
Satu minggu kemudian
Hubungan Maru dan Yuri semakin dekat dan hal itu membuat Han merasa tidak suka. Karena Han yakin kalau Maru hanya ingin memanfaatkan kepolosan dari anak tirinya itu.
"Sayang, apa aku boleh bicara sesuatu sama kamu?" Tanya Han kepada Tuan Troy yang sedang duduk sofa bersamanya.
"Tentu saja boleh, sayang... Memangnya, kamu mau bicara apa? Katakan saja aku akan mendengarkan...," jawab Tuan Troy sembari mengusap rambut Han dengan lembut.
Han merasa senang karena ia yakin kalau suaminya yang tua bangka itu akan mengabulkan semua permintaan yang diinginkan nya. Dia ingin minta sama Tuan Troy agar melarang Maru berhubungan dengan Yuri lagi. Karena ia tidak rela kalau Maru menjadi milik anak tirinya yaitu Yuri.
"Sayang, aku tuh merasa kalau Maru hanya menginginkan harta mu saja. Dan dia tidak tulus mencintai Yuri...,"
Tuan Troy mengerutkan keningnya, ia heran tumben sekali istrinya meminta hal seperti itu. Tetapi, Tuan Troy sangat senang karena istrinya sangat perhatian dengan putri semata wayangnya.
"Memangnya, kenapa sayang?" Tanya Tuan Troy.
"Aku merasa Maru hanya menginginkan harta mu saja," jawab Han.
Tuan Troy terdiam sebentar memang benar apa yang katakan sama istrinya itu. Secara Maru hanya pria biasa saja bukan dari kalangan orang kaya. Tapi, Tuan Troy merasa jika putrinya juga sudah sangat menyayangi pemuda yang bernama Maru itu.
"Sayang, aku juga merasa begitu! Tetapi, kita jangan mencampuri urusan Yuri. Dia sudah dewasa jadi, biar dia yang menilai Maru orangnya seperti apa?" Tuan Troy memberi pengertian kepada istri tercintanya itu.
Han mendengus kesal, karena sepertinya dia sudah gagal untuk mempengaruhi suaminya yang tua bangka itu.
'Sialan, kenapa dia malah tidak terpengaruh? Nggak berguna sekali,' batin Han yang terus mengumpat suaminya.
"Tapi sayang, aku nggak suka saja kalau ada cowok yang cuma mau nyakitin Yuri. Meskipun Yuri anak tiriku, tapi aku sudah menganggap dia seperti anak kandungku sendiri," Han mencoba untuk mempengaruhi suaminya lagi.
Tanpa Han sadari ternyata Yuri sudah sedari tadi mendengar percakapan antara Han dan ayahnya. Yuri heran kenapa ibu tirinya itu sangat berniat untuk memisahkan antara dirinya dan Maru.
__ADS_1
"Sebenarnya, ada hubungan apa Maru sama nenek lampir itu? Apa ada yang mereka sembunyikan dan aku tidak tahu itu?" lirih Yuri yang merasa aneh dengan emak tirinya itu.
Yuri penasaran dengan hubungan Maru dan Han. Akan tetapi, ia belum bisa memastikan karena dirinya belum menemukan sebuah bukti yang akurat.
***
Di tempat lain, Maru baru saja selesai membersihkan restoran karena Maru belum memiliki karyawan untuk membantunya. Jadi, sekarang Maru dibantu sama temannya yaitu Gui yang sedari dulu terus menemani Maru.
"Gui, kita besok libur saja. Karena seminggu ini kita belum libur sama sekali...," Ucap Maru.
"No, aku buka restoran saja. Kalau kamu mau liburan sama Yuri tidak masalah! Kau tahu sendiri kalau aku paling malas jika disuruh liburan...," Kata Gui yang memang tidak suka jalan-jalan karena baginya itu pemborosan.
"Baiklah, tapi kamu tidak kerepotan menjaga restoran sendirian...," Tanya Maru.
"Tentu saja tidak! Maka dari itu aku menyuruh kalian untuk jalan-jalan saja, biar otak fresh," jawab Gui tertawa terbahak-bahak.
