
Maru dan Giu memutuskan untuk membuka sebuah restoran kecil-kecilan, karena mereka juga butuh biaya untuk bertahan hidup di Negara orang lain. Maru yakin jika usahanya akan membuahkan hasil, dan dia juga ingin membuka lembaran baru agar bisa menggantikan waktu yang sudah tertunda karena dia harus di penjara.
"Maru, gimana? Apa kau sudah berhasil meluluhkan hati, Yuri?" tanya Gui dengan sedikit dengan nada mengejek.
"Ck, sepertinya aku harus bekerja keras agar aku bisa mendapatkan kepercayaan penuh dari Yuri," kata Maru. " Namun, aku akan terus berusaha agar Yuri mau menerima cintaku," sambung Maru dengan percaya diri.
Gui hanya terdiam, sebenarnya ia tidak setuju jika sahabatnya ingin memanfaatkan orang yang tidak bersalah. Namun, Maru yang sekarang itu berbeda dengan Maru yang ia kenal dulu. Sekarang Maru sudah tidak percaya lagi dengan yang namanya cinta atau hal semacamnya.
"Maru, lebih baik kau jangan libatkan Yuri dalam hal ini. Aku takut, kamu akan menyesal kemudian harinya…," Gui menepuk pundak sahabatnya itu.
Maru tidak menggubris ucapan dari sahabatnya itu, ia sudah berniat untuk membalas dendam kepada Han. Karena Han sudah mengkhianati dirinya hanya karena ingin menikah dengan seorang pengusaha yang kaya raya.
Sedangkan Giu, hanya menggelengkan kepalanya melihat sahabatnya tidak menghiraukan perkataan dirinya. Lalu, mereka pun kembali bekerja karena sudah mulai banyak pembeli yang berdatangan.
Maru tidak menyangka kalau di hari pertama ia buka restoran sudah banyak yang peminatnya. Namun, saat sedang sibuk melayani para pelanggan yang datang. Tiba-tiba datanglah seorang wanita yang membuat Maru menghentikan aktivitasnya melayani pelanggan.
"Maru…," seseorang memanggil Maru.
Maru memasang wajah datarnya, Gui yang melihat siapa yang datang hanya tersenyum smirk. Karena dia yakin Maru sudah tidak akan terpengaruh dengan rayuan dan tipu daya Han. Benar, orang yang datang menemui Maru adalah Han.
"Untuk apa kau datang kesini? Bukankah aku sudah bilang kalau aku sudah muak melihat wajahmu?" ketus Maru.
"Maru, aku minta maaf. Apakah kita bisa berbicara berdua saja? Aku kangen sama kamu," Han memegang lengan Maru agar mau menerima tawarannya.
Maru langsung menyingkirkan tangan Han dengan kasar, ia benar-benar sudah muak melihat drama yang Han ciptakan. Cukup dulu dia yang dengan bodohnya percaya akan semua ucapan Han. Sampai-sampai Maru dengan teganya meninggalkan adiknya yaitu Limi yang penyakitnya sedang kamu demi menolong Han.
"Cih, jangan pura-pura baik padaku! Aku yakin kau lakukan ini agar aku tidak memberitahu suamimu yang kaya raya itu tentang siapa sebenarnya dirimu!" ketus Maru dengan nada yang mengejek.
Han mengepalkan tangannya, namun ia harus bisa mendapatkan simpati dari Maru lagi agar dirinya bisa aman. Han tidak mau jika rencananya yang sudah dirancang dengan matang gagal dengan sia-sia.
"Kamu salah paham, Maru. Waktu itu memang aku mau dibunuh, dan aku dipaksa menikah dengan Tuan Troy…," jawab Han membela dirinya."Jika aku menolak maka Tuan Troy akan membunuhku juga," sambung Han dengan nada yang dibuat-buat sedih agar Maru bersimpati kepadanya.
__ADS_1
'Astaga, wanita ular ini pintar sekali memutar balikkan fakta, sudah tahu dia salah tapi malah memfitnah suaminya yang tua itu,' batin Gui yang tertawa dalam hati melihat drama Han.
Maru tidak menggubris perkataan yang keluar dari mulut Han, kali ini ia tidak akan terpengaruh dengan ucapan manis yang Han ciptakan. Han tidak tahu jika Maru sudah mengetahui semuanya bahkan motif Han menjebak dirinya.
"Aku sibuk, lebih kau pulang dan urus saja suamimu yang kaya itu…," kata Maru mengusir Han.
"Maru, apa kita sudah tidak bisa seperti dulu lagi? Aku sangat menyesal, Maru…," Han memasang wajah memelasnya agar terkesan ada penyesalan.
