum pada Maru meski diam-diam ia juga meminta seseorang bernama Rui untuk menyelidiki Maru. Maru memang memiliki niat tersembunyi yang tak diketahui Yuri. Namun keterbukaan Yuri, membuat Maru merasa tidak perlu berpura-pura sepenuhnya.
"Apa kau tidak marah aku memintamu menghancurkan hidup sahabatmu sendiri?" Yuri bertanya sepenuh hati.
"Menghancurkan apanya? Justru dia lah yang menghancurkan. Yuri?"
"Ya?"
"Aku mencintaimu."
Udara berubah. Angin seakan berhenti mengalir. Maru memainkan peran gandanya dengan sangat menawan. Pengakuan cinta palsu itu, adalah langkah awal Maru ... untuk memanfaatkan Yuri demi merebut kembali Han. Meski Maru mulai membenci Han, tak dapat terpungkiri, hati polosnya yang jadi bawaan, masih menyimpan rasa cinta pada Han DNA berharap Han kembali ke pilihan hidup yang benar.
__ADS_1