Maru hanya memutar bola mata malasnya karena mendengar ucapan sahabatnya yang tidak punya akhlak itu.
Gui mengangguk, lalu mereka pun langsung pulang setelah membereskan pekerjaannya. Namun, saat di perjalanan pulang tak sengaja Maru melihat sosok yang sangat ia kenali, dan sosok itu adalah Yuri yang sedang duduk di halte busway.
"Berhenti, Gui!" kata Maru yang secara tiba-tiba membuat Gui terkejut.
"Astaga, hampir saja kita menabrak trotoar! Ada apa sih?" tanya Gui yang masih deg-degan.
"Kau lihat gadis yang duduk di halte busway itu?" Maru menunjuk ke arah halte.
Gui pun mengikuti telunjuk Maru, dan benar Gui juga melihat seorang wanita bercadar yang sedang duduk di halte sendirian.
"Kau benar! Sedang apa Yuri malam-malam di halte sendirian...,"
__ADS_1
"Kamu susul saja, siapa tahu Yuri habis pulang main dari rumah temannya?" Gui menyuruh Maru untuk menyusul Yuri.
Maru mengangguk, dan ia pun langsung turun dari mobilnya lalu berjalan menuju ke arah halte dimana Yuri sedang duduk sendirian.
"Yuri!" Maru memanggil Yuri.
Yuri mendongak dia terkejut karena ia bertemu dengan Maru padahal dia ingin bertemu dengan sahabatnya yaitu Riu. Dan Yuri bingung harus menjawab apa jika Maru bertanya tentang dirinya yang sekarang berada di halte busway.
"Ma- Maru...,"
"Kamu sedang apa disini sendirian?" tanya Maru.
"Em, itu aku habis bertemu sama teman lamaku. Cuma aku tadi nggak bawa mobil sendiri, jadi aku mau naik busway saja...," Jawab Yuri dengan gugup.
"Astaga kamu ini, untung aku lihat kamu. Ya sudah, aku antar kamu pulang daripada kamu nunggu busway yang datangnya lama,"
Yuri terbelalak, setelah mendengar perkataan dari Maru. Kini ia merasa bingung karena jika menolak ajakan Maru pasti Maru akan curiga dan sudah dipastikan Maru akan cemburu karena Ia akan bertemu dengan Riu. Jika Yuri menerima ajakan Maru, gimana dengan Riu yang sedang menunggunya di cafe.
Jadi karena tidak enak menolak ajakan Maru, akhirnya Yuri pun mau diantar pulang sama Maru. Dengan cepat Maru menggandeng tangan Yuri dan berjalan ke arah mobilnya. Setelah sampai, Maru membukakan pintu mobil untuk Yuri dan setelah itu Maru pun masuk ke dalam mobilnya.
"Hai, Kak Gui!" Yuri menyapa Gui.
"Hai juga, Adikku sayang. Kamu kenapa ada halte sendirian? Itu sangat berbahaya bagi seorang wanita...,"
"Aku habis ketemu sama temanku, Kak. Terus aku tidak bawa mobil makanya aku mau naik busway...," Jawab Yuri.
Gui mengangguk, lalu Maru pun kembali duduk tenang di depan karena Giu yang menyetir mobilnya. Yuri langsung memberitahu Riu kalau dirinya tidak bisa bertemu karena ada hal yang membuat dirinya tidak bisa ikutan. Dan beberapa menit kemudian mereka pun sudah sampai di depan rumah mewah Yuri. Dengan cepat Yuri pun langsung turun dan berpamitan kepada kekasihnya yaitu Maru.
Saat Yuri ingin masuk, dia bertemu dengan ayahnya yang baru saja dinner dengan Han. Dan saat itu Han menatap ke arah Maru, dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Maru pun pamit untuk pulang karena sudah malam juga dan nggak enak jika berlama-lama di rumah Yuri.
__ADS_1
Maru ingin merancang rencana agar semua orang tidak tahu semua rencana yang sudah direncanakan. Gui juga heran karena baru kali ini Han seperti mengemis-ngemis kepada Maru.