"Sudahlah, aku ingin hidup dengan tenang. Jadi, jangan pernah datang dalam kehidupanku lagi!"
"Kamu tega mengusirku, Maru! Apa ini semua gara-gara, Yuri? Kamu sengaja mendekati Yuri untuk membuatku cemburu, bukan?" tanya Han dengan percaya dirinya.
"Cih, ini semua tidak ada hubungannya dengan Yuri, aku mencintai anak tirimu karena dia baik dan tulus sama aku," Maru mulai tersulut emosi.
Melihat Maru sudah emosi, Gui langsung menghampiri Maru dan Han karena memang dia duduk tidak jauh dari mereka. Gui tidak mau jika Maru marah-marah karena masih banyak pelanggan yang berada di restoran.
"Han, lebih baik kau pergi dulu! Biarkan Maru menjalani hidupnya dengan tenang, dan jangan membuat keributan disini!" kata Gui dengan tegas.
"Pergi, Han! Kalian bisa bicarakan masalah ini di lain waktu," Gui memotong ucapan Han.
Dengan terpaksa Han pergi meninggalkan Maru dan Gui, ia sangat marah karena tidak berhasil membuat Maru bersimpati dengannya. Maru tersenyum menyeringai dia yakin Han sedang khawatir karena rahasianya akan terbongkar. Namun, Maru akan bermain dengan cantik dan rapi agar Han merasakan apa yang dirasakannya.
"Kau hebat, Maru. Sekarang kau sudah tidak bucin lagi sama wanita ular itu, tidak seperti dulu yang tingkat kebucinanmu sudah melebihi batas normal…," ledek Gui yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Maru.
Gui tertawa terbahak-bahak melihat tingkah sahabatnya itu. Maru akui apa yang dikatakan Gui itu memang benar adanya. Karena dia sangat bodoh dengan mempercayai semua ucapan dari Han.
Mereka pun kembali melakukan aktivitas melayani pelanggan, dan setelah waktunya jam makan siang. Maru dan Gui sedang beristirahat karena hanya ada beberapa pelanggan saja jadi, tidak mereka bisa santai-santai terlebih dahulu.
"Maru!" teriak seseorang yang tak lain adalah Yuri.
Maru dan Gui menoleh ke arah pintu masuk, mereka tersenyum melihat kedatangan Yuri. Begitu juga dengan Yuri yang tersenyum dibalik cadarnya. Yuri pun langsung menghampiri Maru dan Gui.
__ADS_1
"Yuri, kau datang?" tanya Maru.
"Iya, bolehkan aku datang kesini? Boleh dong masa, nggak…," kata Yuri mengedipkan matanya kepada Maru.
Maru terkekeh, " tentu saja, kamu boleh datang kapan saja…,"
"Maru benar, kamu boleh datang kapan pun yang kamu mau… Syukur-syukur kamu mau membantu kamu jualan…," sahut Gui dengan nada bercanda.
"Iyakah? Wah, kalau begitu setelah pulang kuliah aku akan datang kesini untuk membantu kalian," kata Yuri dengan penuh semangat.
Maru dan Gui hanya tersenyum melihat tingkah Yuri, lalu Maru membuatkan minuman untuk Yuri karena Maru yakin kalau Yuri belum makan siang juga.
"Ini minuman untukmu…," Maru menyodorkan minuman dan cemilan kepada Yuri.
"Terima kasih, oh iya tadi banyak pelanggan yang datang tidak?" tanya Yuri kepada Maru.
"Yah, lumayan. Kan ini baru pertama kali buka, jadi orang-orang belum pada tahu…,"
"Ah, iya benar juga. Nanti aku bantu promosikan dari sosial media, kamu boleh kirim gambar-gambar makanan yang ada di restoran kamu, biar aku share ke sosial media…,"
"Benarkah, apa tidak merepotkanmu?" Maru merasa tidak enak dengan Yuri.
"Tentu saja tidak! Aku malah senang bisa membantumu, Maru…,"
"Terima kasih, kamu memang gadis yang baik. Tapi sayang, cintaku kamu gantung…,"
Yuri tertawa kecil," mana ada aku gantung cinta kamu, Maru. Kan aku sudah bilang beri aku waktu, bukan menolak kamu…,"
"Jadi, apa masih ada kesempatan untukku?" tanya Maru.
Yuri hanya tersenyum dibalik cadarnya, ia sebenarnya ingin melihat kesungguhan dari Maru. Namun, Yuri yakin kalau Maru adalah pria yang baik. Makanya Yuri, akan mempertimbangkan pernyataan cinta dari Maru.
__ADS_1