Izinkan Aku Mencintaimu, Nona!

Izinkan Aku Mencintaimu, Nona!
Chapter 12


__ADS_3

Gimana? Apa kamu sudah dapat informasinya, Riu?" tanya Yuri.


"Tentu saja, aku kan detektif yang sangat pandai dan licik. Jadi aku akan dengan mudah mencari informasi seseorang...," jawab Riu dengan percaya dirinya.


Yuri memutar bola mata malasnya, ia paling kesal kalau sifat tengil Riu muncul. Sedangkan Riu, hanya tertawa kecil melihat Yuri yang sudah kesal dengan dirinya. Benar, saat ini Yuri sedang duduk berdua di taman bersama dengan Riu. Mereka satu kampus tapi berbeda jurusan, dan kali ini Yuri menyempatkan waktunya untuk bertemu dengan Riu. Sebab, mata pelajaran mereka sering bentrok jadi kalau mereka tidak menyempatkan diri pasti tidak akan pernah bisa bertemu.


"Biasa aja kali, nggak usah kesal begitu...," Kata Yuri.


"Cepat katakan! Soalnya bentar lagi aku ada kelas, jangan buang-buang waktuku, Riu!"


"Ck, seharusnya kamu itu berterima kasih sama sahabatmu yang paling tampan ini...,"


"Terima kasih sahabat ku yang paling tampan cuma nyebelin,"


Riu kembali tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan keterpaksaan yang keluar dari mulut Yuri. Lalu, Riu pun menceritakan semuanya kepada Yuri tentang apa yang sudah ia dapatkan. Awalnya, Yuri sangat terkejut ternyata pria yang sudah menjadi kekasihnya itu tidak tulus mencintai dirinya.


"Sudah, jangan sedih! Mending kamu putusin saja pria itu! Nggak ada gunanya kamu mempertahankan hubungan yang tidak sehat ini...,"


"Mana ada begitu! Biarkan dia melakukan apapun yang dia mau... Aku yakin sebenarnya dia pria yang baik,"


"Pria baik? Astaga Yuri, kamu ini gimana sih? Sudah tahu kekasihmu tidak tulus sama kamu, tapi masih saja dibela," Riu benar-benar tidak habis pikir sama jalan pikiran sahabatnya itu.


"Memang konyol, tapi entah mengapa aku sangat yakin kalau memang sebenarnya Maru adalah pria yang sangat baik,"


"Terserah kamu saja, Yuri. Aku akan mendukung apapun keputusan mu, jika dia menyakitimu. Maka, aku orang pertama yang akan menghajarnya," kata Riu sembari menepuk pundak Yuri.


"Terima kasih, kamu memang sahabatku yang paling baik sedunia. Tapi, bisakah aku membantu sekali lagi," kata Yuri sambil mengedip-ngedipkan matanya membuat Riu gemas melihatnya.


Dari dulu Riu tidak pernah menolak apapun yang diminta sama Yuri, karena jujur Riu sudah jatuh cinta sama Yuri sejak pertama bertemu. Namun, Riu tidak berani untuk mengungkapkan perasaannya. Karena Riu tidak mau jika hubungan pertemanannya hancur karena dirinya mengungkapkan perasaannya kepada Yuri.

__ADS_1


"Apapun untukmu! Kamu sudah aku anggap sebagai adik ku sendiri, dan aku tidak tega melihatmu bersedih ataupun merengek-rengek seperti ini," kata Riu sambil menyentil kening Yuri.


"Auh, sakit tahu!" Yuri pun mengusap keningnya yang nyut-nyutan itu.


"Sudah, kamu masuk gih. Nanti telat lagi, bukankah sekarang jadwal nya Dosen killer?" kata Riu.


"Astaghfirullah, aku lupa! Ya udah aku masuk ke kelas dulu ya...," Yuri pun langsung bangkit dari duduk nya lalu berlari menuju ke kelasnya.


Riu hanya menggelengkan kepalanya karena gemas melihat tingkah Yuri. Andai saja Yuri tahu pasti hubungan mereka nggak akan sedekat ini, pasti Yuri akan menjauhinya karena tahu perasaan Riu yang sebenarnya.


"Biarkan aku yang mengalah, asal kamu bahagia Yuri. Karena kebahagiaan mu bahagia ku juga," lirih Riu.


Lalu Riu pun menuju ke ruang kelasnya karena dia juga ada mata kuliah. Dan Yuri kini sudah berada di ruang kelasnya, dia masih memikirkan apa yang dikatakan sama Riu tadi. Dia masih yakin kalau Maru hanya dendam dengan Han, dan Yuri juga yakin kalau Maru pria yang baik.


'Aku kan membuat rasa benci itu berubah menjadi cinta, dan aku juga akan membuat Maru jatuh cinta padaku,' batin Yuri.


***


"Elah, ini bocah ngapain sih ngelamun mulu...," kata Giu yang baru saja datang.


Maru hanya melirik ke arah Giu tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan dari Giu. Dia sedang tidak berselera berdebat dengan Giu.


"Astaga, malah nggak dijawab! Kayaknya aku harus memanggil dukun untuk menyembuhkan sahabatku ini," sambung Giu.


"Cih, kau mengganggu saja! Aku sedang berpikir gimana kalau aku menerima tawaran Yuri saja," jawab Maru yang membuat Gui kebingungan.


"Maksud kamu apa?" tanya Gui.


Maru menghela nafasnya dengan panjang, lalu dia menceritakan semuanya tentang niatnya untuk bekerja di perusahaan ayahnya Yuri. Dan Maru berniat membuat Yuri menjadi pemilik perusahaan itu bukan ayahnya lagi. Agar Han bisa jatuh miskin dan hancur secara perlahan-lahan.

__ADS_1


"Parah kamu, mending jangan nekat! Aku tidak mau kamu menjadi penjahat, Maru. Kamu boleh balas dendam tetapi yang sewajarnya saja," kata Gui yang tidak setuju dengan ide dari Maru.


"Aku tidak akan kelewatan, kamu tenang saja. Aku hanya bermain sebentar," jawab Maru dengan santainya.


"Sama saja itu mah, mending urungkan saja niatmu," ucap Gui.


Maru hanya diam tanpa menjawab ucapan Giu, tekatnya sudah bulat untuk menghancurkan Han sehancur-hancurnya. Gui hanya menggelengkan kepalanya karena sahabatnya sudah dibutakan oleh dendam. Gui malah merasa kasihan sama Yuri karena hanya dijadikan batu loncatan sama Maru.


'Kau akan menyesal nantinya, Maru. Aku yakin itu, wanita sebaik dan sepolos Yuri kamu manfaatkan,' gumam Gui dalam hati.


Mereka berdua pun melanjutkan pekerjaannya, namun nanti Maru akan pulang lebih dulu karena ingin menyiapkan semua berkas-berkas untuk melamar pekerjaan di kantor ayahnya Yuri. Dan nanti malam juga Maru akan memberitahu Yuri sekalian mengajak Yuri untuk makan malam bersama.


***


Maru sedang bersiap-siap untuk menjemput Yuri ke kampus, karena tadi Yuri memberitahukan kalau minta dijemput di kampus saja sekalian. Dan setelah selesai Maru langsung pamit kepada Gui untuk menjemput Yuri.


Dua puluh menit Maru sudah sampai di depan kampus Yuri, dan saat dia tiba tak sengaja melihat Yuri sedang di ganggu dengan dua pria. Maru merasakan ada perasaan tidak suka saat ada pria lain yang mengganggu Yuri.


Maru pun turun dari mobilnya dan dia langsung menghampiri Yuri yang sedang di ganggu dengan dua pria itu.


"Ehem...," Maru berdehem membuat kedua pria itu menoleh ke arah Maru.


"Lepaskan wanitaku!" sambung Maru.


"Hahaha, wanita mu? Mana buktinya jika wanita ini adalah milikmu...," kata salah satu pria itu.


"Ck, sudah aku bilang dia milikku...," ketus Maru dengan tatapan tajamnya.


Pria itu malah tertawa terbahak-bahak dengan cepat, Maru menghajar kedua pria itu karena sudah geram dan tidak suka jika mereka meledeknya. Yuri yang melihat hal itu hanya tersenyum karena ia yakin kalau memang sebenarnya Maru pria yang baik.

__ADS_1


__ADS_2